Little Fairy
Diriku merupakan sosok peri kecil yang tak dapat terbang. Tak memiliki sayap sejak pertama kulihat bumi. Tak ditakdirkan bahkan. Tak dianggap kini. Tak punya rengkuhan selamanya. Tak mampu beradaptasi. Tak jua menyerah. Tak takut mencoba. Tak mampu tertawa lepas bersama spesies yang sejenis diriku. Hampir mirip sosok Rani, yang memotong sayapnya demi menyelamatkan telur Mother Dove. Menjadi pahlawan di Never Land. Tapi ada yang berbeda, aku bukan pahlawan seperti Rani. Rani memiliki Tinker Bell yang selalu ada untuknya, tapi aku tidak. Aku kesepian. Tiada mengerti. Bahkan peduli.
Aku bukan sosok yang ingin minta dikasihani. Tak perlu itu, aku tak butuh bahkan. Aku hanya ingin menikmati hidupku sebagai sosok peri kecil. Yang hanya tinggal di gubuk temaram. Remang-remang memang. Namun sukmaku menelusur jauh ke dunia luar.
Terkadang kurindukan sosok Tinker Bell itu. Kurindukan bagaimana ia selalu ada untukku di tiap-tiap detik yang berlalu. Ah, itu hanya asa ku saja. Bukankah sekarang Tinker Bell meninggalkan aku? Bukankah Ia sudah ada Peterpan yang setia menemaninya dan lebih sempurna dibandingkan.. aku.. Sosok peri kecil tak berdaya, tak memiliki sayap dan memang berbeda.
Kenapa yang lain terus menari? Aku tak diajak..
Mereka bercengkrama ria menikmati indahnya pesta, dan aku.. Hanya sesosok yang sama sekali tak diajak dansa.
Percuma, tak ada yang ingin berdansa denganku. Aku tak punya sayap seperti mereka. Dan aku selalu tertatih ketika berdansa. Untuk apa? Sia-sia saja aku berangan.
Gundah ini kian menjalari. Tiap hari aku bertanya, "Tuhan.. adakah mereka yang benar benar tulus menjadi teman baikku?"
Ada, memang.. Tapi hanya sekilat saja. Mereka memanfaatkan aku untuk membantu mereka menghidupkan cahaya air mancur Never Land. Setelah itu, mereka mengasingkan aku.. Lama dan perih terasa..
"Oh Tuhan, mengapa hanya aku yang berbeda?"
Aku terus bertanya tujuanku hidup di dunia ini. Aku merasa diasingkan. Aku merasa... Ah ! Tak boleh seharusnya kusesali, ini kan kondisi dan tak selamanya abadi. Mungkin takdir belum bicara sekarang, dan Dewi Fortuna mungkin tengah terlelap. Aku berusaha mengelus dada saja. Tersenyum dengan remehan mereka terhadap aku-- yang merupakan gadis penghayal dari dunia imajinasi. Tidak, tak pantas aku disebut gadis.. Aku tak memiliki spesies seperti itu.. Yah, aku lebih tepat menjadi spesies peri kecil.
Peri kecil yang berusaha menyihir dunia untuk melihatku. Meski sulit kugapai, aku terus berkhayal dan cacian mereka selalu terdengar di indra pendengaranku. Mereka meremehkan aku menjadi sesosok pengkhayal, yang mungkin tak memiliki segenap tetes jiwa yang membuatnya nyata. Tapi aku terus mencoba, peri kecil yang tak jua menyerah begitu saja. Aku, peri kecil, yang dianggap remeh oleh mereka, akan membuktikan kenyataan dari imajinasi yang telah kususun. Aku tahu, aku berbeda.. Mereka kira khayalku takkan jadi nyata. Bukankah kenyataan itu berasal dari takdir dan perjuangan? Bukan berasal dari untaian kata-kata ? Mereka boleh saja menyebut aku sebagai orang aneh. Kuakui, aku memang aneh. Peri kecil yang aneh. Tapi aku terus tersenyum, mencoba membuktikan imajinasi itu benar adanya.
Aku tahu, peri di Never Land itu tersenyum sinis menatapku. Tapi, ini jurusanku, kemana aku harus mengadu takdir, dengan khayalan dan imajinasiku yang semata remeh di mata mereka.
Aku peri kecil, namun imajinasiku takkan kecil.
Aku bukan sosok yang ingin minta dikasihani. Tak perlu itu, aku tak butuh bahkan. Aku hanya ingin menikmati hidupku sebagai sosok peri kecil. Yang hanya tinggal di gubuk temaram. Remang-remang memang. Namun sukmaku menelusur jauh ke dunia luar.
Terkadang kurindukan sosok Tinker Bell itu. Kurindukan bagaimana ia selalu ada untukku di tiap-tiap detik yang berlalu. Ah, itu hanya asa ku saja. Bukankah sekarang Tinker Bell meninggalkan aku? Bukankah Ia sudah ada Peterpan yang setia menemaninya dan lebih sempurna dibandingkan.. aku.. Sosok peri kecil tak berdaya, tak memiliki sayap dan memang berbeda.
Kenapa yang lain terus menari? Aku tak diajak..
Mereka bercengkrama ria menikmati indahnya pesta, dan aku.. Hanya sesosok yang sama sekali tak diajak dansa.
Percuma, tak ada yang ingin berdansa denganku. Aku tak punya sayap seperti mereka. Dan aku selalu tertatih ketika berdansa. Untuk apa? Sia-sia saja aku berangan.
Gundah ini kian menjalari. Tiap hari aku bertanya, "Tuhan.. adakah mereka yang benar benar tulus menjadi teman baikku?"
Ada, memang.. Tapi hanya sekilat saja. Mereka memanfaatkan aku untuk membantu mereka menghidupkan cahaya air mancur Never Land. Setelah itu, mereka mengasingkan aku.. Lama dan perih terasa..
"Oh Tuhan, mengapa hanya aku yang berbeda?"
Aku terus bertanya tujuanku hidup di dunia ini. Aku merasa diasingkan. Aku merasa... Ah ! Tak boleh seharusnya kusesali, ini kan kondisi dan tak selamanya abadi. Mungkin takdir belum bicara sekarang, dan Dewi Fortuna mungkin tengah terlelap. Aku berusaha mengelus dada saja. Tersenyum dengan remehan mereka terhadap aku-- yang merupakan gadis penghayal dari dunia imajinasi. Tidak, tak pantas aku disebut gadis.. Aku tak memiliki spesies seperti itu.. Yah, aku lebih tepat menjadi spesies peri kecil.
Peri kecil yang berusaha menyihir dunia untuk melihatku. Meski sulit kugapai, aku terus berkhayal dan cacian mereka selalu terdengar di indra pendengaranku. Mereka meremehkan aku menjadi sesosok pengkhayal, yang mungkin tak memiliki segenap tetes jiwa yang membuatnya nyata. Tapi aku terus mencoba, peri kecil yang tak jua menyerah begitu saja. Aku, peri kecil, yang dianggap remeh oleh mereka, akan membuktikan kenyataan dari imajinasi yang telah kususun. Aku tahu, aku berbeda.. Mereka kira khayalku takkan jadi nyata. Bukankah kenyataan itu berasal dari takdir dan perjuangan? Bukan berasal dari untaian kata-kata ? Mereka boleh saja menyebut aku sebagai orang aneh. Kuakui, aku memang aneh. Peri kecil yang aneh. Tapi aku terus tersenyum, mencoba membuktikan imajinasi itu benar adanya.
Aku tahu, peri di Never Land itu tersenyum sinis menatapku. Tapi, ini jurusanku, kemana aku harus mengadu takdir, dengan khayalan dan imajinasiku yang semata remeh di mata mereka.
Aku peri kecil, namun imajinasiku takkan kecil.

Komentar
Posting Komentar