Diantara Rintik Hujan
Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai ketika
saling mencintai. Menjadi penghibur sepi di tiap-tiap goresan waktuku. Aku
ingin tahu bagaimana rasanya dijadikan spesial oleh makhluk yang paling
spesial. Menjadi pewarna dalam tiap-tiap buku usangku. Dan aku ingin tahu
bagaimana rasanya seseorang menjadikan aku manusia penting dalam hidupnya. Yang
menjadi pemanis di setiap perjalanan kisahku.
Kamu, diantara rintik hujan, yang baru saja hadir
menemani sang siang. Aku suka caramu menerobos tetesan tetesan pelan dari
langit itu. Kamu melewati halaman sekolah,
hingga sampai ke lobby gedung utama
sekolah. Aku tahu, nafasmu tidak teratur karena kau menghindari pesona rintik
hujan. Dan aku memperhatikan detail
rambutmu yang basah, aku memperhatikan bagaimana tetesan-tetesan air kecil
bekas rintik hujan itu menuruni rambutmu dengan teratur, sehingga membasahi
seragam kemeja mu.
Kamu, yang berlari diantara rintik hujan. Ekspresimu
melukiskan betapa lucu aku menganggapmu. Di setiap momen yang kau lakukan, akan
terasa begitu berbeda di mataku.
Wahai salah satu dari jutaan keturunan Adam, aku...
mencintaimu. Dari awal hingga akhir. Dari benci jadi suka. Dari suka jadi
cinta. Sejujurnya aku lupa kapan pertemuan pertama kita, yang jelas.. aku
mengenalmu karena ‘dia’ yang juga pernah hadir dalam kekosongan hatiku. Aku
merupakan penguntitmu sejak awal, tetapi aku kalah dalam masalah ‘memahami’mu.
Mengapa hingga sekarang pun, kamu sulit sekali aku pahami?
Kamu, diantara rintik hujan. Yang mengiaskan
bagaimana semua orang menganggapmu aneh. Tidak, kau tidak aneh. Kau unik.
Entahlah, apakah hanya aku yang tidak waras atau aku yang memang benar-benar tidak
waras? Tapi kurasa, aku masih normal. Buktinya aku masih mampu mencintaimu
dengan akal sehatku.
Tetapi aku seharusnya sadar. Aku seharusnya sadar
benar siapa aku. Aku tahu dan aku paham. Aku merasa, aku tidak pantas
mencintaimu. Kamu terlalu sempurna untuk porsiku. Dan aku bukanlah gadis yang
sempurna untukmu. Aku juga bingung mengapa Tuhan menurunkan perasaanku ini untuk
lelaki sempurna seperti kamu.
Kamu, yang berlarian di antara rintik hujan, untuk
membayangkan kamu menyukaiku saja.. aku sudah tidak berani. Karena aku
seharusnya sadar. Kamu pasti memiliki orang yang kamu cintai, yang memiliki
paras sempurna. Meskipun aku tidak tahu apapun tentang orang yang kamu cintai,
tapi.. aku berharap saja orang yang kamu cintai juga bisa mencintaimu. Lebih
tulus dari perasaanku padamu. Dan aku merelakan kau bahagia. Karena aku
menyukai senyummu.
Kamu.. diantara rintik hujan, aku meminta satu hal.
Meskipun nanti kamu mengetahui perasaan ini. Tetaplah jangan membenci aku,
jangan jauhi aku. Aku sudah terlalu nyaman dengan posisi ini. Aku juga tidak
berharap banyak dan tidak akan egois dengan perasaanku. Sekali lagi, aku akan
membiarkan rasamu pada orang yang kamu sukai tumbuh. Jadi aku tidak akan
mengganggumu. Meskipun aku menyukaimu.

Komentar
Posting Komentar