Penjaja Pempek di Kedai Merah
Aku kala itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Jika ditilik dari usiaku, belum pantas rasanya bocah sekecil itu merasakan sesuatu yang membuncah apabila bersua dengan lawan jenisnya, atau rindu yang menggelora apabila tiada bersua. Aku hanyalah bocah berseragam merah putih dengan rambut pendek beberapa senti di bawah telinga, dan tas ransel Spongebob Squarepants dengan mimik cap gadis tomboy tulen. Rasanya cukup mustahil apabila bocah sepertiku, di usia yang sangat muda, mampu menyukai seorang pria.
Aku kala itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Bunda sering mengajakku ke kedai pempek milik Ahong yang kedainya bercat merah darah. Desain kedai itu tidak terlalu menonjol, namun banyak menarik peminat karena kualitas rasa dan aroma yang menyerbak di sepanjang jalan. Ahong adalah pembuat pempek terlezat yang pernah kucicipi, tak luput dengan kuah cuko yang sangat tidak afdol apabila terlewatkan. Semuanya, Ahong racik dengan takaran yang sempurna.
Aku kala itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Suatu hari dalam hidupku, aku bertemu bocah berseragam SMP di kedai milik Ahong. Ia melayani kami dengan senyum ramahnya, tangannya gesit membungkus kuah cuko dan menggoreng pempek tanpa satu pun yang gosong. Bocah itu bermata sipit dengan perawakan jangkung. Ada kedamaian yang menyusup dari sinar matanya. Tanpa kusadari, mataku telah tertuju pada sekujur tulisan di dada kanannya, dekat dasi berwarna biru tua, tulisan itu terjahit rapi. Aku membacanya sekali lagi, Akia Kevin.
"Mana Ko Ahong, Nak?" tanya bundaku. Kami adalah pelanggan setia Ahong, bunda dan ayah sering bercengkrama sekaligus bercerita dengan Ahong ketika mereka membeli pempek. Baru kali ini bocah berseragam smp yang melayani kami.
"Papa lagi ikut seminar kewirausahaan di luar kota, Tante" ucap bocah itu. Dan baru kami sadari bahwa anak ini adalah anak tunggalnya Ahong, yang sering diceritakan kepada ayah dan bunda.
Hari berganti musim, aku selalu bersua dengan pria berseragam SMP itu. Kami hanya berbicara dengan saling tatap, seakan itulah cara kami berkenalan, tanpa harus menyebutkan nama satu sama lain. Lambat laun aku merasakan getaran tanpa nada yang tak sanggup kudefinisikan. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengajakku ingin menyelami dunianya lebih dalam. Aku ingin tahu, bagaimana kesehariannya selain membantu Ahong berjualan pempek. Hingga ketika aku duduk di kelas lima sekolah dasar, aku disuruh bunda membeli pempek sendirian. Entah bagaimana ekspresiku ketika melihat lelaki yang sekarang berseragam putih abu itu sendirian menunggu kedai pempek bercat merah itu.
"Kak, pempeknya 20 ya, bungkus"
"Iya, dik. Kayak biasa kan?"
Aku mengangguk, ia tersenyum ramah sekali. Selalu beginilah caranya melayani pelanggan, tak pernah sekalipun kulihat guratan sedih terpancar dari matanya. Aku melihat punggung tegap lelaki itu, menggoreng pempek dan seperti biasa dengan cekatan menumpahkan kuah cuko ke kantong plastik. Lalu, sekelebat ide aneh muncul dalam lamunanku.
"Ini, Dik, totalnya 20 ribu ya"
Kuberikan selembar uang lima puluh ribu sembari berkata "Kakak bisa ajarin aku Matematika?"
Mungkin ini gila, sebut saja aku tidak waras. Namun kapan lagi aku mendapat kesempatan seperti ini. Lelaki di depanku hanya bengong tanpa berkedip.
"Ngg, gini Kak. Sebelumnya kenalin dulu nama aku Pyntha. Pasti kakak tahu banget kan aku sering kesini sama bunda soalnya kita langganan. Aku gak tahu lagi nih mesti minta ajarin siapa, bunda sama ayah lagi kerja, temen-temen pada pelit, rumit banget pokoknya, Kak"
"Ya udah deh, kakak ajarin. Kapan?"
"Besok kak, ntar aku kesini lagi"
Percakapan dua arah yang pertama kali kami lakukan. Aku mungkin telah kehilangan akal sehatku. Tolong, seseorang beritahu aku, aku ini kenapa? Kenapa sepertinya hanya aku yang merasakannya? Kenapa?
Esoknya, aku benar-benar ke kedai merah. Memesan 10 butir pempek dan es teh yang tidak terlalu banyak gula, karena aku sudah manis. Aku menyodorkan PR Matematikaku, ia dengan cekatannya menyelesaikan semua soal-soal yang menurutku rumit.
"Wah, makasih ya kak. Oh ya, nama kakak siapa?" Aku pura-pura berbasa-basi.
"Akia, panggil aja Kak Kia"
Kejadian ini terus berkelanjutan hingga ketika aku naik ke kelas enam sekolah dasar, di alun-alun kota. Aku menyampaikan sesuatu yang kurasakan, sesuatu yang mengusikku sejak bertahun silam, sesuatu yang tak pernah kuceritakan pada siapapun.
Aku berkata, aku menyukainya. Sejak usiaku belum sepenuhnya mengerti, aku telah tertarik padanya. Aku tertarik hanya dengan melihat gerak-geriknya dalam hening. Mungkin baginya irasional, namun bagiku perasaan ini murni. Yang kuingat, ia hanya berujar "Pyntha, maaf. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Kamu masih terlalu dini untuk merasakan ini. Kamu masih duduk di kelas enam sekolah dasar, sedangkan aku sudah SMA, sebentar lagi harus masuk universitas dan siap menyongsong masa dewasa. Pyntha adikku, kuharap kamu mengerti dan menghentikan perasaan konyol ini."
Hanya itu yang ia ucapkan.
Tanpa tahu, perasaanku harus kukorbankan bertahun lamanya.
Enam tahun setelah kejadian itu, aku mendatangi kedai merah lagi. Setelah bertahun pula aku meninggalkan kedai merah karena harus melanjutkan studi di Melbourne. Semuanya tak tampak berbeda semenjak kali pertama aku diajak bunda ke sana. Kedai itu masih merah, mungkin sudah di cat ulang beberapa kali. Kedai itu masih berukuran sama. Dan pria itu masih dengan cekatannya menggoreng serta membungkus pempek pesanan pelanggan.
"Kak, pempeknya seratus butir ya. Bungkus" pintaku. Akia mengangguk, sepertinya ia sudah lupa akan aku. Lalu, setelah ia menyodorkan pempek pesananku, aku menatapnya lekat-lekat dan berkata "Kakak, bisa ajarkan aku Matematika?"
Ia melongo, kaget. Aku tersenyum dan dengan segera bergegas dari kedai merah. Karena aku tahu, kisahku telah usai hingga disini, tanpa perlu ending yang jelas. Penjaja pempek di kedai merah hanyalah bongkahan masa lalu yang mengajariku arti dari segala mula yang dinamakan.. Rasa.
Aku kala itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Bunda sering mengajakku ke kedai pempek milik Ahong yang kedainya bercat merah darah. Desain kedai itu tidak terlalu menonjol, namun banyak menarik peminat karena kualitas rasa dan aroma yang menyerbak di sepanjang jalan. Ahong adalah pembuat pempek terlezat yang pernah kucicipi, tak luput dengan kuah cuko yang sangat tidak afdol apabila terlewatkan. Semuanya, Ahong racik dengan takaran yang sempurna.
Aku kala itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar. Suatu hari dalam hidupku, aku bertemu bocah berseragam SMP di kedai milik Ahong. Ia melayani kami dengan senyum ramahnya, tangannya gesit membungkus kuah cuko dan menggoreng pempek tanpa satu pun yang gosong. Bocah itu bermata sipit dengan perawakan jangkung. Ada kedamaian yang menyusup dari sinar matanya. Tanpa kusadari, mataku telah tertuju pada sekujur tulisan di dada kanannya, dekat dasi berwarna biru tua, tulisan itu terjahit rapi. Aku membacanya sekali lagi, Akia Kevin.
"Mana Ko Ahong, Nak?" tanya bundaku. Kami adalah pelanggan setia Ahong, bunda dan ayah sering bercengkrama sekaligus bercerita dengan Ahong ketika mereka membeli pempek. Baru kali ini bocah berseragam smp yang melayani kami.
"Papa lagi ikut seminar kewirausahaan di luar kota, Tante" ucap bocah itu. Dan baru kami sadari bahwa anak ini adalah anak tunggalnya Ahong, yang sering diceritakan kepada ayah dan bunda.
Hari berganti musim, aku selalu bersua dengan pria berseragam SMP itu. Kami hanya berbicara dengan saling tatap, seakan itulah cara kami berkenalan, tanpa harus menyebutkan nama satu sama lain. Lambat laun aku merasakan getaran tanpa nada yang tak sanggup kudefinisikan. Sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mengajakku ingin menyelami dunianya lebih dalam. Aku ingin tahu, bagaimana kesehariannya selain membantu Ahong berjualan pempek. Hingga ketika aku duduk di kelas lima sekolah dasar, aku disuruh bunda membeli pempek sendirian. Entah bagaimana ekspresiku ketika melihat lelaki yang sekarang berseragam putih abu itu sendirian menunggu kedai pempek bercat merah itu.
"Kak, pempeknya 20 ya, bungkus"
"Iya, dik. Kayak biasa kan?"
Aku mengangguk, ia tersenyum ramah sekali. Selalu beginilah caranya melayani pelanggan, tak pernah sekalipun kulihat guratan sedih terpancar dari matanya. Aku melihat punggung tegap lelaki itu, menggoreng pempek dan seperti biasa dengan cekatan menumpahkan kuah cuko ke kantong plastik. Lalu, sekelebat ide aneh muncul dalam lamunanku.
"Ini, Dik, totalnya 20 ribu ya"
Kuberikan selembar uang lima puluh ribu sembari berkata "Kakak bisa ajarin aku Matematika?"
Mungkin ini gila, sebut saja aku tidak waras. Namun kapan lagi aku mendapat kesempatan seperti ini. Lelaki di depanku hanya bengong tanpa berkedip.
"Ngg, gini Kak. Sebelumnya kenalin dulu nama aku Pyntha. Pasti kakak tahu banget kan aku sering kesini sama bunda soalnya kita langganan. Aku gak tahu lagi nih mesti minta ajarin siapa, bunda sama ayah lagi kerja, temen-temen pada pelit, rumit banget pokoknya, Kak"
"Ya udah deh, kakak ajarin. Kapan?"
"Besok kak, ntar aku kesini lagi"
Percakapan dua arah yang pertama kali kami lakukan. Aku mungkin telah kehilangan akal sehatku. Tolong, seseorang beritahu aku, aku ini kenapa? Kenapa sepertinya hanya aku yang merasakannya? Kenapa?
Esoknya, aku benar-benar ke kedai merah. Memesan 10 butir pempek dan es teh yang tidak terlalu banyak gula, karena aku sudah manis. Aku menyodorkan PR Matematikaku, ia dengan cekatannya menyelesaikan semua soal-soal yang menurutku rumit.
"Wah, makasih ya kak. Oh ya, nama kakak siapa?" Aku pura-pura berbasa-basi.
"Akia, panggil aja Kak Kia"
Kejadian ini terus berkelanjutan hingga ketika aku naik ke kelas enam sekolah dasar, di alun-alun kota. Aku menyampaikan sesuatu yang kurasakan, sesuatu yang mengusikku sejak bertahun silam, sesuatu yang tak pernah kuceritakan pada siapapun.
Aku berkata, aku menyukainya. Sejak usiaku belum sepenuhnya mengerti, aku telah tertarik padanya. Aku tertarik hanya dengan melihat gerak-geriknya dalam hening. Mungkin baginya irasional, namun bagiku perasaan ini murni. Yang kuingat, ia hanya berujar "Pyntha, maaf. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Kamu masih terlalu dini untuk merasakan ini. Kamu masih duduk di kelas enam sekolah dasar, sedangkan aku sudah SMA, sebentar lagi harus masuk universitas dan siap menyongsong masa dewasa. Pyntha adikku, kuharap kamu mengerti dan menghentikan perasaan konyol ini."
Hanya itu yang ia ucapkan.
Tanpa tahu, perasaanku harus kukorbankan bertahun lamanya.
Enam tahun setelah kejadian itu, aku mendatangi kedai merah lagi. Setelah bertahun pula aku meninggalkan kedai merah karena harus melanjutkan studi di Melbourne. Semuanya tak tampak berbeda semenjak kali pertama aku diajak bunda ke sana. Kedai itu masih merah, mungkin sudah di cat ulang beberapa kali. Kedai itu masih berukuran sama. Dan pria itu masih dengan cekatannya menggoreng serta membungkus pempek pesanan pelanggan.
"Kak, pempeknya seratus butir ya. Bungkus" pintaku. Akia mengangguk, sepertinya ia sudah lupa akan aku. Lalu, setelah ia menyodorkan pempek pesananku, aku menatapnya lekat-lekat dan berkata "Kakak, bisa ajarkan aku Matematika?"
Ia melongo, kaget. Aku tersenyum dan dengan segera bergegas dari kedai merah. Karena aku tahu, kisahku telah usai hingga disini, tanpa perlu ending yang jelas. Penjaja pempek di kedai merah hanyalah bongkahan masa lalu yang mengajariku arti dari segala mula yang dinamakan.. Rasa.

Komentar
Posting Komentar