Shining Star-Addict Girl
Malam ini udara bersenandung damai. Pohon-pohon kelapa tua yang berserakan tumbuh di halaman rumah ku kini melambai tanpa diberi aba-aba. Seakan Ia terus menari, menikmati malam dengan semilir angin sejuk yang silih berganti. Rembulan yang berbentuk separuh itu tengah berjajar. Berjajar bersama sang bintang yang berkelap-kelip elok dipandang mata.
Aku disini, duduk termenung menggapai mimpi. Dibawah pohon kelapa tua yang menjuntai tinggi. Berteman kan sang diari yang sengaja kubawa sedari tadi. Aku biasa disini, duduk diatas tanah tanpa menghiraukan apa yang terjadi. Inilah suatu momen penting yang sulit kuhindari, disaat sang bintang bertaburan, membentuk kebahagiaan utuh di setiap sudut mataku. Aku sangat menikmati momen ini. Entah apa yang selalu terlintas di khayalku ketika sang bintang mulai membentuk barisan rapi nya. Indah, menurutku. Bintang-bintang itu membuat kesan damai disaat aku tengah terpuruk dan jatuh ke jurang terdalam. Tanpa kuminta, sang bintang seakan mengulurkan tangannya. Memberikan secarik bantuan padaku, mengusap tiap tetes air yang keluar dari kedua ujung mataku.
Aku dipeluknya malam itu, direngkuhnya, dan selalu bergumam kecil di dalam hati "Jangan usik aku malam ini". Ya, aku ingin bahagia bersama sang bintang. Ia memberiku energi batin tanpa kusadari. Bagai sebuah baterai handphone yang lemah, energiku seakan tengah di charge olehnya. Aku bahagia. Hanya dengan menatapnya malam itu.
Jujur saja, sering ku lempar sukmaku ke atas, berusaha untuk menggenggam erat sang bintang. Aku ingin bersamanya. Tak ingin terpisah olehnya. Namun bintang memiliki kehidupannya sendiri, dan aku juga memiliki kehidupanku sendiri. Bintang berjajar dengan bintang-bintang lain di angkasa. Mereka bersama, dan sering membentuk sesuatu yang kerap disebut konstelasi. Nama lain dari rasi bintang--sekelompok bintang yang membentuk suatu konfigurasi khusus.
Indahnya ! Mereka selalu bersama. Suka duka mereka lewati bersama. Aku iri sejujurnya. Anganku sering menelusur jauh mengenai hal ini. Andai aku seperti para bintang. Ia tak kesepian. Tak seperti aku, seorang gadis pecandu bintang yang merasa kesepian. Ah. mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak kesepian. Aku punya teman-teman yang menyayangiku.
Hanya terkadang aku bertanya pada Vega, bintang favoritku yang terletak di rasi Lyra. Ia memancarkan energi lima puluh kali lebih banyak daripada Ratu Tata Surya. Ia terletak di arah utara. Disana ! Ya ! Aku mendapatkannya, lagi. Ia merupakan bintang ke lima yang paling terang di angkasa. Terkadang aku tersenyum, lirih. Melambaikan tangan kananku ke atas, ke arahnya. "Apa kau kesepian seperti aku?" Aku berteriak kencang di dalam hati.
"Vega, aku ingin bertanya. Apakah teman teman mu di angkasa sering membuatmu tidak nyaman? Uhm.. bukan, maksudku, apakah mereka mampu memahami apa yang tengah kau rasakan? Apakah mereka tidak meninggalkan kau sendirian ketika malam mulai menampar? Apakah kau tidak merasa dikucilkan oleh mereka? Apakah kau benar benar se nyaman itu? Apakah mereka sering tak menganggapmu ada? Ataukah kau hanya pura pura tersenyum terang agar tak seorang pun yang mencurigai perasaanmu?"
Vega bersinar kembali, mengeluarkan sorot cahaya terang yang agak kebiruan. Sepertinya Ia bahagia disana. "Aku iri denganmu Vega, andai saja kita bertukar posisi" Ucapku lirih. Dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca menghiasi malam.
Aku disini, duduk termenung menggapai mimpi. Dibawah pohon kelapa tua yang menjuntai tinggi. Berteman kan sang diari yang sengaja kubawa sedari tadi. Aku biasa disini, duduk diatas tanah tanpa menghiraukan apa yang terjadi. Inilah suatu momen penting yang sulit kuhindari, disaat sang bintang bertaburan, membentuk kebahagiaan utuh di setiap sudut mataku. Aku sangat menikmati momen ini. Entah apa yang selalu terlintas di khayalku ketika sang bintang mulai membentuk barisan rapi nya. Indah, menurutku. Bintang-bintang itu membuat kesan damai disaat aku tengah terpuruk dan jatuh ke jurang terdalam. Tanpa kuminta, sang bintang seakan mengulurkan tangannya. Memberikan secarik bantuan padaku, mengusap tiap tetes air yang keluar dari kedua ujung mataku.
Aku dipeluknya malam itu, direngkuhnya, dan selalu bergumam kecil di dalam hati "Jangan usik aku malam ini". Ya, aku ingin bahagia bersama sang bintang. Ia memberiku energi batin tanpa kusadari. Bagai sebuah baterai handphone yang lemah, energiku seakan tengah di charge olehnya. Aku bahagia. Hanya dengan menatapnya malam itu.
Jujur saja, sering ku lempar sukmaku ke atas, berusaha untuk menggenggam erat sang bintang. Aku ingin bersamanya. Tak ingin terpisah olehnya. Namun bintang memiliki kehidupannya sendiri, dan aku juga memiliki kehidupanku sendiri. Bintang berjajar dengan bintang-bintang lain di angkasa. Mereka bersama, dan sering membentuk sesuatu yang kerap disebut konstelasi. Nama lain dari rasi bintang--sekelompok bintang yang membentuk suatu konfigurasi khusus.
Indahnya ! Mereka selalu bersama. Suka duka mereka lewati bersama. Aku iri sejujurnya. Anganku sering menelusur jauh mengenai hal ini. Andai aku seperti para bintang. Ia tak kesepian. Tak seperti aku, seorang gadis pecandu bintang yang merasa kesepian. Ah. mungkin itu hanya perasaanku saja. Aku tidak kesepian. Aku punya teman-teman yang menyayangiku.
Hanya terkadang aku bertanya pada Vega, bintang favoritku yang terletak di rasi Lyra. Ia memancarkan energi lima puluh kali lebih banyak daripada Ratu Tata Surya. Ia terletak di arah utara. Disana ! Ya ! Aku mendapatkannya, lagi. Ia merupakan bintang ke lima yang paling terang di angkasa. Terkadang aku tersenyum, lirih. Melambaikan tangan kananku ke atas, ke arahnya. "Apa kau kesepian seperti aku?" Aku berteriak kencang di dalam hati.
"Vega, aku ingin bertanya. Apakah teman teman mu di angkasa sering membuatmu tidak nyaman? Uhm.. bukan, maksudku, apakah mereka mampu memahami apa yang tengah kau rasakan? Apakah mereka tidak meninggalkan kau sendirian ketika malam mulai menampar? Apakah kau tidak merasa dikucilkan oleh mereka? Apakah kau benar benar se nyaman itu? Apakah mereka sering tak menganggapmu ada? Ataukah kau hanya pura pura tersenyum terang agar tak seorang pun yang mencurigai perasaanmu?"
Vega bersinar kembali, mengeluarkan sorot cahaya terang yang agak kebiruan. Sepertinya Ia bahagia disana. "Aku iri denganmu Vega, andai saja kita bertukar posisi" Ucapku lirih. Dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca menghiasi malam.

Komentar
Posting Komentar