Pesan untuk Pembaca: Sedetik Saja
Apabila ibumu pergi dari hidupmu, kamu akan kehilangan satu orang yang tulus mendoakanmu, kamu akan kehilangan satu orang yang benar-benar tulus menyayangimu, dan kamu akan kehilangan orang yang rela melakukan apa saja untukmu--tanpa pernah meminta balasan apa-apa. Sekarang, aku tengah berada di titik itu, titik ketika aku kehilangan tempat bercerita panjang lebar seusai kuliah. Titik ketika cerita-ceritaku menumpuk di dada dan sulit untuk kubagi. Ada kalanya cerita-ceritaku hanya ingin kubagi dengan ibu--sebagai satu-satunya wanita di rumahku, ada kalanya aku merasakan bahwa aku kehilangan orang yang setiap hari membuat ponselku berdering. Ada kalanya aku memahami bahwa selama ini, alasanku untuk terus berprestasi dan berkontribusi.... adalah ibu. Hanya ibu. Aku tidak berbohong tapi memang kuakui, hanya ibu.
Di satu waktu, aku ingin makan Soto buatan ibu. Sotonya asin, banyak bawang gorengnya, ada keripik kentang yang dahulu pernah sama-sama kubuat bersama ibu. Ibu tidak pernah mengajariku memasak secara langsung, ibu hanya pernah mendikte bahan-bahan dan aku meraciknya sendiri. Oleh karena itu, hingga saat ini pun aku tidak pernah tahu apakah takaran rasa di masakanku sudah sempurna atau belum. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana cara memotong bawang Bombai dengan benar. Dahulu, ibu tidak suka aku 'mengganggunya' ketika memasak.
"Kamu kerjain PR aja. Kalo ada kamu, pekerjaan ibu jadi lebih lambat" itu yang selalu ibu katakan sehingga aku tidak tahu bagaimana ibu meracik masakannya secara detail.
Rindu memang sesederhana itu. Sesederhana ingin mencicipi masakan ibu, tetapi selamanya tidak akan pernah kusantap kembali.
Rindu memang sesederhana itu. Sesederhana tidur bersama ibu, mencium ubun-ubunnya, memeluknya, bercanda, diberi wejangan, dan ditemani ketika ada perlombaan.
Aku tahu, problematika selalu hilir mudik di dalam hidupku. Tetapi kali ini berbeda. Semenjak kepergian ibu, aku merasa bahwa masalah besar seakan selalu saja kejam mencabikku tanpa aku tahu duduk perkaranya. Apabila ditanya sekalipun, aku tidak tahu bagaimana harus mengeksplanasikannya. Toh, aku tidak tahu apa yang tidak kuketahui dan rasanya aku ingin cepat-cepat saja menyusul ibu ke alam kubur. Setelah itu menunggu waktu pulang ke surga bertemu Tuhan.
Pesanku pada pembaca, sedetik saja...
Dekap ibumu, minta didoakan, minta dibuatkan makanan, bahagiakan ia, beri apa yang ia minta, jangan pernah membantahnya, telepon ia ketika jauh, cium ia ketika dekat. Juga, belajar mengikhlaskan sejak awal apabila ia pergi.
...karena apabila ibu telah tiada, segalanya benar akan terasa berbeda.
Hidupmu tak lagi sama.
Di semesta, tidak akan ada lagi insan yang mencintaimu--seputih cinta ibu untukmu.
(dariku yang dua tahun lagi akan diwisuda tanpa kehadiran ibu. Akankah aku merasakan 'wisuda'?)
Di satu waktu, aku ingin makan Soto buatan ibu. Sotonya asin, banyak bawang gorengnya, ada keripik kentang yang dahulu pernah sama-sama kubuat bersama ibu. Ibu tidak pernah mengajariku memasak secara langsung, ibu hanya pernah mendikte bahan-bahan dan aku meraciknya sendiri. Oleh karena itu, hingga saat ini pun aku tidak pernah tahu apakah takaran rasa di masakanku sudah sempurna atau belum. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana cara memotong bawang Bombai dengan benar. Dahulu, ibu tidak suka aku 'mengganggunya' ketika memasak.
"Kamu kerjain PR aja. Kalo ada kamu, pekerjaan ibu jadi lebih lambat" itu yang selalu ibu katakan sehingga aku tidak tahu bagaimana ibu meracik masakannya secara detail.
Rindu memang sesederhana itu. Sesederhana ingin mencicipi masakan ibu, tetapi selamanya tidak akan pernah kusantap kembali.
Rindu memang sesederhana itu. Sesederhana tidur bersama ibu, mencium ubun-ubunnya, memeluknya, bercanda, diberi wejangan, dan ditemani ketika ada perlombaan.
Aku tahu, problematika selalu hilir mudik di dalam hidupku. Tetapi kali ini berbeda. Semenjak kepergian ibu, aku merasa bahwa masalah besar seakan selalu saja kejam mencabikku tanpa aku tahu duduk perkaranya. Apabila ditanya sekalipun, aku tidak tahu bagaimana harus mengeksplanasikannya. Toh, aku tidak tahu apa yang tidak kuketahui dan rasanya aku ingin cepat-cepat saja menyusul ibu ke alam kubur. Setelah itu menunggu waktu pulang ke surga bertemu Tuhan.
Pesanku pada pembaca, sedetik saja...
Dekap ibumu, minta didoakan, minta dibuatkan makanan, bahagiakan ia, beri apa yang ia minta, jangan pernah membantahnya, telepon ia ketika jauh, cium ia ketika dekat. Juga, belajar mengikhlaskan sejak awal apabila ia pergi.
...karena apabila ibu telah tiada, segalanya benar akan terasa berbeda.
Hidupmu tak lagi sama.
Di semesta, tidak akan ada lagi insan yang mencintaimu--seputih cinta ibu untukmu.
(dariku yang dua tahun lagi akan diwisuda tanpa kehadiran ibu. Akankah aku merasakan 'wisuda'?)

Komentar
Posting Komentar