Untaian Nada

Aku terus berlari pada sesuatu yang tak seharusnya membuatku pergi. Terkadang sulit untuk kuputuskan, namun lambat laun aku berhenti di satu titik yang membawaku kembali. Kembali pada perasaan itu, perasaan yang terus kuhindari lalu datang lagi, secara kontinyu, tanpa mampu aku cegah.

Ini terjadi beberapa hari setelah aku melewati masa orientasi di SMA-ku. Kami bertemu tanpa sengaja, di bawah rindangnya pohon sikamor di belakang sekolah, dengan kebungkaman masing-masing. Seharusnya aku tadi berbalik arah dan tidak duduk disini. Namun ada getiran rasa yang kuat untuk menarikku kesini, entah apa. Kucoba mengingat, tak kutemukan apapun di puing-puing otakku. Kurasa, ini panggilan takdir.

Seseorang yang sudah lebih lama duduk di bawah pohon ini tetap bungkam, sesekali melirik ke arahku. Aku memasang earphone ke telinga, memutar lagu favoritku. Menit berikutnya aku bersenandung seolah tak ada individu lain di sampingku. Mungkin kamu kira ini absurd, duduk di bawah pohon sikamor di belakang sekolah bersama orang yang tak sekalipun kamu kenal. Suasana bungkam, angin yang menyapu wajah, pohon sikamor yang rindang, semuanya seakan menenangkan tanpa sekalipun harus terasa canggung. 

Semenit, dua menit, sosok itu menepuk pundakku. Sigap saja kulepas earphone yang terpasang di telinga kiri, dengan earphone di telinga kanan yang masih beroperasi.

"Kenapa?" ujarku, namun dengan tatapan mata yang damai.

Ia memasang wajah datar, matanya menyorot mataku, dalam. "Itu lagunya Nemesea kan? Angel in The Dark?"

Aku mengangguk "Tidak banyak yang tahu lagu ini, lagipula ini lagu favoritku"

Kulirik nametag yang terpasang di kanan dadanya. Warna nametagnya putih. Ini menandakan bahwa ia satu angkatan denganku.

"Kamu tadi menyanyikannya dengan nada rendah, boleh aku dengar sekali lagi? Maksudku tidak mudah membuat improvisasi seindah itu" ia sedikit membuat wajahnya terlihat lebih bersahabat, dengan ini keadaan kami sangat lebih membaik.

Aku memulai menyanyikannya, hingga di nada yang paling tinggi menjadi nada rendah, pria disampingku ini mengimbangi suaraku dengan nada tingginya. Demi Tuhan, ini benar-benar kolaborasi yang sangat indah. Dan jujur, aku belum pernah mendengar suara laki-laki se-menenangkan ini.

Setelah bait terakhir lagu tersebut selesai, kami saling pandang, lalu tertawa satu sama lain.

"Suara kamu bagus, kalau kamu berminat, ada lomba band bulan depan. Kami sedang membutuhkan vokalis" ujarnya di sela tawa.

Aku menaikkan alisku "Sungguh? Akan kupikirkan lagi. Tapi bukankah suaramu bagus? Kenapa tidak kamu saja yang jadi vokalis?"

"Aku bassist, lagipula aku tidak pernah bisa menyanyikan Angel in The Dark, menurutku lagu itu lagu yang paling sulit"

Aku mengangguk, dan membuat kedua bibirku seakan mengatakan huruf "O" namun tak bersuara.

"Kamu kelas berapa?" tanyanya, membuatku sedikit terhenyak.

"Sepuluh, sepuluh IPA satu. Kamu sendiri?"

"Sebelas IPA tiga"

Dan saat dimana ia menyebutkan kata "Sebelas", aku buru-buru berusaha meminta maaf padanya. Aku meminta maaf karena telah memanggilnya dengan sebutan "kamu" tanpa menggunakan sebutan "kakak". Mengingat sekolahku menjunjung tinggi asas senioritas.

"Maaf kak, maaf banget. Aku gak tahu kalo kakak ini senior aku, soalnya nametag kakak warnanya putih, maaf ya kak"

"Tidak apa-apa, tidak usah panggil aku kakak" ucapnya. Sungguh, aku belum pernah menemukan makhluk sebaik dia. "Aku pulang duluan, ya"

Sejak hari itu, aku tidak pernah menemukannya lagi di sekolah. Barulah di saat penghujung semester 1 kelas sebelas, aku menemukan ia lagi, menggenggam jemari seniorku yang sangat aku kenal. Entahlah, mungkin harapanku runtuh saat itu juga. Ketika hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun yang berputar dalam satu putaran penuh hanya tersisa sebait puing jejak dan sebait untaian nada. Padahal aku telah berusaha mencarinya di kelas sebelas IPA tiga, namun hanya hampa yang mampu mewarnai. Mengapa ia tega membohongiku? Bahwa ia bukan murid kelas sebelas IPA tiga yang saat ini menduduki kelas dua belas IPA tiga.

Aku bahkan tidak tahu siapa namanya, beberapa kali aku berpapasan dengannya, ia seolah tidak mengenalku. Terkadang memang miris.

Di bulan kedua semester kedua kelas sebelas, sekolahku mengadakan acara pentas seni khusus siswa siswi intra sekolah. Acaranya cukup menarik, banyak sekali perlombaan yang diadakan. Aku sendiri tidak tertarik melihat perlombaan-perlombaan tersebut. Dengan begitu kutenggelamkan wajahku diantara buku Matematika dan Biologi yang tertumpuk menjadi satu di atas mejaku, lalu kupejamkan mata, membayangkan sebentar lagi, hanya dengan menghitung hari, ia meninggalkan sekolahku. Juga kenangan di bawah pohon sikamor.

 "Davina! Lihat band yuk"

Reta mengguncangkan tubuhku. Demi Tuhan, aku membenci suara cemprengnya. Aku telah berusaha menolak, namun Reta menyeretku hingga ke barisan kerumunan siswa-siswi sekolahku yang tengah berkumpul di lapangan basket, menyaksikan band yang sungguh membuatku mual. Yah, kulihat band dari kelas sebelas ipa 6 tengah melantunkan lagu Dekat di Hati-nya RAN, yang membuat seisi gadis di sekolahku mewek.

"Udahlah Ret, aku mau ke kelas aja" umpatku kesal. Aku berlari menerobos kerumunan, tidak memedulikan Reta. Ketika keluar dari kerumunan, Reta menatapku nanar.

"Kamu gak kasihan sama aku? Masa aku nonton bandnya sendirian? Jones banget tahu gak!"

Aku, yang tengah membelakangi panggung dan kerumunan penonton, mencoba melangkah maju dan melepaskan diri dari erangan Reta. Namun yang ada, Reta malah menghadangku dengan kedua tangan terbuka lebar.

Lagu ini aku persembahkan buat seorang gadis yang mengubah hidupku.

"Daaaaaaaav!! Itu Kak Radit! Ayo temenin aku lihat dia, sekaliiii aja"

"Kak Radit siapa sih? Kamu sih gonta-ganti gebetan terus!" ucapku kesal.

Ia terkadang membuatku cemas, khawatir, namun aku sungguh sudah lupa raut wajahnya.

"Yah elah Davina! Kamu kuper banget sih! Masa sama Kak Radit aja gak kenal? Mana mungkinlah aku ngegebet Kak Radit, aku mah apa atuh"

Ini lagu favoritnya. Untuk dia, cinta pertamaku yang terjalin di bawah pohon sikamor.

Seketika sepertinya aku sangat mengenal intro dari lagu ini.

A dream so real it takes her back, she's falling into her own past.

Sekujur tubuhku kaku, tangis hampir saja memecah. Reta mencoba membuatku tersadar dari lamunan, tetapi tetap saja tubuhku menegang. Hingga pada bagian reffrain, aku membalikkan badanku. Mencoba menerobos kerumunan penonton sembari meninggalkan tanda tanya besar di hati Reta.

Aku menikmati suaranya, juga ekspresinya. Seakan kenangan di bawah pohon sikamor itu terputar kembali. Dan apakah memang benar aku cinta pertamanya? Namun kurasa cukup, ia juga telah lupa akan wajahku. Kurasa saling melupakan adalah hal terbaik. Cukup bagiku untuk sekadar tahu siapa namanya. Dan cukup bagiku menyisakan cinta lewat untaian nada. Ia akan temukan gadis lain yang lebih baik dari aku, aku yakin itu.

Komentar

Postingan Populer