(Haruskah) Jatuh Cinta?


Source : www.3dwallz.com

Semua berawal dari kebahagiaan kecil di awal Senin. Tanpa hujan, tanpa badai, dan tanpa mentari yang biasanya terik menyambar hangatnya pagi. Piala pertama di tahun 2014, dan beberapa ucapan selamat dari teman-teman membuatku kembali hidup menyelami semangatku yang beberapa bulan kandas. Seakan aku kehilangan arah bergerak, berjalan tanpa menelusuri jejak. Pagi, waktu klise dalam bab pertama novel karya pemula. Tetapi ini memang pagi, kejadiannya pagi, usai upacara atau bahkan masih dalam sesi upacara bendera yang rutin dilaksanakan tiap Senin di negaraku.

Jujur saja, aku memang menunggu datangnya Senin ini. Senin yang tak kuduga akan mempertemukanku denganmu. Padahal rencana awalku menunggu sang Senin bukan untuk menemukan sosokmu dalam sejarah hidupku, melainkan menunggu pengumuman kompetisi intra sekolah yang mengisi kekosongan jadwal usai Ujian Sekolah Semester Gasal.

Baiklah, aku dan kamu, dipertemukan Tuhan tanpa sengaja. Tuhan, sang pemilik skenario terbaik dalam membuat cerita. Aku tidak tahu apa yang Tuhan rencanakan. Namun pertemuan pertamaku denganmu ketika kita sama-sama dipanggil ke depan untuk menggenggam piala hasil jerih payah kita, benar-benar menimbulkan jutaan tanya dalam benakku.  Hatiku bergejolak, riuh minta diperhatikan. Seakan ingin mengenalmu lebih jauh lagi, menyusuri kelak-kelok hari-harimu, dan mungkin mampu menjadi bagian dari tiap-tiap waktumu.

Siapa kamu? Pertanyaan retoris paling mendasar yang ingin kutanyakan padamu. Tetapi sebenarnya, aku tak perlu cari jawabannya. Kau memakai seragam yang berbeda denganku. Ini menandakan bahwa kau dua tingkat lebih tua daripada aku.

Siapa namamu? Apa ekstrakurikulermu? Kamu kelas dua belas berapa? Pertanyaan yang jawabannya baru kutemukan ketika bulan ketiga pertemuanku denganmu. Hasil penelitian lewat Twitter hingga aku tidak tidur semalaman. Hanya ingin mencari tahu, siapa kamu sebenarnya.


***

Senin pagi, ketika pertemuan tanpa sengaja kita berlangsung, aku melihat dirimu, tersenyum, manis. Mata sipitmu seolah menghiasi senyum yang kau umbar, meski bukan untukku. Tetapi biarlah, biarkan piala yang kugenggam saat itu menjadi saksi bisu awal pertemuan kita. Matamu, memang sorot mata teduh yang aku dambakan. Namun satu hal yang paling ingin kutanyakan, mengapa aku tak pernah melihatmu selama enam bulan aku bersekolah disini? Aku yakin kau bukan murid baru, atau aku yang tidak pernah up to date dalam mengenal warga sekolahku sendiri.

Hari berikutnya, aku tidak pernah melihatmu lagi. Namun ketika senin tiba, aku melihatmu merangkul tasmu dan bergegas memasuki gedung yang sama denganku. Kita berada dalam gedung yang sama, mengapa kita tidak pernah bertemu?

Aku hanya diam. Hanya diam saat kau melewatiku. Dan berharap suatu hari punggungmu yang menjauhi langkah kakiku akan berbalik, bibirmu akan terangkat membentuk lengkungan indah menyapaku, dan beratnya suaramu akan memanggil lembut namaku. Namun yang mampu kulakukan hanya diam, diam menatap punggung itu menjauh, seolah meninggalkanku.  Aku tertunduk kala itu, jutaan pertanyaan kembali muncul mencabikku. Apa yang harus aku lakukan?

Source : Google Images


Hari-hari berikutnya, lagi-lagi aku tidak bertemu denganmu. Hingga suatu ketika, aku baru saja keluar dari ruang guru sembari berbicara kepada salah seorang temanku. Tentang kamu.

"Yak, aku penasaran sama dia"

Entah Tuhan punya rencana apa lagi, kau berpapasan denganku. Kau baru ingin memasuki ruang guru dan aku baru keluar dari ruang guru.

"Yak, itu dia orangnya! Kau lihat?" tanyaku sumringah pada temanku. Ia menggeleng, lagi-lagi temanku tidak tahu juga siapa kamu.

Hari demi hari, akhirnya kutemui kamu di pintu Musholla. Tuhan, apalagi rencanaMu kali ini? Aku tengah sendirian kala itu. Dan tahukah kamu bagaimana rasanya jantungku mati rasa?

Terakhir pertemuanku denganmu ketika hari Sabtu kemarin, ketika kamu tengah menjalankan hari terakhir Ujian Sekolah. Aku memang libur, tetapi aku mengemban sebuah amanah dari wali kelasku untuk datang ke sekolah hari itu. Alhasil, aku bertemu kamu! Lagi. Dan akhirnya, aku berhasil membuatmu melihatku. Hanya melihat, sebentar. Tetapi tatapanmu benar-benar membuat bumi yang kupijak seakan berhenti berputar pada porosnya, dan waktu dalam putaran jarum jam membeku.

Akhirnya, dengan izin Tuhan, aku mencari Twittermu. Dapat! Meskipun aku tidak yakin itu milikmu. Aku ragu jika nantinya kejadiannya sama seperti kejadian bulan lalu. Aku menganggap salah satu akun Twitter kakak kelasku adalah akun Twittermu, namun ternyata, kamu dan dia beda individu. Tetapi kuharap apa yang baru saja kutemukan, benar-benar kamu. Benar-benar kamu yang akhir-akhir ini menjadi pengusik syahdu dalam sukmaku.

***

Lampu temaram di kamarku ini tengah berbisik tentangmu, ia mengingatkanku bahwa waktu kita bersama sudah tinggal menghitung hari. Sebentar lagi kamu lulus. Padahal baru tiga bulan aku melihatmu disini. Aku rasanya ingin mencegah kepergianmu meninggalkan sekolah ini, aku ingin melukis setidaknya beberapa memori denganmu. Aku setidaknya mampu bercakap-cakap denganmu meski hanya sedetik. Namun apa? Kau mungkin tak pernah kenal aku, kau mungkin tak pernah tahu aku, dan kau mungkin hanya menganggapku adik kelasmu yang iseng lewat dalam kehidupanmu, dan tak memiliki perasaan apapun padamu.

Dari awal, sorot matamu yang mengajakku ingin tahu tentang dunia yang kau lalui. Aku ingin melihat apa yang kau lihat. Dan aku ingin merasakan apa yang kamu rasakan. Pemuja rahasia seperti aku mungkin tak pernah kau anggap ada.

Namun, haruskah aku jatuh cinta padamu?

Source : Google Images


For you, R -still unofficially name,huh?-

Komentar

Postingan Populer