Pertemuan Singkat part 2
Read the 1st part here.
"Usiamu berapa?" aku memecah keheningan. Kuharap dalam usia, ia tidak terlalu terpaut jauh denganku.
"Dua belas, dan kamu pasti lima belas"
Dan dugaannya benar, untuk yang kesekian kalinya, aku mengangguk.
"Drey, Murrin! Mau ke Tangkil gak?" tawar Kak Gilang tiba-tiba, masih dengan kamera yang menggantung di lehernya. Kak Gilang sangat menyukai fotografi. Untung ia tidak membawa kameranya ketika menghabiskan waktu di air tadi. Sontak aku mengiyakan tawaran Kak Gilang, begitu juga dengan Murrin yang menganggukkan kepalanya.
Jadi, kami bersepuluh. Aku, Kak Gilang, Murrin, adiknya Murrin, dan sepupu-sepupuku. Oh ya, kakak perempuannya Murrin tidak ikut, karena ada jadwal kuliah. Kami ke Tangkil menggunakan speedboat, dan itu kali pertama dalam hidupku, aku naik speedboat. Bagaimana aku kecipratan air-air laut, dan kurasakan rasa air laut yang asin. Kulihat Murrin sesekali mencuri pandang kepadaku. Dan ketika aku menatap Kak Gilang, ada ekspresi tak terbaca yang sekilas kuterjemahkan dari wajahnya.
Lalu aku, dan Murrin, berjalan menyusuri Pulau Tangkil. Kak Gilang, adiknya Murrin, bersama sepupu-sepupuku berjalan beriringan, seakan mereka mempersilakan aku dan Murrin berjalan berdua. Kulihat Bandar Lampung dari pulau ini, begitu menawan. Lebih dari sekadar permata yang takkan kau temukan penggantinya.
Murrin kemudian mengambil potongan kayu, ia
menuliskan namanya secara sempurna di pasir putih ini. Dengan sigap, aku
mencari pula potongan kayu, dan menuliskan namaku di bawah nama Murrin.
Aku langsung melingkari kedua nama tersebut. Dan aku berandai, jika
kedua nama tersebut akan tertera di sebuah kartu undangan. Aku tersenyum
geli membayangkannya. Lalu perasaanku kembali getir mengingat bahwa
Murrin hanyalah anak berseragam putih biru yang menggemaskan.
Setelah menghabiskan waktu seharian di Pulau Tangkil, kami kembali ke Pantai Mutun. Jarum jam telah menunjukkan pukul lima. Pantai Mutun menunjukkan suasana 'hampir' sunsetnya, dengan warna jingga yang berkilauan di sudut mata. Langit sudah mulai menggelap, bermurung hati meninggalkan siang. Burung camar hanya terlihat samar. Lalu kami sekeluarga membeli oleh-oleh di kedai oleh-oleh yang telah disediakan pihak Pantai Mutun.
"Buat kenang-kenangan, dibeliin mama"
Aku mengambil bungkusan cukup besar di tangan Murrin. Memang, tante Stella yang membelikannya untuk kami semua. Namun, untukku sepertinya sungguh spesial, bahwa Murrin-lah yang memberikannya langsung padaku. Kulirik sesuatu di dalam bungkusan tersebut. Topi pantai berwarna oranye-putih dengan hiasan pita polkadot tergeletak disana. Tuhan, topi ini indah sekali.
***
Pukul tujuh lewat tiga belas menit, kamar hotel masih tetap seperti biasanya, dingin. Aku merebahkan badanku, dengan Kak Gilang yang tengah duduk di sampingku mengotak-atik kamera. Ibu sedang packing barang-barang yang akan dibawa pulang ke Palembang malam ini. Sedangkan ayah, mungkin sedang mengobrol bersama om Danu, pakdhe Dodi, dan om Burhan di lobi.
Aku benar-benar gelisah, beberapa kali aku mengganti posisi tidurku. Bagaimana jika aku tidak akan bertemu dengan Murrin lagi? Bagaimana jika hari ini memang hari terakhir aku bertemu Murrin? Ah, tangisku hampir saja pecah. Mengapa takdir begitu kejam. Tiba-tiba Kak Gilang cekikikan, lalu ia menyodorkan kameranya padaku.
Kulihat momen ketika aku berselfie bersama Murrin di depan hotel sepulang dari pantai. Entah aku merasa senang, atau sebaliknya. Bimbang. Ketika foto itu masih ada di memoriku, mungkin, aku akan sulit melupakan Murrin.
"Kak Gilang! Hapuuuss!"
Aku merebut kameranya.
"Drey, kamu mungkin cuma sekali seumur hidup ketemu dia" Kak Gilang menampilkan raut serius. Ibu yang seakan mengerti arah pembicaraan kedua anak remajanya ini langsung meninggalkan kamar, tanpa sepatah kata yang tertinggal. "Murrin itu anak om Burhan, om Burhan temennya om Danu. Kalo seandainya om Burhan itu temennya ayah, mungkin masih bisa ketemu lagi"
Kuhela napas berat, "Aku suka Murrin"
"Dan gak butuh waktu lama untuk tahu bahwa Murrin juga suka sama kamu"
Air mataku merembes perlahan. Keheningan kembali mencekam. Denting jam terus berjalan egois tanpa ingin memperlambat waktuku disini. Aku mungkin harus melupakan Murrin, bagaimanapun dan entah sampai kapanpun. Murrin hanyalah kado indah dari Tuhan yang hanya sekadar titipan dalam sehari, lalu aku harus mengembalikannya, merelakannya sebagaimana yang harus kulakukan.
"Murrin masih SMP, Kak. Aku gak mungkin meletakkan harapanku pada dia"
"Siapa suruh kamu meletakkan harapan? Tinggal tunggu waktu saja. Jika dalam jangka waktu dua atau lima tahun lagi kamu tidak bertemu Murrin, kukira Murrin bukan untukmu. Jadikanlah Murrin hanya sebagai kenangan terindah yang pernah kamu punya, Drey"
Tangisku masih tak mampu kuhentikan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan aku sontak menghapus air mataku.
"Lang, Drey, ayo pulang" ibu mengambil dua koper kami, Kak Gilang langsung membantu ibu. Tubuhku masih melekat di atas kasur. Perasaan tak rela tiba-tiba menghantuiku. "Kita mau beli keripik pisang dulu. Dan om Burhan mau tunjukkan tempatnya" ibu kemudian mengambil tas hermes warna birunya.
***
Kulirik bintang-bintang tersenyum sinis menatapku. Dewi malam hanya memandangku iba, seakan hanya akulah gadis melankolis yang pernah ada di cakrawala bumi ini. Di tempat pembelian keripik pisang ini, kulihat berbagai macam varian rasa. Aku menitip dua kilo rasa melon pada ibu, khusus untukku. Aku sungguh menyukai melon. Dan disini, aku duduk di atas bibir mobil-atau apalah kau menyebutnya. Aku mengawasi sekelebat kendaraan yang lalu lalang di depanku. Kemudian aku menyenderkan bahuku ke kaca depan mobil, menutup mata, merasakan embusan angin Lampung yang amat menyegarkan.
Tiba-tiba kurasakan seseorang duduk di sampingku, aku tahu, pasti Murrin, dan memang benar. Aku bangkit untuk duduk dan tersenyum menatapnya. Ia menyodorkan keripik pisang rasa melon padaku.
"Tadi aku gak sengaja dengar dari ibu kamu, kamu suka melon" ia berkata namun seakan menggantungkan kalimatnya. Perih rasanya ketika tahu bahwa malam ini, mungkin akan jadi malam terakhir pertemuan kami.
"Aku juga suka" ia tiba-tiba memecah lamunanku.
Aku pura-pura bodoh, untuk memperbanyak percakapan kami. "Suka apa?"
"Suka kamu"
Hening. Tidak ada yang mampu menduga ia melontarkan dua kata yang menghunus rasaku dalam-dalam. Perih, jika kamu harus membayangkan bagaimana rasanya mencintai dalam waktu sesingkat ini. Dan menyadari bahwa pertemuan ini mungkin jadi yang terakhir. Beberapa kali aku mengerjapkan mata, berharap semoga ini hanya angan belaka. Namun yang kurasakan, aku masih bernapas, aku masih merasakan jantungku berdetak cepat.
"Bercanda" ujarnya. Ia tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya.
Aku kemudian menatapnya nanar, "Rin, aku gak tahu kapan kita ketemu lagi. Atau mungkin ini pertemuan terakhir kita"
"Dan aku juga terlalu muda buat kamu, Drey" ucapnya tiba-tiba, tanpa menanggapi perkataanku barusan. "Aku, gak bisa munafik bahwa aku suka sama kamu. Tapi kamu pasti berpikir, aku hanyalah bocah ingusan yang baru mengenal dunia"
Kubiarkan perkataannya menggantung di udara. Aku tahu, mungkin suatu saat, selepas kepergianku, Murrin akan temukan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku.
Kulihat keluargaku dan keluarga om Burhan berjabat tangan, lalu aku dan Murrin berjalan mengekori keluarga masing-masing. Aku mencium tangan om Burhan, tante Stella, mbak Amy, lalu menjabat tangan Murrin dengan senyuman yang dipaksakan. Jika waktu tidak kejam, kita boleh bertemu lagi. Lalu Davina, adik Murrin, mencium tanganku.
Setelah sesi perpisahan itu berlangsung, aku masuk ke mobil hingga mobilku bergerak untuk mendekati kota bernama Palembang. Dan aku melihat keluarga Murrin menjauh, semakin menjauh. Sesingkat itu pertemuan kami. Ah, baru saja berpisah beberapa detik, aku jadi rindu keripik pisang rasa melon yang disodorkan Murrin untukku. Bagaimana aku merasakan manisnya bumbu melon namun kemudian bumbu melon tersebut seketika hambar, karena manisnya telah berpindah sepenuhnya pada Murrin.
***
Yogyakarta, 2015
Aku menutup lembar terakhir album kenangan itu. Dengan foto terakhir, tempat penjualan keripik pisang yang sangat kuingat detail tempatnya. Sudah lima tahun, aku tidak bersua dengan pria itu, Murrin, yang kini mungkin masih duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Atas. Sejak kepergianku untuk kuliah disini, aku membawa album kenangan tersebut, mungkin saja aku tiba-tiba rindu untuk mengulang momenku bersama Murrin.
"Siapa suruh kamu meletakkan harapan? Tinggal tunggu waktu saja. Jika dalam jangka waktu dua atau lima tahun lagi kamu tidak bertemu Murrin, kukira Murrin bukan untukmu. Jadikanlah Murrin hanya sebagai kenangan terindah yang pernah kamu punya, Drey."
Perkataan Kak Gilang masih terngiang di memoriku. Lalu aku tersenyum getir, Murrin bukan untukku, dan Murrin hanyalah kenangan indah dari sebuah pertemuan singkat. Refleks, kuambil secarik kertas di buku hardcover milikku, lalu kugoreskan sebongkah surat dengan pena yang kubeli beberapa minggu silam.
Untuk Murrin,
Apa kabar? Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Bagaimana sekolahmu? Ternyata waktu begitu kejam, ya. Sehingga ia dengan relanya tak pernah menyatukan kita. Namun aku selalu mengingat perkataanmu, bahwa laut menyatukan rasa. Aku juga sadar bahwa laut-lah yang menyatukan kita. Laut pula yang memiliki ombak, sehingga kita diombang-ambingkan dan dipisahkan dalam sentuhan rasa yang tak terjawab.
Murrin,
Mungkin kamu sudah lupa mengenai pertemuan singkat yang pernah kita alami. Lalu kau sekarang menukarnya dengan apa? Kukira kau telah temukan gadis yang seusia denganmu. Pasti ia sangat cantik, bukan? Sama sepertimu yang sangat tampan. Dan kukira, kau pasti tambah tinggi, apakah posturmu masih sama seperti MVP basket hingga sekarang?
Murrin,
Tidak bisa munafik, aku merindukanmu. Seperti bulan yang merindukan bintang, seperti hujan yang merindukan pelangi.
"Usiamu berapa?" aku memecah keheningan. Kuharap dalam usia, ia tidak terlalu terpaut jauh denganku.
"Dua belas, dan kamu pasti lima belas"
Dan dugaannya benar, untuk yang kesekian kalinya, aku mengangguk.
"Drey, Murrin! Mau ke Tangkil gak?" tawar Kak Gilang tiba-tiba, masih dengan kamera yang menggantung di lehernya. Kak Gilang sangat menyukai fotografi. Untung ia tidak membawa kameranya ketika menghabiskan waktu di air tadi. Sontak aku mengiyakan tawaran Kak Gilang, begitu juga dengan Murrin yang menganggukkan kepalanya.
Jadi, kami bersepuluh. Aku, Kak Gilang, Murrin, adiknya Murrin, dan sepupu-sepupuku. Oh ya, kakak perempuannya Murrin tidak ikut, karena ada jadwal kuliah. Kami ke Tangkil menggunakan speedboat, dan itu kali pertama dalam hidupku, aku naik speedboat. Bagaimana aku kecipratan air-air laut, dan kurasakan rasa air laut yang asin. Kulihat Murrin sesekali mencuri pandang kepadaku. Dan ketika aku menatap Kak Gilang, ada ekspresi tak terbaca yang sekilas kuterjemahkan dari wajahnya.
Lalu aku, dan Murrin, berjalan menyusuri Pulau Tangkil. Kak Gilang, adiknya Murrin, bersama sepupu-sepupuku berjalan beriringan, seakan mereka mempersilakan aku dan Murrin berjalan berdua. Kulihat Bandar Lampung dari pulau ini, begitu menawan. Lebih dari sekadar permata yang takkan kau temukan penggantinya.
![]() | |||
| Dokumen Pribadi |
Setelah menghabiskan waktu seharian di Pulau Tangkil, kami kembali ke Pantai Mutun. Jarum jam telah menunjukkan pukul lima. Pantai Mutun menunjukkan suasana 'hampir' sunsetnya, dengan warna jingga yang berkilauan di sudut mata. Langit sudah mulai menggelap, bermurung hati meninggalkan siang. Burung camar hanya terlihat samar. Lalu kami sekeluarga membeli oleh-oleh di kedai oleh-oleh yang telah disediakan pihak Pantai Mutun.
"Buat kenang-kenangan, dibeliin mama"
Aku mengambil bungkusan cukup besar di tangan Murrin. Memang, tante Stella yang membelikannya untuk kami semua. Namun, untukku sepertinya sungguh spesial, bahwa Murrin-lah yang memberikannya langsung padaku. Kulirik sesuatu di dalam bungkusan tersebut. Topi pantai berwarna oranye-putih dengan hiasan pita polkadot tergeletak disana. Tuhan, topi ini indah sekali.
***
Pukul tujuh lewat tiga belas menit, kamar hotel masih tetap seperti biasanya, dingin. Aku merebahkan badanku, dengan Kak Gilang yang tengah duduk di sampingku mengotak-atik kamera. Ibu sedang packing barang-barang yang akan dibawa pulang ke Palembang malam ini. Sedangkan ayah, mungkin sedang mengobrol bersama om Danu, pakdhe Dodi, dan om Burhan di lobi.
Aku benar-benar gelisah, beberapa kali aku mengganti posisi tidurku. Bagaimana jika aku tidak akan bertemu dengan Murrin lagi? Bagaimana jika hari ini memang hari terakhir aku bertemu Murrin? Ah, tangisku hampir saja pecah. Mengapa takdir begitu kejam. Tiba-tiba Kak Gilang cekikikan, lalu ia menyodorkan kameranya padaku.
Kulihat momen ketika aku berselfie bersama Murrin di depan hotel sepulang dari pantai. Entah aku merasa senang, atau sebaliknya. Bimbang. Ketika foto itu masih ada di memoriku, mungkin, aku akan sulit melupakan Murrin.
"Kak Gilang! Hapuuuss!"
Aku merebut kameranya.
"Drey, kamu mungkin cuma sekali seumur hidup ketemu dia" Kak Gilang menampilkan raut serius. Ibu yang seakan mengerti arah pembicaraan kedua anak remajanya ini langsung meninggalkan kamar, tanpa sepatah kata yang tertinggal. "Murrin itu anak om Burhan, om Burhan temennya om Danu. Kalo seandainya om Burhan itu temennya ayah, mungkin masih bisa ketemu lagi"
Kuhela napas berat, "Aku suka Murrin"
"Dan gak butuh waktu lama untuk tahu bahwa Murrin juga suka sama kamu"
Air mataku merembes perlahan. Keheningan kembali mencekam. Denting jam terus berjalan egois tanpa ingin memperlambat waktuku disini. Aku mungkin harus melupakan Murrin, bagaimanapun dan entah sampai kapanpun. Murrin hanyalah kado indah dari Tuhan yang hanya sekadar titipan dalam sehari, lalu aku harus mengembalikannya, merelakannya sebagaimana yang harus kulakukan.
"Murrin masih SMP, Kak. Aku gak mungkin meletakkan harapanku pada dia"
"Siapa suruh kamu meletakkan harapan? Tinggal tunggu waktu saja. Jika dalam jangka waktu dua atau lima tahun lagi kamu tidak bertemu Murrin, kukira Murrin bukan untukmu. Jadikanlah Murrin hanya sebagai kenangan terindah yang pernah kamu punya, Drey"
Tangisku masih tak mampu kuhentikan. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan aku sontak menghapus air mataku.
"Lang, Drey, ayo pulang" ibu mengambil dua koper kami, Kak Gilang langsung membantu ibu. Tubuhku masih melekat di atas kasur. Perasaan tak rela tiba-tiba menghantuiku. "Kita mau beli keripik pisang dulu. Dan om Burhan mau tunjukkan tempatnya" ibu kemudian mengambil tas hermes warna birunya.
***
Kulirik bintang-bintang tersenyum sinis menatapku. Dewi malam hanya memandangku iba, seakan hanya akulah gadis melankolis yang pernah ada di cakrawala bumi ini. Di tempat pembelian keripik pisang ini, kulihat berbagai macam varian rasa. Aku menitip dua kilo rasa melon pada ibu, khusus untukku. Aku sungguh menyukai melon. Dan disini, aku duduk di atas bibir mobil-atau apalah kau menyebutnya. Aku mengawasi sekelebat kendaraan yang lalu lalang di depanku. Kemudian aku menyenderkan bahuku ke kaca depan mobil, menutup mata, merasakan embusan angin Lampung yang amat menyegarkan.
Tiba-tiba kurasakan seseorang duduk di sampingku, aku tahu, pasti Murrin, dan memang benar. Aku bangkit untuk duduk dan tersenyum menatapnya. Ia menyodorkan keripik pisang rasa melon padaku.
"Tadi aku gak sengaja dengar dari ibu kamu, kamu suka melon" ia berkata namun seakan menggantungkan kalimatnya. Perih rasanya ketika tahu bahwa malam ini, mungkin akan jadi malam terakhir pertemuan kami.
"Aku juga suka" ia tiba-tiba memecah lamunanku.
Aku pura-pura bodoh, untuk memperbanyak percakapan kami. "Suka apa?"
"Suka kamu"
Hening. Tidak ada yang mampu menduga ia melontarkan dua kata yang menghunus rasaku dalam-dalam. Perih, jika kamu harus membayangkan bagaimana rasanya mencintai dalam waktu sesingkat ini. Dan menyadari bahwa pertemuan ini mungkin jadi yang terakhir. Beberapa kali aku mengerjapkan mata, berharap semoga ini hanya angan belaka. Namun yang kurasakan, aku masih bernapas, aku masih merasakan jantungku berdetak cepat.
"Bercanda" ujarnya. Ia tertawa, memamerkan deretan gigi putihnya.
Aku kemudian menatapnya nanar, "Rin, aku gak tahu kapan kita ketemu lagi. Atau mungkin ini pertemuan terakhir kita"
"Dan aku juga terlalu muda buat kamu, Drey" ucapnya tiba-tiba, tanpa menanggapi perkataanku barusan. "Aku, gak bisa munafik bahwa aku suka sama kamu. Tapi kamu pasti berpikir, aku hanyalah bocah ingusan yang baru mengenal dunia"
Kubiarkan perkataannya menggantung di udara. Aku tahu, mungkin suatu saat, selepas kepergianku, Murrin akan temukan seseorang yang jauh lebih baik daripada aku.
Kulihat keluargaku dan keluarga om Burhan berjabat tangan, lalu aku dan Murrin berjalan mengekori keluarga masing-masing. Aku mencium tangan om Burhan, tante Stella, mbak Amy, lalu menjabat tangan Murrin dengan senyuman yang dipaksakan. Jika waktu tidak kejam, kita boleh bertemu lagi. Lalu Davina, adik Murrin, mencium tanganku.
Setelah sesi perpisahan itu berlangsung, aku masuk ke mobil hingga mobilku bergerak untuk mendekati kota bernama Palembang. Dan aku melihat keluarga Murrin menjauh, semakin menjauh. Sesingkat itu pertemuan kami. Ah, baru saja berpisah beberapa detik, aku jadi rindu keripik pisang rasa melon yang disodorkan Murrin untukku. Bagaimana aku merasakan manisnya bumbu melon namun kemudian bumbu melon tersebut seketika hambar, karena manisnya telah berpindah sepenuhnya pada Murrin.
***
Yogyakarta, 2015
Aku menutup lembar terakhir album kenangan itu. Dengan foto terakhir, tempat penjualan keripik pisang yang sangat kuingat detail tempatnya. Sudah lima tahun, aku tidak bersua dengan pria itu, Murrin, yang kini mungkin masih duduk di kelas tiga Sekolah Menengah Atas. Sejak kepergianku untuk kuliah disini, aku membawa album kenangan tersebut, mungkin saja aku tiba-tiba rindu untuk mengulang momenku bersama Murrin.
"Siapa suruh kamu meletakkan harapan? Tinggal tunggu waktu saja. Jika dalam jangka waktu dua atau lima tahun lagi kamu tidak bertemu Murrin, kukira Murrin bukan untukmu. Jadikanlah Murrin hanya sebagai kenangan terindah yang pernah kamu punya, Drey."
Perkataan Kak Gilang masih terngiang di memoriku. Lalu aku tersenyum getir, Murrin bukan untukku, dan Murrin hanyalah kenangan indah dari sebuah pertemuan singkat. Refleks, kuambil secarik kertas di buku hardcover milikku, lalu kugoreskan sebongkah surat dengan pena yang kubeli beberapa minggu silam.
Untuk Murrin,
Apa kabar? Sekarang kita sudah sama-sama dewasa. Bagaimana sekolahmu? Ternyata waktu begitu kejam, ya. Sehingga ia dengan relanya tak pernah menyatukan kita. Namun aku selalu mengingat perkataanmu, bahwa laut menyatukan rasa. Aku juga sadar bahwa laut-lah yang menyatukan kita. Laut pula yang memiliki ombak, sehingga kita diombang-ambingkan dan dipisahkan dalam sentuhan rasa yang tak terjawab.
Murrin,
Mungkin kamu sudah lupa mengenai pertemuan singkat yang pernah kita alami. Lalu kau sekarang menukarnya dengan apa? Kukira kau telah temukan gadis yang seusia denganmu. Pasti ia sangat cantik, bukan? Sama sepertimu yang sangat tampan. Dan kukira, kau pasti tambah tinggi, apakah posturmu masih sama seperti MVP basket hingga sekarang?
Murrin,
Tidak bisa munafik, aku merindukanmu. Seperti bulan yang merindukan bintang, seperti hujan yang merindukan pelangi.
With Love,
Audrey
Mahasiswi Sastra Indonesia
Universitas Gadjah Mada
Aku menyelipkan secarik kertas tersebut dalam album yang berisi kenangan tak terungkap itu. Entahlah, aku tidak tahu alamat Murrin, bahkan nama lengkapnya sehingga aku pasti tidak akan mengirimkan surat yang baru saja kutulis. Tiba-tiba saja kurasakan semilir angin menyentuh lembut pipiku. Ah, bagaimana aku merindukan sentuhan angin di pantai Mutun, dan juga sentuhan jemari Murrin yang masih melekat dalam sukmaku.



Komentar
Posting Komentar