Tentang Kita

Kamu masih ingat tempat favorit kita? Dimana hanya ada aku dan kamu, berbagi cerita, bertukar kisah, berceloteh mengenai mimpi masing-masing. Aku ingat, bagaimana kedua bola matamu berbinar ketika menyebutkan Jakarta dan anganmu menjadi musisi. Tak sekedar angan, kurasakan seluruh yang kaukatakan akan terjawab di selang waktu.

Yogyakarta masih sama seperti kali terakhir kautinggalkan aku disini. Cakka, aku masih mengingat suaramu di sudut telepon ketika hari pertama kamu menginap di camp Idola Cilik. Kaubertanya kabar, lalu merambat ke percakapan ringan yang begitu mengesankan. Hingga pada akhirnya nomor yang kaugunakan tak mampu kuhubungi lagi, mention Twitterku tenggelam diantara ribuan fansmu. Aku tidak tahu apakah kamu masih mengingat segala hal tentang kita. Dulu ketika kita masih sama-sama duduk di sekolah dasar, kita sering belajar bersama. Yang paling kuingat ialah tulisan tanganmu yang tercetak kecil dan rapi, juga nametag-mu yang bertuliskan Cakka K. Nuraga.

Cakka, setelah bertahun lamanya kita berpisah, aku pindah ke Palembang, dan kamu masih di Jakarta menjadi idola para gadis. Bertahun-tahun sudah kita bak tak saling mengenal. Hingga pada hari liburanku ke Yogyakarta, kamu tanpa disangka menghubungiku via Twitter, betapa kagetnya aku. Kamu ingin kita bertemu, di alun-alun kota. Awalnya hampir aku tidak mengenalimu karena kamu menutupi kepalamu dengan tudung jaket dan kaca mata hitam yang membingkai matamu. Lalu kita berdua berjalan, menyusuri senja di Yogyakarta. Untunglah, kamu memberiku isyarat agar aku tidak menyebutkan namamu. Aku tahu, penggemarmu bukan hanya satu. Lalu kita berhenti di sebuah tempat. Tempat favorit kita, rumah pohon yang kita buat dalam prakarya kelas ketika sekolah dasar.

Kamu pelan-pelan membuka tudung kepala dan kaca matamu. Berdegup rasanya jantung ini menerima senyuman yang bertahun lamanya tak tertuju untukku lagi. Senyummu masih sama, namun garis wajahmu tampak lebih tegas dan model rambutmu benar-benar kamu ubah. Samar-samar aku merasa miris, Cakka-ku telah berubah menjadi lelaki remaja yang teramat tampan. Mungkin, tidak lagi aku mengikuti apapun tentangmu setelah perpisahan kita, karena mungkin kamu telah melupakanku, melupakan semua yang telah kita tulis dalam sebuah album berjudul Tentang Kita. Cakka, kukira kamu benar-benar lupa akan aku. Meskipun aku setiap tahunnya selalu mengingat 18 Agustus sebagai hari bertambahnya usiamu.

Cakka, hari ini kamu tiba-tiba memelukku, hangat rasanya. Masih terasa bagaimana setiap inchi tubuhmu menumpahkan kerinduan teramat dalam padaku. Aku juga, merindukanmu. Merindukan masa kecil kita. Semuanya tentang kita. Terkadang Kak Elang juga ikut duduk di rumah pohon ini, sembari memainkan gitarnya. Aku merasakan kehangatan tersendiri apabila bersama kalian.

Hari ini, aku dan kamu dengan sendirinya menuai percakapan. Dan di sela percakapan kita, kamu mengutarakan sesuatu. Sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya, meskipun itu adalah sesuatu yang paling aku inginkan. Cakka, kamu ingin aku yang jadi kekasihmu, dan aku benar-benar tak salah dengar. Tentu saja, aku menolaknya. Karena tak mungkin Cakka, tak mungkin, tak mungkin aku menjadi kekasih seseorang yang diidolakan hampir setiap gadis. Wajahmu murung, aku tahu, meskipun kita saling memadu rasa, kita tak akan pernah bisa sebebas ketika kita masih sama-sama duduk di sekolah dasar dulu. Kuharap ini akan jadi rahasia antara kita, tentang kita. Kita cukup saling mencintai dalam diam, cukup seperti itu, Cakka.

Dan Cakka, aku heran. Kamu menangis. Tangisanmu kamu tumpahkan ke dalam botol hingga botol tersebut isinya kautumpahkan ke wajahku. Ya silakan saja, Cakka. Aku memang bukan gadis yang baik untukmu. Namun semakin lama kamu semakin menyemprotkan air matamu ke wajahku hingga aku tersadar bahwa aku....

"Sudah siang ini, Din! Banguuun! Sekolahhh!" kulihat ibuku berkacak pinggang dengan membawa botol air minum yang sering kubawa ke sekolah.

Oh Tuhan! Dimana Cakka-ku?

Komentar

Postingan Populer