Tentang Spiritualitas

Mungkin empat, atau mungkin juga lima tahun. Saat itu saya masih sangat muda untuk memahami apa yang sedang terjadi malam itu, bulan Ramadan, bintang-bintang membentuk konstelasi dengan tulisan Allah dalam bahasa Arab. Beberapa kali peristiwa-peristiwa muncul persis seperti apa yang saya mimpikan, beberapa kali pula saya mengalami sesuatu yang tidak bisa dieksplanasikan dengan logika. Tidak ada satu orang pun yang mempercayai apa yang saya katakan, begitu pula orang tua saya.


“Itu cuma khayalanmu saja, Din”, begitu yang ibu katakan setiap saya bercerita tentang hal-hal yang saya rasakan.


Ada beberapa hal yang saya catat pada cerita-cerita ibu di masa lalu, hal-hal yang membuat saya yakin bahwa saya ‘sedikit’ istimewa. Saya sudah lancar berbicara di usia saya yang masih 10 bulan, lancar membaca dan menulis pada usia 2,5 tahun. Saya membaca buku-buku filsafat di usia empat tahun, dan saya menyadari bahwa cara berpikir saya sedikit berbeda dari teman-teman sebaya kebanyakan. Dulu, saya bisa mahir melakukan apa pun hanya dengan melihat satu kali, misal: bermain rubik. Saya juga mampu menghapal puluhan angka acak dalam satu kali membaca.


Di sekolah menengah, saya sulit terlelap setiap malam. Saya mendengar suara-suara asing; entah tangisan, entah ketukan pintu, entah permintaan tolong, entah gelak tawa, atau bahkan suara api dengan jeritan manusia. Padahal, salat lima waktu sudah saya jalankan. Tetapi mengapa saya masih saja mengalami hal-hal tersebut? Mengapa harus saya?


Pernah suatu ketika, saya bermimpi ditelepon malaikat maut. Malam itu saya terlelap tanpa menjalankan salat Isya, di mimpi tersebut sang malaikat mengancam saya agar saya tidak melakukan dosa besar seperti meninggalkan salat. Saya juga diberitahu bahwa “Tiada Tuhan selain Allah, dan segala sesuatu akan kembali padaNya”. Selebihnya, tidak perlu saya ceritakan karena mimpi bertemu malaikat ini meninggalkan semacam trauma dalam diri saya.


Di bangku SMA dan kuliah, saya sering kali mendapatkan mimpi tentang apa pun yang belum terjadi. Saya bahkan mencatat mimpi tersebut beserta tanggalnya, kalau-kalau seseorang butuh pembuktian. Saya juga bisa meminta mimpi apa yang akan terjadi malam ini (semacam meminta petunjuk-petunjuk), namun jika saya meminta mimpi, biasanya saya akan sangat lemah ketika terbangun, merasa sangat sakit dan sulit beranjak dari tempat tidur.


Kamu boleh percaya, boleh juga tidak. Saya sudah terlampau sering menerima ejekan atas cerita-cerita ini. Saya menyadari bahwa sepertinya Tuhan ingin saya selalu dekat denganNya. Bahwa segala sesuatu berasal dariNya dan saya tidak boleh mempercayai sesuatu selain daripadaNya. 

Komentar

Postingan Populer