Menyelam di Antara Lembar Cerita
Kurasa baru kemarin tahun baru kuhabiskan dengan menikmati indahnya pesisir pantai. Kurasa baru kemarin aku mengikuti Mitsui-Bussan, SNMPTN, SBMPTN, UTMI IPB, dan gagal. Kurasa baru kemarin pula aku mengantre demi mendapatkan jaket kuning ukuran S yang jadi idaman para mahasiswa baru wanita. Agar pas dan cantik di badan, begitu persepsi mereka. Rupanya tahun yang mengantarkanku ke perguruan tinggi telah berakhir, cepat sekali. Namun yang menyedihkannya adalah tulisan-tulisanku mati dan malam ini—ditemani salah satu tembang milik Younha—aku kembali menulis lagi. Entah karena aku ingin, atau aku terpaksa.
Ketahuilah bahwa tulisan ini lebih mengarah ke estetika, bukan kebenaran kaidah kebahasaan. Mungkin bagimu ini tidak berestetika sama sekali tetapi aku tetap menganggapnya suatu estetika karena ini tulisan pertamaku di tahun ini. Ya, terserah saja. Ini laman milikku, bukan milikmu. Aku bebas berekspresi sesuka hati. Dulu waktu masih SMA, ingat sekali, aku sering disindir senior lantaran laman ini. Lucu ya, orang yang membenciku malah mengikuti perkembangan laman ini. Aku anggap dia adalah penggemarku paling setia.
Menyelam ke masa itu, aku jadi ingin bicara tentang senioritas. Aku ingin bersumpah serapah bahwa senioritas itu adalah untuk melemahkan jiwa, bukan memperkuat jiwa seperti kata orang. Bayangkan saja, realitanya di negara-negara maju, MOS bukan momok mengerikan yang apabila di Indonesia diikuti dengan atribut aneh, pelampiasan amarah senior kepada junior seperti yang baru tadi diberitakan di LINE today. MOS di negara maju diisi dengan presentasi dan seminar-seminar, sama seperti di Universitas Indonesia. Sangat berbobot. Ospek di Universitas Indonesia yang disebut OKK biasanya mengundang orang-orang hebat.
Selanjutnya aku ingin menyelam ke masa dulu. Tidak tahu pasti 'dulu' yang kumaksud ini kapan. Yang jelas, dulu di sini adalah masa di mana aku sangat menyukai tulis menulis. Ketika hasil tulisanku dihargai dengan kocek jutaan rupiah. Royalti yang sangat menggiurkan. Aku ingat bagaimana royalti tersebut dapat kugunakan untuk membeli seragam sekolah di SMA yang harganya ada juta-jutanya (mahal sekali, kasihan orang tuaku), membayar uang pembangunan di SMA, membeli smartphone, membeli obat untuk ibu, dan lain sebagainya. Sekarang? Yah, ada uang untuk makan mie di kostan saja aku sudah sangat bersyukur. Mungkin aku kurang bersyukur, terlalu tamak, terlalu sombong, dan terlalu jahat. Karya tulis yang kukirim di media saat ini saja tidak menduduki 'bahkan' untuk juara harapan. Aku sadar bahwa akhir-akhir ini aku jarang membaca dan masih ada saja manusia-manusia seperti setan yang lewat untuk mengganggu kehidupanku. Terutama, merusak moodku. Jadi, aku sarankan siapapun kamu yang pernah terlibat konflik besar denganku, jangan dekati aku dulu di tahun 2017 ini karena moodku benar-benar sedang hancur parah. Kamu tidak ingin kan melihat amarahku memuncak dan melihat fenomena 'jatuh menggelinding dari tangga' itu terulang? Maaf, aku memang separah itu kalau lagi marah. Jangan tuntut aku jadi sempurna, memang seperti inilah aku. (Fyi, aku jarang marah hehe)
Aku ingin sekali mendapat inspirasi untuk tulisan-tulisanku berikutnya. Mungkin nantinya aku akan menemukan 'kamu'. Siapapun itu, yang dapat memperbaiki moodku lagi. Moodku semakin parah dengan munculnya kasus pecahnya (lagi) layar handphoneku dan siklus haidku yang sudah terlambat tiga hari. Ditambah lagi banyak orang yang hilir mudik memperkeruh otakku.
Oh ya, aku juga ingin tahun ini berangkat ke luar negeri secara gratis. Ingatlah bahwa aku adalah gadis menyedihkan yang tidak lolos seleksi tahap nasional Bina Antarbudaya (AFS) atau nama programnya adalah KL YES untuk pertukaran pelajar ke USA, atau aku adalah gadis yang beberapa kali lolos untuk pertukaran pelajar dan konferensi internasional namun tidak memiliki biaya untuk pergi. Semenyedihkan itu. Semoga tahun ini aku bisa melewati batas nusantara.
네, 난 꿈이 있다. 처음부터 한국에 아주 가고 싶은데 돈이 없다. 한국에 벚꽃이 있고 정말 예쁘다. 난 벚꽃을 좋아해서 벚꽃을 보고 싶다.
한국 사람들은 여의도에서 벚꽃 축제를 한다. 아~ 즐겁겠지? 난 언제 갈 겁니까?
Oke sekian lembaran cerita yang tidak berbobot ini. Semoga ke depannya ceritaku makin berbobot dan semoga ke depannya aku tidak korslet lagi.
Ketahuilah bahwa tulisan ini lebih mengarah ke estetika, bukan kebenaran kaidah kebahasaan. Mungkin bagimu ini tidak berestetika sama sekali tetapi aku tetap menganggapnya suatu estetika karena ini tulisan pertamaku di tahun ini. Ya, terserah saja. Ini laman milikku, bukan milikmu. Aku bebas berekspresi sesuka hati. Dulu waktu masih SMA, ingat sekali, aku sering disindir senior lantaran laman ini. Lucu ya, orang yang membenciku malah mengikuti perkembangan laman ini. Aku anggap dia adalah penggemarku paling setia.
Menyelam ke masa itu, aku jadi ingin bicara tentang senioritas. Aku ingin bersumpah serapah bahwa senioritas itu adalah untuk melemahkan jiwa, bukan memperkuat jiwa seperti kata orang. Bayangkan saja, realitanya di negara-negara maju, MOS bukan momok mengerikan yang apabila di Indonesia diikuti dengan atribut aneh, pelampiasan amarah senior kepada junior seperti yang baru tadi diberitakan di LINE today. MOS di negara maju diisi dengan presentasi dan seminar-seminar, sama seperti di Universitas Indonesia. Sangat berbobot. Ospek di Universitas Indonesia yang disebut OKK biasanya mengundang orang-orang hebat.
Selanjutnya aku ingin menyelam ke masa dulu. Tidak tahu pasti 'dulu' yang kumaksud ini kapan. Yang jelas, dulu di sini adalah masa di mana aku sangat menyukai tulis menulis. Ketika hasil tulisanku dihargai dengan kocek jutaan rupiah. Royalti yang sangat menggiurkan. Aku ingat bagaimana royalti tersebut dapat kugunakan untuk membeli seragam sekolah di SMA yang harganya ada juta-jutanya (mahal sekali, kasihan orang tuaku), membayar uang pembangunan di SMA, membeli smartphone, membeli obat untuk ibu, dan lain sebagainya. Sekarang? Yah, ada uang untuk makan mie di kostan saja aku sudah sangat bersyukur. Mungkin aku kurang bersyukur, terlalu tamak, terlalu sombong, dan terlalu jahat. Karya tulis yang kukirim di media saat ini saja tidak menduduki 'bahkan' untuk juara harapan. Aku sadar bahwa akhir-akhir ini aku jarang membaca dan masih ada saja manusia-manusia seperti setan yang lewat untuk mengganggu kehidupanku. Terutama, merusak moodku. Jadi, aku sarankan siapapun kamu yang pernah terlibat konflik besar denganku, jangan dekati aku dulu di tahun 2017 ini karena moodku benar-benar sedang hancur parah. Kamu tidak ingin kan melihat amarahku memuncak dan melihat fenomena 'jatuh menggelinding dari tangga' itu terulang? Maaf, aku memang separah itu kalau lagi marah. Jangan tuntut aku jadi sempurna, memang seperti inilah aku. (Fyi, aku jarang marah hehe)
Aku ingin sekali mendapat inspirasi untuk tulisan-tulisanku berikutnya. Mungkin nantinya aku akan menemukan 'kamu'. Siapapun itu, yang dapat memperbaiki moodku lagi. Moodku semakin parah dengan munculnya kasus pecahnya (lagi) layar handphoneku dan siklus haidku yang sudah terlambat tiga hari. Ditambah lagi banyak orang yang hilir mudik memperkeruh otakku.
Oh ya, aku juga ingin tahun ini berangkat ke luar negeri secara gratis. Ingatlah bahwa aku adalah gadis menyedihkan yang tidak lolos seleksi tahap nasional Bina Antarbudaya (AFS) atau nama programnya adalah KL YES untuk pertukaran pelajar ke USA, atau aku adalah gadis yang beberapa kali lolos untuk pertukaran pelajar dan konferensi internasional namun tidak memiliki biaya untuk pergi. Semenyedihkan itu. Semoga tahun ini aku bisa melewati batas nusantara.
네, 난 꿈이 있다. 처음부터 한국에 아주 가고 싶은데 돈이 없다. 한국에 벚꽃이 있고 정말 예쁘다. 난 벚꽃을 좋아해서 벚꽃을 보고 싶다.
한국 사람들은 여의도에서 벚꽃 축제를 한다. 아~ 즐겁겠지? 난 언제 갈 겁니까?
Oke sekian lembaran cerita yang tidak berbobot ini. Semoga ke depannya ceritaku makin berbobot dan semoga ke depannya aku tidak korslet lagi.

Komentar
Posting Komentar