Someone Like You
Kenalkan, aku Narita. Gadis yang setiap harinya mengenakan rok abu-abu sebagai seragam wajib. Gadis berambut sebahu yang tidak suka dikucir. Gadis berpostur langsing dengan tinggi badan sekitar 170 cm. Gadis penyuka prosa dan dunia imajinasi. Gadis yang tidak suka keramaian. Gadis pecandu senja dan fajar. Gadis penikmat warna pelangi. Dan gadis penyandang kanker darah yang sudah bertahun lama nya.
Hidupku bisa dibilang tidak spesial. Yang ada malah aku kesepian. Ayah, hmm.. Aku tidak punya sosok ayah yang membimbingku dan menjagaku. Aku tidak pernah menyentuhnya. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sekalipun dalam bentuk foto. Aku tidak pernah mendengar desahan suaranya, aku tidak pernah bergelut manja dengannya. Aku memang tidak punya ayah. Entahlah, atau memang aku sudah ditakdirkan menjadi anak haram dari awal seperti ini.
Ibu, satu-satunya orang yang kumiliki sekarang. Seorang wanita penjaja seks komersial yang bekerja mulai pukul tujuh malam hingga setengah enam pagi. Terkadang aku memang malu memiliki silsilah keluarga seperti ini, aku terlahir tanpa ayah, dan ibuku sesosok penjaja seks komersial. Hal ini sering kututupi dari teman-temanku semenjak aku berada di bangku taman kanak-kanak. Aku memang sudah mengerti sejak kecil bahwa keluargaku bukanlah keluarga sempurna. Mungkin inilah alasan mengapa aku sering menutup diri dari teman-teman sebaya ku.
Intinya, aku kesepian. Sering tiada hiburan. Apalagi aku tidak punya banyak teman. Ralat ! Aku memang punya teman, tapi sekedar 'teman', teman yang tidak mengetahui masalah masalah yang ku alami beserta penyakit yang kusandang saat ini.
Terkadang aku merasa hidupku ini tidak adil. Namun persepsi itu selalu kutepis jauh-jauh. Mungkin ada saatnya aku bahagia. Nanti. Bukan sekarang dan belum kutemukan.
Nafas yang kuhela beserta oksigen ini selalu kuanggap hal spesial dalam hidupku. Setiap detik yang bergulir akan selalu kulukis dalam memori. Aku tidak tahu seberapa lama lagi, entah besok, lusa, seminggu lagi, sebulan lagi, bahkan setahun lagi aku bisa menikmati sepoi sepoi angin dan panorama cakrawala khatulistiwa yang membentang ini. Sepengetahuanku, waktu ku sudah tidak lama lagi. Penyakitku beranjak parah dan hal terpenting yang harus kulakukan sebelum kuhela nafas terakhirku adalah, aku ingin membahagiakan orang lain tanpa mempedulikan kebahagiaanku sendiri. Karena membahagiakan orang lain merupakan hal bermakna yang memang sulit kudefinisikan dalam kata.
Namun tahukah? Bahwa masih ada satu hal lagi yang lebih spesial dari helaan nafas dan oksigen. Hal spesial yang memang hanya aku yang tahu, namun juga terlalu sulit kudefinisikan. Entahlah, mungkin manusia dalam usia sepertiku sudah mampu merasakannya. Ketertarikan. Suatu ketertarikan absurd yang aku belum tahu landasannya apa.
Aku terlalu sering atau bahkan sangat sering menatapnya diam dalam jarak beberapa meter. Aku suka memerhatikan siluet wajah tegasnya yang terbalut sinar mentari pagi yang merembes masuk dari jendela kaca di sampingnya. Pria itu.. teman sekelasku yang sudah sejak awal kukagumi. Ia merupakan teman sebangkuku ketika aku masih berada di kelas 10 dulu. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas 11, masih satu kelas dengannya, namun kini kami terpisah oleh jarak dan bangku.
Ia sebangku denganku tanpa sengaja. Awalnya, aku memang merupakan murid baru yang masuk dua bulan setelah proses Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung. Dan aku terpaksa duduk sebangku dengannya ketika tiada lagi bangku kosong tersisa lainnya. Ia tipikal pria jahil, humoris, dan cerdas. Terkadang kecerewetannya membuatku sebal, namun begitu kurindukan. Ia sering bercerita panjang lebar padaku, namun tidak sebaliknya, aku malah menutup diri. Kedekatan ku selama berbulan-bulan ini menumbuhkan suatu rasa yang sulit terbaca. Dan ada kalanya aku gugup ketika mendapati Ia menatapku tajam.
Ia kapten basket di sekolahku. Terdengar klise bak dalam novel? Ini memang kenyataannya. Kapten basket yang selalu dihibur oleh para gadis cantik berbusana minim dengan balutan senyum yang menawan. Aku bukan salah satu dari gadis cantik itu. Dan aku sudah paham hal itu.
Memang dirinya merupakan idola para gadis didalam bahkan diluar sekolah. Aku terlalu bermimpi jika mampu merebut hatinya. Aku dan dia, berbeda. Aku hanyalah gadis penyakitan yang tak pantas dicintai, dan mungkin tiada yang mencintai. Sedangkan dia, kau tak usah bertanya lagi, sudah pasti Ia adalah idola kaum Hawa.
Aku bodoh. Memang. Kenapa bisa-bisanya aku menyukai pria seperti dia? Seharusnya aku tahu dan aku sadar, bahwa Ia tidak mungkin menyukaiku. Tapi ketahuilah bahwa Ia adalah oksigen bagiku. Alasanku bertahan hidup.
Ketika setengah tahun yang lalu dokter memvonisku bahwa waktuku sudah dua bulan lagi, aku tidak menyerah. Aku malah memiliki semangat juang ketika kubayangkan sosoknya. Ia bagai mengalirkan energi fantastis pada seluruh permukaan darahku.
"Aw!" Tiba tiba rambutku serasa ditarik dari belakang. Aku menoleh ke arah sang empunya tangan. Namun sosok yang menarikku tadi malah gugup dan gemetar dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Aku melirik tangannya. Kudapati tangannya sekarang hampir penuh dengan sesuatu yang sangat jelas kukenal. Ya, rambutku !.
"Nar.." Ia mencoba membuka bibirnya takut-takut.
Aku tersenyum. Meskipun sebenarnya ingin kuteteskan saja air mataku.
"Kamu gak papa, Nar? Inii.. rambut kamu..."
"Rontok" Aku menyelesaikan untaian kata yang terlukis dari bibirnya sembari tersenyum. Ia mengisyaratkan tanya nya lewat mata sekali lagi, seolah tengah berbicara 'kamu-nggak-papa?" tetapi bibirnya masih terkatup rapat.
Aku hanya bisa menggeleng dan memaksakan senyum termanisku pada sosok pria yang paling aku kagumi, Gerry.
Tak lama setelah momen menyakitkan itu berlangsung, Bella, gadis yang menurutku paling cantik satu kelas dengan segera merangkul lengan Gerry. "Makan bakso yuk ! Aku yang traktir deh"
Aku berharap dan sangat berharap sekali jika Gerry akan menolak ajakan Bella. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Gestur anggukkan yang digunakan Gerry beserta ucapan "Aku pergi dulu ya, Nar" nya tadi menghujamku cukup kuat hingga batinku melemah seperti ini.
Inilah yang aku takuti. Kondisi ku akan semakin memburuk jika aku kehilangannya, maksudku.. meninggalkan dirinya dengan gadis lain selain aku. Ini cukup egois, tapi aku tidak bisa munafik dengan perasaanku sendiri. Aku menyukai Gerry, mengaguminya, menyayanginya, bahkan bisa jadi mencintainya. Ia adalah penghapus sepi dalam perjalanan hidupku, penghibur antik yang mampu menghapus lukaku, dan Ia bukan lampu temaram yang menyinariku sebagian saja, Ia menyinari seluruh hidupku seperti mentari.
Seharusnya aku sadar siapa dia. Dia kapten basket, idola, harusnya aku lebih memahami dan mengerti bahwa yang menyukainya tidak cuma segelintir. Seharusnya aku sadar !
Namun pengusir sepi ku hanya Gerry. Aku yang kesepian, terlalu kesepian. Andai saja Ibu akrab denganku sejak kecil, mungkin aku tak akan terlalu kesepian seperti ini. Aku memang tidak akrab dengan Ibu, dan aku sangatlah menentang pekerjaannya sebagai seorang pelacur. Ya, pelacur! . Anak manakah yang tidak malu bahwa Ia memiliki Ibu seorang pelacur?
Andaikan aku punya sepupu atau bahkan kerabat. Aku punya, tetapi yang jelas bukan disini. Ibu pernah berkata ketika aku masih kecil bahwa semua keluarganya ada di Bandung. Ia merantau disini, dan Ia tidak pernah mengatakan pada siapapun, kenalannya, bahkan keluarganya sendiri bahwa Ia merupakan seorang pelacur. Cih !
Andaikan aku punya sahabat. Aku ingin sekali bisa bercerita pada seorang sahabat mengenai kondisi keluargaku. Tetapi mengapa aku terlalu takut untuk memulai? Aku masih terlalu rapuh untuk memiliki teman dekat. Bagaimana jika tidak ada yang mau berteman denganku hanya karena Ibuku seorang pelacur?
Yang jelas, aku tidak pernah ke kantin bersama teman-temanku, yang satu kelas sekalipun. Aku pernah beberapa kali ke kantin bersama Gerry tetapi yang ada hanya para gadis menatapku sinis. Inti dari semua ini adalah.... aku kesepian.
***
Hari ini pelajaran Matematika. Tetapi berhubung Pak Killer tidak masuk hari ini, siswa-siswi bersorak gembira sembari melakukan kesibukan mereka masing-masing. Ngerumpi, bergossip, bermain game. Tetapi aku bukan merupakan anggota kegiatan tersebut. Aku melangkah menuju tempat Gerry yang tengah terduduk santai sembari menggenggam iPad nya.
Untungnya, tidak ada Roy, teman sebangku Gerry. Jadi, aku bisa duduk sementara di bangku milik Roy. Entahlah kemana lelaki itu pergi, Ia memang biasa seperti itu, pergi.. membolos, tidak masuk tanpa keterangan. Yang jelas, Roy merupakan salah satu anak bandel di kelasku.
"Eh si beruk! Ngapain kesini?" Ungkap Gerry menyapaku tanpa dosa. Ia memang selalu ceplas ceplos seperti itu. Tetapi ketahuilah bahwa aku menyukai caranya memperlakukan aku.
"Bete Ger, cerita yuk !" Ujarku sambil membolak balik buku tulisnya. Harus kuakui bahwa pria ini memiliki tulisan yang lebih sedap dipandang mata dibandingkan tulisan ku.
"Gak ah ! Bosen kalo ceritanya sama kamu !"
Aku tahu Ia sedang bermain-main denganku. Dan aku sangat hapal dengan sifatnya yang seperti ini.
"Yaudah, terserah kamu deh. Kalo aku mati nanti kamu gak ada temen cerita lagi loh"
"Eh kok ngomongnya gitu sih?"
Aku tertegun mendengar pertanyaannya barusan. Seakan wajah Gerry yang tadinya ceria berubah khawatir menatapku. Andai saja kau tahu bahwa waktuku tidak akan lama lagi, Ger.
"Gak papa! Ayo donk ceritaa! Eh, aku kepengin tahu nih cerita cinta kamu. Kamu gak pernah cerita sama aku tentang hal itu kan? Ayolaah.. kasihtau.. Gak bakal kukasih tau sama siapa-siapa kok. Atau jangan jangan kamu belum mempercayakan aku tentang hal ini?"
Gerry menatapku serius "Bukannya kamu yang gak pernah sama sekali mempercayain aku sebagai temen cerita kamu? Kamu gak pernah loh cerita sama aku tentang masalahmu. Kamu masih belum percaya ya sama aku?"
Jleb. Kata-kata Gerry barusan ada benarnya. Aku memang tidak pernah cerita apapun pada makhluk disampingku ini.
"Baiklah, aku bakal cerita ke kamu. Hmm, gimana kalo tentang orang yang aku suka?" Aku mengumpulkan oksigen agar nafasku tetap teratur.
"Eh si beruk ternyata punya someone special. Ayo ceritain donk ! Ceritain ! Dia anak mana? Ceritain ! Ceritain!"
"Bakalan aku ceritain kalo aku sudah tahu siapa orang yang kamu suka. Gimana? Aku janji deh bakalan cerita setelah kamu cerita"
Gerry menghela nafas. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling seakan tidak ada yang boleh mengetahui hal ini selain aku, mungkin.
"Aku suka.. Bella" Ucapnya perlahan namun pasti. Aku bisa merasakan getaran di matanya. "Kira-kira kapan ya aku bakal nembak dia buat jadi pacarku? Aku masih ragu dia suka sama aku atau nggak"
Aku tersenyum. Tangisku rasanya ingin pecah tetapi sekuat mungkin aku berusaha menahannya. "Bella pasti suka kamu kok"
"Sekarang, siapa yang kamu suka?"
Aku tersenyum "Mungkin aku harus nemuin seseorang sepertimu"
Kali ini kulihat wajahnya kaget. Tetapi aku tidak malu mengutarakan perasaanku sendiri. Toh, aku sudah sedikit lega. Aku tahu, Ia tidak akan pernah membalas perasaanku. Setidaknya, Ia mengetahui apa yang selama ini diam-diam kurasakan.
"Maksudnya?" Gerry menampilkan wajah polos tak berkelas. Aku yakin bahwa Ia telah mengerti maksudku. Tetapi bersikap pura-pura bodoh seakan Ia tidak mengerti agar aku mengulangi kalimatku lebih jelas dan akhirnya Ia bilang bahwa Ia tidak menyukaiku di depan wajah sadarku dan aku tahu skenario cerita ini. Aku tahu..
"Aku harus cari orang lain yang mirip kamu. Seseorang seperti kamu. Nanti.. Suatu saat.. Ketika aku udah berada di surga,mungkin.. Pasti akan aku cari seseorang seperti kamu. Aku janji"
Aku beringsut dari tempatku terduduk. Wajah pucat yang diiringi dengan lemasnya tubuhku begitu juga perasaanku, seakan membuat semangat hidupku mulai memudar. Aku meninggalkan Gerry di tempat duduknya, sendirian. Andai aku mampu menemaninya lebih lama. Andai aku bisa jadi yang halal baginya kelak. Aku janji akan membahagiakannya. Namun sepertinya takdirku tidak memihak. Dalam waktu dekat ini, aku pasti akan meninggalkan semuanya. Entahlah, aku rasa memang begitu. Akhir-akhir ini kondisiku sering nge-drop, dan sepertinya aku tidak tahan dengan situasi seperti ini terus menerus.
Aku mengambil secarik kertas. Aku menuliskan perasaanku didalam kertas putih bergaris garis ini. Ini bukan diari. Tetapi lebih mirip surat yang kutujukan untuk Gerry. Aku berjanji, pasti akan menitipkan surat ini pada Ibu, atau pada Diana teman sebangkuku. Ketika aku pergi dari jagat raya ini kelak, aku ingin mereka memberikannya pada Gerry.
Ketika aku belum sampai ke penutupan surat tersebut, tiba-tiba kepalaku serasa tertusuk ribuan jarum. Jantungku memompa darah lebih cepat. Sedikit demi sedikit darah mengalir dari hidungku membasahi kertas surat yang akan kuberikan pada Gerry. Kepalaku teramat pusing, dan sepertinya sekarang kepalaku telah tergeletak di atas meja. Sakit. Sangat sakit. Dan aku merasakan dagingku serasa dirobek dan dilepaskan dari tulang-tulangku. Sakit sekali. Dengan sekejap, aku merasa tubuhku terangkat keatas.
Namun aku kaget, aku bisa melihat tubuhku dari atas sini. Tubuhku tengah tergeletak pucat. Diiringi dengan jeritan Diana dan teman-temanku yang segera mendekat. Mereka memeriksa tubuhku dan pada akhirnya mereka menangis. Dan baru aku tersadar, bahwa aku.. sudah tiada. Aku melihat jasadku dikerumuni teman-teman dan ada beberapa teman-temanku yang memanggil guru. Pemandangan yang tak bisa kulepas adalah... Gerry. Ia menangis histeris menatapku. Oh, aku maksud jasadku. Ia menangis. Masih menangis hingga akhirnya Ia tersadar di bawah kepalaku yang tengah tergeletak di atas meja, aku meninggalkan sepucuk surat untuknya.
Yang terhormat, Gerry..
Terima kasih telah menjadi penghapus sepi dalam perjalanan hidupku yang singkat ini. Terima kasih telah menjadi penghibur hati dalam suasana yang kacau ini. Dan terima kasih atas segala yang kau lakukan padaku selama ini.
Gerry, aku bahagia.. Aku bahagia pernah sebangku dengan dirimu. Aku bahagia karena kita pernah menerjang waktu bersama. Aku bahagia, Gerry..
Gerry, aku rasa kau adalah manusia paling berharga yang pernah aku temui. Kau bagai sosok ayah untukku, yang mengajariku serta membimbingku jika aku masih melakukan kesalahan. Aku tahu, kau tidak ingin disebut sosok ayah,kan? :'P Kau pasti ingin aku menyebutmu sebagai sosok 'kakak' karena sosok 'ayah' itu terlalu tua untuk seseorang sepertimu. Tapi ketahuilah Gerry, aku tidak memiliki ayah, aku anak haram, aku ingin memiliki ayah dan aku bahagia kau mau menemani hari-hariku yang sepi bersama penyakit kanker darah yang telah kuderita bertahun-tahun ini. Aku tahu, waktuku tidak akan lama lagi.
Gerry, aku mencintaimu. Maafkan jika aku memendam perasaan yang mungkin terlarang seperti ini. Dan baru saja kau mengaku bahwa kau menyukai Bella. Berbahagialah dengan Bella. Aku doakan dari sini agar kalian akan selamanya saling mencintai. Maafkan aku, mungkin di akhirat aku akan temukan seseorang sepertimu. Seseorang seper
Surat itu belum selesai kubuat. Dan Gerry, aku melihatnya menangis. "Narita ! Aku juga suka sama kamu, Nar ! Aku tadi cuma bohong ! Karena aku masih malu ngungkapinnya sama kamu ! Aku gak kepengin hubungan kita renggang karena perasaan sukaku padamu. Nar ! Bangun Nar ! kok kamu cepet banget sih ninggalin aku, Nar?! Nar !!"
Ini bukan drama, Ya Tuhan. Apa aku tadi tidak salah dengar? Gerry juga menyukaiku? "Tapi ketahuilah Ger, kita tidak bisa bersatu. Kita tidak bisa melawan garis tangan yang telah Tuhan berikan. Aku mencintaimu, tapi lebih baik jika aku mencari seseorang sepertimu, bukan dirimu, di duniaku sendiri. Duniaku yang sekarang berbeda dengan duniamu"
The End
Hidupku bisa dibilang tidak spesial. Yang ada malah aku kesepian. Ayah, hmm.. Aku tidak punya sosok ayah yang membimbingku dan menjagaku. Aku tidak pernah menyentuhnya. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sekalipun dalam bentuk foto. Aku tidak pernah mendengar desahan suaranya, aku tidak pernah bergelut manja dengannya. Aku memang tidak punya ayah. Entahlah, atau memang aku sudah ditakdirkan menjadi anak haram dari awal seperti ini.
Ibu, satu-satunya orang yang kumiliki sekarang. Seorang wanita penjaja seks komersial yang bekerja mulai pukul tujuh malam hingga setengah enam pagi. Terkadang aku memang malu memiliki silsilah keluarga seperti ini, aku terlahir tanpa ayah, dan ibuku sesosok penjaja seks komersial. Hal ini sering kututupi dari teman-temanku semenjak aku berada di bangku taman kanak-kanak. Aku memang sudah mengerti sejak kecil bahwa keluargaku bukanlah keluarga sempurna. Mungkin inilah alasan mengapa aku sering menutup diri dari teman-teman sebaya ku.
Intinya, aku kesepian. Sering tiada hiburan. Apalagi aku tidak punya banyak teman. Ralat ! Aku memang punya teman, tapi sekedar 'teman', teman yang tidak mengetahui masalah masalah yang ku alami beserta penyakit yang kusandang saat ini.
Terkadang aku merasa hidupku ini tidak adil. Namun persepsi itu selalu kutepis jauh-jauh. Mungkin ada saatnya aku bahagia. Nanti. Bukan sekarang dan belum kutemukan.
Nafas yang kuhela beserta oksigen ini selalu kuanggap hal spesial dalam hidupku. Setiap detik yang bergulir akan selalu kulukis dalam memori. Aku tidak tahu seberapa lama lagi, entah besok, lusa, seminggu lagi, sebulan lagi, bahkan setahun lagi aku bisa menikmati sepoi sepoi angin dan panorama cakrawala khatulistiwa yang membentang ini. Sepengetahuanku, waktu ku sudah tidak lama lagi. Penyakitku beranjak parah dan hal terpenting yang harus kulakukan sebelum kuhela nafas terakhirku adalah, aku ingin membahagiakan orang lain tanpa mempedulikan kebahagiaanku sendiri. Karena membahagiakan orang lain merupakan hal bermakna yang memang sulit kudefinisikan dalam kata.
Namun tahukah? Bahwa masih ada satu hal lagi yang lebih spesial dari helaan nafas dan oksigen. Hal spesial yang memang hanya aku yang tahu, namun juga terlalu sulit kudefinisikan. Entahlah, mungkin manusia dalam usia sepertiku sudah mampu merasakannya. Ketertarikan. Suatu ketertarikan absurd yang aku belum tahu landasannya apa.
Aku terlalu sering atau bahkan sangat sering menatapnya diam dalam jarak beberapa meter. Aku suka memerhatikan siluet wajah tegasnya yang terbalut sinar mentari pagi yang merembes masuk dari jendela kaca di sampingnya. Pria itu.. teman sekelasku yang sudah sejak awal kukagumi. Ia merupakan teman sebangkuku ketika aku masih berada di kelas 10 dulu. Dan sekarang aku sudah duduk di kelas 11, masih satu kelas dengannya, namun kini kami terpisah oleh jarak dan bangku.
Ia sebangku denganku tanpa sengaja. Awalnya, aku memang merupakan murid baru yang masuk dua bulan setelah proses Kegiatan Belajar Mengajar berlangsung. Dan aku terpaksa duduk sebangku dengannya ketika tiada lagi bangku kosong tersisa lainnya. Ia tipikal pria jahil, humoris, dan cerdas. Terkadang kecerewetannya membuatku sebal, namun begitu kurindukan. Ia sering bercerita panjang lebar padaku, namun tidak sebaliknya, aku malah menutup diri. Kedekatan ku selama berbulan-bulan ini menumbuhkan suatu rasa yang sulit terbaca. Dan ada kalanya aku gugup ketika mendapati Ia menatapku tajam.
Ia kapten basket di sekolahku. Terdengar klise bak dalam novel? Ini memang kenyataannya. Kapten basket yang selalu dihibur oleh para gadis cantik berbusana minim dengan balutan senyum yang menawan. Aku bukan salah satu dari gadis cantik itu. Dan aku sudah paham hal itu.
Memang dirinya merupakan idola para gadis didalam bahkan diluar sekolah. Aku terlalu bermimpi jika mampu merebut hatinya. Aku dan dia, berbeda. Aku hanyalah gadis penyakitan yang tak pantas dicintai, dan mungkin tiada yang mencintai. Sedangkan dia, kau tak usah bertanya lagi, sudah pasti Ia adalah idola kaum Hawa.
Aku bodoh. Memang. Kenapa bisa-bisanya aku menyukai pria seperti dia? Seharusnya aku tahu dan aku sadar, bahwa Ia tidak mungkin menyukaiku. Tapi ketahuilah bahwa Ia adalah oksigen bagiku. Alasanku bertahan hidup.
Ketika setengah tahun yang lalu dokter memvonisku bahwa waktuku sudah dua bulan lagi, aku tidak menyerah. Aku malah memiliki semangat juang ketika kubayangkan sosoknya. Ia bagai mengalirkan energi fantastis pada seluruh permukaan darahku.
"Aw!" Tiba tiba rambutku serasa ditarik dari belakang. Aku menoleh ke arah sang empunya tangan. Namun sosok yang menarikku tadi malah gugup dan gemetar dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Aku melirik tangannya. Kudapati tangannya sekarang hampir penuh dengan sesuatu yang sangat jelas kukenal. Ya, rambutku !.
"Nar.." Ia mencoba membuka bibirnya takut-takut.
Aku tersenyum. Meskipun sebenarnya ingin kuteteskan saja air mataku.
"Kamu gak papa, Nar? Inii.. rambut kamu..."
"Rontok" Aku menyelesaikan untaian kata yang terlukis dari bibirnya sembari tersenyum. Ia mengisyaratkan tanya nya lewat mata sekali lagi, seolah tengah berbicara 'kamu-nggak-papa?" tetapi bibirnya masih terkatup rapat.
Aku hanya bisa menggeleng dan memaksakan senyum termanisku pada sosok pria yang paling aku kagumi, Gerry.
Tak lama setelah momen menyakitkan itu berlangsung, Bella, gadis yang menurutku paling cantik satu kelas dengan segera merangkul lengan Gerry. "Makan bakso yuk ! Aku yang traktir deh"
Aku berharap dan sangat berharap sekali jika Gerry akan menolak ajakan Bella. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Gestur anggukkan yang digunakan Gerry beserta ucapan "Aku pergi dulu ya, Nar" nya tadi menghujamku cukup kuat hingga batinku melemah seperti ini.
Inilah yang aku takuti. Kondisi ku akan semakin memburuk jika aku kehilangannya, maksudku.. meninggalkan dirinya dengan gadis lain selain aku. Ini cukup egois, tapi aku tidak bisa munafik dengan perasaanku sendiri. Aku menyukai Gerry, mengaguminya, menyayanginya, bahkan bisa jadi mencintainya. Ia adalah penghapus sepi dalam perjalanan hidupku, penghibur antik yang mampu menghapus lukaku, dan Ia bukan lampu temaram yang menyinariku sebagian saja, Ia menyinari seluruh hidupku seperti mentari.
Seharusnya aku sadar siapa dia. Dia kapten basket, idola, harusnya aku lebih memahami dan mengerti bahwa yang menyukainya tidak cuma segelintir. Seharusnya aku sadar !
Namun pengusir sepi ku hanya Gerry. Aku yang kesepian, terlalu kesepian. Andai saja Ibu akrab denganku sejak kecil, mungkin aku tak akan terlalu kesepian seperti ini. Aku memang tidak akrab dengan Ibu, dan aku sangatlah menentang pekerjaannya sebagai seorang pelacur. Ya, pelacur! . Anak manakah yang tidak malu bahwa Ia memiliki Ibu seorang pelacur?
Andaikan aku punya sepupu atau bahkan kerabat. Aku punya, tetapi yang jelas bukan disini. Ibu pernah berkata ketika aku masih kecil bahwa semua keluarganya ada di Bandung. Ia merantau disini, dan Ia tidak pernah mengatakan pada siapapun, kenalannya, bahkan keluarganya sendiri bahwa Ia merupakan seorang pelacur. Cih !
Andaikan aku punya sahabat. Aku ingin sekali bisa bercerita pada seorang sahabat mengenai kondisi keluargaku. Tetapi mengapa aku terlalu takut untuk memulai? Aku masih terlalu rapuh untuk memiliki teman dekat. Bagaimana jika tidak ada yang mau berteman denganku hanya karena Ibuku seorang pelacur?
Yang jelas, aku tidak pernah ke kantin bersama teman-temanku, yang satu kelas sekalipun. Aku pernah beberapa kali ke kantin bersama Gerry tetapi yang ada hanya para gadis menatapku sinis. Inti dari semua ini adalah.... aku kesepian.
***
Hari ini pelajaran Matematika. Tetapi berhubung Pak Killer tidak masuk hari ini, siswa-siswi bersorak gembira sembari melakukan kesibukan mereka masing-masing. Ngerumpi, bergossip, bermain game. Tetapi aku bukan merupakan anggota kegiatan tersebut. Aku melangkah menuju tempat Gerry yang tengah terduduk santai sembari menggenggam iPad nya.
Untungnya, tidak ada Roy, teman sebangku Gerry. Jadi, aku bisa duduk sementara di bangku milik Roy. Entahlah kemana lelaki itu pergi, Ia memang biasa seperti itu, pergi.. membolos, tidak masuk tanpa keterangan. Yang jelas, Roy merupakan salah satu anak bandel di kelasku.
"Eh si beruk! Ngapain kesini?" Ungkap Gerry menyapaku tanpa dosa. Ia memang selalu ceplas ceplos seperti itu. Tetapi ketahuilah bahwa aku menyukai caranya memperlakukan aku.
"Bete Ger, cerita yuk !" Ujarku sambil membolak balik buku tulisnya. Harus kuakui bahwa pria ini memiliki tulisan yang lebih sedap dipandang mata dibandingkan tulisan ku.
"Gak ah ! Bosen kalo ceritanya sama kamu !"
Aku tahu Ia sedang bermain-main denganku. Dan aku sangat hapal dengan sifatnya yang seperti ini.
"Yaudah, terserah kamu deh. Kalo aku mati nanti kamu gak ada temen cerita lagi loh"
"Eh kok ngomongnya gitu sih?"
Aku tertegun mendengar pertanyaannya barusan. Seakan wajah Gerry yang tadinya ceria berubah khawatir menatapku. Andai saja kau tahu bahwa waktuku tidak akan lama lagi, Ger.
"Gak papa! Ayo donk ceritaa! Eh, aku kepengin tahu nih cerita cinta kamu. Kamu gak pernah cerita sama aku tentang hal itu kan? Ayolaah.. kasihtau.. Gak bakal kukasih tau sama siapa-siapa kok. Atau jangan jangan kamu belum mempercayakan aku tentang hal ini?"
Gerry menatapku serius "Bukannya kamu yang gak pernah sama sekali mempercayain aku sebagai temen cerita kamu? Kamu gak pernah loh cerita sama aku tentang masalahmu. Kamu masih belum percaya ya sama aku?"
Jleb. Kata-kata Gerry barusan ada benarnya. Aku memang tidak pernah cerita apapun pada makhluk disampingku ini.
"Baiklah, aku bakal cerita ke kamu. Hmm, gimana kalo tentang orang yang aku suka?" Aku mengumpulkan oksigen agar nafasku tetap teratur.
"Eh si beruk ternyata punya someone special. Ayo ceritain donk ! Ceritain ! Dia anak mana? Ceritain ! Ceritain!"
"Bakalan aku ceritain kalo aku sudah tahu siapa orang yang kamu suka. Gimana? Aku janji deh bakalan cerita setelah kamu cerita"
Gerry menghela nafas. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling seakan tidak ada yang boleh mengetahui hal ini selain aku, mungkin.
"Aku suka.. Bella" Ucapnya perlahan namun pasti. Aku bisa merasakan getaran di matanya. "Kira-kira kapan ya aku bakal nembak dia buat jadi pacarku? Aku masih ragu dia suka sama aku atau nggak"
Aku tersenyum. Tangisku rasanya ingin pecah tetapi sekuat mungkin aku berusaha menahannya. "Bella pasti suka kamu kok"
"Sekarang, siapa yang kamu suka?"
Aku tersenyum "Mungkin aku harus nemuin seseorang sepertimu"
Kali ini kulihat wajahnya kaget. Tetapi aku tidak malu mengutarakan perasaanku sendiri. Toh, aku sudah sedikit lega. Aku tahu, Ia tidak akan pernah membalas perasaanku. Setidaknya, Ia mengetahui apa yang selama ini diam-diam kurasakan.
"Maksudnya?" Gerry menampilkan wajah polos tak berkelas. Aku yakin bahwa Ia telah mengerti maksudku. Tetapi bersikap pura-pura bodoh seakan Ia tidak mengerti agar aku mengulangi kalimatku lebih jelas dan akhirnya Ia bilang bahwa Ia tidak menyukaiku di depan wajah sadarku dan aku tahu skenario cerita ini. Aku tahu..
"Aku harus cari orang lain yang mirip kamu. Seseorang seperti kamu. Nanti.. Suatu saat.. Ketika aku udah berada di surga,mungkin.. Pasti akan aku cari seseorang seperti kamu. Aku janji"
Aku beringsut dari tempatku terduduk. Wajah pucat yang diiringi dengan lemasnya tubuhku begitu juga perasaanku, seakan membuat semangat hidupku mulai memudar. Aku meninggalkan Gerry di tempat duduknya, sendirian. Andai aku mampu menemaninya lebih lama. Andai aku bisa jadi yang halal baginya kelak. Aku janji akan membahagiakannya. Namun sepertinya takdirku tidak memihak. Dalam waktu dekat ini, aku pasti akan meninggalkan semuanya. Entahlah, aku rasa memang begitu. Akhir-akhir ini kondisiku sering nge-drop, dan sepertinya aku tidak tahan dengan situasi seperti ini terus menerus.
Aku mengambil secarik kertas. Aku menuliskan perasaanku didalam kertas putih bergaris garis ini. Ini bukan diari. Tetapi lebih mirip surat yang kutujukan untuk Gerry. Aku berjanji, pasti akan menitipkan surat ini pada Ibu, atau pada Diana teman sebangkuku. Ketika aku pergi dari jagat raya ini kelak, aku ingin mereka memberikannya pada Gerry.
Ketika aku belum sampai ke penutupan surat tersebut, tiba-tiba kepalaku serasa tertusuk ribuan jarum. Jantungku memompa darah lebih cepat. Sedikit demi sedikit darah mengalir dari hidungku membasahi kertas surat yang akan kuberikan pada Gerry. Kepalaku teramat pusing, dan sepertinya sekarang kepalaku telah tergeletak di atas meja. Sakit. Sangat sakit. Dan aku merasakan dagingku serasa dirobek dan dilepaskan dari tulang-tulangku. Sakit sekali. Dengan sekejap, aku merasa tubuhku terangkat keatas.
Namun aku kaget, aku bisa melihat tubuhku dari atas sini. Tubuhku tengah tergeletak pucat. Diiringi dengan jeritan Diana dan teman-temanku yang segera mendekat. Mereka memeriksa tubuhku dan pada akhirnya mereka menangis. Dan baru aku tersadar, bahwa aku.. sudah tiada. Aku melihat jasadku dikerumuni teman-teman dan ada beberapa teman-temanku yang memanggil guru. Pemandangan yang tak bisa kulepas adalah... Gerry. Ia menangis histeris menatapku. Oh, aku maksud jasadku. Ia menangis. Masih menangis hingga akhirnya Ia tersadar di bawah kepalaku yang tengah tergeletak di atas meja, aku meninggalkan sepucuk surat untuknya.
Yang terhormat, Gerry..
Terima kasih telah menjadi penghapus sepi dalam perjalanan hidupku yang singkat ini. Terima kasih telah menjadi penghibur hati dalam suasana yang kacau ini. Dan terima kasih atas segala yang kau lakukan padaku selama ini.
Gerry, aku bahagia.. Aku bahagia pernah sebangku dengan dirimu. Aku bahagia karena kita pernah menerjang waktu bersama. Aku bahagia, Gerry..
Gerry, aku rasa kau adalah manusia paling berharga yang pernah aku temui. Kau bagai sosok ayah untukku, yang mengajariku serta membimbingku jika aku masih melakukan kesalahan. Aku tahu, kau tidak ingin disebut sosok ayah,kan? :'P Kau pasti ingin aku menyebutmu sebagai sosok 'kakak' karena sosok 'ayah' itu terlalu tua untuk seseorang sepertimu. Tapi ketahuilah Gerry, aku tidak memiliki ayah, aku anak haram, aku ingin memiliki ayah dan aku bahagia kau mau menemani hari-hariku yang sepi bersama penyakit kanker darah yang telah kuderita bertahun-tahun ini. Aku tahu, waktuku tidak akan lama lagi.
Gerry, aku mencintaimu. Maafkan jika aku memendam perasaan yang mungkin terlarang seperti ini. Dan baru saja kau mengaku bahwa kau menyukai Bella. Berbahagialah dengan Bella. Aku doakan dari sini agar kalian akan selamanya saling mencintai. Maafkan aku, mungkin di akhirat aku akan temukan seseorang sepertimu. Seseorang seper
Surat itu belum selesai kubuat. Dan Gerry, aku melihatnya menangis. "Narita ! Aku juga suka sama kamu, Nar ! Aku tadi cuma bohong ! Karena aku masih malu ngungkapinnya sama kamu ! Aku gak kepengin hubungan kita renggang karena perasaan sukaku padamu. Nar ! Bangun Nar ! kok kamu cepet banget sih ninggalin aku, Nar?! Nar !!"
Ini bukan drama, Ya Tuhan. Apa aku tadi tidak salah dengar? Gerry juga menyukaiku? "Tapi ketahuilah Ger, kita tidak bisa bersatu. Kita tidak bisa melawan garis tangan yang telah Tuhan berikan. Aku mencintaimu, tapi lebih baik jika aku mencari seseorang sepertimu, bukan dirimu, di duniaku sendiri. Duniaku yang sekarang berbeda dengan duniamu"
The End

Komentar
Posting Komentar