Selamat Pagi: Saatnya Memulai Kembali

Selamat pagi, rasanya sudah lama sekali tidak mengucapkan dua kata ini. Sudah lama pula tidak menerima ucapan tersebut. Terhitung mulai hari ini, saya akan menata ulang hidup. Agaknya cukup terdengar mustahil, dan kalimat seperti itu biasanya diikuti dengan sebuah ketidakkonsistenan. Namun, apa salahnya memulai? Dalam hidup, dua hal yang paling sulit adalah memulai dan mempertahankan. Ketika kita berhasil melewati tahap "memulai", maka kita harus mempersiapkan diri untuk berlanjut dalam fase "mempertahankan".

Saya sudah sering memulai, terutama dalam hal menata hidup. Namun, lagi-lagi menyerah dalam fase mempertahankan. Setiap hari saya mencoba menulis jadwal harian. Tiba saatnya ketika saya ketiduran dalam memenuhi jadwal harian tersebut, di saat itu pula saya menyerah dengan apa yang saya tulis dan targetkan. Mungkin, tahun ini bisa dikatakan sebagai tahun istirahat--setelah bertahun lamanya saya memforsir diri untuk belajar, bekerja, sekaligus mencoba senantiasa produktif agar setidaknya saya memiliki keahlian dalam hidup. Tahun ini, tidak ada sesuatu yang terlalu mengikat. But sometimes it's kinda overwhelming. Ada saja amanah-amanah baru, yang tidak diduga, muncul untuk saya selesaikan.

Tulisan ini terinspirasi dari judul lagu yang dinyanyikan Monita Tahalea, Memulai Kembali. Saya tidak pernah benar-benar menyukai lagu-lagu Monita hingga akhirnya saya bertemu dengan albumnya yang berjudul Dandelion. Saya seperti dipertemukan dengan potongan puzzle yang sudah lama hilang. 

Beberapa hari ini terasa cukup berbeda setelah dua minggu saya memutuskan untuk rehat dari Instagram. Saya lebih memaknai hidup dan lebih senang menuai konversasi dengan anggota keluarga di rumah. Tidak ada lagi ekspektasi yang harus saya penuhi, tidak ada pula pengharapan terhadap manusia. Sebuah New Normal, waktu untuk rebahan bisa sedikit dialokasikan untuk membaca buku, menonton video-video opini, belajar bahasa, dan tentunya mencari uang. Bersyukur, meskipun saya belum memulai kerja tetapi masih diberi kesempatan untuk mendapatkan uang jajan.

Dalam menata hidup baru, menurut saya, saya sudah cukup kompeten--namun masih perlu peningkatan. Saya sudah berhasil tidur pukul sembilan atau sepuluh malam dan bangun pukul setengah empat pagi. Sebuah rutinitas yang harus saya pertahankan karena tidak setiap orang dapat menerima gaya hidup yang biasanya saya jalani--tidur selepas Shubuh dan bangun sebelum Dzuhur. Padahal dulu pukul enam pagi, saya sudah harus berada di sekolah, saya baru pulang ke rumah setelah Maghrib karena harus mengikuti ekstrakurikuler atau les tambahan. Mengingat betapa sedikitnya waktu yang saya luangkan untuk keluarga. Akhir pekan pun dulunya harus saya habiskan untuk lomba atau latihan drum band.

Ketika disuguhkan dengan kenyataan bahwa kehidupan saya sangat berbanding terbalik setelah lulus kuliah, saya cukup kaget. Banyak hal yang tidak bisa termanajemeni dengan baik. Mungkin, masa setelah kuliah adalah sebuah masa pelampiasan. Sering kali saya menghabiskan waktu 18 jam hanya untuk tidur. Mungkin saya perlu beristirahat, sejenak, tidak perlu lama-lama. Kini saatnya meninggalkan kebiasaan buruk tersebut.

Baiklah, saatnya memulai kembali. Saatnya tidak membenci pagi. Saatnya menyambut semesta yang baru.


Komentar

Postingan Populer