Goodbye,Baby..
It was October 7th..
Aku menanti kehadirannya. Selalu kunanti hingga hampir tiap detik aku bertanya pada sukmaku sendiri, "Kapan Ia lahir?". Bukan, memang bukan buah hatiku. Namun Ia adalah buah hati dari salah satu orang yang paling kusayangi di cakrawala dunia ini. Ia dikabarkan memiliki jenis kelamin laki-laki, dan tingkahnya yang hebat dikala Ia masih berada dalam tubuh bunda nya, membuatku semakin yakin Ia akan menjadi sosok putra pemimpin masa depan. Dan dalam hati aku berkata, sebentar lagi aku akan menjadi seorang tante.
Hari itu tiba, 7 Oktober 2009. Hari yang kunanti selama ini. Yang menimbulkan jutaan pertanyaan dalam tiap relung hatiku. Dan jawaban yang tiap kali kurindukan kini hadir tepat di telinga ku. Putra kecil itu lahir melalui operasi caesar dengan selamat. Namun yang sangat kusayangkan, kondisi Mbak ku yang tidak stabil membuat hatiku kian was-was. Kabarnya, di dalam paru-parunya terdapat cairan. Oh Tuhan, dan sampai hari itu, Ia koma.
Aku sedih. Sangat sedih. Berulang kali kukirimkan doa untuk mbak ku, dan keselamatan putra nya. Aku memang masih kecil saat itu. Tapi yakinlah bahwa aku sudah menjadi sesosok gadis perasa.
Yang kutahu, Ia lahir. Putra kecil itu. Dengan balutan kain yang kurasa sangat lucu. Memang lucu. Hingga saat itu aku memasang profile picture di akun Facebook ku dengan foto nya ketika baru lahir..
Betapa ingin aku bertemu dengan putra kecil itu. Benar benar ingin.. Hampir setiap minggu kakakku meng-upload foto-fotonya hingga 'jarak' diantara aku dan putra kecil itu seakan telah tiada.. Ya, kami terpisah oleh jarak dan waktu. Ia berada di Ciledug dan aku di Palembang. Jarak yang kurasa memang lumayan jauh.
Putra kecil itu bernama Ardyto Octaviano . Dyto panggilannya. Berasal dari gabungan nama mbak dan kakakku. Saat Dyto lahir, aku langsung menyadari bahwa aku adalah sesosok tante untuknya. Aku sudah punya keponakan pertamaku. Gembira. Itulah yang aku rasakan. Hingga aku dan adik laki-lakiku selalu menuntut ibu kami untuk membawa kami ke Ciledug.
Foto-fotonya yang lucu membuatku semakin ingin ke Ciledug, hingga akhirnya... Takdir memberiku kesempatan bertemu dengannya , dengan Dyto.. dan Mia, keponakan kedua ku yang terlahir dari salah satu mbak yang paling aku sayangi juga. Aku semakin senang karena aku akan melihat kedua keponakanku tersebut secara bersamaan pada lebaran tahun 2012 silam.
Di tahun 2012 , tahun yang diprediksikan suku Maya akan terjadinya kiamat, tahun yang begitu menjadi memori disetiap bilah pertemuan yang aku rasakan dengannya, Tahun yang begitu menggoreskan kenangan, Tahun berlimpahnya prestasi, dan tahun yang tak akan pernah aku lupa.. Tentang pertemuan pertama dan terakhir bersamanya.
Saat itu aku baru saja sampai di Jakarta. Di Soekarno-Hatta yang telah tiga tahun lamanya tidak ku jumpa. Aku melihat Budhe ku diantara kerumunan penjemput, dan disana, kami sempat mengobrol banyak disela waktu menunggu mobil yang tengah diparkir Pakdhe ku. Aku melihat sekeliling, Jakarta sudah agak berubah dari tiga tahun silam,gumamku. Tak lama, mobil yang dibawa Pakdhe ku sampai didepan kami. Kami menaiki mobil tersebut dan aku terkejut melihat seorang putra kecil berbadan gempal, yang beratnya berkisar 34 Kg. Aku sangat gemas melihatnya. Jujur, gemas sekali. Ternyata Ia keponakanku selama ini, yang aku impikan untuk bertemu. Aku langsung gemas mencubit lengannya. Tapi Ia tak berkutik, lucu sekali ekspresinya. Ia sangat pendiam, tidak mau melontarkan sepatah kata pun padaku kala itu. Mungkin belum kenal. Memang belum kenal, karena ini kali pertama perjumpaanku dengan putra kecil itu.
Sesampai di rumah Budhe ku. Dyto, keponakanku itu sudah mulai bisa beradaptasi denganku. Begitu pula dengan Mia, keponakan kedua ku. Kami sempat bermain bersama. Ingat sekali, Dyto sangat takut dengan rambut panjangku yang panjangnya sepinggul itu aku letakkan didepan, seperti sosok hantu yang menakut-nakuti anak kecil. Ia menangis, aku masih ingat. Ia takut dengan rambut panjang ku itu. Aku menyukai ekspresinya. Apalagi ketika Ia tidak mau mandi, aku memasang jurus andalanku itu untuk menakutinya. Kemudian, Ia mau mandi.
Ingat sekali ketika Ia mandi, Ia malah menyemprotkan selang air ke arahku sambil tertawa sehingga aku basah kuyup. Oh Tuhan, masa-masa itu sangat kurindukan. Baru kali ini aku disemprot air selang seperti itu. Sungguh, aku menangis mengingatnya.
Ia juga sering berkata "Hul" ketika tengah bermain Angry Birds. Ya, babi hijau yang ada dalam permainan Angry Birds itu sering mengucapkan kata itu ketika Ia musnah. Lucu sekali ekspresinya berkata "Hul" itu. Apalagi Ia sering berlagak seperti orang yang sudah bisa membaca, padahal waktu itu Ia belum bisa membaca. Ia juga bisa mengetik di Search Engine Youtube meskipun Ia belum bisa membaca.
Dan ketika Ia tengah bermain Angry Birds, foto-fotonya kuabadikan. Kala itu, aku memotonya langsung. Dengan kamera ku sendiri. Ya Tuhan, dan foto itu masih kusimpan didalam memori handphone-ku. Hingga kumasukkan dalam Album di Facebook yang berjudul "My Nephew, Dyto "
October 7th, 2013
Pukul lima pagi kurang sepuluh menit. Seperti biasa, ibuku membangunkanku dari buaian mimpi panjangku. "Ya bu, sebentar lagi !" . Teriakku pada ibu yang masih berceloteh dengan kemalasanku bangun pagi. Sebenarnya aku ingin melanjutkan mimpi indahku, tetapi ketika aku kembali tertidur. Bukan mimpi indah yang tadi kudapat, melainkan mimpi bahwa aku sakit gigi.
Ibuku memaksaku mencabut gigi geraham bawahku. Jujur, aku sangat tidak rela. Namun nyatanya, ibuku memaksaku ke dokter gigi dan tiba-tiba, gigi geraham bawahku yang kiri dan kanan, dicabut...
Aku shock, kaget, dan langsung terbangun dari buaian mimpi tersebut. Kulirik jam dinding yang masih berdetak, pukul lima lewat dua puluh menit. Dengan sesegera mungkin aku mengambil air wudhu dan berdoa "Semoga tidak terjadi apa-apa".
***
Sekitar pukul satu siang, aku mendapatkan smartphone ku berdering. Ketika aku mengangkat telpon tersebut, sebuah suara muncul dari ujung telpon. Jelas.. dan aku sangat ingat, Ia menyebut namaku "Mbak Dini..." .
Tak lama, Ia memutuskan sambungan telpon. Aku bahkan tidak tahu siapa yang menelpon ku barusan. Aku pun memutuskan untuk mengirimkannya pesan singkat.
"Siapa ini?"
Pertama, tidak terkirim.
"Siapa ini?"
Lagi, tidak terkirim.
Penasaran, aku menelpon nomor tersebut dan operator berkata "Maaf, nomor yang anda masukkan.. salah"
***
Sekitar pukul sepuluh malam, smartphone ku berdering lagi. Dan lagi lagi dengan nomor yang tak dikenal. Setelah kuangkat, ternyata terdengar suara tangisan. Langsung aku menyadari bahwa wanita yang tengah menangis itu adalah tante ku sendiri. Ia berkata bahwa... Dyto sudah tiada.
Tahukah bagaimana reaksiku? Aku tidak langsung menangis, jujur saja. Aku terdiam, berusaha kembali menelaah apa yang baru saja tante ku sebutkan. Otak ku keras sekali memvorsir. Lalu, sekelebatan bayangan kenangan antara aku dan Dyto lewat begitu saja dalam benakku. Barulah aku, histeris. Menangis histeris. Perasaan tidak rela selalu membayangi di tiap tetes tangisku.
Aku tidak berhenti menangis malam itu. Hatiku pedih serasa disayat. Terkadang aku menggunakan majas retoris, "Apakah ini mimpi, Tuhan?"
Aku sedih hingga hari berikutnya aku masih menelan duka. Aku, jujur saja.. masih belum rela Ia pergi. Aku baru satu kali bertemu dengannya. Tahun 2012 itu, pertemuan pertama dan terakhir. Ibuku berkata "Sudah nak, Kalau kamu nangis terus, Dyto makin nggak tenang"
Iya, benar. Ibuku benar. Kita tidak boleh terlalu menangisi apa yang telah Tuhan ambil seperti ini. Kita sebagai manusia harus merelakan kepergian seseorang, karena setiap orang pasti akan menemui ajalnya. Ingatlah bahwa Tuhan merupakan sutradara terbaik sepanjang masa. Ia juga menulis skenario yang tiap baitnya berisi hikmah.
Tuhan, aku memang sangat menyayangi Dyto. Aku memang merasa kehilangannya. Namun kuharap, Ia bisa membawa kedua orang tuanya ke syurga, tempat Ia berlabuh tenang selamanya di sana.
Tragis. Memang tragis. Ia dipanggil yang maha kuasa ketika hari ulang tahunnya yang ke-4. Berulang kali aku berusaha meyakini diriku bahwa ini merupakan fatamorgana semata. Tapi tidak, ini nyata. Dyto sudah tiada... Innalillahiwainnailaihiroji'un
7 Oktober 2009 - 7 Oktober 2013 . R.I.P Ardyto Octaviano
Auntie Loves You So Much Dear,
Aku menanti kehadirannya. Selalu kunanti hingga hampir tiap detik aku bertanya pada sukmaku sendiri, "Kapan Ia lahir?". Bukan, memang bukan buah hatiku. Namun Ia adalah buah hati dari salah satu orang yang paling kusayangi di cakrawala dunia ini. Ia dikabarkan memiliki jenis kelamin laki-laki, dan tingkahnya yang hebat dikala Ia masih berada dalam tubuh bunda nya, membuatku semakin yakin Ia akan menjadi sosok putra pemimpin masa depan. Dan dalam hati aku berkata, sebentar lagi aku akan menjadi seorang tante.
Hari itu tiba, 7 Oktober 2009. Hari yang kunanti selama ini. Yang menimbulkan jutaan pertanyaan dalam tiap relung hatiku. Dan jawaban yang tiap kali kurindukan kini hadir tepat di telinga ku. Putra kecil itu lahir melalui operasi caesar dengan selamat. Namun yang sangat kusayangkan, kondisi Mbak ku yang tidak stabil membuat hatiku kian was-was. Kabarnya, di dalam paru-parunya terdapat cairan. Oh Tuhan, dan sampai hari itu, Ia koma.
Aku sedih. Sangat sedih. Berulang kali kukirimkan doa untuk mbak ku, dan keselamatan putra nya. Aku memang masih kecil saat itu. Tapi yakinlah bahwa aku sudah menjadi sesosok gadis perasa.
Yang kutahu, Ia lahir. Putra kecil itu. Dengan balutan kain yang kurasa sangat lucu. Memang lucu. Hingga saat itu aku memasang profile picture di akun Facebook ku dengan foto nya ketika baru lahir..
Betapa ingin aku bertemu dengan putra kecil itu. Benar benar ingin.. Hampir setiap minggu kakakku meng-upload foto-fotonya hingga 'jarak' diantara aku dan putra kecil itu seakan telah tiada.. Ya, kami terpisah oleh jarak dan waktu. Ia berada di Ciledug dan aku di Palembang. Jarak yang kurasa memang lumayan jauh.
Putra kecil itu bernama Ardyto Octaviano . Dyto panggilannya. Berasal dari gabungan nama mbak dan kakakku. Saat Dyto lahir, aku langsung menyadari bahwa aku adalah sesosok tante untuknya. Aku sudah punya keponakan pertamaku. Gembira. Itulah yang aku rasakan. Hingga aku dan adik laki-lakiku selalu menuntut ibu kami untuk membawa kami ke Ciledug.
Foto-fotonya yang lucu membuatku semakin ingin ke Ciledug, hingga akhirnya... Takdir memberiku kesempatan bertemu dengannya , dengan Dyto.. dan Mia, keponakan kedua ku yang terlahir dari salah satu mbak yang paling aku sayangi juga. Aku semakin senang karena aku akan melihat kedua keponakanku tersebut secara bersamaan pada lebaran tahun 2012 silam.
Di tahun 2012 , tahun yang diprediksikan suku Maya akan terjadinya kiamat, tahun yang begitu menjadi memori disetiap bilah pertemuan yang aku rasakan dengannya, Tahun yang begitu menggoreskan kenangan, Tahun berlimpahnya prestasi, dan tahun yang tak akan pernah aku lupa.. Tentang pertemuan pertama dan terakhir bersamanya.
Saat itu aku baru saja sampai di Jakarta. Di Soekarno-Hatta yang telah tiga tahun lamanya tidak ku jumpa. Aku melihat Budhe ku diantara kerumunan penjemput, dan disana, kami sempat mengobrol banyak disela waktu menunggu mobil yang tengah diparkir Pakdhe ku. Aku melihat sekeliling, Jakarta sudah agak berubah dari tiga tahun silam,gumamku. Tak lama, mobil yang dibawa Pakdhe ku sampai didepan kami. Kami menaiki mobil tersebut dan aku terkejut melihat seorang putra kecil berbadan gempal, yang beratnya berkisar 34 Kg. Aku sangat gemas melihatnya. Jujur, gemas sekali. Ternyata Ia keponakanku selama ini, yang aku impikan untuk bertemu. Aku langsung gemas mencubit lengannya. Tapi Ia tak berkutik, lucu sekali ekspresinya. Ia sangat pendiam, tidak mau melontarkan sepatah kata pun padaku kala itu. Mungkin belum kenal. Memang belum kenal, karena ini kali pertama perjumpaanku dengan putra kecil itu.
Sesampai di rumah Budhe ku. Dyto, keponakanku itu sudah mulai bisa beradaptasi denganku. Begitu pula dengan Mia, keponakan kedua ku. Kami sempat bermain bersama. Ingat sekali, Dyto sangat takut dengan rambut panjangku yang panjangnya sepinggul itu aku letakkan didepan, seperti sosok hantu yang menakut-nakuti anak kecil. Ia menangis, aku masih ingat. Ia takut dengan rambut panjang ku itu. Aku menyukai ekspresinya. Apalagi ketika Ia tidak mau mandi, aku memasang jurus andalanku itu untuk menakutinya. Kemudian, Ia mau mandi.
Ingat sekali ketika Ia mandi, Ia malah menyemprotkan selang air ke arahku sambil tertawa sehingga aku basah kuyup. Oh Tuhan, masa-masa itu sangat kurindukan. Baru kali ini aku disemprot air selang seperti itu. Sungguh, aku menangis mengingatnya.
Ia juga sering berkata "Hul" ketika tengah bermain Angry Birds. Ya, babi hijau yang ada dalam permainan Angry Birds itu sering mengucapkan kata itu ketika Ia musnah. Lucu sekali ekspresinya berkata "Hul" itu. Apalagi Ia sering berlagak seperti orang yang sudah bisa membaca, padahal waktu itu Ia belum bisa membaca. Ia juga bisa mengetik di Search Engine Youtube meskipun Ia belum bisa membaca.
Dan ketika Ia tengah bermain Angry Birds, foto-fotonya kuabadikan. Kala itu, aku memotonya langsung. Dengan kamera ku sendiri. Ya Tuhan, dan foto itu masih kusimpan didalam memori handphone-ku. Hingga kumasukkan dalam Album di Facebook yang berjudul "My Nephew, Dyto "
![]() | |
| Kayak udah bisa baca aja kamu dek :') |
October 7th, 2013
Pukul lima pagi kurang sepuluh menit. Seperti biasa, ibuku membangunkanku dari buaian mimpi panjangku. "Ya bu, sebentar lagi !" . Teriakku pada ibu yang masih berceloteh dengan kemalasanku bangun pagi. Sebenarnya aku ingin melanjutkan mimpi indahku, tetapi ketika aku kembali tertidur. Bukan mimpi indah yang tadi kudapat, melainkan mimpi bahwa aku sakit gigi.
Ibuku memaksaku mencabut gigi geraham bawahku. Jujur, aku sangat tidak rela. Namun nyatanya, ibuku memaksaku ke dokter gigi dan tiba-tiba, gigi geraham bawahku yang kiri dan kanan, dicabut...
Aku shock, kaget, dan langsung terbangun dari buaian mimpi tersebut. Kulirik jam dinding yang masih berdetak, pukul lima lewat dua puluh menit. Dengan sesegera mungkin aku mengambil air wudhu dan berdoa "Semoga tidak terjadi apa-apa".
***
Sekitar pukul satu siang, aku mendapatkan smartphone ku berdering. Ketika aku mengangkat telpon tersebut, sebuah suara muncul dari ujung telpon. Jelas.. dan aku sangat ingat, Ia menyebut namaku "Mbak Dini..." .
Tak lama, Ia memutuskan sambungan telpon. Aku bahkan tidak tahu siapa yang menelpon ku barusan. Aku pun memutuskan untuk mengirimkannya pesan singkat.
"Siapa ini?"
Pertama, tidak terkirim.
"Siapa ini?"
Lagi, tidak terkirim.
Penasaran, aku menelpon nomor tersebut dan operator berkata "Maaf, nomor yang anda masukkan.. salah"
***
Sekitar pukul sepuluh malam, smartphone ku berdering lagi. Dan lagi lagi dengan nomor yang tak dikenal. Setelah kuangkat, ternyata terdengar suara tangisan. Langsung aku menyadari bahwa wanita yang tengah menangis itu adalah tante ku sendiri. Ia berkata bahwa... Dyto sudah tiada.
Tahukah bagaimana reaksiku? Aku tidak langsung menangis, jujur saja. Aku terdiam, berusaha kembali menelaah apa yang baru saja tante ku sebutkan. Otak ku keras sekali memvorsir. Lalu, sekelebatan bayangan kenangan antara aku dan Dyto lewat begitu saja dalam benakku. Barulah aku, histeris. Menangis histeris. Perasaan tidak rela selalu membayangi di tiap tetes tangisku.
Aku tidak berhenti menangis malam itu. Hatiku pedih serasa disayat. Terkadang aku menggunakan majas retoris, "Apakah ini mimpi, Tuhan?"
Aku sedih hingga hari berikutnya aku masih menelan duka. Aku, jujur saja.. masih belum rela Ia pergi. Aku baru satu kali bertemu dengannya. Tahun 2012 itu, pertemuan pertama dan terakhir. Ibuku berkata "Sudah nak, Kalau kamu nangis terus, Dyto makin nggak tenang"
Iya, benar. Ibuku benar. Kita tidak boleh terlalu menangisi apa yang telah Tuhan ambil seperti ini. Kita sebagai manusia harus merelakan kepergian seseorang, karena setiap orang pasti akan menemui ajalnya. Ingatlah bahwa Tuhan merupakan sutradara terbaik sepanjang masa. Ia juga menulis skenario yang tiap baitnya berisi hikmah.
Tuhan, aku memang sangat menyayangi Dyto. Aku memang merasa kehilangannya. Namun kuharap, Ia bisa membawa kedua orang tuanya ke syurga, tempat Ia berlabuh tenang selamanya di sana.
Tragis. Memang tragis. Ia dipanggil yang maha kuasa ketika hari ulang tahunnya yang ke-4. Berulang kali aku berusaha meyakini diriku bahwa ini merupakan fatamorgana semata. Tapi tidak, ini nyata. Dyto sudah tiada... Innalillahiwainnailaihiroji'un
7 Oktober 2009 - 7 Oktober 2013 . R.I.P Ardyto Octaviano
Auntie Loves You So Much Dear,







Komentar
Posting Komentar