Hanya Sejenak
Izinkan aku menggores aksara malam ini, ditemani pekat malam, bau hujan, dan secangkir kopi.
Kala ini aku bersua dengannya, tidak saling melempar pandang—hanya aku yang menatap siluet tubuhnya yang tengah bermain dengan segerombolan anak kecil di koridor rumah sakit. Entah sejak kapan pemandangan ini mengusikku. Karena bagiku, lelaki yang bermain dengan anak kecil itu lebih indah dari sekadar sinar rembulan dan kilau bintang setiap malam.
Jarakku dengannya berbatas kantin rumah sakit ini. Aku mampu melihatnya dari dinding kaca. Sesederhana itu. Mungkin aku tak pernah mampu untuk sekadar bertegur sapa padanya. Yang kuingat malam ini, ia mengenakan kaus biru. Tampan sekali. Ketika sorot lampu mulai menerangi wajahnya. Dalam hening aku berdoa pada Tuhan, siapapun lelaki itu kuharap ia akan temukan gadis yang tepat.
Aku menyeruput kopiku, rasanya sedepa beban yang kupikul larut bersama pahit manisnya kopi ini. Oh ya, ini 24 Mei. Anniversary yang seharusnya sudah ke-5 dengan seseorang yang sempat bersama denganku. Yang ceritanya sempat terlukis dalam sejarahku. Tiba-tiba saja beban yang sejenak hilang kembali menyeruak. Kenangan itu memang sulit kuhapus. Seberapa keras aku mencoba. Rasanya aku ingin amnesia sebagian agar menghilangkan bagian kenangan itu. Namun ya aku bersyukur karena berpisah dengannya. Tidak ada yang patut kusesali..
Setelah hujan tinggal gerimis, aku meninggalkan kantin rumah sakit dengan imaji tentang kenangan lima tahun silam. Lama aku berjalan hingga sesosok makhluk kecil seperti malaikat yang tengah berlari, terjatuh di depanku. Ia menangis pasrah. Aku duduk di depannya dan memegang pelan pundaknya.
"Halo sayang, orangtuamu mana?"
"Maaf ya, keponakanku memang aktif" sosok lelaki kaus biru yang kupandangi sedari tadi menyambut lengan makhluk mungil itu kemudian menggendongnya.
Aku tersenyum, mengangguk. Sekarang aku bisa dengan leluasa melihat mata sipit, rahang tegas, dan tahi lalat di dekat pipi yang membuatnya begitu manis. Tadi kupikir, aku tidak akan pernah bertegur sapa dengannya.
Namun, rencana Tuhan siapa yang tahu?
-Amore
Palembang, 24 Mei 19:23 WIB
Kala ini aku bersua dengannya, tidak saling melempar pandang—hanya aku yang menatap siluet tubuhnya yang tengah bermain dengan segerombolan anak kecil di koridor rumah sakit. Entah sejak kapan pemandangan ini mengusikku. Karena bagiku, lelaki yang bermain dengan anak kecil itu lebih indah dari sekadar sinar rembulan dan kilau bintang setiap malam.
Jarakku dengannya berbatas kantin rumah sakit ini. Aku mampu melihatnya dari dinding kaca. Sesederhana itu. Mungkin aku tak pernah mampu untuk sekadar bertegur sapa padanya. Yang kuingat malam ini, ia mengenakan kaus biru. Tampan sekali. Ketika sorot lampu mulai menerangi wajahnya. Dalam hening aku berdoa pada Tuhan, siapapun lelaki itu kuharap ia akan temukan gadis yang tepat.
Aku menyeruput kopiku, rasanya sedepa beban yang kupikul larut bersama pahit manisnya kopi ini. Oh ya, ini 24 Mei. Anniversary yang seharusnya sudah ke-5 dengan seseorang yang sempat bersama denganku. Yang ceritanya sempat terlukis dalam sejarahku. Tiba-tiba saja beban yang sejenak hilang kembali menyeruak. Kenangan itu memang sulit kuhapus. Seberapa keras aku mencoba. Rasanya aku ingin amnesia sebagian agar menghilangkan bagian kenangan itu. Namun ya aku bersyukur karena berpisah dengannya. Tidak ada yang patut kusesali..
Setelah hujan tinggal gerimis, aku meninggalkan kantin rumah sakit dengan imaji tentang kenangan lima tahun silam. Lama aku berjalan hingga sesosok makhluk kecil seperti malaikat yang tengah berlari, terjatuh di depanku. Ia menangis pasrah. Aku duduk di depannya dan memegang pelan pundaknya.
"Halo sayang, orangtuamu mana?"
"Maaf ya, keponakanku memang aktif" sosok lelaki kaus biru yang kupandangi sedari tadi menyambut lengan makhluk mungil itu kemudian menggendongnya.
Aku tersenyum, mengangguk. Sekarang aku bisa dengan leluasa melihat mata sipit, rahang tegas, dan tahi lalat di dekat pipi yang membuatnya begitu manis. Tadi kupikir, aku tidak akan pernah bertegur sapa dengannya.
Namun, rencana Tuhan siapa yang tahu?
-Amore
Palembang, 24 Mei 19:23 WIB

Komentar
Posting Komentar