Lembar Labirin Tanah Palembang

Mungkin sudah terlintas dalam bayang, bagaimana lekuk indah kota yang mayoritas penduduknya beragama muslim ini. Palembang Darussalam, begitu kerap kali orang menyebutnya. Kadang kala hati ini berdesir kagum, tanah tempat saya lahir ini memiliki kuliner terbaik yang pernah saya cicipi sepanjang sejarah hidup.

Untuk pembaca-pembaca yang budiman, yang berencana akan melanjutkan bilik matanya ke paragraf yang lebih lanjut, saya harap Anda  tidak kecewa apabila saya tidak sesuai dengan cerita ekspektasi Anda. Saya tidak akan membahas Palembang secara tuntas dan akurat, bukan juga kuliner atau budayanya, yang saya kira tak perlu diragukan lagi, bahwa Palembang merupakan kota di Indonesia yang mendapat julukan Venesia dari Timur karena terkenal dengan sebutan Kota Maritim. Namun pembaca yang budiman, jika Anda ingin menelusuri bacaan ini lebih lanjut, pertama-tama Anda harus tahu betul bahwa cerita ini bukan cerita mengenai potret Palembang. Cerita ini merupakan lembaran labirin yang sempat bentrok di hati saya karena awalnya tak ingin saya unggah. Lembar labirin tanah Palembang menurut sudut pandang gadis berusia belum genap tujuh belas tahun seperti saya, Adinda, yang nama lengkapnya mungkin bisa Anda terka setelah membaca seluruh goresan tangan ini. Entah dengan siapa lagi saya harus membagi setiap sisi labirin yang memiliki kisah ini. Perlu Anda ketahui, tak setiap teman saya mengerti, tak setiap orang percaya. Maka dari itu, pertimbangkan lagi, apakah mata Anda masih sanggup mengekori coretan ini.

Bermula dari siang itu. Senin, bertepatan dengan acara hari ulang tahun kota Palembang yang ke-1322, saya berkunjung ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II untuk suatu perlombaan. Demi Tuhan, saya senang. Karena seumur hidup saya, baru sekali saya menginjakkan kaki di tangga museum indah tersebut. Biasanya saya hanya lewat, menatap sang museum yang sesekali menyapa, lalu tak saya hiraukan. Cukup miris untuk di dengar bahwa saya tidak punya teman yang tertarik untuk sekedar menemani saya ke museum bersejarah di Kota Palembang tersebut.

Siang itu, Ratu Tata Surya terik membara. Sinarnya mencubiti kulit saya. Sembari menunggu hasil pengumuman, saya dan Anggie, teman saya, berencana untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu di Masjid Agung, masjid terbesar yang terletak di pusat kota Palembang. Untuk mencapai ke sana, kami mengenakan becak. Mengingat bahwa sudah sangat jarang manusia hedon masa kini yang menganggap becak merupakan sesuatu yang patut dilestarikan. Namun di mata saya, becak tetaplah sesuatu yang pernah mengantarkan saya berkeliling desa. Baiklah, paragraf ini tidak melulu bercerita mengenai becak, dan becak bukanlah hal yang akan saya bahas disini.

Kembali lagi ke masjid Agung, masjid tersebut sungguhlah kokoh, dengan desain eksterior maupun interior yang begitu memikat. Tersebarlah masyarakat-masyarakat calon penghuni surga disini. Ada hal yang tak bisa luput dalam memori saya, sesosok wanita paruh baya yang memiliki jasa penitipan sandal.

"Titipkanlah, Nak, sandalnya. Kalau tidak dititipkan, banyak yang mencuri" wanita itu berkata, sembari menggendong bayi laki-lakinya yang menangis bak kelaparan. Lantas saya bertanya berapa harga menitip sandal, wanita itu berkata "Seikhlasnya, Nak"

Kala itu saya tidak memiliki uang kecil. Yang ada hanyalah selembar lima puluh ribu dan apabila saya memberi beliau lima puluh ribu, beliau tidak memiliki kembalian. Sejujurnya saya belumlah menjadi sosok yang amat dermawan, karena saya takut tidak punya uang untuk pulang ke rumah dan makan siang. Saya menjelaskan kepada wanita tersebut bahwa saya, atau kami, tidak memiliki sepeser uang pecahan lagi. Lalu beliau berkata "Tidak apa-apa, Nak. Titipkanlah saja. Tidak usah dibayar"

Saya benar-benar terharu. Ternyata masih ada manusia baik yang tersisa di bumi ini. Tak luput saya mendoakan beliau, semoga surga adalah balasan yang paling tepat untuk beliau.

Pembaca yang budiman, lembar labirin ini belum selesai. Masih ada satu hal lagi yang akan saya ceritakan. Yakni seusai shalat di masjid Agung, saya kembali ke museum. Saya duduk di salah satu kursi plastik ala pesta sedekah Palembang, bersama guru saya dan dua teman lainnya. Tiba-tiba, sesosok lelaki yang sepertinya berusia di atas setengah abad, menghampiri guru saya yang duduk di belakang saya. Saya pikir ada yang beda dari gurat aura beliau, dan saya menerka bahwa beliau adalah cenayang. Beliau tengah berdiri sembari menyaksikan lakon khas Palembang, lomba bercerita khusus untuk guru TK se-Kota Palembang, dan salah satu pesertanya membawakan cerita legendaris Kota Palembang, "Legenda Pulau Kemaro".

Saya tidak tertarik mendengar ceritanya karena jujur saja, saya telah berulang kali menjadi pendongeng Legenda Pulau Kemaro. Yang paling mengejutkan, ketika saya melihat langit, saya melihat sosok yang teramat cantik. Berkulit putih, mata bening yang tidak terlalu sipit, bibir merah meski tak menggunakan pewarna bibir, ia mengenakan pakaian merah adat Palembang dan tersenyum sangat cantik.

"Bohong semua itu cerita legenda Pulau Kemaro" ucap bapak yang saya kira sebagai cenayang tersebut, saya refleks saja menoleh ke arahnya. "Siti Fatimah itu pendekar. Dia tidak meninggal dan menjadi Pulau Kemaro. Makamnya ada di daerah X (sensor). Dan kau tahu, Tan Bo Ann itu makamnya ada di sini, daerah X yang dekat sini. Siti Fatimah itu bukan putri kerajaan Sriwijaya seperti yang diceritakan dalam cerita. Siti Fatimah itu anak pangeran X"

Benar juga. Saya sering sekali mendapati cerita yang menuturkan Siti Fatimah berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Namun, nalar saja, Sriwijaya beraliran Buddha sedangkan Siti Fatimah seorang muslim.

"Bapak tahu darimana? Kenapa tidak bilang sama dinas pemerintah dan mengubah cerita yang sebenarnya?" tanya guru saya.

"Siti Fatimah masih keluarga saya. Saya sering bertemu dengannya di mimpi, dia hanya mau menunjukkan makamnya namun tidak pernah ingin menunjukkan tempat dimana dia tinggal. Percuma, dinas pemerintah tidak akan percaya"

Begitu juga dengan guru saya. Beliau tidak percaya. Sedangkan saya, saya menganggap cerita tersebut menarik. Teringatlah saya pada sosok wanita yang saya lihat di langit barusan. Saya berniat menanyakannya, apakah wanita tersebut Siti Fatimah. Lalu saya memanggil bapak tersebut.

"Pak?"

Bapak tersebut melihat saya, kemudian terlihat kalut serta gemetar dan berjalan meninggalkan saya. Saya kemudian memanggil bapak tersebut. "Pak?"

Tidak ada respons. Yang saya dapati hanyalah perasaan takut dari sang bapak yang melihat ke arah saya.

"Adinda, kenapa bapak tersebut takut denganmu? Apakah ilmu kamu lebih tinggi daripadanya?" tanya guru saya, disertai gelak canda.

Saya sendiri, yang hanyalah rakyat biasa, tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang amat berarti. Saya hanyalah rakyat biasa. Itu saja. Saya tidak punya ilmu apapun.

"Entahlah Bu, saya kira beliau cenayang. Dan ternyata benar " ujar saya. Guru saya yang belum pernah mendengar kata cenayang sebelumnya, namun saya kira beliau  hanya menguji saya, beliau mulai bertanya tentang cenayang dan dunia-dunia yang berkaitan dengan hal tersebut hingga ke detail. Saya tahu, karena saya pernah membaca-baca artikel mengenai hal tersebut.

"Kamu cenayang juga ya?" tanya guru saya. Saya menjawab tidak, guru saya tidak memercayainya dan masih mengotot bahwa saya memiliki ilmu tersebut. Saya sempat terusik, dan memikirkan lebih dalam mengapa bapak tersebut takut terhadap saya. Hingga tiga puluh menit kemudian, saya dapat jawabannya. Saya dapat jawabannya ketika memikirkan satu kata, keturunan.

Beliau berkata bahwa beliau keturunan Siti Fatimah. Dan saya sendiri, keturunan Pangeran X dari Majapahit yang kabur ke Palembang. Pangeran X merupakan kakek dari nenek saya. Konon, beliau sangat disegani.  Apa mungkin bapak tersebut dapat melihat silsilah keluarga saya?

Sepulang saya dari rumah, saya bertanya kepada ayah. Ayah menjawab bahwa Pangeran X merupakan pangeran yang sangat sakti. Kala itu tidak ada yang mampu menandingi kesaktiannya. Barulah saya menceritakan kejadian yang saya alami beberapa momen yang lalu. Ayah saya tidak tampak terkejut, beliau malah berkata bahwa kejadian-kejadian yang dulu saya pernah alami, misal : perampok yang tangannya melepuh panas saat memegang tas saya, bukan merupakan suatu kebetulan. Saya mengangguk paham, dan sepertinya, seperti yang saya tangkap..

Ada hubungan tak baik antara keluarga saya dan keluarga Siti Fatimah.

Komentar

Postingan Populer