Kupu-kupu
Kupu-kupu merupakan makhluk Tuhan yang masuk dalam kategori indah menurut kaum Hawa. Bangsa mereka memiliki paras yang menarik dari segi manapun, dengan balutan warna-warni yang diberi Tuhan khusus untuk spesies mereka. Mereka diberi sayap, untuk terbang menjangkau bumi. Meskipun sebenarnya kupu-kupu tidak benar-benar menjangkau angkasa. Mereka menikmati semilir angin dengan menggerakkan sayap-sayapnya. Mencari apa yang akan mereka cari, menemukan apa yang akan mereka temukan.
Terkadang kupu-kupu patut diteladani. Perjuangan mereka yang dihina ketika menjadi seekor ulat, menjadi kepompong yang merupakan fase paling menyakitkan, dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang menjadi sumber kebanggaan spesies mereka. Tetapi kupu-kupu merupakan sesosok yang menyukai kegiatan 'balas dendam'. Ia menghisap nektar dari sebuah bunga. Awalnya, Ia memilih bunga yang warnanya memikat mereka. Setelah itu, Ia menghisap sisi manis dari bunga tersebut. Namun apakah setelah menghisap sisi manis dari bunga tersebut, Ia akan selamanya menemani hari sang bunga? Apakah Ia tetap akan tinggal dengan sang bunga?
Kupu-kupu ibarat seseorang yang menyukai orang lain dengan predikat yang tidak tulus. Jika bunga tersebut layu, akankah Ia tetap akan mengambil nektarnya? Sama halnya dengan manusia, terkadang manusia hanya menyukai seseorang karena kelebihan yang dimiliki, namun tidak mampu menghargai kekurangan yang mustahil dipungkiri.
Seseorang hadir dalam berjuta kekurangan. Namun Tuhan menciptakan orang lain yang mampu melengkapi kekurangan tersebut. Ia mempertemukan dua insan, lalu Ia satukan dengan cara-Nya sendiri. Menciptakan, mempertemukan, dan menyatukan merupakan konsep Tuhan agar manusia saling melengkapi, menutupi, dan menghargai.
Kupu-kupu memang membantu penyerbukan sang bunga. Tetapi hanya sesaat. Sama halnya seperti dua insan yang saling mengasihi dan terjadi timbal balik antara mereka, hanya sesaat, yang membuat kehidupan terasa tidak bermanfaat. Penyerbukan sang bunga adalah kebahagiaan yang diberi kupu-kupu, tapi sadarkah jika kupu-kupu pergi lagi, bunga tetap kesepian? Sendiri menelan hari? Dan seakan pembagi cerita dan perindu sudah tiada lagi.
Mengapa kebahagiaan itu hanya diberi sesaat? Karena Tuhan ingin kita bersabar, mensyukuri, dan memahami arti dari apa yang telah kita lakukan.
Tuhan menuntut kita belajar tulus dari siklus kehidupan kupu-kupu yang tidak tulus. Ia berusaha menyadarkan dirimu bahwa mencintai secara tidak tulus tersebut tiada akan berlangsung lama. Kau dituntut mampu memilah mana yang baik dengan mana yang benar dengan cara yang telah kau temukan. Sehingga jadi pedoman akan tulusnya perasaan.
Terkadang kupu-kupu patut diteladani. Perjuangan mereka yang dihina ketika menjadi seekor ulat, menjadi kepompong yang merupakan fase paling menyakitkan, dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang menjadi sumber kebanggaan spesies mereka. Tetapi kupu-kupu merupakan sesosok yang menyukai kegiatan 'balas dendam'. Ia menghisap nektar dari sebuah bunga. Awalnya, Ia memilih bunga yang warnanya memikat mereka. Setelah itu, Ia menghisap sisi manis dari bunga tersebut. Namun apakah setelah menghisap sisi manis dari bunga tersebut, Ia akan selamanya menemani hari sang bunga? Apakah Ia tetap akan tinggal dengan sang bunga?
Kupu-kupu ibarat seseorang yang menyukai orang lain dengan predikat yang tidak tulus. Jika bunga tersebut layu, akankah Ia tetap akan mengambil nektarnya? Sama halnya dengan manusia, terkadang manusia hanya menyukai seseorang karena kelebihan yang dimiliki, namun tidak mampu menghargai kekurangan yang mustahil dipungkiri.
Seseorang hadir dalam berjuta kekurangan. Namun Tuhan menciptakan orang lain yang mampu melengkapi kekurangan tersebut. Ia mempertemukan dua insan, lalu Ia satukan dengan cara-Nya sendiri. Menciptakan, mempertemukan, dan menyatukan merupakan konsep Tuhan agar manusia saling melengkapi, menutupi, dan menghargai.
Kupu-kupu memang membantu penyerbukan sang bunga. Tetapi hanya sesaat. Sama halnya seperti dua insan yang saling mengasihi dan terjadi timbal balik antara mereka, hanya sesaat, yang membuat kehidupan terasa tidak bermanfaat. Penyerbukan sang bunga adalah kebahagiaan yang diberi kupu-kupu, tapi sadarkah jika kupu-kupu pergi lagi, bunga tetap kesepian? Sendiri menelan hari? Dan seakan pembagi cerita dan perindu sudah tiada lagi.
Mengapa kebahagiaan itu hanya diberi sesaat? Karena Tuhan ingin kita bersabar, mensyukuri, dan memahami arti dari apa yang telah kita lakukan.
Tuhan menuntut kita belajar tulus dari siklus kehidupan kupu-kupu yang tidak tulus. Ia berusaha menyadarkan dirimu bahwa mencintai secara tidak tulus tersebut tiada akan berlangsung lama. Kau dituntut mampu memilah mana yang baik dengan mana yang benar dengan cara yang telah kau temukan. Sehingga jadi pedoman akan tulusnya perasaan.

Komentar
Posting Komentar