Kolase Kisah Perjalanan: Aku dan Ksatiara UI 9
Halo
teman-teman! Apa kabar? Akhirnya blogku aktif lagi setelah sekian lama
domainnya tidak bisa diakses. Oh ya, kabarku baik. Kini aku membawa
cerita yang sedikit berbeda dari seluruh rangkaian ceritaku di laman
ini. Aku sekarang sudah tinggal di asrama, bukan asrama UI. Asrama yang
mencetak pemimpin-pemimpin masa depan Indonesia. Banyak cerita yang
telah terlukis di sana. Sekarang, aku ingin membagi kisah perjalananku
itu denganmu. Bukankah membagi kisah adalah sesuatu yang manis? Manis
seperti aku (Hehe, abaikan).
Asramaku
itu merupakan asrama beasiswa Rumah Kepemimpinan dan aku adalah peserta
angkatan 9 dari beasiswa tersebut. Beasiswanya mencakup asrama,
pembinaan, dan uang tunjangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di
regional Jakarta, asrama tersebut menaungi 30 putra (Ksatria) dan 30
putri (Tiara) yang sebelumnya telah mengikuti rangkaian seleksi. Kalau
kamu mau bertanya lebih lanjut tentang asramaku itu, kamu bisa kirimi
aku surel di dinyamorita@gmail.com
***
Aku
baru saja kembali dari Korea kala itu dan melewatkan empat agenda awal
di Rumah Kepemimpinan. Tentunya teman-temanku mungkin sudah saling
mengenal, sedangkan aku masih buta nama dan rupa. Saat pertama kali
mengikuti agenda asrama, pikiranku mencuat ke mana-mana; kekhawatiran
tentang tidak memiliki teman, kekhawatiran tentang hidup di asrama
karena aku belum pernah tinggal di asrama, serta kekhawatiran tentang
konflik-konflik yang akan muncul di asrama. Perlu kauketahui, aku dan
mayoritas Tiara itu berbeda. Di saat Tiara yang lain telah menggunakan
jilbab sesuai syariat, jilbabku masih jauh dari kata sempurna. Di saat
Tiara yang lain telah menjadi hafizhah, aku masih berperang dengan huruf
hijaiyah. Kira-kira seperti itu. Minder? Iya. Takut? Pasti. Tetapi aku
selalu menghibur diriku sendiri dengan berkata bahwa "Beasiswa ini telah
menerimaku, bagaimanapun pasti ada sesuatu yang unik dari diriku.
Tinggal seperti apa aku menghadapinya".
Pertama
kali aku mengikuti agenda asrama, aku diterima. Ya, banyak Tiara yang
menghampiriku, berkenalan denganku, bertanya tentang Korea padaku. Aku
senang, kuakui. Penerimaan dari teman-temanku membuatku semakin ingin
berproses menjadi lebih baik lagi. Saat itu, agenda asrama adalah
latihan haflah dan Ksatiara mempercayakan aku untuk menjadi sutradara.
Padahal pengalamanku menjadi sutradara masih sangat minim. Namun, aku
juga tidak dapat menyembunyikan senyum yang terbit di bibirku. Aku suka
menjadi sutradara.
Selama
latihan haflah, aku selalu diingatkan oleh siapapun, "Din, hijabnya
dijaga". Hijab adalah batasan. Hijab yang sering kulanggar adalah
interaksi dengan lawan jenis. Mungkin terdengar sedikit aneh awalnya.
Meskipun di SMA aku ikut ROHIS, tetapi tetap saja aku masih banyak teman
laki-laki. Aku sering membuat project dan berdiskusi dengan
teman
laki-lakiku, apalagi aku dulu adalah gadis tomboi. Tak heran jika aku
banyak teman laki-laki. Baru di asramalah aku tidak banyak berinteraksi
dengan teman laki-laki, haha. Namun harapanku, aku juga tetap ingin
berteman dengan laki-laki untuk berkolaborasi dalam karya. Tentunya
dengan batasan syariat.
Di
asrama, aku satu kamar dengan Amalina Faza Syahida (Ajay, FISIP'17),
Amanda Rosdiana Fitri (Manda, FKM'16), Nurfadhilah Ginting (Nugi,
FEB'17), Ratu Dieva Tiffany Aziza (Dipi, FMIPA'16), dan Widiya Solihat
Eka Riani (Widiya, FPsi'17). Selama satu kamar dengan mereka, aku
belajar banyak hal. Dari Ajay, aku belajar bagaimana caranya menjadi
gadis yang tangguh. Dari Manda, aku belajar bagaimana caranya menjadi
gadis yang anggun. Dari Nugi, aku belajar bagaimana caranya menjadi
gadis yang tegas. Dari Dipi, aku belajar bagaimana caranya menjadi gadis
yang diplomatis. Dan dari Widiya, aku belajar bagaimana caranya menjadi
gadis yang bijak. Mereka adalah tempatku berbagi kebahagiaan, keluh
kesah, berbagi makanan, dan berbagi candaan. Bersama mereka, aku belajar
bagaimana caranya meredam ego karena aku tidak tinggal sendirian. Aku
juga belajar bagaimana seharusnya menyikapi suatu masalah. Aku bahagia
bisa bersama mereka. Apalagi kamarku itu setiap malam adalah panggung
teater. Entah tiba-tiba melakukan acting, tarian, atau tiba-tiba
menjadi
drama musikal. Jadi, apabila di tengah malam kamu mendengar suara-suara
nyanyian, mungkin itu berasal dari kamarku. Namun intinya, aku senang
berada satu kamar bersama mereka (yang terlihat santai tetapi sebenarnya
ambis, haha).
| Ksatiara UI 9 |
-Di perjalanan menuju Jakarta
Malam dan dingin

mantabb, yuuk
BalasHapusAw makasyi Nadaku :3
HapusAseeek π
BalasHapusYuhuuu <3 :3
Hapus