Harmoni

www.harmonin.nu


Kusadari jiwa ini telah lama melangkah sendiri. Berkamuflase seakan tiada sayatan yang pernah terasa. Aku rindu pada segala hal tentang diriku, tentang senyuman, tentang segalanya yang masih jadi harmoni. Sekarang segalanya malah kurasa hambar. Hari demi hari kujejaki dan rasanya masih tetap sama. Mungkin memang aku tiada pernah serapuh ini lantaran menatap setiap punggung yang melangkah pergi. Karena yang selalu kutahu, masih ada jiwa lain yang mendekapku dalam tangisku dan menggenggamku dalam tawaku. Namun sekarang aku telah tahu bagaimana rasanya melangkah seorang diri.

Jam dinding masih berdetak, namun jiwa-jiwa itu tak lagi sama. Potret di setiap momen hanyalah sebatas memori, bukan masa depan. Aku benci harus menyusuri waktu sehampa ini. Bongkahan ceritaku kian kurasa redup, mungkin aku butuh pendengar. Yang jelas, aku butuh harmoni dalam jiwaku. Lalu siapa yang mampu menyusunnya kembali?

Aku kehilangan jati diri di tempat ini, tempat indah di mana segalanya tengah mengukir rasa dan merajut tawa. Aku benci harus menjadi orang lain setiap hari. Aku benci harus selalu bungkam. Aku benci karena lambat laun kusadari bahwa di sini bukan tempatku berpijak, aku tidak pernah merasa ada. Aku tidak pernah merasa benar-benar didekap. Aku ingin lari dan melampiaskan segala getar kalut dalam sukma ini. Lantas, ke mana lagi jiwa ini harus bertepi? Harmoni dalam diri kehilangan kepingannya seperti puzzle yang telah lama tak disusun.

Hanya Tuhan yang setiap saat selalu mendekapku. Namun aku selalu berdosa padaNya. Aku bukan hambaNya yang taat. Aku malu pada Tuhan, aku selalu meminta tetapi aku selalu berdosa. Di saat setiap punggung melangkah pergi, aku sadar bahwa Tuhan selalu menemani. Tuhan bahkan lebih dekat dari nadi, aku percaya itu. Mungkin memang segalanya salahku, setiap ada jiwa yang tiba menemani, aku tak pernah bersyukur hingga Tuhan mengambil mereka satu persatu dariku. 

Komentar

Postingan Populer