Pemetik Gitar di Sudut Kota
Terkadang, aku ingin bertanya pada Tuhan, mengapa aku harus jatuh hati pada orang yang salah? Apa memang aku yang salah? Meskipun pada akhirnya aku tahu, tiada satupun yang patut disalahkan. Pelan-pelan mulai kututup bola mataku, merasakan embusan semilir kemarau khatulistiwa yang mencubiti kulitku dengan liar. Bayangnya memenuhi angan, petikan gitarnya takkan luput kuputar dalam kepingan kaset antik yang kusebut dengan memori.
Aku bersua dengannya di sudut kota, dalam kedai kopi dikala ia melantunkan petikan gitar dengan melodi yang teramat dalam. Tuhan, aku menyukai caranya memetik dawai-dawai tersebut, aku menyukai suara serak basahnya ketika ia sedikit membubuhi vokal, aku menyukai pribadinya yang hanya mampu kulontar lewat aksara. Seandainya aku mampu berbicara banyak dengannya, akrab dengannya, bertukar cerita dengannya, mungkin aku takkan secanggung ini bila matanya mulai menyorotku. Ya, kerap kali kudapati matanya menyorotku. Apakah artinya, Tuhan? Belum mampu kuterka jawaban. Aku ingin sekedar menyapanya, namun jiwa ini terlalu rapuh untuk ia abaikan.
Sejujurnya aku telah berulang kali berpura-pura. Berpura-pura untuk tidak sengaja melewati sudut kota, lalu melewati kedai kopi. Sepeda motorku kuperlamban guna mendengar petikan gitarnya yang tiada mampu kudeskripsikan. Tak perlu kusesali, aku selalu melakukannya berdua dengan Alda. Hingga gadis itu tak sadar larut dalam ceritanya.
"Kau tahu, pemetik gitar itu. Ia teman SMP-ku. Aku telah lama memupuk rasa padanya. Hingga detik ini, rasa yang kupupuk belum sirna jua"
Lalu aku bungkam. Tuhan, apakah memang ia adalah orang yang salah untuk kuberi rasa? Mengapa Alda juga memupuk rasa yang sama? Seakan ia Kauciptakan untuk dibagi. Bagaimana bisa aku harus jujur dengan perasaan ini? Aku benci harus menunda, aku benci terjatuh lagi, dan aku benci ketika mungkin ia takkan pernah tahu apa yang tertulis di benakku.
Duhai pemetik gitar di sudut kota, lantunkan aku melodi indahmu, maka tak luputlah jemari ini menggoreskan sajak tentangmu. Duhai pemetik gitar di sudut kota.
Aku bersua dengannya di sudut kota, dalam kedai kopi dikala ia melantunkan petikan gitar dengan melodi yang teramat dalam. Tuhan, aku menyukai caranya memetik dawai-dawai tersebut, aku menyukai suara serak basahnya ketika ia sedikit membubuhi vokal, aku menyukai pribadinya yang hanya mampu kulontar lewat aksara. Seandainya aku mampu berbicara banyak dengannya, akrab dengannya, bertukar cerita dengannya, mungkin aku takkan secanggung ini bila matanya mulai menyorotku. Ya, kerap kali kudapati matanya menyorotku. Apakah artinya, Tuhan? Belum mampu kuterka jawaban. Aku ingin sekedar menyapanya, namun jiwa ini terlalu rapuh untuk ia abaikan.
Sejujurnya aku telah berulang kali berpura-pura. Berpura-pura untuk tidak sengaja melewati sudut kota, lalu melewati kedai kopi. Sepeda motorku kuperlamban guna mendengar petikan gitarnya yang tiada mampu kudeskripsikan. Tak perlu kusesali, aku selalu melakukannya berdua dengan Alda. Hingga gadis itu tak sadar larut dalam ceritanya.
"Kau tahu, pemetik gitar itu. Ia teman SMP-ku. Aku telah lama memupuk rasa padanya. Hingga detik ini, rasa yang kupupuk belum sirna jua"
Lalu aku bungkam. Tuhan, apakah memang ia adalah orang yang salah untuk kuberi rasa? Mengapa Alda juga memupuk rasa yang sama? Seakan ia Kauciptakan untuk dibagi. Bagaimana bisa aku harus jujur dengan perasaan ini? Aku benci harus menunda, aku benci terjatuh lagi, dan aku benci ketika mungkin ia takkan pernah tahu apa yang tertulis di benakku.
Duhai pemetik gitar di sudut kota, lantunkan aku melodi indahmu, maka tak luputlah jemari ini menggoreskan sajak tentangmu. Duhai pemetik gitar di sudut kota.

Komentar
Posting Komentar