Rumah di Pinggir Bukit
Sebelum segalanya terasa begitu hambar, aku kerap kali menginjakkan kakiku di suatu rumah di pinggir bukit. Rumah itu sederhana, pagarnya merupakan kayu-kayu kecil yang dicat cokelat muda. Seperti di telenovela Amerika, rumah itu hanyalah satu-satunya rumah yang terletak di pinggir bukit. Pepohonan menyelimuti, memberi kesan sejuk ketika matamu memandang. Di sisi kanan dan kiri, rumah tersebut ditumbuhi Alamanda yang anehnya hanya berbunga ketika bulan September. Di sepanjang hamparan jalan, hanya ada petakan tanah kosong berumput hijau. Jika kamu menyukai fotografi, aku berani bersumpah bahwa tempat ini cocok sekali untuk dijadikan objek bidikan.
Tentunya rumah ini bukan rumah milik sembarang orang. Sang empunya adalah seorang florist dengan tiga orang anak—suaminya meninggal semenjak anak bungsunya berusia tiga tahun. Beliau sangat pandai menata rumahnya dengan tatanan aneh namun berkelas. Seperti guci-guci berukuran sedang yang diletakkan di tengah meja tamu bundar.
Setiap kali aku beristirahat di rumah ini, aku merasakan ada kedamaian yang menyusup di celah-celah hatiku. Keluarga ini begitu hangat, meski suasana rumahnya didominasi dingin. Aku merasa rumah ini layaknya tempat tinggalku sendiri. Terkadang, aku ikut menanam cabai di pekarangan rumah, atau menanam lavender, bunga favorit Kak Hani.
Oh ya, belum kuceritakan padamu mengenai hubunganku dan pemilik rumah ini. Rumah ini milik Dzikra, seseorang yang pernah menjalin kasih denganku, kurang lebih setengah tahunan. Ia anak bungsu di keluarga ini. Masih terekam dalam memori, bagaimana ia mengajakku mengunjungi rumahnya yang hanya satu-satunya berada di pinggir bukit. Rasa kalut memang menghantuiku pada mulanya, aku takut tidak diterima di keluarganya. Namun syukurlah, Bu Nana sangat baik, beliau sudah seperti ibuku sendiri.
"Kami tidak keberatan kalau Nisi selalu berkunjung kesini, kami suka tamu" ungkap Bu Nana yang menyodorkanku teh hangat beraroma vanili, kejadian tersebut merupakan kepingan waktu yang sekarang telah berusaha kututup dengan rapat.
Dulu, rumah itu ramai ketika aku dan Dzikra sering bercanda dan berkejar-kejaran apabila ia telah menyemprotkanku air dari selang untuk menyiram tanaman. Kak Hani sering memainkan biolanya di halaman belakang, dan Kak Viona akan menyalakan volume TV keras-keras apabila bertemu dengan channel favoritnya. Rumah yang memancarkan kedamaian, dan membuatku rindu untuk selalu mengunjunginya. Rumah dimana kusimpan segala cerita. Cerita tentang Dzikra, tentang bunga-bunga indah yang menghiasi kebersamaan kami, tentang ciuman pertamaku, tentang hancurnya perasaanku ketika gadis bernama Ega tengah bercumbu dengan Dzikra.
"Aku bisa jelasin ke kamu, Nis" ujarnya dengan nada seperti sinetron basi.
"Apa lagi sih yang perlu kamu jelasin? Udah jelas aku lihat pake mata kepala aku sendiri. Kita putus, Dzik"
Di sana kusimpan puing-puing rasa. Dzikra yang membuatku memiliki ikatan batin antara aku dan rumah di pinggir bukit itu, kini berubah menjadi sosok antagonis yang pernah kukenal. Yang tega menghunjam perasaanku, yang tega menghancurkan sajak-sajak indahku. Dzikra yang awalnya bak pangeran di istana bukit, kini bagiku hanyalah seonggok tulang yang tak bernilai.
Hari ini, iseng saja kulewati rumah yang bertahun lamanya tak kukunjungi. Keadaannya sudah berubah, rumah yang dahulu asri, kini berplang "dijual", dengan sarang laba-laba yang bergelantungan di sisi kiri atap depan. Rumah itu kosong, tanpa penghuni. Tak ada lagi perasaan bahagiaku yang tertuang, meski kadangkala aku merindukan setiap momen yang terjalin di rumah pinggir bukit yang ditumbuhi Alamanda itu.
Tentunya rumah ini bukan rumah milik sembarang orang. Sang empunya adalah seorang florist dengan tiga orang anak—suaminya meninggal semenjak anak bungsunya berusia tiga tahun. Beliau sangat pandai menata rumahnya dengan tatanan aneh namun berkelas. Seperti guci-guci berukuran sedang yang diletakkan di tengah meja tamu bundar.
Setiap kali aku beristirahat di rumah ini, aku merasakan ada kedamaian yang menyusup di celah-celah hatiku. Keluarga ini begitu hangat, meski suasana rumahnya didominasi dingin. Aku merasa rumah ini layaknya tempat tinggalku sendiri. Terkadang, aku ikut menanam cabai di pekarangan rumah, atau menanam lavender, bunga favorit Kak Hani.
Oh ya, belum kuceritakan padamu mengenai hubunganku dan pemilik rumah ini. Rumah ini milik Dzikra, seseorang yang pernah menjalin kasih denganku, kurang lebih setengah tahunan. Ia anak bungsu di keluarga ini. Masih terekam dalam memori, bagaimana ia mengajakku mengunjungi rumahnya yang hanya satu-satunya berada di pinggir bukit. Rasa kalut memang menghantuiku pada mulanya, aku takut tidak diterima di keluarganya. Namun syukurlah, Bu Nana sangat baik, beliau sudah seperti ibuku sendiri.
"Kami tidak keberatan kalau Nisi selalu berkunjung kesini, kami suka tamu" ungkap Bu Nana yang menyodorkanku teh hangat beraroma vanili, kejadian tersebut merupakan kepingan waktu yang sekarang telah berusaha kututup dengan rapat.
Dulu, rumah itu ramai ketika aku dan Dzikra sering bercanda dan berkejar-kejaran apabila ia telah menyemprotkanku air dari selang untuk menyiram tanaman. Kak Hani sering memainkan biolanya di halaman belakang, dan Kak Viona akan menyalakan volume TV keras-keras apabila bertemu dengan channel favoritnya. Rumah yang memancarkan kedamaian, dan membuatku rindu untuk selalu mengunjunginya. Rumah dimana kusimpan segala cerita. Cerita tentang Dzikra, tentang bunga-bunga indah yang menghiasi kebersamaan kami, tentang ciuman pertamaku, tentang hancurnya perasaanku ketika gadis bernama Ega tengah bercumbu dengan Dzikra.
"Aku bisa jelasin ke kamu, Nis" ujarnya dengan nada seperti sinetron basi.
"Apa lagi sih yang perlu kamu jelasin? Udah jelas aku lihat pake mata kepala aku sendiri. Kita putus, Dzik"
Di sana kusimpan puing-puing rasa. Dzikra yang membuatku memiliki ikatan batin antara aku dan rumah di pinggir bukit itu, kini berubah menjadi sosok antagonis yang pernah kukenal. Yang tega menghunjam perasaanku, yang tega menghancurkan sajak-sajak indahku. Dzikra yang awalnya bak pangeran di istana bukit, kini bagiku hanyalah seonggok tulang yang tak bernilai.
Hari ini, iseng saja kulewati rumah yang bertahun lamanya tak kukunjungi. Keadaannya sudah berubah, rumah yang dahulu asri, kini berplang "dijual", dengan sarang laba-laba yang bergelantungan di sisi kiri atap depan. Rumah itu kosong, tanpa penghuni. Tak ada lagi perasaan bahagiaku yang tertuang, meski kadangkala aku merindukan setiap momen yang terjalin di rumah pinggir bukit yang ditumbuhi Alamanda itu.

Bagus tuh ceritanya.kalau bisa lebih diperdalam lagi biar makin penasaran.he
BalasHapuswww.kumpulanpuisisuarahati.tk
Wokeee makasih sarannya ya gan ntar next post ane perdalam lagi. Thanks for visiting mine
Hapus