Catatan Perjalanan Hari Pertama

Sabtu, 2 Maret 2019

Malam ini saya pergi ke tempat yang belum saya kenal sebelumnya—sebut saja provinsi tetangga. Saya pergi sendirian, dan saya perempuan—sebenarnya tidak ada korelasi sama sekali tetapi tetap saja perempuan selalu diklasifikasikan sebagai makhluk yang lemah. Dan saya bagian dari klasifikasi 'sampah' tersebut. Saya pergi tanpa memberitahu siapapun, tidak juga orang-orang terdekat, sahabat, apalagi keluarga. Diam-diam berlari di antara pekat malam; duduk di kereta-pura pura tertidur-meneteskan air mata.

Mungkin ada beberapa alasan mengapa saya ingin pergi: saya sudah bosan bercerita pada orang lain bahwa masalah yang saya hadapi sangat berat, saya juga sudah lelah menyusahkan orang lain. Lucu juga mengapa saya berani menuliskannya di sini. Mungkin, sekarang saya sudah muak berpura-pura.

Saya tahu, semakin dewasa, lingkungan mengkotak-kotakkan manusia sehingga saya tidak merasa berada di kotak manapun. Saya selalu merasa sendiri, saya selalu merasa tertinggal. Saya dikelilingi oleh ratusan orang tiap harinya tetapi saya tidak merasa ada di antara lautan manusia tersebut. Saya ingin sekali bebas bercerita, tetapi tetap saja ada sekat antara saya dan manusia. Mungkin kali ini Tuhan sedang merindukan saya.

Malam ini saya berada di tempat ketika ibu saya memegangi tangan saya, mungkin belasan tahun silam. Saya dibimbing menembus keramaian—sepertinya ia tengah mengajari saya bahwa hidup di keramaian itu tidak mudah, hidup di masyarakat itu tidak selalu berjalan mulus. Konflik sosial pasti ada. Dan saya sedang berusaha mencerna segala tentangnya.

Komentar

Postingan Populer