Di Peron Kereta

Senja hari kala itu, yang kuingat bisingnya kereta mengadu lintasan rel tanpa permisi. Asap gerobak mie ayam depan stasiun sepertinya masih mengepul di indra pembauku—atau sebenarnya saat ini aku tengah menginginkan mie ayam, entahlah, yang jelas aroma itu bukan  aroma yang sekadar saja melintas. Depok masih mendung, mungkin lantaran jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan Kota Hujan sehingga kerap kali titikan air itu sulit kuprediksi tibanya. Masih di stasiun ini—stasiun yang bertuliskan stasiun Pondok Cina—aku menunggu kereta tujuan akhir stasiun Bogor.

Kereta tujuan Bogor masih berada di stasiun Pasar Minggu, begitu kabar yang kudengar dari speaker yang tak hentinya bercuap. Bau parfum ibu paruh baya yang duduk di sebelahku benar-benar mengusik. Seperti aroma citrus dan mint, aku tidak menyukai campuran keduanya. Headset putihku kupasang di telinga dan mengalun salah satu tembang milik Acoustic Collabo, 사랑한다 말할까봐.

Kereta tujuan Bogor belum tiba jua, kupandang selasar seberang peron kereta ini. Banyak yang berlalu lalang hingga kudapati satu wajah dengan ekspresi mencari. Wajah itu! Wajah itu masih sama, masih sama sejak kali pertama mataku terhipnotis dari energi magis yang ia ciptakan. Wajah itu masih sama dengan wajah yang kutemui pertama kali di salah satu acara nasional yang melibatkan seluruh provinsi di nusantara.

“Halo, aku Dinda. Senang berkenalan denganmu”
“Halo Dinda, aku Rayyan. Semoga kita bisa berteman baik”

Sudah dua tahun semenjak perkenalan bodoh itu terjalin. Sudah dua tahun aku mati-matian menyangkal bahwa tidak ada perasaan aneh yang tumbuh antara aku dan Rayyan. Sudah dua tahun ini pula aku tidak bersua dengannya. Detik ini, ia berada di depan jangkauan pandangku. Ia berada di peron kereta. Sekeras apapun aku menghapus kenangan, cerita itu masih tetap ada. Aku masih ingat bagaimana kami berada di payung yang sama dan saling menyejajarkan langkah kaki. Aku masih ingat bagaimana jemarinya menggenggam jemariku, jemarinya yang hangat kontras dengan jemariku yang beku. Agar aku tidak kedinginan, katanya. Namun aku menyukainya. Aku menyukai segala hal tentangnya. Tentang Rayyan, laki-laki yang memiliki lesung pipit di pipinya itu.

“Aku senang bisa mengenalmu, Dinda. Semoga kita bisa berjumpa di lain waktu”
“Terima kasih, Rayyan. Kau tidak akan melupakanku, kan?”
“Bukankah kita teman?”

Hasil gambar
Source : https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2FKAowCg&iact=mrc&uact=8

Kereta tujuan akhir Bogor berhenti di depanku namun bukan itu yang kuinginkan saat ini. Aku melangkahkan kakiku menuju peron seberang. Aku tahu, selama apapun aku menatapnya di seberang peron kereta, ia takkan pernah menghampiriku lebih dahulu, meski ia melihatku. Namun ketahuilah, sebanyak apapun orang-orang yang melintas di kehidupanku, Rayyan bak tetap bercengkerama di atas singgasana—tanpa pernah digeser posisinya oleh siapapun. Ia bersemayam dalam pikirku hingga aku tersadar bahwa perjalanan panjangku belum berakhir. Juga, perasaan ini masih banyak tersisa.

“Dinda, boleh aku bercerita?”
…
“Entah sejak kapan aku menuai perasaan ini. Tetapi ini masih saja menggangguku. Dinda, selama ini aku menyangkal perasaanku pada Intan. Apakah aku berdosa?”

Apakah memang mencintai itu berdosa?
Aku menenggak pahitnya rasa yang kusimpan diam-diam. Bodohnya, kakiku masih berjalan menuju peron seberang hingga aku menyapanya. Ia kaget, kuakui. Ingin rasanya aku memeluk tubuhnya yang jauh lebih menjulang dari ragaku ini.  

“Dinda!” pekiknya. Aku mengumbar senyum tipis. Antara haru dan rindu yang bercampur jadi satu. Antara percaya dengan takdir bahwa garisku adalah menemuinya di peron kereta ini. Tidak munafik, aku benar-benar merindukan Rayyan. Saat ini aku bertukar kabar dengannya dan sedikit bercerita mengapa kami bisa berada di tempat yang sama. Aku baru menyadari bahwa Rayyan satu universitas denganku. Aku masih merasa ini fana, tetapi aku tidak sedang berangan. Rayyan di depanku ini adalah realita yang dikirim Tuhan.

“Rayyan mau ke mana?” tanyaku. Kuharap bukan nama gadis itu lagi yang aku dengar. Bukan nama gadis yang sekamar denganku di acara nasional itu. Bukan nama gadis asal Banjarmasin itu lagi.

“Aku mau meet up sama Intan di sini. Kau tahu, Dinda, Intan juga kuliah di Jakarta. Tetapi dari tadi aku tidak melihatnya” jawabnya cemas. Dia lagi, gadis itu lagi. “Dinda, aku sama Intan sudah banyak progress”

Aku menyunggingkan kedua sudut bibirku. Aku ingin bersumpah serapah kepada perasaan bodoh ini. Padahal telah tersirat dengan jelas bahwa lelaki yang kutemui di peron kereta ini ternyata tidak mencari kereta yang sekarang tengah berhenti di depannya. Lelaki yang kutemui di peron kereta ini tengah mencari kapal pesiar untuk dibawa ke pelabuhan hatinya. 

Anggap saja senja hari kala itu, yang kuingat hanyalah ia di peron kereta. Bukan cerita-cerita romannya yang menghancurkan asa-asaku.

Komentar

  1. Awalnya cuma ngobrak abrik internet. Eh, nemu tulisan elu, din

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk maaf baru bales Nul, baru liat komenn blog haha :( jadi malu nih :((

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer