Tiba-Tiba.. Rindu
Ada yang mengusik jelas kenanganku hari ini. Seakan mendeteksi serpihan-serpihan kenangan yang telah aku dan mereka susun. Masih dalam awal masa puber ku, aku dan mereka menjalani hari dengan tingkah-tingkah absurd yang kami jalani. Kami bercerita, menangis, tertawa.. satu tujuan.. berpisah. Karena perpisahan kami semakin dekat, semakin tak terasa dijalani karena tiga tahun itu merupakan waktu yang singkat. Sesingkat tetesan air keran yang jatuh membasahi permukaan bak mandi.
Setiap pagi, ada saja yang menyapaku. Tersenyum padaku sambil berteriak memanggil namaku bagai makhluk kesurupan. Meneriakkan kata 'Diny !!' lalu menceritakan apa yang mereka alami. Mereka percayakan aku, mereka membaginya padaku. Tiap-tiap penggalan kisah milik mereka. Aku bersyukur karena Tuhan memilihku untuk menyimpan cerita-cerita mereka. Hingga mengubah cita-citaku secara drastis dari yang absurd hingga menjadi seorang psikolog.
Setiap hari, kadangkala ada yang menangis di depanku. Ada pula yang bersikap konyol. Bahkan ada yang diam-diam menyukaiku. Ada yang berotak mesum, ada yang terlihat dewasa, ada yang paling mengayomi aku sebagai makhluk yang lebih muda dari mereka, ada yang mengajarkan aku bahwa hidup ini tidak boleh egois, ada yang membuat aku mengerti mengapa sopan dan santun itu sangat diperlukan, ada yang menemaniku ketika lomba di luar sekolah, ada yang mengajariku teknik menjadi seorangmayoret, ada yang mengalah untukku, dan ada yang menganggap aku teman spesial hingga memberiku kenang-kenangan di akhir tahun perpisahan kami.
Di hari ulang tahunku, ini yang paling spesial. Aku diberi mereka kejutan-kejutan yang tak terhingga, mulai dari menyiramku dengan sagu, serta memberiku kue ulang tahun terspesial yang pernah aku cicipi. Bahkan, baru kali pertama.. aku meniup lilin berdua dengan teman sekelasku karena hari ulang tahun kami yang sama. Tanpa di sengaja, kami.. satu kelas.. terkadang memiliki tanggal dan bulan lahir yang identik.
Ada, ketika aku jatuh cinta.. Mereka terkadang jadi pelampiasan tangisku. Bahkan masalahku dengan orangtuaku pun tidak pernah kulewatkan untuk kuceritakan pada mereka. Mereka selalu ada kapanpun aku butuh mereka. Terkadang, saking rindunya kami, kami saling menelepon satu sama lain hingga berjam-jam ketika bulan puasa.
Momen makan bersama di kedai kecil yang sering kami sebut 'Warung Mi Ayam Musi 5A' itu selalu jadi alasan mengapa kami bisa berbagi di sana. Terkadang disana lah setiap rahasia kami dibongkar, setiap cerita terkadang yang tak punya alasan sekalipun di jadikan cerita. Oh Tuhan, mengingat bagaimana kekompakan kami mengikuti lomba kelas terbersih, atau bahkan lomba mading, dan lomba mengumpulkan bungkus permen Relaxa. Jujur, membuka bungkus permen Relaxa itu tidak mudah, tidak boleh digunting dan tidak boleh sobek bagian depannya. Apalagi bungkusnya tidak boleh terputus satu sama lain, hingga kami memenangkan predikat juara mingguan dan mendapatkan hadiah menonton film "Hello, Goodbye" bersama.
Karena mereka, aku mengerti arti kekompakan yang sesungguhnya. Arti persaudaraan bahkan persatuan yang menguatkan kami.
Aku tiba-tiba rindu mereka. Mereka yang selalu ada di sisi ku ketika aku terjatuh, yang tidak hanya ada ketika aku sedang berada di atas. Mereka yang paling sering melihat kekuranganku, berusaha menutupinya dengan cara mereka sendiri. Sejujurnya aku sangat merindukan mereka. Sangat, bahkan aku sempat menangis berhari-hari ketika menjelang perpisahan. Hari ini pun, masih kutitikkan air mataku karena perpisahan kami. Kami ditakdirkan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda... Ke dunia yang berbeda. Hingga pada akhirnya, terkadang ada saja.. yang saling melupakan kenangan.
Mereka di sana, kabar mereka baik-baik saja. Mereka tidak kesepian. Mereka jadi Trendsetter. Aku juga turut bahagia mendengar kabar burung yang berkicau bahwa kehidupan mereka di dunia baru itu merengkuh mereka.
Tiba-tiba.. aku rindu. Aku rindu mereka yang mengisi kekosongan hatiku. Aku rindu di setiap penggalan kenangan yang tersisa. Aku merindukan bagaimana dihukum berjamaah itu kerap terasa. Aku rindu bagaimana rasanya dihukum terlambat dengan para sahabat-sahabat dekatku. Aku rindu...
Setiap pagi, ada saja yang menyapaku. Tersenyum padaku sambil berteriak memanggil namaku bagai makhluk kesurupan. Meneriakkan kata 'Diny !!' lalu menceritakan apa yang mereka alami. Mereka percayakan aku, mereka membaginya padaku. Tiap-tiap penggalan kisah milik mereka. Aku bersyukur karena Tuhan memilihku untuk menyimpan cerita-cerita mereka. Hingga mengubah cita-citaku secara drastis dari yang absurd hingga menjadi seorang psikolog.
Setiap hari, kadangkala ada yang menangis di depanku. Ada pula yang bersikap konyol. Bahkan ada yang diam-diam menyukaiku. Ada yang berotak mesum, ada yang terlihat dewasa, ada yang paling mengayomi aku sebagai makhluk yang lebih muda dari mereka, ada yang mengajarkan aku bahwa hidup ini tidak boleh egois, ada yang membuat aku mengerti mengapa sopan dan santun itu sangat diperlukan, ada yang menemaniku ketika lomba di luar sekolah, ada yang mengajariku teknik menjadi seorang
Di hari ulang tahunku, ini yang paling spesial. Aku diberi mereka kejutan-kejutan yang tak terhingga, mulai dari menyiramku dengan sagu, serta memberiku kue ulang tahun terspesial yang pernah aku cicipi. Bahkan, baru kali pertama.. aku meniup lilin berdua dengan teman sekelasku karena hari ulang tahun kami yang sama. Tanpa di sengaja, kami.. satu kelas.. terkadang memiliki tanggal dan bulan lahir yang identik.
Ada, ketika aku jatuh cinta.. Mereka terkadang jadi pelampiasan tangisku. Bahkan masalahku dengan orangtuaku pun tidak pernah kulewatkan untuk kuceritakan pada mereka. Mereka selalu ada kapanpun aku butuh mereka. Terkadang, saking rindunya kami, kami saling menelepon satu sama lain hingga berjam-jam ketika bulan puasa.
Momen makan bersama di kedai kecil yang sering kami sebut 'Warung Mi Ayam Musi 5A' itu selalu jadi alasan mengapa kami bisa berbagi di sana. Terkadang disana lah setiap rahasia kami dibongkar, setiap cerita terkadang yang tak punya alasan sekalipun di jadikan cerita. Oh Tuhan, mengingat bagaimana kekompakan kami mengikuti lomba kelas terbersih, atau bahkan lomba mading, dan lomba mengumpulkan bungkus permen Relaxa. Jujur, membuka bungkus permen Relaxa itu tidak mudah, tidak boleh digunting dan tidak boleh sobek bagian depannya. Apalagi bungkusnya tidak boleh terputus satu sama lain, hingga kami memenangkan predikat juara mingguan dan mendapatkan hadiah menonton film "Hello, Goodbye" bersama.
Karena mereka, aku mengerti arti kekompakan yang sesungguhnya. Arti persaudaraan bahkan persatuan yang menguatkan kami.
Aku tiba-tiba rindu mereka. Mereka yang selalu ada di sisi ku ketika aku terjatuh, yang tidak hanya ada ketika aku sedang berada di atas. Mereka yang paling sering melihat kekuranganku, berusaha menutupinya dengan cara mereka sendiri. Sejujurnya aku sangat merindukan mereka. Sangat, bahkan aku sempat menangis berhari-hari ketika menjelang perpisahan. Hari ini pun, masih kutitikkan air mataku karena perpisahan kami. Kami ditakdirkan untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang berbeda... Ke dunia yang berbeda. Hingga pada akhirnya, terkadang ada saja.. yang saling melupakan kenangan.
Mereka di sana, kabar mereka baik-baik saja. Mereka tidak kesepian. Mereka jadi Trendsetter. Aku juga turut bahagia mendengar kabar burung yang berkicau bahwa kehidupan mereka di dunia baru itu merengkuh mereka.
Tiba-tiba.. aku rindu. Aku rindu mereka yang mengisi kekosongan hatiku. Aku rindu di setiap penggalan kenangan yang tersisa. Aku merindukan bagaimana dihukum berjamaah itu kerap terasa. Aku rindu bagaimana rasanya dihukum terlambat dengan para sahabat-sahabat dekatku. Aku rindu...



Komentar
Posting Komentar