Setahun Setelah Surat Kecil Mengubah Duniaku
Detik ini tepat setahun setelah seonggok surat kecil mengguncang seluruh asaku. Surat kecil yang meluluhlantahkan angan terbesar yang sempat kupotret sebagai imaji. Yang paling tersisa dalam memoriku adalah untaian tangis, betapa seonggok surat kecil tak bernyawa mampu membolak-balik hidupku dalam singkatnya selang waktu. Belum pernah terbersit dalam sukmaku, sebuah kegagalan yang paling mencipta pilu. Dulunya aku malah membayangkan bumi Paman Sam yang kelak kan kupijak, menghabiskan setahun dalam seumur hidupku di sana. Membangun jutaan pengalaman tak terduga, bersua dengan orang-orang baru, dan segala hal yang mungkin tak mampu kurekam dalam ekspektasi. Asaku kala itu mungkin hanya dua, dan betapa aku sadar keduanya tak bisa kugenggam.
Surat kecil itu penghancur andai-andai. Rasanya waktu itu ingin kuakhiri saja hidupku. Tetapi aku sadar, bukan itu yang Tuhan inginkan. Meski aku dirawat tujuh hari lantaran kekecewaanku. Infus di tangan kanan kiri, menderita. Kurasakan mereka yang dahulu ada menautkan jemari, pelan-pelan pergi tanpa meletakkan secercah jejak. Demikian betapa aku membenci surat kecil itu, dahulu. Surat kecil yang merobek kebersamaan antara aku dan teman seleksi lainnya. Surat kecil yang kukira pada mulanya akan membuat tahun-tahun ke depan sebagai tahun kesedihan. Dan aku salah besar, aku mengoreksi segalanya. Kegagalan merupakan cambuk buatku. Dua kegagalan yang menimpaku dalam waktu bersamaan. Satu kegagalan yang tak boleh kuceritakan, dan satu kegagalan yang mungkin akan menginspirasi kalian.
Kegagalan yang mungkin akan menginspirasi kalian adalah ini. Bila kuingat betapa terpukulnya jiwa ini, hingga tangis yang pecah tanpa kendali. Betapa tidak, seleksi yang digelar begitu panjang dan rumit, hanya tinggal jalan setapak kulalui namun aku malah terjatuh. Aku dulunya kecewa. Lambat laun kusadari, aku tidak boleh meratapi apa yang telah Tuhan gariskan. Rencana Tuhan jauh lebih besar. Nyatanya dalam setahun ini, aku banyak melukis hal-hal bahagia yang kualami. Nyatanya dalam setahun ini aku tersadar bahwa bukan program itu yang Tuhan pilihkan, setidaknya tahun depan aku dapat menjejaki bumi Paman Sam dengan program lainnya. Dan jika Tuhan menghendaki, aku tidak akan melanjutkan studiku di bumi pertiwi ini. Biarlah pertiwi merinduku, atau aku yang kelak merindukan pertiwi. Enam tahun berada di negara yang paling aku idamkan sejak kecil, enam tahun tanpa bersua dengan keluarga, dan enam tahun yang paling menentukan jejakku di kemudian hari. Mimpiku yang telah kususun secara apik, memperbaiki sistem pendidikan tanah air. Mungkin tiada kudapati hal yang begitu besar di tahun ini apabila tahun ini aku masih di negeri Paman Sam.
Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Tuhan memang memberi apa yang kita butuhkan. Aku belajar dari kehidupan. Aku belajar dari berjuta kegagalan. Karena aku sadar bahwa tanpa kegagalan hidup kita hanya sebatas monokrom. Kegagalan memberi corak, kegagalan memberi cerita. Dan kegagalanlah yang mendorongku mengetik laman ini. Mungkin tanpa sepucuk surat kecil yang menghampiriku itu, tiadalah cerita ini termuat.
Tuhan mengajarkanku dari sepotong surat kecil itu : bahwa sekecil apapun hal, jangan sekalipun meremehkan hadirnya. Jangan lupakan doa, itu yang paling penting. Aku ingat ketika wawancara kepribadian, aku laksana diberi golden ticket oleh panitia. Dan itu benar terasa untukku. Namun Tuhan membalikkan telapak tangannya secepat kilat. Aku sadar bahwa kebaikan yang manusia janjikan, bukan sepenuhnya apa yang terbaik bagi kita, karena Tuhan-lah pemilik skenario terbaik dari segala cerita.
Hari ini, setahun setelah surat kecil itu mengubah duniaku. Aku lega, ternyata aku mampu menjalani setahun ini dengan baik meskipun ada duka di sana sini. Selipan bahagia pasti selalu ada, kau tidak bisa memperdebatkan pendapatku perihal 'Tuhan itu adil'. Bicara tentang perasaan, kali ini perasaanku cukup membaik. Seonggok surat kecil yang merobek hati hingga menyisakan luka paling dalam, perlahan kurasakan luka tersebut mengering dengan sendirinya. Kuharap, akan banyak pengalaman yang menyihirkan kekuatan magis padaku ke depannya. Toh kegagalan itu tidak membuat duniaku berhenti berputar.
Surat kecil itu penghancur andai-andai. Rasanya waktu itu ingin kuakhiri saja hidupku. Tetapi aku sadar, bukan itu yang Tuhan inginkan. Meski aku dirawat tujuh hari lantaran kekecewaanku. Infus di tangan kanan kiri, menderita. Kurasakan mereka yang dahulu ada menautkan jemari, pelan-pelan pergi tanpa meletakkan secercah jejak. Demikian betapa aku membenci surat kecil itu, dahulu. Surat kecil yang merobek kebersamaan antara aku dan teman seleksi lainnya. Surat kecil yang kukira pada mulanya akan membuat tahun-tahun ke depan sebagai tahun kesedihan. Dan aku salah besar, aku mengoreksi segalanya. Kegagalan merupakan cambuk buatku. Dua kegagalan yang menimpaku dalam waktu bersamaan. Satu kegagalan yang tak boleh kuceritakan, dan satu kegagalan yang mungkin akan menginspirasi kalian.
Kegagalan yang mungkin akan menginspirasi kalian adalah ini. Bila kuingat betapa terpukulnya jiwa ini, hingga tangis yang pecah tanpa kendali. Betapa tidak, seleksi yang digelar begitu panjang dan rumit, hanya tinggal jalan setapak kulalui namun aku malah terjatuh. Aku dulunya kecewa. Lambat laun kusadari, aku tidak boleh meratapi apa yang telah Tuhan gariskan. Rencana Tuhan jauh lebih besar. Nyatanya dalam setahun ini, aku banyak melukis hal-hal bahagia yang kualami. Nyatanya dalam setahun ini aku tersadar bahwa bukan program itu yang Tuhan pilihkan, setidaknya tahun depan aku dapat menjejaki bumi Paman Sam dengan program lainnya. Dan jika Tuhan menghendaki, aku tidak akan melanjutkan studiku di bumi pertiwi ini. Biarlah pertiwi merinduku, atau aku yang kelak merindukan pertiwi. Enam tahun berada di negara yang paling aku idamkan sejak kecil, enam tahun tanpa bersua dengan keluarga, dan enam tahun yang paling menentukan jejakku di kemudian hari. Mimpiku yang telah kususun secara apik, memperbaiki sistem pendidikan tanah air. Mungkin tiada kudapati hal yang begitu besar di tahun ini apabila tahun ini aku masih di negeri Paman Sam.
Percayalah, rencana Tuhan jauh lebih baik dari apa yang kita inginkan. Tuhan tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Tuhan memang memberi apa yang kita butuhkan. Aku belajar dari kehidupan. Aku belajar dari berjuta kegagalan. Karena aku sadar bahwa tanpa kegagalan hidup kita hanya sebatas monokrom. Kegagalan memberi corak, kegagalan memberi cerita. Dan kegagalanlah yang mendorongku mengetik laman ini. Mungkin tanpa sepucuk surat kecil yang menghampiriku itu, tiadalah cerita ini termuat.
Tuhan mengajarkanku dari sepotong surat kecil itu : bahwa sekecil apapun hal, jangan sekalipun meremehkan hadirnya. Jangan lupakan doa, itu yang paling penting. Aku ingat ketika wawancara kepribadian, aku laksana diberi golden ticket oleh panitia. Dan itu benar terasa untukku. Namun Tuhan membalikkan telapak tangannya secepat kilat. Aku sadar bahwa kebaikan yang manusia janjikan, bukan sepenuhnya apa yang terbaik bagi kita, karena Tuhan-lah pemilik skenario terbaik dari segala cerita.
Hari ini, setahun setelah surat kecil itu mengubah duniaku. Aku lega, ternyata aku mampu menjalani setahun ini dengan baik meskipun ada duka di sana sini. Selipan bahagia pasti selalu ada, kau tidak bisa memperdebatkan pendapatku perihal 'Tuhan itu adil'. Bicara tentang perasaan, kali ini perasaanku cukup membaik. Seonggok surat kecil yang merobek hati hingga menyisakan luka paling dalam, perlahan kurasakan luka tersebut mengering dengan sendirinya. Kuharap, akan banyak pengalaman yang menyihirkan kekuatan magis padaku ke depannya. Toh kegagalan itu tidak membuat duniaku berhenti berputar.

Hi, semangat :) Semoga banyak hikmahnya, ya :) Salken dari Surabaya.
BalasHapusTerima kasih ya. Dikunjungi seseorang yang lamannya sebagus dirimu, minder rasanya hehe :'). Salam kenal dari Bumi Sriwijaya
Hapus