Spasi

Dua tahun lalu dalam hidupku, aku merajut kasih dengan seseorang yang membuatku merasakan manisnya dicintai atau sama sekali tak dicintai, entahlah. Saat itu bulan September, bulan lahirku. Aku berkenalan dengannya ketika study tour tahunan yang diselenggarakan sekolahku. Cukup terlambat sebenarnya, tetapi aku harus berterima kasih pada momen study tour yang membuatku berkenalan dengannya. Sebelumnya aku hanya melihatnya berpapasan denganku di sekolah, tanpa senyum yang tersungging di bibirnya. Raut mukanya masam dengan alis bertaut setiap kali aku melihatnya, namun ada kedamaian tersendiri yang kulihat dari sudut matanya. Seseorang memperkenalkanku dengannya ketika rapat keberangkatan. Kami banyak menjalin percakapan, meskipun tanpa tahu media sosial masing-masing. Sehari sebelum keberangkatan, usai shalat Subuh, aku menerima invitation dari BBM nya.

Lelaki itu bernama Dentang. Dentang Bagaskara, nama yang kulihat di seragamnya. Lelaki yang memintaku untuk duduk berdua dengannya ketika di bus keberangkatan, tetapi ternyata aku dan ia dipisahkan dengan bus yang berbeda. Lelaki yang meminum air mineral milikku. Dan lelaki yang menyeruput satu cup Pop Mie rasa ayam yang sama denganku. Kamu tahu, bagaimana rasanya dunia bak berhenti berputar? Pada momen ini aku tahu, aku mengalami rasa yang sulit terdefinisikan. Entah senang, kagum, bangga, haru, atau bahkan sedih yang hanya mampu kurasakan sendiri.

Kami menginap di daerah Sentul, dan aku satu kamar dengan sahabatku Piby, orang yang juga mengenalkanku pada Dentang. Banyak yang bilang, aku mirip dengan Piby. Rambut kami, juga selera kami selalu sama. Selera makanan, bahkan selera Keanu Reeves. Lalu realita menusukku, aku melihat Piby diam-diam memerhatikan Dentang. Piby memang jarang cerita tentang orang yang ia sukai, tetapi aku selalu tahu siapa yang Piby sukai. Aku melihat Piby tersenyum beda ketika melakukan interaksi dengan Dentang. Aku juga melihat Piby berbagi snack dengan Dentang.

Kala itu, hari ulang tahunku. Aku masih ingat, pukul setengah tujuh pagi, tidak ada kabut, hanya ada embun yang sengaja menemani. Ratu Tata Surya tak tampak, masih berselimut di peraduannya.

"Nelva, selamat ulang tahun. Mau kado apa? Kadonya nanti ya, pas pulang" Dentang tersenyum ke arahku. "Mau foto bareng?"

Aku berfoto dengannya yang langsung kujadikan Display Picture BBM. Mulailah beredar gosip antara aku dan Dentang. Aku bingung, aku terlalu sulit menerka apakah Dentang memiliki perasaan yang sama untukku. Atau apakah Dentang melukis namaku di hatinya. Aku tidak tahu.

Tiba lah saat kami harus pulang. Aku masih ingat, pukul tujuh lewat sepuluh menit. Kami tiba di pelabuhan Merak. Jarak Merak ke Bakauheni adalah dua jam. Menyisakan spasi antara aku dan Dentang. Spasi yang sebenarnya terisi momen-momen berharga. Spasi yang sebenarnya tiada pernah mampu kuduga dalam hidupku.

Di dalam kapal Ferry, Dentang duduk di sampingku di ruang VIP. Suasananya dingin. Kubiarkan kepalanya bersadar di bahuku, lalu kepalaku bersandar di kepalanya. Ini pertama kali dalam hidupku, seseorang menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku tidak pernah menduga momen ini akan terjadi. Kami banyak bercerita, tentang semuanya, tentang cita-citanya, dan ia memasangkanku kacamata hitam padaku yang ia beli di penjaja kacamata keliling yang masuk ke busnya, lalu berkata aku sangatlah manis. Aku tidak tahu bagaimana warna pipiku saat itu, ditambah lagi kalimatnya yang membuatku terbang jauh ke luar angkasa.

"Nelva, aku nyaman banget sama kamu" Dentang berujar. Namun belum sempat aku membalasnya, Piby telah menghampiri kami.

"Kalian berdua ini pacaran ya? CIEE" goda Piby. Aku tahu, ada kesedihan yang tersirat dari matanya. Benar-benar terpancar. Aku seperti melihat Piby mengatakan Nelva, kita menyukai orang yang sama lewat tatapan matanya.

"Iya, bentar lagi"

Tiga patah kata yang Dentang lontarkan, membuatku bungkam. Aku bingung harus bagaimana. Aku bingung harus senang atau malah sedih. Aku bingung. Maka dari itu, aku melangkahkan kakiku keluar ruang VIP. Aku melihat langit malam, melihat taburan bintang yang dengan angkuhnya tersenyum di selat Sunda ini. Kurasakan semilir angin menerpa wajahku, aku menutup mata, membiarkan rambutku tergerai, membiarkan perasaanku mengalir di pias lautan ini, lalu melihatnya berlalu dihantam sang ombak.

"Nelva"

Aku benar-benar tercekik. Dentang mengikutiku. Mengikuti aku sembari berhenti di sebelahku. Sama-sama menggenggam pagaran kapal. Aku jadi teringat momen Jack dan Rose di Titanic. Ia mulai merasakan apa yang kurasakan, dentuman ombak, semilir angin, deru kapal, sinar bintang, alunan musik jazz yang menguar dari ruang VIP. Untuk beberapa detik, kami membisu, lalu aku yang membuka percakapan.

"Dentang, kamu tahu gak? Bagaimana rasanya menggantungkan harapan di atas bintang-bintang itu, terus bintang-bintang itu menolak harapanmu. Harapanmu lalu jatuh lagi kelautan, ditelan ombak" aku tercekat sebentar, kemudian melanjutkan "Aku takut, harapanku juga akan jatuh seperti itu"

Dentang tak menanggapi aku, sekalipun ia menanggapi, ia hanya berkata tak sesuai ekspektasi "Udahlah Nelva, jangan terlalu berkhayal"

Hanya itu.

www.indrigautama.org 


Setelahnya, perjalanan itu hanya laksana spasi di antara kami. Spasi kosong. Ditelan oleh sang ombak begitu saja. Sepahit kopi tanpa gula yang sering kusesapi ketika menulis bersama spasi. Beberapa hari setelah tiba di kampung halaman, Dentang yang membuka percakapan lewat BBM. Setelah itu ia menggantung harapanku tanpa sebab. Menolaknya seperti bintang dan sirna ditelan ombak. Seperti itu saja. Dua bulan kemudian, aku mendengar kabar bahwa Dentang jadian dengan Piby. Cukup tragis terdengar di telingaku. Namun mungkin Tuhan ingin mengajarkanku untuk kuat, untuk mengenang kenangan yang cukup dijadikan suatu spasi dalam hidupku.

Komentar

Postingan Populer