Antara Senja dan Hujan di Kota Bogor
Senja di Kota Bogor, gerimis yang masih menyala.
Akhir pekan itu saya isi dengan kegiatan mengunjungi orang-orang di balik jeruji besi. Secara pribadi ada kalut yang berpendar dalam diri saya, tapi untuk menjawab rasa penasaran yang tak terkira berapa jumlahnya, saya memberanikan diri mengunjungi tempat itu. Tempat di mana saya melihat tangan-tangan dipenuhi tato warna hitam dan asap rokok yang menguar. Intuisi saya tiba-tiba mati dan saya tidak berinisiatif untuk membuka konversasi. Saya skeptis mulanya dan saya akui. Tetapi hari itu, seusai melepas doa pada Yang Kuasa, saya memberanikan diri mendengar dan menanggapi kisah hidup mereka.
Mereka bertendensi melakukan tindakan kriminal yang berasaskan tuntutan ekonomi. Ada pula yang berasaskan loyalitas pada pasangan kekasih mereka—sebenarnya juga masih dalam ruang lingkup ekonomi. Lalu, saya mengajukan pertanyaan retoris yang dibungkus dengan satire. Mana yang lebih kejam, seseorang yang merampas kesejahteraan orang lain demi memperkaya diri dan golongannya, atau seseorang yang mencuri motor untuk beli susu anaknya?
"Saya tidak akan curi motor, Teh. Kalau ngga terpaksa sama keadaan"
Ya, miris memang mendengarnya. Di bumi yang kita pijaki masih ada saudara-saudara setanah air dengan situasi yang memilukan. Tetapi di pemerintahan sentral seseorang yang sudah meraup hak rakyat sedang memerankan drama Korea untuk menyelamatkan martabatnya. Percuma.
Saya tahu seperti apa jeruji besi untuk masyarakat perampas hak rakyat tersebut. Tak perlu dieksplanasikan lebih lanjut, sudah menjadi rahasia publik dan kasus "Napi Berlibur ke Bali" seakan menguak segalanya. Saya bukan ahli politik, bukan pula mahasiswa berotak kritis yang selalu mengutarakan konversasi-konversasi normatif. Saya lebih suka berpetualang untuk belajar dari problematika yang dihadapi orang lain. Toh, saya berkuliah humaniora, tidak ada salahnya saya belajar dari masyarakat sekitar. Akhir pekan itu, seusai mendengar kisah-kisah mereka, saya mengerti mengapa saya harus belajar ilmu humaniora. Saya mengerti bahwa tidak seharusnya manusia bersikap biadab ketika memiliki segalanya.
Senja di Kota Bogor, gerimis yang masih menyala. Usai bersua dengan sosok-sosok di sana, saya menghabiskan semangkuk bakso yang dijual di depan lapas Bogor sembari merasakan kehangatan dari sang penjual. Seperti biasa, bakso yang saya pesan tidak pakai kecap dan saos, hanya menggunakan sambal hijau yang lumayan banyak jumlahnya. Saya kemudian berpikir, apakah sosok-sosok di balik jeruji besi itu bisa makan bakso hari ini? Sesekali saya merasa geli kala memutar kalimat yang menampar realitas saya,
"Teh, jangan mau disetir sama cinta. Kita yang seharusnya menyetir cinta" tukas Teh Yola, usianya terpaut setahun di atas saya dan akan menikah tahun depan. Vonisnya dua tahun lantaran menemani kekasih untuk mencuri motor di daerah Taman Mini. Kembali lagi saya terngiang bisik suara Teh Yola saat ia mengatakan...
"Teh, apa kabar dunia luar? Apakah hukum masih tajam ke bawah dan tumpul ke atas?"

Komentar
Posting Komentar