Getir
Gerbong kereta malam itu sepi, tidak seperti biasanya. Aku memutar Spring milik Yiruma dengan headset terpasang hanya di sebelah kiri, melihat orang berlalu lalang di peron-peron stasiun dan gerimis yang menetes perlahan. Sudah hampir enam tahun aku di sini, menjalani hidupku yang monoton dan sendirian. Rutinitas yang kujalani memang membuatku lupa pada hal-hal yang aku sedihkan, namun terkadang di saat seperti ini aku kembali teringat pada realitas. Pelan-pelan kututup mataku dan pintu kereta terbuka. Aku mendengar derap langkah orang-orang yang naik dan turun dari kereta ini, semuanya terdengar menyedihkan. Sama seperti hidupku.
"Padahal sudah jauh kita merantau, aku masih saja bertemu kamu" ucap sosok lelaki yang baru saja duduk di sebelahku.
Aku membuka mata, tidak tampak kaget pada sosok di sebelahku meskipun kami sudah cukup lama tidak bersua. "Kau lagi"
"Sudah dua tahun, ya? Lama juga terakhir kali aku bertemu denganmu" Ia berusaha merangkul pundakku dan refleks aku menepisnya. "Sok suci"
Dahiku mengernyit, "Mengapa? Aku bukan wanita yang seenaknya saja bisa kamu sentuh!"
Ia tertawa. Tawanya bernada satire, "Lucu juga, kamu wanita mudah. Tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Aneh juga kenapa kau mau disentuh oleh bajingan itu"
Aku tidak tahu mengapa saat ini harga diriku benar-benar terluka. Manusia di sampingku ini sudah berada dalam hidupku semenjak aku berusia 16 tahun, semenjak aku masih membawa ransel besar dengan isi buku matematika suci, atau semenjak kami ditakdirkan oleh angka sakral yang membuat kami bisa duduk satu bangku. Mulanya, ada yang mengusikku di setiap kata-katanya. Aku tidak pernah menyukainya hingga kata-kata ajaibnya menyihirku. Selama tiga tahun di SMA, aku diam-diam menyukainya dan ia sering mengantarku pulang. Ya, sebatas teman sekolah, teman sekelas, dan teman sebangku. Tidak pernah lebih dari itu.
Setelah aku tersihir oleh kata-katanya, ia kerap kali mengucapkan kata-kata yang menghempas harga diriku. Ketika aku mengingat kata-kata itu, aku tertawa. Getir.
"Lucu memang, aku tidak pernah menggenggam tangan lelaki, kecuali tangan laki-laki itu"
"Aku melihat semuanya di TIM waktu itu! Aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirimu yang aku kenal. Aku mengenalmu sebagai wanita yang mudah, bukan wanita yang murah"
Andai saja ini bukan di dalam kereta. Andai saja aku bisa berteriak dan memaki wajahnya. "Aku berpura-pura mudah, Bung. Kautidak tahu itu? Ke mana saja otakmu selama ini? Tidak kaupakai lagi semenjak tidak belajar matematika di sekolah?"
"Ya, ya. Aku tahu. Tapi sudah kubilang berapa kali? Jangan pernah mengumbar senyum pada lelaki, jangan pernah membalas pesan laki-laki dengan hitungan detik, jangan pernah bersikap terlalu bersahabat pada lelaki!"
Aku tersenyum sinis, "Kau siapa?"
"Oh iya, aku bukan siapa-siapa di hidupmu. Bahkan meski aku masih menyukaimu, sampai detik ini sekalipun. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi kekasihku"
"Sebelum kaumemintaku sekalipun, aku tidak akan pernah mau menjadi kekasihmu!" aku menaikkan sedikit nada bicaraku. Aku membenci laki-laki ini, tapi entah mengapa aku tidak menyangkal apa yang ia katakan.
Hening terjadi di gerbong kereta ini. Sekelebat bayangan tentang masa laluku kembali tiba di depan mataku. Aku tersenyum, tentang membalas pesan dengan cepat atau bersikap terlalu bersahabat pada laki-laki hingga mereka menyukaiku--itu benar. Tetapi aku langsung pergi setelahnya apabila aku mengetahui mereka sedikit menyukaiku dan aku tidak menyukainya. Aku tidak ingin harapan muncul setelahnya. Aku memang jahat, tapi aku tidak bermaksud jahat. Tidak pernah bermaksud untuk jahat. Aku hanya ingin berteman, lalu mereka salah paham. Aku heran, mengapa sulit bagi laki-laki dan perempuan untuk sekadar bersahabat?
"Kauputus? Dengan laki-laki yang waktu itu kulihat di TIM?"
Aku mengedikkan bahu, "Entahlah. Ternyata sihirnya lebih kuat daripada sihirmu, sehingga aku mau disentuh olehnya dan aku masih menyukainya"
"Baguslah kalau kaubelum mencintainya" ujarnya pahit.
"Aku tidak pernah tahu makna cinta. Aku hanya tahu rasa saling menyayangi. Dan aku, menyayanginya"
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku heran, mengapa kautetap saja menjadi orang baik setelah laki-laki menyakitimu?"
Aku tersenyum, kali ini ingin menangis. "Karma itu pasti ada, Tuan"
Pernyataanku mengambang di udara. Ya, aku percaya karma memang ada. Aku tidak pernah menyangkal hal itu. Aku kemudian hanya mendengar musik samar dari headsetku dan suara kereta yang berpacu dengan rel. Mungkin di luar sudah tidak hujan dan aku akan berhenti di dua stasiun berikutnya. Konversasi malam ini berat dan pahit, tetapi tidak dapat mengubah apa-apa di hidupku.
"Padahal sudah jauh kita merantau, aku masih saja bertemu kamu" ucap sosok lelaki yang baru saja duduk di sebelahku.
Aku membuka mata, tidak tampak kaget pada sosok di sebelahku meskipun kami sudah cukup lama tidak bersua. "Kau lagi"
"Sudah dua tahun, ya? Lama juga terakhir kali aku bertemu denganmu" Ia berusaha merangkul pundakku dan refleks aku menepisnya. "Sok suci"
Dahiku mengernyit, "Mengapa? Aku bukan wanita yang seenaknya saja bisa kamu sentuh!"
Ia tertawa. Tawanya bernada satire, "Lucu juga, kamu wanita mudah. Tapi aku tidak bisa menyentuhmu. Aneh juga kenapa kau mau disentuh oleh bajingan itu"
Aku tidak tahu mengapa saat ini harga diriku benar-benar terluka. Manusia di sampingku ini sudah berada dalam hidupku semenjak aku berusia 16 tahun, semenjak aku masih membawa ransel besar dengan isi buku matematika suci, atau semenjak kami ditakdirkan oleh angka sakral yang membuat kami bisa duduk satu bangku. Mulanya, ada yang mengusikku di setiap kata-katanya. Aku tidak pernah menyukainya hingga kata-kata ajaibnya menyihirku. Selama tiga tahun di SMA, aku diam-diam menyukainya dan ia sering mengantarku pulang. Ya, sebatas teman sekolah, teman sekelas, dan teman sebangku. Tidak pernah lebih dari itu.
Setelah aku tersihir oleh kata-katanya, ia kerap kali mengucapkan kata-kata yang menghempas harga diriku. Ketika aku mengingat kata-kata itu, aku tertawa. Getir.
"Lucu memang, aku tidak pernah menggenggam tangan lelaki, kecuali tangan laki-laki itu"
"Aku melihat semuanya di TIM waktu itu! Aku melihat sesuatu yang berbeda dari dirimu yang aku kenal. Aku mengenalmu sebagai wanita yang mudah, bukan wanita yang murah"
Andai saja ini bukan di dalam kereta. Andai saja aku bisa berteriak dan memaki wajahnya. "Aku berpura-pura mudah, Bung. Kautidak tahu itu? Ke mana saja otakmu selama ini? Tidak kaupakai lagi semenjak tidak belajar matematika di sekolah?"
"Ya, ya. Aku tahu. Tapi sudah kubilang berapa kali? Jangan pernah mengumbar senyum pada lelaki, jangan pernah membalas pesan laki-laki dengan hitungan detik, jangan pernah bersikap terlalu bersahabat pada lelaki!"
Aku tersenyum sinis, "Kau siapa?"
"Oh iya, aku bukan siapa-siapa di hidupmu. Bahkan meski aku masih menyukaimu, sampai detik ini sekalipun. Aku tidak akan memintamu untuk menjadi kekasihku"
"Sebelum kaumemintaku sekalipun, aku tidak akan pernah mau menjadi kekasihmu!" aku menaikkan sedikit nada bicaraku. Aku membenci laki-laki ini, tapi entah mengapa aku tidak menyangkal apa yang ia katakan.
Hening terjadi di gerbong kereta ini. Sekelebat bayangan tentang masa laluku kembali tiba di depan mataku. Aku tersenyum, tentang membalas pesan dengan cepat atau bersikap terlalu bersahabat pada laki-laki hingga mereka menyukaiku--itu benar. Tetapi aku langsung pergi setelahnya apabila aku mengetahui mereka sedikit menyukaiku dan aku tidak menyukainya. Aku tidak ingin harapan muncul setelahnya. Aku memang jahat, tapi aku tidak bermaksud jahat. Tidak pernah bermaksud untuk jahat. Aku hanya ingin berteman, lalu mereka salah paham. Aku heran, mengapa sulit bagi laki-laki dan perempuan untuk sekadar bersahabat?
"Kauputus? Dengan laki-laki yang waktu itu kulihat di TIM?"
Aku mengedikkan bahu, "Entahlah. Ternyata sihirnya lebih kuat daripada sihirmu, sehingga aku mau disentuh olehnya dan aku masih menyukainya"
"Baguslah kalau kaubelum mencintainya" ujarnya pahit.
"Aku tidak pernah tahu makna cinta. Aku hanya tahu rasa saling menyayangi. Dan aku, menyayanginya"
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Aku heran, mengapa kautetap saja menjadi orang baik setelah laki-laki menyakitimu?"
Aku tersenyum, kali ini ingin menangis. "Karma itu pasti ada, Tuan"
Pernyataanku mengambang di udara. Ya, aku percaya karma memang ada. Aku tidak pernah menyangkal hal itu. Aku kemudian hanya mendengar musik samar dari headsetku dan suara kereta yang berpacu dengan rel. Mungkin di luar sudah tidak hujan dan aku akan berhenti di dua stasiun berikutnya. Konversasi malam ini berat dan pahit, tetapi tidak dapat mengubah apa-apa di hidupku.

Komentar
Posting Komentar