Experience During Holiday
Liburan mungkin tidak terdengar membosankan. Terkadang senggangnya waktu jadi alasan mengapa aku sungguh menunggu datangnya hari itu. Bagiku, liburan adalah momen dimana semuanya libur. Mulai dari sekolah, tugas (meskipun ada, aku menganggapnya libur), dan mandi pun juga libur. Betapa tidak, bahagia sekali jika liburan diisi dengan tidur tidur tidur dan tidur.
Tidur adalah tujuan utamaku berlibur. Agak aneh, memang. Biasanya remaja mengisi liburan dengan pergi ke DWP, atau glowrun, atau apapun yang berhubungan dengan dunia-dunia tersebut. Namun pada rutinitasku aku sangat menginginkan tidur. Sialnya, aku malah ditakdirkan Tuhan untuk terus tertidur. Rehat, maksudku.
Bermula dari seminggu yang lalu...
Pukul sepuluh pagi, handphone-ku berdering. It was Muhammad Fikri Reza (Hey, finally I've written your complete name on my blog :p See?). Gak perlu dijelaskan kan Fikri itu siapa, hoho. Fikri nelpon jauh-jauh dari Banda Aceh, nyemangatin, ngesupport, nyanyiin Payphone nya Maroon 5 yang biasa dia nyanyiin buat aku. Padahal sih lagunya buat orientasi nanti tapi Tuhan berkehendak lain. (By the way, trims banget ya Fik lagunya sampe buat aku nangis, suara kamu bagus, aku jadi feel better banget setelah kamu nyanyiin).
All of sudden, aku udah sesak napas. Yang aku ingat hanya sekelebatan anak Batch 3 YES Candidate YP 15-16 di Bandar Udara Soekarno Hatta. Lalu semuanya hilang..
Aku terbangun pukul tujuh malam, mata sudah bengkak, badanku makin panas. Jadi malam itu ibunda mengantarku ke dokter. Aku hanya dikasih obat penurun asam lambung karena asam lambungku lah yang menyebabkanku sesak napas.
Next day, kondisiku masih sama. Napasku kian sesak, aku mencoba bertahan namun yang bisa kulakukan hanya terbaring di barisan pulau kapuk. Hanya itu. Lalu ayah berkata kalau aku sembuh hari ini, aku akan liburan ke Jakarta. See? Bagaimana bisa aku menolaknya? Jakarta dan semua kenangan yang kulalui, kedai kopi di Soekarno Hatta, rinai hujan malam itu, semuanya menguar begitu jelas. Tetapi aku dibawa lagi ke dokter karena kesulitan bernapas. Dokter malah menyarankan keesokkan harinya aku langsung cek darah di rumah sakit.
Esok paginya aku langsung masuk UGD dengan napas yang benar-benar tersengal. Aku langsung diinfus dan it was my first time. Itu kali pertama aku diinfus. Rasanya? Tidak perlu dijabarkan. It hurted me so much. Sambil menunggu sekitar tiga jam di UGD, aku positif mengidap DBD, Typus, dan asam lambung naik. Aku harus dirawat tetapi seluruh rumah sakit di Palembang penuh. Tuhan, cobaan apa lagi. Pihak dokter telah menelepon satu persatu rumah sakit yang tersisa tetapi tidak ada lagi kamar yang kosong. Pihak dokter berkata harus mendahulukan pasien-pasien yang sudah sekarat. Tapi aku juga sekarat! Napasku sudah di ujung penghabisan, aku hampir memakai tabung oksigen. Akhirnya aku pindah rumah sakit, untungnya dapat kamar di lantai 4.
Setelah dapat kamar, penderitaanku tidak berhenti sampai disitu. Aku juga harus melepas infus kiri, dan memakai infus kanan karena jarum yang ada di tangan kiriku bengkok. Sakit? Iya. Dan pada liburan inilah aku merasakan jarum-jarum menusukku, makanan-makanan tidak enak yang harus kumakan, gatal-gatal pasca DBD yang membuatku menjadi seorang monster sekarang. Tetapi Alhamdulillah aku jadi monster merah putih, karena aku baca di internet, kalau tidak jadi monster sang penderita DBD bisa kehilangan nyawa. Apakah aku separah itu?
Seminggu, seminggu lamanya aku terbaring lemah. Tanpa handphone. Bagaimana bisa aku bercengkrama dengan handphone sedangkan tangan kananku diinfus dan pernapasanku sungguh kritis?

Aku harap, ini liburan terakhir di rumah sakit sepanjang sejarah hidup.
Tidur adalah tujuan utamaku berlibur. Agak aneh, memang. Biasanya remaja mengisi liburan dengan pergi ke DWP, atau glowrun, atau apapun yang berhubungan dengan dunia-dunia tersebut. Namun pada rutinitasku aku sangat menginginkan tidur. Sialnya, aku malah ditakdirkan Tuhan untuk terus tertidur. Rehat, maksudku.
Bermula dari seminggu yang lalu...
Kuterima suratku, dan kubaca, aku mengerti.Cukup untuk sebait kabar burung yang tega menghunusku pada pagi buta. Ia dengan relanya mengobrak-abrik moodku yang tadinya khawatir menjadi tidak niat hidup. Awal liburanku sudah buruk, semuanya buruk. Aku hanya mampu terhuyung di atas kasur, menenggelamkan wajahku di deretan pulau kapuk hingga berjam lamanya. Sungguh, memang membuat mata serta hatiku bengkak. Mulai dari sini aku harus temui kenyataan, aku harus bangkit, mimpi-mimpi yang tadinya telah kukemas secara apik belum disetujui Tuhan. Mungkin nanti, aku yakin Tuhan memiliki skenario terbaik dalam ceritaNya.
Pukul sepuluh pagi, handphone-ku berdering. It was Muhammad Fikri Reza (Hey, finally I've written your complete name on my blog :p See?). Gak perlu dijelaskan kan Fikri itu siapa, hoho. Fikri nelpon jauh-jauh dari Banda Aceh, nyemangatin, ngesupport, nyanyiin Payphone nya Maroon 5 yang biasa dia nyanyiin buat aku. Padahal sih lagunya buat orientasi nanti tapi Tuhan berkehendak lain. (By the way, trims banget ya Fik lagunya sampe buat aku nangis, suara kamu bagus, aku jadi feel better banget setelah kamu nyanyiin).
All of sudden, aku udah sesak napas. Yang aku ingat hanya sekelebatan anak Batch 3 YES Candidate YP 15-16 di Bandar Udara Soekarno Hatta. Lalu semuanya hilang..
Aku terbangun pukul tujuh malam, mata sudah bengkak, badanku makin panas. Jadi malam itu ibunda mengantarku ke dokter. Aku hanya dikasih obat penurun asam lambung karena asam lambungku lah yang menyebabkanku sesak napas.
Next day, kondisiku masih sama. Napasku kian sesak, aku mencoba bertahan namun yang bisa kulakukan hanya terbaring di barisan pulau kapuk. Hanya itu. Lalu ayah berkata kalau aku sembuh hari ini, aku akan liburan ke Jakarta. See? Bagaimana bisa aku menolaknya? Jakarta dan semua kenangan yang kulalui, kedai kopi di Soekarno Hatta, rinai hujan malam itu, semuanya menguar begitu jelas. Tetapi aku dibawa lagi ke dokter karena kesulitan bernapas. Dokter malah menyarankan keesokkan harinya aku langsung cek darah di rumah sakit.
Esok paginya aku langsung masuk UGD dengan napas yang benar-benar tersengal. Aku langsung diinfus dan it was my first time. Itu kali pertama aku diinfus. Rasanya? Tidak perlu dijabarkan. It hurted me so much. Sambil menunggu sekitar tiga jam di UGD, aku positif mengidap DBD, Typus, dan asam lambung naik. Aku harus dirawat tetapi seluruh rumah sakit di Palembang penuh. Tuhan, cobaan apa lagi. Pihak dokter telah menelepon satu persatu rumah sakit yang tersisa tetapi tidak ada lagi kamar yang kosong. Pihak dokter berkata harus mendahulukan pasien-pasien yang sudah sekarat. Tapi aku juga sekarat! Napasku sudah di ujung penghabisan, aku hampir memakai tabung oksigen. Akhirnya aku pindah rumah sakit, untungnya dapat kamar di lantai 4.
Setelah dapat kamar, penderitaanku tidak berhenti sampai disitu. Aku juga harus melepas infus kiri, dan memakai infus kanan karena jarum yang ada di tangan kiriku bengkok. Sakit? Iya. Dan pada liburan inilah aku merasakan jarum-jarum menusukku, makanan-makanan tidak enak yang harus kumakan, gatal-gatal pasca DBD yang membuatku menjadi seorang monster sekarang. Tetapi Alhamdulillah aku jadi monster merah putih, karena aku baca di internet, kalau tidak jadi monster sang penderita DBD bisa kehilangan nyawa. Apakah aku separah itu?
Seminggu, seminggu lamanya aku terbaring lemah. Tanpa handphone. Bagaimana bisa aku bercengkrama dengan handphone sedangkan tangan kananku diinfus dan pernapasanku sungguh kritis?

Aku harap, ini liburan terakhir di rumah sakit sepanjang sejarah hidup.

Komentar
Posting Komentar