Sebuket Sakura

Rinai hujan melukis indahnya pemandangan di balik jendela kaca. Samar-samar aku mendengar deru suaranya turun menghunjam bumi. Entahlah, mengapa aku terlalu samar mendengarnya. Seakan bisikkan hatiku lebih kuat dari suara hujan. Seakan ngiangan kalimat demi kalimat terbuai mesra dan bergelayut manja di tiap celah otakku. Cicitan kenari kini tak kudengar seperti biasanya. Mungkin mereka bersembunyi di balik ranting. Bersembunyi menghindari tusukkan air dari atas langit yang mungkin akan mendekam habis suara mereka, melodi merdu yang setiap sore tak luput aku dengarkan.

Ingatkah? Di sore hujan seperti ini, kau memberi sesuatu yang selalu aku banggakan...

Sebuket Sakura..


Source : Google Images
























                                                                             ***

Sembilan tahun yang lalu...

"Untukmu"

Aku tertegun. Sebuket Sakura di dalam genggaman jemarinya benar-benar menghipnotisku. Dan deras hujan yang turun menenggelamkan suaranya ke dalam kebisuan yang terjadi diantara kami. Bajunya basah, aku tahu itu. Begitupun buket Sakura yang tengah ia genggam. Hujan ini bagai saksi bisu perasaanku untuknya. Disini, di warung makan depan sekolah, tempat dimana banyak murid berteduh sejenak menghindari hujan. Aku salah satunya, dan makhluk di depanku ini datang menghampiriku secara tak terduga.

"Happy Valentine" ia angkat bicara lagi, memamerkan senyum termanisnya dan mata sipitnya yang dipadu menjadi satu.

Sedetik. Dua detik. Aku tetap bergeming. Merasakan jantungku berdebar tak karuan. Ingin rasanya  aku menyeka wajah orientalnya yang basah itu, dan memeluknya erat. Memberikan kehangatan pelukanku dalam dinginnya hari ini. Namun yang aku bisa lakukan hanya menatapnya dalam diam, menatap alisnya, dan merasakan sepoi angin membasuh kencang wajahku. Ingin sesekali aku genggam tangannya, tetapi aku sadar, ia bukan mahramku.

"Maaf kak, aku nggak ngerayainnya" ujarku parau, sedikit mengeluarkan senyum tipisku.

Ia menggaruk kepalanya. Seperti merasa bersalah, namun tetap tertawa. "Umm, maaf ya, aku nggak tahu. Tapi, Sakura ini buatmu. Anggap aja, hadiah cuma-cuma"

Aku mengangguk, kemudian mengucapkan terima kasih dan mengambil sebuket Sakura pemberiannya. Demi Allah, ini hadiah pertamaku dari seorang pria. Semasa hidupku, ini kali pertama aku merasakan perasaan aneh yang menyeruak di dalam dadaku. Gembira, tidak mampu dilukis dengan kata-kata. Pria pemberi sebuket Sakura itu merupakan kakak kelasku sendiri.

Namanya Alexander, dua tingkat lebih tua daripada aku. Pemilik kalung salib yang terantai di lehernya itu merupakan sosok yang sering kali kuingat pertama kali saat bangun tidur, dan kuingat terakhir kali sebelum aku terlelap. Aku mengenalnya tanpa sengaja, saat aku dipanggil wali kelasku sendiri untuk membantunya merekapitulasi nilai. Ia datang untuk merekapitulasi nilai kelas dua belas. Awalnya, aku dan dia tidak saling bertegur sapa. Hingga akhirnya, ketika momen perekapitulasian nilai usai, aku berkenalan dengannya. Berawal dari sopirku yang tidak bisa menjemput, tidak ada uang, dan ia, dengan wajah oriental manisnya, menawarkan tumpangan padaku.

"Dijemput, dik?" sapanya. Aku menggeleng, sembari menceritakan keadaanku yang sebenarnya. Memalukan, tragis, seperti minta dikasihani. Tetapi daripada aku tidak bisa pulang? Akhirnya ia mengerti isi hatiku. Ia menawarkan tumpangan dan setelah tiba di rumahku, ia menyodorkan tangannya.

"Alexander Jun"

Aku tidak membalasnya. Bagi agamaku, haram menyentuh seseorang yang bukan mahramnya.

"Siti Humairah" ucapku "Panggil Ira aja, kak"

Ia terlihat keki saat jemarinya tak kusentuh. Maafkan aku. Kemudian, baru kujelaskan padanya bahwa ajaran kami melarang wanita dan laki-laki yang bukan mahram bersentuhan. Ia sepertinya mengerti, dan tetap tersenyum. Senyum termanis yang pernah aku lihat. Tiba dimana saat aku melihat kalung salibnya, hatiku meronta, ia berbeda keyakinan denganku.

"Ra? Melamun ya?"

Alexander membuyarkan lamunanku. Benar, aku melamun. Mengingat bagaimana pertemuan pertama kami. Lalu baru kusadari, hujan telah berhenti, siswa-siswi hanya segelintir yang masih sekadar menunggu di warung depan sekolah ini.

"Umm, gak kak. Ayo pulang kak" ajakku. Tetapi ia bergeming, menatapku lekat-lekat. Subhanallah, wajahnya memang tampan.

"Kak?" panggilku, ia kemudian tersenyum, senyum yang paling aku sukai selama lima bulan terakhir ini.

"Sebentar lagi kakak lulus, Ra. Gak bisa anter jemput kamu lagi. Gak bisa sama-sama kamu lagi" ucapnya tertunduk. Aku mengerti bagaimana perasaannya. Perasaannya memang tidak jauh beda dengan apa yang aku rasakan. Bagaimana jika ia benar-benar tidak bisa bersama lagi denganku? Rasanya aku tidak bisa bayangkan. Cinta memang telah membutakan perasaanku, membekukan hatiku dan terkadang menggelap gulitakan logikaku. Tetapi untungnya, aku tidak pernah terlarut ke dalam gelapnya cinta. Aku bisa membawa diriku. Meskipun Alexander memintaku untuk menjadi pacarnya, aku menolak dan mencoba menjelaskan bahwa di dalam agama yang aku pegang teguh, pacaran itu tidak diperbolehkan. Dan tahukah apa yang paling aku sukai dari dirinya? Ia tidak pernah meminta dua kali. Ia sadar akan agamaku, ia menghargai apa yang aku percayai.

"Kak" aku mencoba menegarkan perasaanku, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. "Sebaiknya kakak jauhi aku"

Perkataanku mungkin menghunus hatinya. Tetapi ketahuilah, mungkin ini jalan yang terbaik untuk kami.

"Kenapa Ra? Aku gak mau Ra! Aku cuma cinta sama kamu. Setidaknya kamu ngerti sama apa yang aku rasain"

Aku mendongak. Menatapnya, menatap alisnya, karena matanya haram ku tatap. "Kak, kita beda kepercayaan. Aku gak mungkin murtad, dan kakak gak mungkin jadi muallaf, aku tahu papanya kakak itu pastor dan kakak jemaat kristen yang taat"

"Nggak, Ra! Tuhan udah mempertemukan kita. Berarti Tuhan punya rencana untuk mempersatukan kita"

Benar, Allah punya rencana. "Tapi kak, Allah punya rencana lain. Allah menguji keimanan kita satu sama lain agar kita tetap taat kepada apa yang telah kita junjung. Ia tengah menguji kita, kak. Ira harap kakak paham"

Ini cinta dua agama. Sulit. Benar-benar sulit. Bagai dimensi bumi tak mungkin lagi menyatu. Hingga aku tak ingin lagi mendengar lanjutan kalimat yang akan ia lontarkan.

"Ra" ia memanggilku, lembut. Demi Allah aku menyukai suaranya.

"Kak, pergilah. Jangan pernah berharap lagi jika nantinya kita punya hubungan, mustahil kak. Allah pasti udah siapin jodoh yang tepat buat kita masing-masing. Kalo tetap kayak gini, semakin lama, kita semakin sakit kak. Ira juga suka sama kakak, tapi kita gak mungkin bisa bersatu"

"Ra"

"Jangan harepin Ira lagi kak"

"Tapi gimanapun keadaannya, aku tetep sayang sama kamu, Ra"

Ia menunduk, membalikkan badan, kemudian kulihat punggung itu menjauh dari jangkauan mataku. Titikkan bening dari mataku sudah tak mampu kubendung lagi. Aku tidak tahu apa-apa setelah itu, aku tidak mendengar kabar apapun lagi dari Alexander. Suatu ketika Yosephine, kakak perempuan Alexander, memberitahuku bahwa pertemuan terakhirku dengan Alexander adalah pertemuanku paling akhir dengannya. Alexander tewas setelah memberi sebuket Sakura untukku. Kecelakaan maut telah menghabisi nyawanya, mengakhiri hidupnya hingga ia belum pernah sekalipun aku sentuh.

                                                                  ***

Sebuket Sakura yang kau beri laksana permata di sanubari. Indah, juga berkesan. Menarik, tanpa alasan.
Sebuket Sakura yang kau beri adalah ucapan perpisahan. Ini klise, aku tahu. Namun Sakura memang ciri kehidupan tidak abadi*
Sakura yang kau beri ibarat lampu temaram yang menyinari secuil ruangan. Ia membuatku nyaman, tapi hanya sebentar ditelan musim. Untungnya kau memberiku Sakura imitasi yang hingga sekarangpun, masih mampu aku simpan.
Tetapi setelah ku terka lagi, kau memang seperti Sakura. Datang dan pergi seenaknya saja. Aku bukan musim yang mudah kau permainkan waktunya.
Aku memang ingin kau pergi, tetapi bukan untuk selamanya. Ketahuilah, bahwa disetiap doa usai shalatku, kuselipkan namamu.


                                                                       THE END

*Montase's Quote, Windry Ramadhina

Komentar

Postingan Populer