Malas
Aku tidak tahu mengapa rasa malas ini bergentayangan dalam hidupku setiap hari. Padahal menurut mereka aku visioner, aku telah merencanakan hidupku sejak kecil dan aku telah membiasakan diriku berbaur dengan orang-orang baru. Semakin ke sini aku selalu bertemu dengan rasa malas itu. Usai kuliah aku tidak lagi membaca buku-buku kuliah dan langsung terbaring di termpat tidur. Mungkin kehidupan kampus terlalu melelahkan meski di satu sisi kehidupan ini menyenangkan.
Kadangkala aku sulit konsentrasi dalam membaca. Pikiranku buyar ke mana-mana, seperti angin yang tidak tahu ke mana harus bertepi. Aku mencoba cari cara agar aku kembali konsentrasi dan aku menemukan bahwa kadar oksigen dalam otakku mungkin berkurang (berdasarkan penelitian ketika aku SMA bahwa otak kita butuh bernapas agar lebih mampu berkonsentrasi). Aku jarang minum. Parahnya, aku akan mengeluarkan urin hanya selang beberapa menit (tidak sampai lima menit) setelah minum. Ketika aku mengeluarkan urin, aku mengeluarkannya sangat sedikit dan selang beberapa menit aku akan mengeluarkan urin yang sedikit (lagi). Itu berlangsung terus menerus dan cukup membuatku terganggu lantaran aku tidak suka bolak balik ke kamar mandi.
Aku semakin bingung dengan hidupku. Terkadang aku sedih tiba-tiba, kadang ingin menangis, dan kadang selalu ingin terlelap. Mungkin aku rindu sahabat-sahabatku? Mungkin juga. Atau mungkin aku ingin punya pacar? Aku juga tidak tahu, perihal pacar masih sangat jauh di otakku. Aku juga kadang menerka-nerka apakah gadis semester dua di kuliahnya sudah pantas punya pacar? Ah, bicara tentang PDKT saja aku selalu gagal, apalagi pacar.
Mungkin aku butuh teman cerita?
Mungkin aku butuh teman belajar Matematika?
Rasanya rindu juga telah lama tidak menyentuh rumus-rumus berangka. Apa tahun ini aku ingin mencoba kehidupan baru saja? Kehidupan yang akan penuh dengan rumus-rumus berangka. Favoritku ketika masih di SD dan SMP.
Sebenarnya tulisan ini tidak penting. Tapi berhubung tidak akan ada yang membacanya, maka akan aku tulis di sini.
Kesimpulannya: Bagaimana 'praktik'nya, agar aku tidak malas lagi?
Praktik, bukan teori.
Kadangkala aku sulit konsentrasi dalam membaca. Pikiranku buyar ke mana-mana, seperti angin yang tidak tahu ke mana harus bertepi. Aku mencoba cari cara agar aku kembali konsentrasi dan aku menemukan bahwa kadar oksigen dalam otakku mungkin berkurang (berdasarkan penelitian ketika aku SMA bahwa otak kita butuh bernapas agar lebih mampu berkonsentrasi). Aku jarang minum. Parahnya, aku akan mengeluarkan urin hanya selang beberapa menit (tidak sampai lima menit) setelah minum. Ketika aku mengeluarkan urin, aku mengeluarkannya sangat sedikit dan selang beberapa menit aku akan mengeluarkan urin yang sedikit (lagi). Itu berlangsung terus menerus dan cukup membuatku terganggu lantaran aku tidak suka bolak balik ke kamar mandi.
Aku semakin bingung dengan hidupku. Terkadang aku sedih tiba-tiba, kadang ingin menangis, dan kadang selalu ingin terlelap. Mungkin aku rindu sahabat-sahabatku? Mungkin juga. Atau mungkin aku ingin punya pacar? Aku juga tidak tahu, perihal pacar masih sangat jauh di otakku. Aku juga kadang menerka-nerka apakah gadis semester dua di kuliahnya sudah pantas punya pacar? Ah, bicara tentang PDKT saja aku selalu gagal, apalagi pacar.
Mungkin aku butuh teman cerita?
Mungkin aku butuh teman belajar Matematika?
Rasanya rindu juga telah lama tidak menyentuh rumus-rumus berangka. Apa tahun ini aku ingin mencoba kehidupan baru saja? Kehidupan yang akan penuh dengan rumus-rumus berangka. Favoritku ketika masih di SD dan SMP.
Sebenarnya tulisan ini tidak penting. Tapi berhubung tidak akan ada yang membacanya, maka akan aku tulis di sini.
Kesimpulannya: Bagaimana 'praktik'nya, agar aku tidak malas lagi?
Praktik, bukan teori.

Komentar
Posting Komentar