Emosi
"Aku ingin bebas, aku ingin hidup tanpa sandiwara"
Masih kusimpan kata-kata gadis itu. Gadis yang sejak setahun ini tak pernah kurasakan lagi hadirnya. Ini bukan puisi, yang terikat sajak bermajas. Juga bukan surat untuk gadis itu, melainkan sesuatu yang ingin kuungkap tanpa harus dibantah.
Sudah lewat setahun gadis itu meninggalkanku. Semenjak kepergiannya, hidupku tak tentu arah. Aku ingin sekali mengikuti kepergiannya, tapi mengikutinya juga bukan takdirku. Ia sekarang sudah berada di dunia berbeda. Tak mungkin lagi aku harus memutar skenario yang telah Tuhan berikan pada umatNya.
Ara, gadis itu kerap disebut. Setahun tanpa hadirnya telah mengubah hidupku secara drastis. Gadis itu lebih tua setahun dari usiaku. Awalnya memang aku tak suka dengan sikapnya, namun lambat laun aku mulai menyadari bahwa ia benar-benar orang yang paling mengerti aku, juga membawa banyak kebahagiaan di hidupku.
Sesungguhnya aku terlahir dalam situasi yang penuh emosi. Entahlah, sepertinya aku mulai merasakan hal ini semenjak kepergian Ara. Aku merasa dibenci, disudutkan, disindir, dimanapun aku berada. Rumah juga bukan tempatku mengistirahatkan beban. Sekolah pun sama. Aku merasa seluruh orang menganggapku hina, tanpa tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku adalah pribadi yang paling membenci pertikaian. Namun entah mengapa, hampir semua orang ingin sekali membuat pertikaian denganku. Sebisa mungkin aku hindari, meskipun pada akhirnya aku yang mengalah, juga aku yang tersakiti.
Yang paling kubenci dari makhluk-makhluk hidup di sekitarku adalah emosi mereka. Aku tidak tahu alasan yang paling logis ketika mereka mencari kesalahanku, membesarkan suatu masalah agar aku tersudutkan.
Contohnya saja, jika ada aku dan salah satu temanku melakukan kesalahan bersama yang sebenarnya tidak fatal, hanya aku yang disudutkan, masalahnya malah dibesarkan, namun yang paling ingin kuketahui adalah : Mengapa hanya aku? Mengapa bukan kami? Dan mengapa menyelesaikannya harus dengan emosi?
Di setiap tempatku berada, orang lain seakan ingin meluapkan emosi mereka terhadapku, seolah di jidatku telah tertulis 'marahi saja aku'. Tak pernahkah orang lain merasakan sesuatu seperti tertekan?
Aku tertekan...
Aku bosan hidup, dan hidup memang membosankan. Aku tertekan, tanpa ada yang merangkul. Mungkin ada, namun aku tak merasakan hangatnya rangkulan itu, aku tak merasakan sesuatu menyembuhkan luka hatiku. Orang-orang sebenarnya bukan peduli terhadapku, mereka hanya simpati dan ingin tahu cerita hidupku, selebihnya aku hanyalah sesuatu yang kehadirannya tak pernah dinanti. Dulu, Ara selalu hadir merangkulku hingga aku tak pernah merasa setertekan ini.
Selama setahun kepergian Ara, aku mencari sosok yang mampu menggantikan Ara dalam hidupku. Aku telah menemukan penggantinya, namun hingga akhirnya aku tahu bahwa ialah sang penyebar luas aibku. Aku yang dulunya sangat terbuka, semenjak kejadian itu aku merasa cerita-ceritaku tak perlu lagi kubagi pada orang lain.
Aku telah tertekan dimanapun aku berada. Kehadiranku selalu dihujat dengan emosi. Bagaimana mungkin kondisi psikisku tidak terganggu? Terkadang aku merasa aku telah sakit jiwa.
Sekarang, yang kuinginkan bukanlah orang yang berkata "GIMANA BISA AKU NGERTIIN KAMU KALO KAMU GAK CERITA DULUAN!" . Yang aku butuhkan adalah "Kamu kenapa, Yuni? Cerita dong sama aku, mungkin aku bisa bantu. Yuni jangan nangis ya"
Aku tidak egois dan aku tidak butuh dikasihani. Sesungguhnya air mataku adalah sesuatu yang aku tak pernah ingin jika ada orang lain yang melihatnya. Terkadang juga aku sering dihujat bahwa aku harus memahami sifat orang lain, bagaimana mungkin aku bisa memahami sifat orang lain jika orang lain pun sering emosi terhadapku? Aku pun pernah diberitahu bahwa aku harus terbuka pada orang lain, namun bagaimana mungkin aku terbuka pada setiap orang seperti dulu jika kasus pengkhianatan itu telah menimpaku, telah terjadi, dan telah membuat hubunganku dengan seseorang melonggar.
Aku hanya ingin orang-orang di sekitarku tahu bahwa aku tertekan dan di setiap tempat, aku selalu disuguhi emosi. Pernah tidak, merasakan hidup di sepanjang harinya adalah lautan emosi? Jika pernah, maka itulah yang aku rasakan. Aku sungguh tertekan dan aku ingin orang lain paham bahwa aku tertekan. Bahwa aku tak ingin lagi disuguhi emosi.
Jika aku salah, aku ingin ada yang memberitahuku tanpa emosi, bukan malah menyudutkan, ataupun menjatuhkan. Aku tidak munafik, aku memang tidak ingin Ara pergi. Ara, orang yang paling mengerti aku, yang selalu mendamaikanku ketika aku disuguhi emosi. Seandainya Ara bisa kembali ke bumi ini lagi.
Ini adalah perspektifku mengenai hidupku, bisa tidak, menghargai pendapatku? Jika tidak, berarti kamu masih memegang prinsip egoisme yang tinggi, pikiranmu berarti belum dewasa apabila kamu tidak mampu menghargai perspektif orang lain.
Namun ternyata benar, masalah dan ketertekanan batin membuatku lebih dewasa.
Masih kusimpan kata-kata gadis itu. Gadis yang sejak setahun ini tak pernah kurasakan lagi hadirnya. Ini bukan puisi, yang terikat sajak bermajas. Juga bukan surat untuk gadis itu, melainkan sesuatu yang ingin kuungkap tanpa harus dibantah.
Sudah lewat setahun gadis itu meninggalkanku. Semenjak kepergiannya, hidupku tak tentu arah. Aku ingin sekali mengikuti kepergiannya, tapi mengikutinya juga bukan takdirku. Ia sekarang sudah berada di dunia berbeda. Tak mungkin lagi aku harus memutar skenario yang telah Tuhan berikan pada umatNya.
Ara, gadis itu kerap disebut. Setahun tanpa hadirnya telah mengubah hidupku secara drastis. Gadis itu lebih tua setahun dari usiaku. Awalnya memang aku tak suka dengan sikapnya, namun lambat laun aku mulai menyadari bahwa ia benar-benar orang yang paling mengerti aku, juga membawa banyak kebahagiaan di hidupku.
Sesungguhnya aku terlahir dalam situasi yang penuh emosi. Entahlah, sepertinya aku mulai merasakan hal ini semenjak kepergian Ara. Aku merasa dibenci, disudutkan, disindir, dimanapun aku berada. Rumah juga bukan tempatku mengistirahatkan beban. Sekolah pun sama. Aku merasa seluruh orang menganggapku hina, tanpa tahu apa yang sebenarnya aku rasakan.
Aku adalah pribadi yang paling membenci pertikaian. Namun entah mengapa, hampir semua orang ingin sekali membuat pertikaian denganku. Sebisa mungkin aku hindari, meskipun pada akhirnya aku yang mengalah, juga aku yang tersakiti.
Yang paling kubenci dari makhluk-makhluk hidup di sekitarku adalah emosi mereka. Aku tidak tahu alasan yang paling logis ketika mereka mencari kesalahanku, membesarkan suatu masalah agar aku tersudutkan.
Contohnya saja, jika ada aku dan salah satu temanku melakukan kesalahan bersama yang sebenarnya tidak fatal, hanya aku yang disudutkan, masalahnya malah dibesarkan, namun yang paling ingin kuketahui adalah : Mengapa hanya aku? Mengapa bukan kami? Dan mengapa menyelesaikannya harus dengan emosi?
Di setiap tempatku berada, orang lain seakan ingin meluapkan emosi mereka terhadapku, seolah di jidatku telah tertulis 'marahi saja aku'. Tak pernahkah orang lain merasakan sesuatu seperti tertekan?
Aku tertekan...
Aku bosan hidup, dan hidup memang membosankan. Aku tertekan, tanpa ada yang merangkul. Mungkin ada, namun aku tak merasakan hangatnya rangkulan itu, aku tak merasakan sesuatu menyembuhkan luka hatiku. Orang-orang sebenarnya bukan peduli terhadapku, mereka hanya simpati dan ingin tahu cerita hidupku, selebihnya aku hanyalah sesuatu yang kehadirannya tak pernah dinanti. Dulu, Ara selalu hadir merangkulku hingga aku tak pernah merasa setertekan ini.
Selama setahun kepergian Ara, aku mencari sosok yang mampu menggantikan Ara dalam hidupku. Aku telah menemukan penggantinya, namun hingga akhirnya aku tahu bahwa ialah sang penyebar luas aibku. Aku yang dulunya sangat terbuka, semenjak kejadian itu aku merasa cerita-ceritaku tak perlu lagi kubagi pada orang lain.
Aku telah tertekan dimanapun aku berada. Kehadiranku selalu dihujat dengan emosi. Bagaimana mungkin kondisi psikisku tidak terganggu? Terkadang aku merasa aku telah sakit jiwa.
Sekarang, yang kuinginkan bukanlah orang yang berkata "GIMANA BISA AKU NGERTIIN KAMU KALO KAMU GAK CERITA DULUAN!" . Yang aku butuhkan adalah "Kamu kenapa, Yuni? Cerita dong sama aku, mungkin aku bisa bantu. Yuni jangan nangis ya"
Aku tidak egois dan aku tidak butuh dikasihani. Sesungguhnya air mataku adalah sesuatu yang aku tak pernah ingin jika ada orang lain yang melihatnya. Terkadang juga aku sering dihujat bahwa aku harus memahami sifat orang lain, bagaimana mungkin aku bisa memahami sifat orang lain jika orang lain pun sering emosi terhadapku? Aku pun pernah diberitahu bahwa aku harus terbuka pada orang lain, namun bagaimana mungkin aku terbuka pada setiap orang seperti dulu jika kasus pengkhianatan itu telah menimpaku, telah terjadi, dan telah membuat hubunganku dengan seseorang melonggar.
Aku hanya ingin orang-orang di sekitarku tahu bahwa aku tertekan dan di setiap tempat, aku selalu disuguhi emosi. Pernah tidak, merasakan hidup di sepanjang harinya adalah lautan emosi? Jika pernah, maka itulah yang aku rasakan. Aku sungguh tertekan dan aku ingin orang lain paham bahwa aku tertekan. Bahwa aku tak ingin lagi disuguhi emosi.
Jika aku salah, aku ingin ada yang memberitahuku tanpa emosi, bukan malah menyudutkan, ataupun menjatuhkan. Aku tidak munafik, aku memang tidak ingin Ara pergi. Ara, orang yang paling mengerti aku, yang selalu mendamaikanku ketika aku disuguhi emosi. Seandainya Ara bisa kembali ke bumi ini lagi.
Ini adalah perspektifku mengenai hidupku, bisa tidak, menghargai pendapatku? Jika tidak, berarti kamu masih memegang prinsip egoisme yang tinggi, pikiranmu berarti belum dewasa apabila kamu tidak mampu menghargai perspektif orang lain.
Namun ternyata benar, masalah dan ketertekanan batin membuatku lebih dewasa.

Komentar
Posting Komentar