Sebelas Hari Setelah Percakapan Terakhir Kita

Untuk yang pernah menemani,
Izinkan kugores kembali kepingan waktu walau pilu. Ketahuilah kita sama-sama pernah memadu rasa, atau hanya aku yang merasakannya? Entahlah, sejauh ini aku pernah merasakan manisnya menjalin kasih bersamamu. Kita bahkan tak terikat komitmen, aku yang dengan haramnya hadir dalam lingkup komitmen yang telah kamu susun. Kata maaf masih tercekat di tenggorokanku, tiada mampu kulontar.

Source : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicCiYRZL1NSX8_OfJaBRSF0yRcuQKVyBVA1NJagSWBa1G5XDRH7Npo4UDVDEtJFewZUxujXx5p_t54PjlhqzB8fl-MNcX-tKxxvKeMp0FXPOlO9fwk9420lNOBKP1yxgXwnoL5MTcxo00V/s1600/farewell.jpg
Dalam hitungan detik kamu sudah mampu membalik hatiku. Hebat, kuakui. Percakapan-percakapan ringan yang tercipta diantara kita sejenak membuatku nyaman. Bait motivasi, hiburan, bahkan suara bass-mu masih kusimpan di sela hati. Sungguh kamu menjadikan pagiku memiliki warna, kala kuingat percakapan larut malam yang menguar lewat telepon. Tiba-tiba kurasakan kembali kebahagiaan yang sejak empat tahun lalu terkubur secara paksa, aku kembali disayangi oleh orang yang kusayangi. Kupikir begitu.

Aku selalu mengingatmu, pria yang sangat ingin mengunjungi Benteng Kuto Besak dan Kambang Iwak Palembang. Dalam anganku, mungkin suatu saat ketika kamu kemari, aku akan mengajakmu bersepeda sore di sekitar Kambang Iwak. Kukira sangat menyenangkan, sebelum akhirnya aku dipertemukan kembali oleh takdir yang merenggut asa.

Untukmu yang pernah mengkhawatirkanku,
Aku sudah terlalu nyaman dengan lingkaran yang kamu buat, hingga aku melupakan satu hal. Bahwa ada satu hati lagi yang menunggumu pulang selain aku. Ia lebih berhak, bukan aku. Ia tak perlu lagi diam-diam mengakuimu, seperti caraku mengakuimu. Ia bisa lebih leluasa berbicara denganmu, bukan aku yang masih ketar-ketir atau terkadang mengurungkan niat untuk memulai percakapan.

Hari ini adalah sebelas hari setelah percakapan terakhir kita. Mungkin kamu sudah lupa, atau mungkin pesan yang kukirim sebelas hari yang lalu telah terhapus dalam kotak pesanmu. Kita sudah memutuskan kontak, entah karena keinginanku atau keinginanmu. Aku tidak pernah mencintaimu, atau aku bohong, aku tidak tahu. Namun, kepergianmu menyisakan duka nestapa. Dan yang jelas, dalam sebelas hari ini, aku masih membaca percakapan kita dari awal, aku masih memutar rekaman suaramu, aku masih aktif sekadar berkunjung di media sosialmu, semuanya kulakukan dalam diam. Lagi-lagi, aku harus mencoba untuk merelakan sesuatu yang paling aku inginkan.

Mungkin hari ini, sebelas hari setelah percakapan terakhir kita, hari dimana aku harus merelakanmu. Aku percayakan kamu pada dia, gadis itu, aku yakin dia bisa jadi yang terbaik. Aku tidak tahu kapan waktu akan mempertemukan kita kembali, setidaknya aku bahagia pernah mengenalmu. Dan aku lebih bahagia jika kamu mengingatku dan menganggapku masih sebagai temanmu. Teman, ya teman. Meskipun kata itu sulit kuutarakan namun aku janji hari ini aku sudah harus rela.

Source : https://c2.staticflickr.com/4/3463/3377398430_8c8a28f776.jpg

Tuan, mungkin kamu adalah sosok Pangeran Sakura yang selama ini aku cari. Kamu datang sesaat, lalu pergi dalam waktu singkat. Tetapi hadirmu pernah membawakanku butir-butir kebahagiaan, laksana lembutnya kelopak Sakura yang baru bermekaran di musim semi. Semerbaknya masih sangat terasa, namun seiring musim berganti, aku harus merelakan estetika Sakura, lembut kelopaknya, bahkan semerbaknya dalam satu waktu. Sakura akan datang lagi pada musim semi di tahun berikutnya, namun kamu, aku tidak tahu apakah kamu akan datang kembali di tahun berikutnya. Aku tidak menggantungkan asa, hanya memanah, entah anak panahnya akan kembali lagi padaku atau tidak. Kuserahkan pada waktu.

Sebelas hari setelah percakapan terakhir kita, mungkinkah ini jadi perpisahan terakhir kita?

Komentar

Postingan Populer