Kuliah Sastra?

Oke, mungkin judul dari tulisan gue kali ini bukan murni pemikiran gue tapi gue pernah baca tulisan senior gue, mungkin, sehingga judulnya masih terngiang di otak gue. Di sini, gue mau bebas berpendapat. Katanya ini zamannya freedom of speech? Ya udahlah ya, gue langsung cus aja ke inti cerita.

Jadi gini, gue sering banget dihunus pertanyaan. Hah? Kuliah Sastra? Mau jadi apa? Prospek kerjanya apa? Diny IPA kan? Kenapa gak masuk kedokteran? Kenapa gak masuk teknik? Susah gak dapet kerjanya? Sastra kan bahasa, kursus aja bahasa kalo sastra asing mah! Kalo Sastra Indonesia kan kita orang Indonesia? Buat apa dipelajarin lagi? Pertanyaan ini sama kayak misalnya elu punya pasangan hidup, terus pasangan hidup elu ditanyain orang-orang kayak 'Loh, kok elu mau sih sama dia? Dia kan gak ganteng? Dia kan gak cantik? Dia kan gak kaya? Dia kan goblok?' kan ini pilihan kita, kenapa orang yang nyolot? Kayak gak ada kerjaan lain aja ngurusin hidup orang. Benar begitu, Bapak Ibu?

Awal gue memulai tulisan ini adalah ketika sahabat gue, sahabat gue sendiri loh, ngerendahin jurusan gue. Gue gak nyangka aja ya, gue kira dia ngerti gue dan ngerti pilihan gue. Tapi semenjak dia ngomong "Buat apa kuliah jauh-jauh di UI, tapi masuknya Sastra. Sastra kan susah cari kerja". Gue, personally, bukan orang yang hobi debat. Gue orangnya keras kepala tapi lebih suka mentingin perasaan orang lain *ele. Pengin aja sih sebenernya gue ngutip kutipan dari guru Bahasa Inggris gue dulu kalo "Ukuran kesuksesan kita bukan diukur dari seberapa gaji yang kita peroleh dari tempat kita bekerja, tetapi seberapa gaji yang kita bayarkan untuk lapangan kerja yang kita buat". Pasti banyak yang mendebat lagi, tapi buat lapangan kerja kan susah? Rada gak realistis gitu? Kalo kuliah kan ujung-ujungnya mau kerja dulu, dapet gaji, baru bikin lapangan kerja? Ya, oke, tapi waktu gue ada acara di kampus, semacam seminar gitu, gue jadi belajar bahwa buka lapangan kerja itu gak perlu modal yang gede. Meskipun sekarang gue belum buka lapangan kerja.

Oh ya, mau jawab. Kuliah sastra mau jadi apa? Untuk bidang yang relevan, anak sastra bisa jadi penerjemah, bekerja di media, dosen, guru, bekerja di kedutaan besar, bekerja di perusahaan-perusahaan asing, jurnalis, pemilik kursus bahasa asing, pemilik agen perjalanan, bekerja di balai bahasa, penerbitan buku, dan masih banyak lagi. Untuk bidang yang 'melenceng', anak sastra bisa jadi pegawai bank, enterpreneur, dan lain-lain. Ketahuilah guys, selama program studi atau jurusan tersebut dibuka, ilmu tersebut masih berguna sebagai bekal masa depan bangsa(?). Sastra kan erat kaitannya sama bahasa. Bahasa merupakan identitas suatu bangsa. Coba deh, tengok handphone kalian, ada tulisannya kan? Tulisan-tulisan itu berupa bahasa. Misalnya handphone kalian isinya cuma gambar doang gak ada tulisannya, gimana coba? Atau sekarang kalian lagi ngapain? Lagi baca blog gue kan? Blog gue isinya bahasa yang berbentuk tulisan bukan? Atau contoh lain nih, pada zaman pra-aksara, sebelum manusia mengenal tulisan, manusia memiliki berbagai cara untuk berkomunikasi. Komunikasi membutuhkan bahasa. Bahasa lisan, bahasa tubuh, bahasa cinta *eh. Semuanya dipelajari dalam apa? Dalam ilmu linguistik! Untuk mempelajari ilmu linguistik lebih dalam, ada di jurusan apa? Jurusan sastra!

Gini nih, gue gak maksa kalian semua yang lagi galau milih jurusan, buat milih jurusan sastra. Gue saranin buat milih jurusan sesuai sama passion elu. Percuma dong kalo misalnya elu mati-matian pengin masuk kedokteran tapi sebenernya otak elu gak kuat ngehapal mata kuliahnya (sori gue pake diksi yang kasar), atau elu kuliah teknik cuma buat gengsi-gengsian karena teknik lapangan kerjanya luas banget (misalnya elu bego di teknik, elu gak bisa survive, juga sama aja susah cari kerja, bro, sis), atau misal elu kuliah di ekonomi tapi gak suka hitung-hitungan, atau mungkin elu milih kuliah sastra supaya mudah masuknya. Hello, masuk kuliah sastra, teknik, kedokteran, ekonomi, hukum, politik, pertanian dan lain-lain di Perguruan Tinggi Negeri (apalagi favorit) semuanya sama-sama SUSAH. Ilmunya juga sama-sama saling ketergantungan. Jadi, jangan ngerasa "Jurusan gue paling bagus, jurusan lain enggak" "Jurusan gue paling mudah dapet kerja, jurusan lain enggak" "Jurusan gue paling dibutuhkan, jurusan lain enggak". Coba deh pikir lagi.

Terus ya, gue paling gak suka anak-anak suka rendahin jurusan sastra kayak 'anak-anak sastra itu gak sepinter anak-anak jurusan lain' 'anak-anak sastra itu santai banget kuliahnya'. Hell yeah, temen gue juara umum di sekolahnya masuk jurusan sastra kok. Sastra itu tugasnya kalo disuruh bikin makalah, esai pemikiran kritis, resensi buku, ngehapalin kosa kata bahasa asing, juga seabrek tugasnya. Sampe sebelum masuk UI, gue diginiin sama salah satu dosen sastra di UI, "Kamu yakin mau masuk sastra? Sastra itu kelihatannya enteng, tapi sebenarnya berat"

Yah, mungkin itu aja sedikit gambaran gue untuk meluruskan stigma orang-orang yang menganggap sastra adalah jurusan 'kurang diminati' atau jurusan 'susah dapet kerja'. Boleh dicek kok di webnya UI, berapa pendaftar yang mendaftar jurusan sastra. Supaya otak elu gak terlalu dangkal :)
(Maaf apabila tulisan ini mengandung banyak sarkas, ditulis mengikuti emosi penulis yang berapi-api. Haha)

Komentar

Postingan Populer