Bagian dari Masa Orientasi 1: Remang
Mungkin bagimu menghirup bau malam terasa menyakitkan, namun aku masih menganggap bau malam memiliki filosofinya tersendiri, yang mungkin tak bisa aku jabarkan secara rinci di sini. Udara fajar hari juga masih kusebut bau malam karena bagiku fajar hari masih remang. Begitu juga titik antara pergantian senja dan malam, mungkin kausebut itu maghrib tetapi aku juga menganggapnya telah ada bau malam di sela angin yang berembus.
Oh ya, ada cerita antara aku dan bau malam. Kaubisa saja menyebut cerita ini tidak terdapat unsur estetika di dalamnya, kaubisa saja menyebut cerita ini tidak menarik, bahkan kaubisa saja menyebut cerita ini tidak penting untuk khalayak. Namun entah mengapa jemari ini terus ingin mengetuk keyboard yang telah lama tak kuketuk untuk tulisan-tulisan berunsur estetika. Ya, aku telah lama tidak menulis sehingga bagiku ini kaku sekali. Baiklah, kembali ke bau malam.
Kisah ini mulai terlukis ketika hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Sebut saja aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Jangan salah, perguruan tinggiku ini sangat terkenal, kutebak kaupasti telah mampu menerkanya. Saat itu fajar hari, masih remang. Aku sendirian ditemani cahaya lampu jalan yang tampak ingin meredup, padahal hari masih gelap gulita. Tidak hanya sendirian, aku juga kedinginan. Panitia Ospek tampak belum siap untuk memulai registrasi sehingga aku berdiri di dekat lampu jalan.
Kupandangi baju putih abuku yang sebentar lagi akan tersisa menjadi lembar kenangan, indah sekali. Rasanya aku belum ingin kuliah, tetapi waktu dengan kejamnya menghampiri. Di sela kesibukanku memandang baju putih abuku, seseorang bergerak mendekati. Kulihat dari bayangannya lewat lampu yang remang itu.
"Kelompok 36 juga?" tanya pemilik suara berat yang menghampiriku. Aku melihat nametag besarku bertulisan 36, sama dengan miliknya. Kemudian aku mengangguk. Lelaki di depanku kala itu cukup pendek menurut ukuranku, namun terlihat serius. Aku bisa membacanya lewat bingkai kaca matanya.
"Mitha, Akuntansi" aku mengulurkan jemariku padanya, kemudian disambut oleh jemarinya yang memiliki temperatur kontras denganku.
"Farel, Teknik Elektro" ucapnya. Ternyata dia satu fakultas dengan pacarku, Elang. Bedanya, Elang berada di jurusan Teknik Mesin. Ah, bicara tentang Elang... dia benar-benar remaja yang tampan, dalam porsiku, kupertegas. Aku akan genap dua tahun berpacaran dengannya bulan depan, dalam hitungan waktu itu. Namun yang menyedihkan adalah aku dan Elang tidak satu kelompok OSPEK, Elang berada di kelompok 81.
Begitulah awal perkenalanku dengan Farel di bawah remang semesta, dekat lampu jalan, diiringi semerbak bau malam yang masih tersisa. Mungkin kautelah mengetahui alur cerita klise ini, tetapi izinkan aku untuk terus bercerita. Aku hanya ingin menulis sedikit lebih panjang,
Hari itu kami dibagi perkelas menurut kelompok masing-masing. Di kelompok 36, aku hanya mengenal Farel dan wajar saja ketika di kelas aku duduk di samping Farel. Sebelum kelas dimulai, kami banyak mengobrol.Ternyata Farel berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Aku tidak tahu bahwa lelaki Jawa Barat bisa semanis itu ketika mengekspresikan ceritanya. Kami saling berbagi kontak media sosial. Itu yang kuingat.
Dan yang kuingat selanjutnya, ketika absensi berlangsung, nama Farel tidak ada di data absensi. Memang, absensi dilaksanakan ketika kelas hampir usai guna mencegah mahasiswa yang kabur ketika jam mata kuliah, begitu peraturan universitas kami. Terakhir yang kuingat, memang ada kesalahan teknis pada sistem online pengelompokan. Ternyata, Farel berada di kelompok 67.
***
Kala itu hari terakhir Ospek. Elang menggenggam jemariku di bus kampus yang beroperasi ketika aku ingin kembali ke rumah. Suasana di luaran tidak terlalu gelap, masih remang dan aku telah mampu mencium bau malam. Jemari Elang yang panjang dan hangat seakan melindungiku dari apapun. Aku memang mencintai Elang, sangat mencintainya. Bagaimana mungkin kamu tidak mencintai lelaki yang jadi pujaan wanita di sekolahku dulu? Elang cerdas, tampan, tinggi, dan baik. Meskipun terkadang ia terlalu cerdas sehingga aku kerap kali tidak mengerti ucapannya. Bukannya aku bodoh, hey. Kuperjelas sekali lagi, Elang yang terlalu cerdas.
Di dalam bus kampus itu, seseorang masuk dan duduk di sampingku. Baik, seperti fiksi klise pada umumnya, lelaki yang mengenakan jaket abu itu adalah Farel. Kami bertukar sapa dan banyak bercerita, sehingga aku lupa bahwa Elang juga berada di sebelahku, dalam posisi yang masih menggenggam jemariku.
"Mith, gue turun duluan ya" suara berat terakhir yang kudengar darinya. Sesimpel itu.
Aku mengangguk, kemudian kembali bercerita pada Elang.
"Siapa itu, Bul?" tanya Elang. Oh ya, nama panjangku Mitha Bulansari. Elang memanggilku Bubul. Saat itu aku menceritakan Farel hingga sedetil-detilnya.
Malamnya, aku mendapat pesan masuk di aplikasi LINE. Bisa kautebak, seklise itu. Ya, dari Farel. Ia bertanya apakah yang ada di sampingku tadi adalah pacarku, dan aku menjawab iya. Tak pernah kukira sebelumnya bahwa pertanyaan 'Itu tadi pacar lo?' bisa membawa percakapan kami hingga berbulan lamanya. Namun entah mengapa, aku menyukai cara Farel membalas pesanku. Ia kadang membalasnya dalam selang waktu dua minggu, tetapi itu yang paling membuatku penasaran. Pada hakikatnya aku tidak suka dikekang, sehingga cara Farel yang membalas pesan singkatku dengan waktu yang lama dan aku tidak perlu membalasnya cepat-cepat, itu sungguh membuatku nyaman.
***
Minggu ketiga bulan November, aku putus dengan Elang. Beberapa hari sebelum ulang tahunku dan ulang tahunnya (kami hanya selisih dua hari). Aku putus karena sahabatku ternyata memengaruhi Elang agar tidak percaya lagi padaku, aku juga tidak terlalu patah hati karena kurasa semakin ke sini aku semakin tidak mengerti Elang. Ia sering membahas sesuatu yang tidak aku tahu, misalnya mengapa kandungan karbon di dalam besi tuang lebih dari 2%. Saat itu, aku masih melakukan percakapan dengan Farel.
Hingga tiba hari ulang tahunku, saat senja berubah remang dan bau malam kian menyiksa. Aku dan Farel berceloteh panjang lebar. Farel memang tidak tahu ulang tahunku, sepertinya. Tetapi tak apa, dengan seperti ini pun aku nyaman dengan Farel.
Sedihnya, hari ulang tahunku itu adalah hari terakhir aku bercakap dengan Farel di media sosial. Setelah itu Farel tidak pernah membalas pesanku.
***
Dua bulan setelah itu, aku bertemu dengan Tania, temanku yang ada di jurusan Teknik Elektro. Aku berkenalan dengan Tania ketika sama-sama bergabung di BEM tingkat universitas. Aku bertanya apakah ia mengenal Farel dan spontan ia langsung menjawab,"Iya, Farel sekelas sama gue. Tapi gue gak tahu tuh mukanya yang mana. Abisnya anak teknik kan satu kelasnya banyak banget. Lagipula, si Farel tuh udah dicari-cari dosen. Udah berapa bulan ya dia kagak masuk? Gue lupa"
Ya, seremang itu. Seremang itu hubungan 'pertemanan' antara aku dan Farel. Hingga hari ini, di semester limaku, aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Kadang aku menerka-nerka, kenapa Tuhan memberiku pertemuan dengannya? Mengapa seremang itu? Dan mengapa sesingkat itu?
Oh ya, ada cerita antara aku dan bau malam. Kaubisa saja menyebut cerita ini tidak terdapat unsur estetika di dalamnya, kaubisa saja menyebut cerita ini tidak menarik, bahkan kaubisa saja menyebut cerita ini tidak penting untuk khalayak. Namun entah mengapa jemari ini terus ingin mengetuk keyboard yang telah lama tak kuketuk untuk tulisan-tulisan berunsur estetika. Ya, aku telah lama tidak menulis sehingga bagiku ini kaku sekali. Baiklah, kembali ke bau malam.
Kisah ini mulai terlukis ketika hari pertama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Sebut saja aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Jangan salah, perguruan tinggiku ini sangat terkenal, kutebak kaupasti telah mampu menerkanya. Saat itu fajar hari, masih remang. Aku sendirian ditemani cahaya lampu jalan yang tampak ingin meredup, padahal hari masih gelap gulita. Tidak hanya sendirian, aku juga kedinginan. Panitia Ospek tampak belum siap untuk memulai registrasi sehingga aku berdiri di dekat lampu jalan.
Kupandangi baju putih abuku yang sebentar lagi akan tersisa menjadi lembar kenangan, indah sekali. Rasanya aku belum ingin kuliah, tetapi waktu dengan kejamnya menghampiri. Di sela kesibukanku memandang baju putih abuku, seseorang bergerak mendekati. Kulihat dari bayangannya lewat lampu yang remang itu.
"Kelompok 36 juga?" tanya pemilik suara berat yang menghampiriku. Aku melihat nametag besarku bertulisan 36, sama dengan miliknya. Kemudian aku mengangguk. Lelaki di depanku kala itu cukup pendek menurut ukuranku, namun terlihat serius. Aku bisa membacanya lewat bingkai kaca matanya.
"Mitha, Akuntansi" aku mengulurkan jemariku padanya, kemudian disambut oleh jemarinya yang memiliki temperatur kontras denganku.
"Farel, Teknik Elektro" ucapnya. Ternyata dia satu fakultas dengan pacarku, Elang. Bedanya, Elang berada di jurusan Teknik Mesin. Ah, bicara tentang Elang... dia benar-benar remaja yang tampan, dalam porsiku, kupertegas. Aku akan genap dua tahun berpacaran dengannya bulan depan, dalam hitungan waktu itu. Namun yang menyedihkan adalah aku dan Elang tidak satu kelompok OSPEK, Elang berada di kelompok 81.
Begitulah awal perkenalanku dengan Farel di bawah remang semesta, dekat lampu jalan, diiringi semerbak bau malam yang masih tersisa. Mungkin kautelah mengetahui alur cerita klise ini, tetapi izinkan aku untuk terus bercerita. Aku hanya ingin menulis sedikit lebih panjang,
Hari itu kami dibagi perkelas menurut kelompok masing-masing. Di kelompok 36, aku hanya mengenal Farel dan wajar saja ketika di kelas aku duduk di samping Farel. Sebelum kelas dimulai, kami banyak mengobrol.Ternyata Farel berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Aku tidak tahu bahwa lelaki Jawa Barat bisa semanis itu ketika mengekspresikan ceritanya. Kami saling berbagi kontak media sosial. Itu yang kuingat.
Dan yang kuingat selanjutnya, ketika absensi berlangsung, nama Farel tidak ada di data absensi. Memang, absensi dilaksanakan ketika kelas hampir usai guna mencegah mahasiswa yang kabur ketika jam mata kuliah, begitu peraturan universitas kami. Terakhir yang kuingat, memang ada kesalahan teknis pada sistem online pengelompokan. Ternyata, Farel berada di kelompok 67.
***
Kala itu hari terakhir Ospek. Elang menggenggam jemariku di bus kampus yang beroperasi ketika aku ingin kembali ke rumah. Suasana di luaran tidak terlalu gelap, masih remang dan aku telah mampu mencium bau malam. Jemari Elang yang panjang dan hangat seakan melindungiku dari apapun. Aku memang mencintai Elang, sangat mencintainya. Bagaimana mungkin kamu tidak mencintai lelaki yang jadi pujaan wanita di sekolahku dulu? Elang cerdas, tampan, tinggi, dan baik. Meskipun terkadang ia terlalu cerdas sehingga aku kerap kali tidak mengerti ucapannya. Bukannya aku bodoh, hey. Kuperjelas sekali lagi, Elang yang terlalu cerdas.
Di dalam bus kampus itu, seseorang masuk dan duduk di sampingku. Baik, seperti fiksi klise pada umumnya, lelaki yang mengenakan jaket abu itu adalah Farel. Kami bertukar sapa dan banyak bercerita, sehingga aku lupa bahwa Elang juga berada di sebelahku, dalam posisi yang masih menggenggam jemariku.
"Mith, gue turun duluan ya" suara berat terakhir yang kudengar darinya. Sesimpel itu.
Aku mengangguk, kemudian kembali bercerita pada Elang.
"Siapa itu, Bul?" tanya Elang. Oh ya, nama panjangku Mitha Bulansari. Elang memanggilku Bubul. Saat itu aku menceritakan Farel hingga sedetil-detilnya.
Malamnya, aku mendapat pesan masuk di aplikasi LINE. Bisa kautebak, seklise itu. Ya, dari Farel. Ia bertanya apakah yang ada di sampingku tadi adalah pacarku, dan aku menjawab iya. Tak pernah kukira sebelumnya bahwa pertanyaan 'Itu tadi pacar lo?' bisa membawa percakapan kami hingga berbulan lamanya. Namun entah mengapa, aku menyukai cara Farel membalas pesanku. Ia kadang membalasnya dalam selang waktu dua minggu, tetapi itu yang paling membuatku penasaran. Pada hakikatnya aku tidak suka dikekang, sehingga cara Farel yang membalas pesan singkatku dengan waktu yang lama dan aku tidak perlu membalasnya cepat-cepat, itu sungguh membuatku nyaman.
***
Minggu ketiga bulan November, aku putus dengan Elang. Beberapa hari sebelum ulang tahunku dan ulang tahunnya (kami hanya selisih dua hari). Aku putus karena sahabatku ternyata memengaruhi Elang agar tidak percaya lagi padaku, aku juga tidak terlalu patah hati karena kurasa semakin ke sini aku semakin tidak mengerti Elang. Ia sering membahas sesuatu yang tidak aku tahu, misalnya mengapa kandungan karbon di dalam besi tuang lebih dari 2%. Saat itu, aku masih melakukan percakapan dengan Farel.
Hingga tiba hari ulang tahunku, saat senja berubah remang dan bau malam kian menyiksa. Aku dan Farel berceloteh panjang lebar. Farel memang tidak tahu ulang tahunku, sepertinya. Tetapi tak apa, dengan seperti ini pun aku nyaman dengan Farel.
Sedihnya, hari ulang tahunku itu adalah hari terakhir aku bercakap dengan Farel di media sosial. Setelah itu Farel tidak pernah membalas pesanku.
***
Dua bulan setelah itu, aku bertemu dengan Tania, temanku yang ada di jurusan Teknik Elektro. Aku berkenalan dengan Tania ketika sama-sama bergabung di BEM tingkat universitas. Aku bertanya apakah ia mengenal Farel dan spontan ia langsung menjawab,"Iya, Farel sekelas sama gue. Tapi gue gak tahu tuh mukanya yang mana. Abisnya anak teknik kan satu kelasnya banyak banget. Lagipula, si Farel tuh udah dicari-cari dosen. Udah berapa bulan ya dia kagak masuk? Gue lupa"
Ya, seremang itu. Seremang itu hubungan 'pertemanan' antara aku dan Farel. Hingga hari ini, di semester limaku, aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya. Kadang aku menerka-nerka, kenapa Tuhan memberiku pertemuan dengannya? Mengapa seremang itu? Dan mengapa sesingkat itu?

Komentar
Posting Komentar