Sekarang
Hidup tak selamanya berada di satu titik. Seperti air, hidup itu mengalir. Namun ada fase dimana air menjadi pasang lalu surut. Terkadang awalnya, hidupmu terombang ke atas, dan di tahun berikutnya hidupmu jatuh dan retak seakan kamu tak punya lagi perekat untuk menyatukan puing-puing pecahnya hidupmu. Bahkan, keremukan itu membuat kondisi psikismu menjadi terganggu.
Aku bertanya, andai boleh memilih, kau akan memilih yang mana? Sekarang atau masa lalu?
Tak perlu kujawab lagi. Kamu sepertinya sudah mengetahui jawabanku. Aku memilih masa lalu. Demi serpihan kenangan, aku memilih masa lalu. Sekarang hanya kemunafikan yang tersisa. Aku benci melihat senyum palsu para makhluk bertopeng yang berkeliaran memasuki hidup. Betapa 'dewasa' adalah fase paling berat, fase paling menyayat, dan fase dimana kamu harus jeli melihat siapa yang teman, dan siapa yang lawan. Sekarang, persahabatan memang tak setulus masa kanak-kanak. Dimana permen adalah bahan rebutan, dan kasih sayang yang tak tersirat itu terkadang merupakan hal yang sangat mudah dilupakan.
Memang, seribu kebaikanmu sangat mudah dikalahkan dengan satu kesalahanmu. Bahkan masih ada boneka-boneka serigala yang rela menghancurkan setiap sisi kehidupanmu hanya dengan jentikkan jemarinya. Sungguh, makhluk yang paling menakutkan dalam prioritas kehidupanku adalah boneka serigala. Jangan terbuai dengan seberapa lucu dan menggemaskan parasnya. Ketahuilah bahwa paras adalah topeng tak tersirat yang mereka miliki.
Karena pada sekarang lah, aku mampu melihat topeng-topeng tersebut secara jelas menutupi paras mereka. Dan sekarang adalah masa dimana kebaikan hanya untuk dimanfaatkan. Cukup miris telingaku mendengar fakta tersebut.
Namun sekarang adalah masa penyesalan. Mengapa manusia terkadang tak mensyukuri setiap detik yang ada dalam hidupnya? Padahal sedetik yang berharga itu membawa pengaruh dalam segenap perjalanan hidup.
Lontaran ungkapan "Ah, mengapa tak dari dulu kulakukan" atau "Mengapa dulu hidupku lebih menarik" memang hal yang lumrah di kalangan manusia. Mengingat sekarang tak bisa mengubah 'dulu' menjadi apa yang kamu inginkan.
Aku bertanya, andai boleh memilih, kau akan memilih yang mana? Sekarang atau masa lalu?
Tak perlu kujawab lagi. Kamu sepertinya sudah mengetahui jawabanku. Aku memilih masa lalu. Demi serpihan kenangan, aku memilih masa lalu. Sekarang hanya kemunafikan yang tersisa. Aku benci melihat senyum palsu para makhluk bertopeng yang berkeliaran memasuki hidup. Betapa 'dewasa' adalah fase paling berat, fase paling menyayat, dan fase dimana kamu harus jeli melihat siapa yang teman, dan siapa yang lawan. Sekarang, persahabatan memang tak setulus masa kanak-kanak. Dimana permen adalah bahan rebutan, dan kasih sayang yang tak tersirat itu terkadang merupakan hal yang sangat mudah dilupakan.
Memang, seribu kebaikanmu sangat mudah dikalahkan dengan satu kesalahanmu. Bahkan masih ada boneka-boneka serigala yang rela menghancurkan setiap sisi kehidupanmu hanya dengan jentikkan jemarinya. Sungguh, makhluk yang paling menakutkan dalam prioritas kehidupanku adalah boneka serigala. Jangan terbuai dengan seberapa lucu dan menggemaskan parasnya. Ketahuilah bahwa paras adalah topeng tak tersirat yang mereka miliki.
Karena pada sekarang lah, aku mampu melihat topeng-topeng tersebut secara jelas menutupi paras mereka. Dan sekarang adalah masa dimana kebaikan hanya untuk dimanfaatkan. Cukup miris telingaku mendengar fakta tersebut.
Namun sekarang adalah masa penyesalan. Mengapa manusia terkadang tak mensyukuri setiap detik yang ada dalam hidupnya? Padahal sedetik yang berharga itu membawa pengaruh dalam segenap perjalanan hidup.
Lontaran ungkapan "Ah, mengapa tak dari dulu kulakukan" atau "Mengapa dulu hidupku lebih menarik" memang hal yang lumrah di kalangan manusia. Mengingat sekarang tak bisa mengubah 'dulu' menjadi apa yang kamu inginkan.

Komentar
Posting Komentar