1320 : Kepingan Kolase yang Bersua
Suatu hari dalam hidupku, aku ditakdirkan mengikuti seleksi nasional pertukaran pelajar KL-YES YP 15-16 yang dinaungi Bina Antarbudaya. Aku masih ingat sekali, 22 November 2014. Bertemu teman baru, atau mungkin bertemu dengan orang-orang yang tak patut kusebut hanya sebatas 'teman'. Betapa tidak diduga, aku, yang hanya gadis superbiasa di sekolah, mampu bersua dengan generasi wakil daerah dari Sabang hingga Merauke. Kuulangi lagi, Sabang hingga Merauke.
Sabtu itu, kami yang berjumlah 49 orang, diantar dari Bandara Soekarno Hatta yang berada di kawasan Cengkareng, ke Wisma Handayani yang berada di kawasan Cipete. Dua jam sungguh tak terasa bagiku, mengobrol dengan salah satu wakil daerah yang juga akan mengikuti seleksi yang sama denganku. Sesampai di wisma, kami dibagi kamar menginap untuk dua hari ke depan. Dan asal kamu tahu, aku ditempatkan di sebuah kamar bertajuk 1320. Dimana aku akan sekamar dengan Jessica, dari chapter Pontianak, dan Anggita, dari chapter Denpasar. Aku sendiri dari chapter Palembang. Pasangan sekamar yang menarik, Sumatera-Kalimantan-Bali. Tentunya dengan budaya yang secara ekstrem, berbeda.
Jessica Liliyan. Gadis kelahiran Pontianak, 11 Agustus 1997 ini adalah penulis fiksi. Ia pun sangat gemar menulis diari, anime Jepang, dan drama Korea. Hijabnya syar'i. Ia bersekolah di SMAN 4 Pontianak. Ia sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan. Jessica merupakan pribadi yang bijak. Anggota LDBI, dan memiliki gebetan di Pontianak yang kerap ia ceritakan kepada kami. Memang sih, ceritanya dan gebetannya membuat aku dan Anggita benar-benar iri.
Putu Anggita Reismayani. Gadis kelahiran Buleleng, 5 Januari 1998 ini adalah kutu buku. Bayangkan saja, novel High School Paradise karya Orizuka yang kubawa, ia baca sambil cekikikan. Ia bersekolah di SMAN 1 Singaraja. Ia sangat manis. Tak heran apabila ada teman sechapterku yang tergila-gila padanya. Anggita sangat menyukai Korea, sama sepertiku. Kami sering berduet menyanyikan lagu-lagu Korea. Dan suaranya sangat bagus.
Anehnya, baru pertama kali menginjakkan kaki di kamar, kami telah akrab. Bagai kepingan kolase yang bersua. Mereka ibarat bagian dalam diriku. Aku suka membaca dan menulis, terkadang suka anime Jepang. Aku suka Korea dan hal ini seperti telah tertulis dalam takdir, bahwa aku memang ditakdirkan Tuhan untuk sekamar dengan mereka. Setelah berbagi ranjang : aku di ranjang yang dekat jendela, ranjang terpisah di sampingku di tempati Anggita dan ranjang terpisah di depan ranjang kami di tempati Jessica, sang leader 1320. Pertama kali, kami mengomentari ranjang yang benar-benar empuk. Lalu merendahkan suhu AC hingga ke fase terdingin. Usai membereskan barang-barang, kami turun ke bawah untuk menjalani rangkaian seleksi pertama, River of Life.
Setelah seleksi, kami kembali ke kamar. Mandi sejenak sembari membawa kertas yang berisi rentetan pertanyaan yang benar-benar seabrek. Anggita dan Jessica sudah mulai menyicilnya. Sedangkan aku? Sama sekali belum kusentuh. Kami mulai bercerita banyak sembari menulis jawaban dari angket pertanyaan tersebut. Mulai dari budaya daerah kami, hingga cowok-cowok yang disukai. Tak luput, cowok-cowok ganteng dari Batch 3 (Seleksi ini dibagi menjadi 3 Batch). Tak lama, kami berjalan ke gedung utama untuk tes dinamika kelompok yang ke-2.
Usai tes dinamika kelompok, kami melanjutkan mengisi pertanyaan. Disini, kami telah banyak bercerita apapun. Kami masih tertawa dan sepertinya, hanya kami yang mengisi angket dengan bercerita seakan tanpa beban. Seakan tiada kata kegagalan, seakan Amerika telah di depan mata. Kami mendengar dari kamar lain, tidak ada yang tertawa. Kecuali kamar anak laki-laki yang kelihatannya masih gaduh (aku melihat dari jendela kamar). Pukul sebelas malam, Anggita pamit undur diri untuk tidur, kasihan sekali melihat matanya yang tampak berusia 3 watt. Aku dan Jessica masih asyik bercerita sambil mengisi angket. Berdiskusi mengenai kriteria teman yang kami inginkan. Tibalah pukul dua belas kurang lima belas menit, Jessica pamit untuk tertidur. Ia berkata bahwa pukul lima harus bangun agar tidak terlambat untuk menyerahkan berkas kepada kakak-kakak volunteer. Mengingat bahwa kami harus menyerahkan berkas pukul setengah enam. Aku tertidur pukul dua belas tepat, setelah sebelumnya mematikan lampu. Mengingat kedua roommate ku ini tidak bisa tertidur apabila lampunya dimatikan. Jadi, aku lah yang mematikan lampu setelah mereka benar-benar tertidur.
Pukul setengah enam lewat lima menit. Kami terbangun dengan panik.
"Hei kita kesiangann!" pekik Jessica. Aku dan Anggita refleks terbangun dan melihat jam, terlambat lima menit, gawat.
Tanpa menggunakan alas kaki, kami mengetuk pintu depan yang dihuni oleh Yeni dari Pontianak, Cathay dari Denpasar, dan Lia dari Makassar. Mereka berkata belum ada yang mengetuk pintu kamar untuk mengambil berkas. Tetapi Jessica malah panik :v , ia berkata takutnya kita harus memiliki inisiatif sendiri. Jadilah kami berenam, minus alas kaki, ke lantai bawah dan menanyakan pada bapak-bapak yang ada di informasi. Bapak tersebut berujar bahwa belum ada kakak-kakak volunteer yang masuk ke gedung ini. Lalu kami melihat salah satu kakak volunteer dan beliau berkata bahwa, kami tetap menunggu saja di kamar.
Kami dapat jadwal interview siang. Kami bertiga dapat shift siang. Jessica begitu khawatir, sepertinya ada yang tidak beres, apabila satu kamar, dapat satu shift, dan kelompok interview yang sama. Aku dan Anggita tidak khawatir. Namun kekhawatiran Jessica memang benar :)
Setelah interview, kami mengobrol lagi. Banyak. Mengingat ini adalah malam terakhir kami tidur bersama. Sedih rasanya. Harapan kami ada satu. Kami bertiga ingin sama-sama ke Amerika, agar kami bisa bertemu lagi di orientasi nasional.
Keesokkan harinya, kami pulang ke daerah masing-masing. Kami duduk bertiga di bus, bercerita, bernyanyi, sungguh hal yang tak terlupakan. Sebelum pulang, kami berpelukan. Anggita turun di terminal tiga, aku dan Jessica di terminal satu. Masih kuingat dalam benakku, ketika kami sama sama membeli kopi di Coffee Machine Indomaret, bercerita lagi. Hingga ketika sebulan kemudian, realita menyadarkan kami bahwa tidak ada satu dari anggota kamar 1320 yang bertemu di orientasi nasional. Hanya Anggita, tetapi Anggita juga tidak dipanggil ketika Visa Camp. Jadi lah kami bertiga tidak dapat meraih mimpi kami ke Amerika dengan program ini. Tapi kami yakin, mimpi kami tidak berhenti disini. Masih banyak jalan menuju Roma. Dan masih banyak kesempatan kami untuk bertemu lagi. Semoga Tuhan memang menakdirkan kami untuk bertemu kembali.
1320, kepingan kolase yang bersua.
Sabtu itu, kami yang berjumlah 49 orang, diantar dari Bandara Soekarno Hatta yang berada di kawasan Cengkareng, ke Wisma Handayani yang berada di kawasan Cipete. Dua jam sungguh tak terasa bagiku, mengobrol dengan salah satu wakil daerah yang juga akan mengikuti seleksi yang sama denganku. Sesampai di wisma, kami dibagi kamar menginap untuk dua hari ke depan. Dan asal kamu tahu, aku ditempatkan di sebuah kamar bertajuk 1320. Dimana aku akan sekamar dengan Jessica, dari chapter Pontianak, dan Anggita, dari chapter Denpasar. Aku sendiri dari chapter Palembang. Pasangan sekamar yang menarik, Sumatera-Kalimantan-Bali. Tentunya dengan budaya yang secara ekstrem, berbeda.
Jessica Liliyan. Gadis kelahiran Pontianak, 11 Agustus 1997 ini adalah penulis fiksi. Ia pun sangat gemar menulis diari, anime Jepang, dan drama Korea. Hijabnya syar'i. Ia bersekolah di SMAN 4 Pontianak. Ia sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kahyangan. Jessica merupakan pribadi yang bijak. Anggota LDBI, dan memiliki gebetan di Pontianak yang kerap ia ceritakan kepada kami. Memang sih, ceritanya dan gebetannya membuat aku dan Anggita benar-benar iri.
Putu Anggita Reismayani. Gadis kelahiran Buleleng, 5 Januari 1998 ini adalah kutu buku. Bayangkan saja, novel High School Paradise karya Orizuka yang kubawa, ia baca sambil cekikikan. Ia bersekolah di SMAN 1 Singaraja. Ia sangat manis. Tak heran apabila ada teman sechapterku yang tergila-gila padanya. Anggita sangat menyukai Korea, sama sepertiku. Kami sering berduet menyanyikan lagu-lagu Korea. Dan suaranya sangat bagus.
Anehnya, baru pertama kali menginjakkan kaki di kamar, kami telah akrab. Bagai kepingan kolase yang bersua. Mereka ibarat bagian dalam diriku. Aku suka membaca dan menulis, terkadang suka anime Jepang. Aku suka Korea dan hal ini seperti telah tertulis dalam takdir, bahwa aku memang ditakdirkan Tuhan untuk sekamar dengan mereka. Setelah berbagi ranjang : aku di ranjang yang dekat jendela, ranjang terpisah di sampingku di tempati Anggita dan ranjang terpisah di depan ranjang kami di tempati Jessica, sang leader 1320. Pertama kali, kami mengomentari ranjang yang benar-benar empuk. Lalu merendahkan suhu AC hingga ke fase terdingin. Usai membereskan barang-barang, kami turun ke bawah untuk menjalani rangkaian seleksi pertama, River of Life.
Setelah seleksi, kami kembali ke kamar. Mandi sejenak sembari membawa kertas yang berisi rentetan pertanyaan yang benar-benar seabrek. Anggita dan Jessica sudah mulai menyicilnya. Sedangkan aku? Sama sekali belum kusentuh. Kami mulai bercerita banyak sembari menulis jawaban dari angket pertanyaan tersebut. Mulai dari budaya daerah kami, hingga cowok-cowok yang disukai. Tak luput, cowok-cowok ganteng dari Batch 3 (Seleksi ini dibagi menjadi 3 Batch). Tak lama, kami berjalan ke gedung utama untuk tes dinamika kelompok yang ke-2.
Usai tes dinamika kelompok, kami melanjutkan mengisi pertanyaan. Disini, kami telah banyak bercerita apapun. Kami masih tertawa dan sepertinya, hanya kami yang mengisi angket dengan bercerita seakan tanpa beban. Seakan tiada kata kegagalan, seakan Amerika telah di depan mata. Kami mendengar dari kamar lain, tidak ada yang tertawa. Kecuali kamar anak laki-laki yang kelihatannya masih gaduh (aku melihat dari jendela kamar). Pukul sebelas malam, Anggita pamit undur diri untuk tidur, kasihan sekali melihat matanya yang tampak berusia 3 watt. Aku dan Jessica masih asyik bercerita sambil mengisi angket. Berdiskusi mengenai kriteria teman yang kami inginkan. Tibalah pukul dua belas kurang lima belas menit, Jessica pamit untuk tertidur. Ia berkata bahwa pukul lima harus bangun agar tidak terlambat untuk menyerahkan berkas kepada kakak-kakak volunteer. Mengingat bahwa kami harus menyerahkan berkas pukul setengah enam. Aku tertidur pukul dua belas tepat, setelah sebelumnya mematikan lampu. Mengingat kedua roommate ku ini tidak bisa tertidur apabila lampunya dimatikan. Jadi, aku lah yang mematikan lampu setelah mereka benar-benar tertidur.
Pukul setengah enam lewat lima menit. Kami terbangun dengan panik.
"Hei kita kesiangann!" pekik Jessica. Aku dan Anggita refleks terbangun dan melihat jam, terlambat lima menit, gawat.
Tanpa menggunakan alas kaki, kami mengetuk pintu depan yang dihuni oleh Yeni dari Pontianak, Cathay dari Denpasar, dan Lia dari Makassar. Mereka berkata belum ada yang mengetuk pintu kamar untuk mengambil berkas. Tetapi Jessica malah panik :v , ia berkata takutnya kita harus memiliki inisiatif sendiri. Jadilah kami berenam, minus alas kaki, ke lantai bawah dan menanyakan pada bapak-bapak yang ada di informasi. Bapak tersebut berujar bahwa belum ada kakak-kakak volunteer yang masuk ke gedung ini. Lalu kami melihat salah satu kakak volunteer dan beliau berkata bahwa, kami tetap menunggu saja di kamar.
Kami dapat jadwal interview siang. Kami bertiga dapat shift siang. Jessica begitu khawatir, sepertinya ada yang tidak beres, apabila satu kamar, dapat satu shift, dan kelompok interview yang sama. Aku dan Anggita tidak khawatir. Namun kekhawatiran Jessica memang benar :)
Setelah interview, kami mengobrol lagi. Banyak. Mengingat ini adalah malam terakhir kami tidur bersama. Sedih rasanya. Harapan kami ada satu. Kami bertiga ingin sama-sama ke Amerika, agar kami bisa bertemu lagi di orientasi nasional.
Keesokkan harinya, kami pulang ke daerah masing-masing. Kami duduk bertiga di bus, bercerita, bernyanyi, sungguh hal yang tak terlupakan. Sebelum pulang, kami berpelukan. Anggita turun di terminal tiga, aku dan Jessica di terminal satu. Masih kuingat dalam benakku, ketika kami sama sama membeli kopi di Coffee Machine Indomaret, bercerita lagi. Hingga ketika sebulan kemudian, realita menyadarkan kami bahwa tidak ada satu dari anggota kamar 1320 yang bertemu di orientasi nasional. Hanya Anggita, tetapi Anggita juga tidak dipanggil ketika Visa Camp. Jadi lah kami bertiga tidak dapat meraih mimpi kami ke Amerika dengan program ini. Tapi kami yakin, mimpi kami tidak berhenti disini. Masih banyak jalan menuju Roma. Dan masih banyak kesempatan kami untuk bertemu lagi. Semoga Tuhan memang menakdirkan kami untuk bertemu kembali.
1320, kepingan kolase yang bersua.

Komentar
Posting Komentar