Surat Kecil untuk Tuan

Untuk Tuan yang namanya selalu kuselip dalam doa,
Izinkan kugores berbait aksara. Tentang sebilah rasa yang tak terungkap, mungkin juga secercah asa yang tak berbalas. Lantas, darimana harus kumulai?

Tuan,
Telah berminggu lamanya sejak awal kita bersua. Dari mula pun, degup jantung ini tiada mampu kuatur dalam segenap akal sehatku. Aku ingin menyunggingkan senyum, namun takut tak kau hiraukan. Aku ingin sekedar menyapa, namun takut tiada balasan. Aku ingin berbincang sepatah dua patah kata, namun takut tak berbuah percakapan.

Ingat hari itu? Tentang hujan yang jadi saksi ketika jemari kita hampir bertaut. Rasanya, ingin langsung saja kugenggam jemarimu. Jemari indah yang menekan tuts piano hingga menghasilkan getaran nada. Jemari indah yang kau gunakan untuk mendribel bola basketmu. Jemari indah yang kuimajinasikan sebagai jemari yang akan memasangkan cincin di jari manisku kelak. Sungguh hanya angan yang mampu melintas.

Cukup dalam jarak ini, aku diam. Aku sadar siapa aku. Hanya dengan mengagumimu dari jauh, mendoakanmu usai shalat, telah mampu membahagiakan meski secuil hatiku meronta.

Tuan,
Aku telah berusaha semampuku untuk tiada lagi mengenang momen bersamamu. Namun sia-sia, kepingan memori itu akan selalu ada. Akan selalu melintas seiring nestapa.

Tuan,
Aku hanyalah penggemarmu, aku hanyalah orang yang tak bisa hidup tanpa sedetikpun ada kau yang melintas sebersit saja di benakku. Namun aku pengecut, aku tahu, aku pengecut. Rasaku tak pernah aku umbar, hanya diam, menciptakan sebuah jarak yang cukup berarti.

Bahkan kutipan dari seseorang, bahwa mencintai diam-diam akan berakhir diam-diam pula, seakan jadi nyata untukku. Kuharap, lewat tulisan ini kau bisa membaca, membaca rasaku, membaca segores coretan tak berguna yang mungkin dengan mudahnya kau buang saja.

Tuan, izinkan aku mencintaimu lewat aksara jika kau tidak mengizinkanku mencintaimu dalam dunia nyata. Setidaknya aku bisa memilikimu dalam semu.

Komentar

Postingan Populer