Dibuang Sayang (Pakjo, Kabut, dan Kebakaran)
Suatu pekan dalam hidupku, aku melangkah ke luar rumah hampir tengah malam. Ditemani ayahku, yang pasti. Rasanya sudah bertahun aku tidak berjelajah di sekitar kawasan Pakjo, tempatku tumbuh hingga dewasa ini. Hariku kucoret dengan banyak kegiatan di sekolah hingga senja atau bahkan ketika rembulan dengan sangarnya menggantikan posisi Ratu Tata Surya. Aku tidak pernah punya waktu sesenggang mula. Waktu aku bergila ria bersama teman-teman sekolahku dulu menjelajahi setiap sudut Pakjo dengan motorku. Mungkin mereka kira, aku anak rumahan. Ya, sekarang. Dulunya aku anak jalanan(?). Anak konvoi, seperti yang mereka katakan. Mencicipi kuliner Palembang yang harganya pas dengan kocek pelajar, Model Ikan dengan harga seribu rupiah. Ah, betapa rindu menjadi gila.
Meskipun kala itu aku belum waras seutuhnya, peringkat paralel masih kerap kugenggam. Aku yang pecicilan dan konvoi setiap hari ini, hampir tiap hari mendapat ulangan dengan nilai sempurna di kelas. Sekarang meskipun hingga malam menyapa aku menimba ilmu, peringkat paralel bak angan belaka. Sesampai di rumah, aku telah letih. Lunglai rasanya apabila kubuka buku pelajaranku. Yang ada di benakku hanyalah sebuah hari yang membosankan. Pasti segala sesuatunya monoton. Jadilah aku terlelap tanpa belajar. Dan sekarang aku sadar, tingkat kebahagiaan seseorang memang mampu jadi poin utama untuk menggenggam peringkat paralel, maksudku lebih tepatnya... Belajar. Apakah aku tidak bahagia? Kukira kautelah tahu jawabannya. Rasanya aku ingin membeli kebahagiaan. Atau tepatnya.. Membeli teman.
Kembali lagi ke malam ketika aku ditemani ayahku untuk mentransfer uang penginapan Forum Pelajar, malam itu Pakjo tampak sepi dan Palembang masih berkabut. Ketika kami melewati Lapas Pakjo, orang-orang berlarian, lampu Lapas padam dan di atas atapnya berasap. Ternyata orang-orang Pakjo ramai berhenti melihat tragedi kebakaran tersebut. Aku pun begitu. Ayahku menduga hal itu akibat arus listrik, dan yang kebakaran itu adalah ruang dokumen milik negara!
Jadi kunikmati suasana hingar bingar Pakjo malam itu. Beberapa mobil pemadam kebakaran dengan kecepatan maksi menuju TKP. Lambat laun aku mengingat masa kecilku, Pakjo dulu penuh rawa dan banyak sekali kebakaran terjadi di dekat tempat tinggalku. Aku selalu bisa melihat dengan jelas cara pemadam kebakaran tersebut bekerja. Namun ketika waktu berganti, ketika aku memasuki masa SMAku, aku merasa jadi sosok yang notabene pendiam. Aku tidak peduli tragedi apapun bahkan di depan sekolahku kebakaran, aku tidak peduli. Anehnya kebakaran malam itu laksana melemparku dalam indahnya masa kecilku. Di mana aku bisa sepenuhnya menikmati keindahan Pakjo. Pakjo yang dulunya seperti kampung asri yang permai(?), sekarang tetangga satu lorong pun tak saling kenal. Pakjo yang tiap minggu gotong royong, yang dulunya aktif dalam organisasi Karang Taruna, sekarang bak punah ditelan zaman.
Dan malam itu pula, kebakaran di hari berkabut itu, aku bersua dengan beberapa teman lamaku yang mungkin hampir delapan tahunan tak bersua, karena sekolah dasarku dekat Lapas Pakjo yang kebakaran itu. Tapi sepertinya mereka sudah luput akan wajahku. Aku tak sempat menyapa satu persatu karena aku mengenakan masker.
Ada satu teman kala itu yang masih kuingat. Bukan, bukan karena ia orang yang kucintai atau apa, melainkan ia adalah orang yang dulunya selalu aku hindari. Namanya Samuel, lebih tua kira-kira tiga atau empat tahun dariku namun kami pernah satu kelas di kelas lima. Hanya setahun. Dalam setahun itu hidupku tidak tenang. Bayangkan saja, aku yang masih terlalu polos untuk urusan cinta meskipun aku telah menyukai seseorang kala itu, harus dihadapi dengan dirinya yang secara fisik dan mental jauh lebih dewasa. Ia jadi penguntitku.
Baru punya handphone ceritanya. Kala itu handphone buka tutup itu sekelas Samsung di zaman sekarang. Meskipun harganya tidak semahal Nokia. Ingat sekali waktu itu aku yang masih dilanda polosnya menyukai seseorang, dengan gencar ingin mendapatkan nomor handphone sang pujaan hati yang kala itu telah duduk di bangku SMP. Setiap hari aku mengganggunya dengan mengirimkan puisi-puisi cinta yang kutonton dari sinetron basi. Namun aku bersumpah aku tidak tahu maknanya. Suatu hari, hatiku jadi terbelah berkeping-keping ketika ia dengan marahnya mengatakan "aN4gH sD d'L4r4nK xMx k3 nUmbZ n11e,,!!"
Aku kecewa, aku patah hati. Tapi aku tidak tahu kalau namanya itu patah hati. Aku menginginkan sang kakak tetap di sisiku dan bermain denganku, juga ia yang sering mengajariku doa-doa mengaji. Hingga sekarangpun, doa sebelum tidur yang ia ajarkan padaku masih melekat kubaca sebelum tidur.
Namun, di sisi lain. Makhluk yang bernama Samuel ini tiap hari menelepon dan smsku tanpa henti. Ia berkata ia menyukaiku. Aku tahu makna 'suka'. Oke, tak kubalas. Lalu ia berkata, "Dian, maukah kamu jadi pacarku?"
Jadi kujawab "Pacar untuk di kuku itu kan? Buat apasih? Aku gak punya". Aku berani bersumpah aku tidak tahu makna pacaran. Jadilah teman sebangkuku, si Naura , yang memberitahuku makna pacaran. Terima kasih, Naura. Dirimu telah membuatku mengerti. Mungkin kalau tidak ada Naura, aku akan mengatakan 'ya' pada Samuel. Untungnya handphone itu aku pipisin jadi Samuel tidak bisa menghubungiku lagi. Ceritanya hapenya panas, kukira kalau dipipisi jadi dingin. Ya sudah kupipisi saja dan akhirnya tidak bisa hidup lagi handphone itu dengan kartunya.
Aku berusaha mati-matian menghindari Samuel yang seakan ingin menahanku dalam pelukannya. Pelukan di sini kiasan, oke? Samuel penguntitku, ia berada di mana-mana. Di kelas, di WC, di kantin, di Facebook, di angkot, di mimpi, semuanya. Dia sampai hapal nomor plat kendaraan ibuku. Samuel itu anak yang cerdas, memang, kuakui. Meskipun perspektif orang ia adalah anak bandel, terbandel di kelas, pembenci Cakka nomor satu karena aku mengagumi Cakka setengah hidup. Sejak kelas enam, aku pura-pura tidak mengenal Samuel dan untungnya kita tidak sekelas lagi.
Ketika SMP, aku dengan seutuhnya mampu menghindari Samuel karena SMPku terletak bukan di kawasan Pakjo. Begitupun dengan SMA, aku benar-benar terlepas dari sesuatu bernama Pakjo. Jadilah malam itu, ketika kabut berlangsung, dan kebakaran menyerang Lapas Pakjo, aku bersua dengan Samuel di antara kerumunan makhluk Pakjo. Beberapa kali, sebelumnya aku berpapasan dengannya ketika aku SMP dulu, namun kukira ia sudah benar-benar lupa akan aku. Karena pubertasku benar-benar berhasil.
Jadi, karena kukira aku sudah cukup dewasa, sudah memiliki jalan hidup masing-masing antara aku dan Samuel, aku memberanikan diri menyapanya, aku mengenakan masker jadi kukira ia tidak tahu siapa aku.
"Kamu Samuel kan?" tanyaku was-was.
"Ya iyalah Dian, masa lupa haha" dengan cengiran jahil khasnya.
Dammit, dia masih bisa mengenaliku meskipun aku telah berubah seutuhnya dan meskipun aku telah mengenakan masker sekalipun. Beberapa temanku bahkan lupa denganku apabila kami bersua. Karena perubahanku cukup drastis menurutku. Dulu beratku hanya 20-an kilo saking kurusnya, sekarang sudah hampir kepala enam.
Intinya, kebakaran di malam itu, membuatku memutar masa kecil yang penuh dengan tawa. Pertemuanku dengan Samuel juga menyadarkanku bahwa meskipun kita tak pernah saling sapa, ia masih mengingat mataku dengan jelas. Aku yang dulunya berdandan mirip lelaki dengan rambut pendek seperti lelaki, dan sekarang aku sudah berhijab ternyata masih dikenalinya. Pakjo, kabut, dan kebakaran. Tiga hal yang membuatku sadar bahwa sejauh apapun kamu melangkah, kampung halaman tempatmu tumbuh takkan pernah kamu lupakan.
Meskipun kala itu aku belum waras seutuhnya, peringkat paralel masih kerap kugenggam. Aku yang pecicilan dan konvoi setiap hari ini, hampir tiap hari mendapat ulangan dengan nilai sempurna di kelas. Sekarang meskipun hingga malam menyapa aku menimba ilmu, peringkat paralel bak angan belaka. Sesampai di rumah, aku telah letih. Lunglai rasanya apabila kubuka buku pelajaranku. Yang ada di benakku hanyalah sebuah hari yang membosankan. Pasti segala sesuatunya monoton. Jadilah aku terlelap tanpa belajar. Dan sekarang aku sadar, tingkat kebahagiaan seseorang memang mampu jadi poin utama untuk menggenggam peringkat paralel, maksudku lebih tepatnya... Belajar. Apakah aku tidak bahagia? Kukira kautelah tahu jawabannya. Rasanya aku ingin membeli kebahagiaan. Atau tepatnya.. Membeli teman.
Kembali lagi ke malam ketika aku ditemani ayahku untuk mentransfer uang penginapan Forum Pelajar, malam itu Pakjo tampak sepi dan Palembang masih berkabut. Ketika kami melewati Lapas Pakjo, orang-orang berlarian, lampu Lapas padam dan di atas atapnya berasap. Ternyata orang-orang Pakjo ramai berhenti melihat tragedi kebakaran tersebut. Aku pun begitu. Ayahku menduga hal itu akibat arus listrik, dan yang kebakaran itu adalah ruang dokumen milik negara!
Jadi kunikmati suasana hingar bingar Pakjo malam itu. Beberapa mobil pemadam kebakaran dengan kecepatan maksi menuju TKP. Lambat laun aku mengingat masa kecilku, Pakjo dulu penuh rawa dan banyak sekali kebakaran terjadi di dekat tempat tinggalku. Aku selalu bisa melihat dengan jelas cara pemadam kebakaran tersebut bekerja. Namun ketika waktu berganti, ketika aku memasuki masa SMAku, aku merasa jadi sosok yang notabene pendiam. Aku tidak peduli tragedi apapun bahkan di depan sekolahku kebakaran, aku tidak peduli. Anehnya kebakaran malam itu laksana melemparku dalam indahnya masa kecilku. Di mana aku bisa sepenuhnya menikmati keindahan Pakjo. Pakjo yang dulunya seperti kampung asri yang permai(?), sekarang tetangga satu lorong pun tak saling kenal. Pakjo yang tiap minggu gotong royong, yang dulunya aktif dalam organisasi Karang Taruna, sekarang bak punah ditelan zaman.
Dan malam itu pula, kebakaran di hari berkabut itu, aku bersua dengan beberapa teman lamaku yang mungkin hampir delapan tahunan tak bersua, karena sekolah dasarku dekat Lapas Pakjo yang kebakaran itu. Tapi sepertinya mereka sudah luput akan wajahku. Aku tak sempat menyapa satu persatu karena aku mengenakan masker.
Ada satu teman kala itu yang masih kuingat. Bukan, bukan karena ia orang yang kucintai atau apa, melainkan ia adalah orang yang dulunya selalu aku hindari. Namanya Samuel, lebih tua kira-kira tiga atau empat tahun dariku namun kami pernah satu kelas di kelas lima. Hanya setahun. Dalam setahun itu hidupku tidak tenang. Bayangkan saja, aku yang masih terlalu polos untuk urusan cinta meskipun aku telah menyukai seseorang kala itu, harus dihadapi dengan dirinya yang secara fisik dan mental jauh lebih dewasa. Ia jadi penguntitku.
Baru punya handphone ceritanya. Kala itu handphone buka tutup itu sekelas Samsung di zaman sekarang. Meskipun harganya tidak semahal Nokia. Ingat sekali waktu itu aku yang masih dilanda polosnya menyukai seseorang, dengan gencar ingin mendapatkan nomor handphone sang pujaan hati yang kala itu telah duduk di bangku SMP. Setiap hari aku mengganggunya dengan mengirimkan puisi-puisi cinta yang kutonton dari sinetron basi. Namun aku bersumpah aku tidak tahu maknanya. Suatu hari, hatiku jadi terbelah berkeping-keping ketika ia dengan marahnya mengatakan "aN4gH sD d'L4r4nK xMx k3 nUmbZ n11e,,!!"
Aku kecewa, aku patah hati. Tapi aku tidak tahu kalau namanya itu patah hati. Aku menginginkan sang kakak tetap di sisiku dan bermain denganku, juga ia yang sering mengajariku doa-doa mengaji. Hingga sekarangpun, doa sebelum tidur yang ia ajarkan padaku masih melekat kubaca sebelum tidur.
Namun, di sisi lain. Makhluk yang bernama Samuel ini tiap hari menelepon dan smsku tanpa henti. Ia berkata ia menyukaiku. Aku tahu makna 'suka'. Oke, tak kubalas. Lalu ia berkata, "Dian, maukah kamu jadi pacarku?"
Jadi kujawab "Pacar untuk di kuku itu kan? Buat apasih? Aku gak punya". Aku berani bersumpah aku tidak tahu makna pacaran. Jadilah teman sebangkuku, si Naura , yang memberitahuku makna pacaran. Terima kasih, Naura. Dirimu telah membuatku mengerti. Mungkin kalau tidak ada Naura, aku akan mengatakan 'ya' pada Samuel. Untungnya handphone itu aku pipisin jadi Samuel tidak bisa menghubungiku lagi. Ceritanya hapenya panas, kukira kalau dipipisi jadi dingin. Ya sudah kupipisi saja dan akhirnya tidak bisa hidup lagi handphone itu dengan kartunya.
Aku berusaha mati-matian menghindari Samuel yang seakan ingin menahanku dalam pelukannya. Pelukan di sini kiasan, oke? Samuel penguntitku, ia berada di mana-mana. Di kelas, di WC, di kantin, di Facebook, di angkot, di mimpi, semuanya. Dia sampai hapal nomor plat kendaraan ibuku. Samuel itu anak yang cerdas, memang, kuakui. Meskipun perspektif orang ia adalah anak bandel, terbandel di kelas, pembenci Cakka nomor satu karena aku mengagumi Cakka setengah hidup. Sejak kelas enam, aku pura-pura tidak mengenal Samuel dan untungnya kita tidak sekelas lagi.
Ketika SMP, aku dengan seutuhnya mampu menghindari Samuel karena SMPku terletak bukan di kawasan Pakjo. Begitupun dengan SMA, aku benar-benar terlepas dari sesuatu bernama Pakjo. Jadilah malam itu, ketika kabut berlangsung, dan kebakaran menyerang Lapas Pakjo, aku bersua dengan Samuel di antara kerumunan makhluk Pakjo. Beberapa kali, sebelumnya aku berpapasan dengannya ketika aku SMP dulu, namun kukira ia sudah benar-benar lupa akan aku. Karena pubertasku benar-benar berhasil.
Jadi, karena kukira aku sudah cukup dewasa, sudah memiliki jalan hidup masing-masing antara aku dan Samuel, aku memberanikan diri menyapanya, aku mengenakan masker jadi kukira ia tidak tahu siapa aku.
"Kamu Samuel kan?" tanyaku was-was.
"Ya iyalah Dian, masa lupa haha" dengan cengiran jahil khasnya.
Dammit, dia masih bisa mengenaliku meskipun aku telah berubah seutuhnya dan meskipun aku telah mengenakan masker sekalipun. Beberapa temanku bahkan lupa denganku apabila kami bersua. Karena perubahanku cukup drastis menurutku. Dulu beratku hanya 20-an kilo saking kurusnya, sekarang sudah hampir kepala enam.
Intinya, kebakaran di malam itu, membuatku memutar masa kecil yang penuh dengan tawa. Pertemuanku dengan Samuel juga menyadarkanku bahwa meskipun kita tak pernah saling sapa, ia masih mengingat mataku dengan jelas. Aku yang dulunya berdandan mirip lelaki dengan rambut pendek seperti lelaki, dan sekarang aku sudah berhijab ternyata masih dikenalinya. Pakjo, kabut, dan kebakaran. Tiga hal yang membuatku sadar bahwa sejauh apapun kamu melangkah, kampung halaman tempatmu tumbuh takkan pernah kamu lupakan.

Komentar
Posting Komentar