Sajak Tentang Bayangmu

Jemari-jemari yang bergerak ini mengisahkan tentang bayangmu. Yang dengan angkuhnya memasuki kehidupanku tanpa permisi. Sedetik dua detik waktu seakan tak lagi berarak saat mata kita bersua. Hanya degup kencang dalam dada ini yang terus menyeruak.

Berawal dari kamu yang menyodorkan tanganmu untuk terus kugapai, kugenggam, dan kamu yang mengisyaratkan janji tanpa aba. Kamu juga yang berusaha menyembuhkan luka hatiku, dan menemukan obat dengan caramu sendiri. Kuakui dengan segenap jiwaku, kamu obat yang selama ini aku cari.

Kamu tepat, datang disaat hatiku retak tak menyatu. Kamu susun lagi kepingan-kepingan itu dengan perekat yang kamu ciptakan sendiri. Kamu buat lagi warna di tiap sentuhannya. Bagaimana bisa seorang wanita tak mampu menyukaimu? Ralat, mencintaimu.

Bukan hanya aku yang menumbuhkan perasaan untukmu sekarang. Tapi Stella, sahabatku, gadis yang paling aku sayang, juga mengagumimu dalam diam. Tuhan, apa salahku?

Kemarin sore, aku ingat. Disaat ratu tata surya menyibakkan warna jingganya ke bumi, Stella mengungkapkan perasaannya padaku. Ia berkisah, berkisah tentang kamu. Dan aku? Aku hanya pendengar setianya, yang duduk seolah terhanyut dalam setiap butiran ceritanya. Mengapa tak dari awal kusebutkan bahwa aku pun lebih mengagumimu?

Aku hanya seseorang yang menghargai perasaan Stella. Kalimat "Aku juga suka Dave" tercekat di tenggorokanku. Hanya pilu yang bergerak sebagai pemutar melodi.

Yang Stella tahu, aku tidak menyukaimu. Namun yang aku simpan, aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin setiap orang mengetahui rasaku untukmu. Aku takut, aku bahkan ragu. Aku masih belum siap menerima pernyataan pahit bahwa kamu tidak menyukaiku sama sekali.

Aku sadar, aku mungkin hanyalah perindu cintamu yang mungkin tak akan pernah kamu bagi. Aku bahkan tidak setara dengan setiap gadis yang berkeliaran di sekitarmu. Tapi aku mohon, izinkan aku menyimpan perasaan ini tanpa sepengetahuanmu. Aku sudah terlalu nyaman memilikimu sebagai lentera gulita temaram dalam hari-hariku.

Kosong. Sebisa mungkin aku mengosongkan hatiku agar aku tak lagi terluka, dilukai, atau bahkan melukai. Namun bayangmu tetap tersisa, tetap tinggal seakan kamulah sang penghuni terakhir. Aku telah berusaha mencobanya kosong, namun kamu pengisi pertama yang lagi-lagi hadir saat hatiku sudah benar-benar aku kosongkan.

Pilihan terakhir, aku memutuskan untuk menjadi pemain teater di belakang layar. Aku hanya ingin menyimpan, tanpa diketahui. Aku hanya ingin mendukung, tanpa diingat. Dan aku hanya ingin mencintai, tanpa menyakiti.

Karena kamu, alasanku untuk semangat pergi ke sekolah.

Komentar

Postingan Populer