You'll Name This What?
Ini berawal dari tiga tahun silam. Tiga tahun usai aku mengalami peristiwa pertama yang benar-benar mengusik keseharianku. Peristiwa yang pada akhirnya menjadi berkelanjutan hingga tiga tahun berikutnya. Seperti sinetron, ia bersambung setiap harinya. Terkadang kuberi jeda sesekali. Namun rutinitas kejadian tersebut hampir selalu ada. Tanpa aku pikirkan dampak buruknya, yang jelas ia hadir menghantui hari-hariku.
Ini semua tentang rasa. Rasa yang tiap harinya membludak. Selama tiga tahun, tak mampu aku pungkiri lagi. Ia terlalu sempurna, menurutku. Rasa cintaku padanya selama tiga tahun itu.. seperti bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki selama bersamaan, juga melayang perlahan seperti balon udara di tepi angkasa. Tak pernah kutemui rasaku itu sepahit obat flu, tetapi terkadang aku juga tidak menemukan manisnya perasaanku melebihi urin orang diabet. Sempurna! Terlalu sempurna. Rasa dengan takaran yang pas.
Aku tahu. Aku jatuh cinta padanya. Dan yang jatuh itu pasti sakit. Tetapi aku tidak ingin sakit. Kumohon pada Tuhan, aku tidak ingin sakit karena tertarik padanya. Kumohon..
Tiga tahun itu, rasaku begitu sempurna. Ketika menatapnya saja, aku bagai terhipnotis masuk ke dalam dunianya. Tuhan.. mengapa aku bisa sebegitu hanyut?
Ia yang aku pikirkan sebelum berangkat sekolah, saat embun pagi masih tersisa diatas dedaunan. Juga selalu jadi yang aku ingin lihat ketika istirahat tiba. Terkadang, ada kalanya aku tidak bisa tidur karenanya. Karena aku ingin cepat pagi. Agar aku mampu bertemu dengannya di sekolah.
Satu hal yang paling menyakitkan, jika ia tidak ada. Dan kadangkala aku ingin sekali tidak masuk sekolah pada hari itu.
Ini semua gara-gara Devi! Ya! Gara-gara Devi Romantika, teman satu kelas, teman satu SMP, sohib karibku itu. Jika bukan karena Devi! Aku tidak akan mungkin tergila-gila hingga sedemikian rupa pada dirinya, pada sosoknya, pada beningnya permukaan kulitnya. Ini semua karena Devi, ia yang menghasutku untuk juga mencintai sesosok yang ia cintai. Terdengar aneh, memang. Tapi ini adanya. Devi dan aku, selalu berbagi cerita tentang dirinya.
Ini semua tentang rasa. Rasa yang tiap hari selalu aku dan Devi alami. Perasaan dag-dig-dug sebelum bertemu dengannya. Di dalam imajinasiku, aku sudah membayangkan pertemuan kami di pojok sekolah. Memang, aku selalu bertemu dengannya di pojok sekolah, paling ujung, di belakang kelas 8.7 . Tiap hari, aku selalu melakukan hal yang sama dengannya. Hal tragis yang kenikmatannya hanya sesaat, hanya ketika di bibir. Ketika bibirku menyentuh lembut permukaan kulitnya, terasa lumer dan begitu menantang adrenalin. Aku melumatnya pelan, hingga timbul suatu ke-sakaw-an yang tak pernah aku temui sebelumnya. Yang membuat hatiku membludak, memuncak hingga kenikmatan itu hanya milik kami berdua. Bagian favoritku adalah menggigiti tubuhnya pelan. Nikmat sekali. Ibarat surga baru saja kulalui.
Ini rahasiaku. Maafkan aku, jika aku telah mengalami hal ini sebelumnya. Mengalami hal ini, hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, kecuali Devi.
Jujur, aku selalu menghabisinya. Terkadang, aku membawanya ke kamarku ketika hari libur tiba. Dan disanalah aksiku dimulai. Ibuku tahu, ayahku tahu, bahkan adikku juga tahu ketika aku membawanya ke kamar tanpa busana lagi. Karena balutan tubuhnya kerap kali aku buka duluan sebelum masuk ke kamarku. Anggota keluargaku tidak marah, mereka tahu, mana yang terbaik untukku. Namun terkadang, ibuku berkata.
"Jangan terlalu keseringan, nanti sakit"
Iya, aku memang sekarang sudah jarang melakukan aksi 'makan' di ranjangku bersamanya. Karena tidak ada lagi yang memprovokatori perasaanku seperti dulu, ketika rasaku pada dirinya membludak. Sekarang, perasaan ketika bertemu dengannya, hanya sebatas memori. Dan rasanya aku ingin meneteskan air mataku saja ketika aku melihat ia dengan dibungkus busananya, berjejer rapi di barisan supermarket.
Well, itulah kenikmatan tak terhingga yang ditawarkan Indomie rasa Mie Celor khas Sumatera Selatan itu. Tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata lagi. Ia terlalu sempurna untuk takaranku. Dan di pojok sekolah, tempat dimana kantin SMPku berdiri kokoh, aku... selalu bertemu dengannya disana. Sekarang tiada lagi. Tiada bisa aku bertemu dengannya lagi setiap hari seperti tiga tahun yang telah kualami sebelumnya. Dan sekarang, meski liburpun, sudah jarang aku melakukan aksi makan mie celor diatas ranjangku sembari menonton televisi seperti sebelum-sebelumnya.
Terimakasih Indomie Mie Celor. Atas tiga tahun kenangan cinta terindah yang kau lukis. Aku sungguh mencintaimu...
Ini semua tentang rasa. Rasa yang tiap harinya membludak. Selama tiga tahun, tak mampu aku pungkiri lagi. Ia terlalu sempurna, menurutku. Rasa cintaku padanya selama tiga tahun itu.. seperti bom atom yang jatuh di Hiroshima dan Nagasaki selama bersamaan, juga melayang perlahan seperti balon udara di tepi angkasa. Tak pernah kutemui rasaku itu sepahit obat flu, tetapi terkadang aku juga tidak menemukan manisnya perasaanku melebihi urin orang diabet. Sempurna! Terlalu sempurna. Rasa dengan takaran yang pas.
Aku tahu. Aku jatuh cinta padanya. Dan yang jatuh itu pasti sakit. Tetapi aku tidak ingin sakit. Kumohon pada Tuhan, aku tidak ingin sakit karena tertarik padanya. Kumohon..
Tiga tahun itu, rasaku begitu sempurna. Ketika menatapnya saja, aku bagai terhipnotis masuk ke dalam dunianya. Tuhan.. mengapa aku bisa sebegitu hanyut?
Ia yang aku pikirkan sebelum berangkat sekolah, saat embun pagi masih tersisa diatas dedaunan. Juga selalu jadi yang aku ingin lihat ketika istirahat tiba. Terkadang, ada kalanya aku tidak bisa tidur karenanya. Karena aku ingin cepat pagi. Agar aku mampu bertemu dengannya di sekolah.
Satu hal yang paling menyakitkan, jika ia tidak ada. Dan kadangkala aku ingin sekali tidak masuk sekolah pada hari itu.
Ini semua gara-gara Devi! Ya! Gara-gara Devi Romantika, teman satu kelas, teman satu SMP, sohib karibku itu. Jika bukan karena Devi! Aku tidak akan mungkin tergila-gila hingga sedemikian rupa pada dirinya, pada sosoknya, pada beningnya permukaan kulitnya. Ini semua karena Devi, ia yang menghasutku untuk juga mencintai sesosok yang ia cintai. Terdengar aneh, memang. Tapi ini adanya. Devi dan aku, selalu berbagi cerita tentang dirinya.
Ini semua tentang rasa. Rasa yang tiap hari selalu aku dan Devi alami. Perasaan dag-dig-dug sebelum bertemu dengannya. Di dalam imajinasiku, aku sudah membayangkan pertemuan kami di pojok sekolah. Memang, aku selalu bertemu dengannya di pojok sekolah, paling ujung, di belakang kelas 8.7 . Tiap hari, aku selalu melakukan hal yang sama dengannya. Hal tragis yang kenikmatannya hanya sesaat, hanya ketika di bibir. Ketika bibirku menyentuh lembut permukaan kulitnya, terasa lumer dan begitu menantang adrenalin. Aku melumatnya pelan, hingga timbul suatu ke-sakaw-an yang tak pernah aku temui sebelumnya. Yang membuat hatiku membludak, memuncak hingga kenikmatan itu hanya milik kami berdua. Bagian favoritku adalah menggigiti tubuhnya pelan. Nikmat sekali. Ibarat surga baru saja kulalui.
Ini rahasiaku. Maafkan aku, jika aku telah mengalami hal ini sebelumnya. Mengalami hal ini, hal yang tak pernah aku ceritakan kepada siapapun, kecuali Devi.
Jujur, aku selalu menghabisinya. Terkadang, aku membawanya ke kamarku ketika hari libur tiba. Dan disanalah aksiku dimulai. Ibuku tahu, ayahku tahu, bahkan adikku juga tahu ketika aku membawanya ke kamar tanpa busana lagi. Karena balutan tubuhnya kerap kali aku buka duluan sebelum masuk ke kamarku. Anggota keluargaku tidak marah, mereka tahu, mana yang terbaik untukku. Namun terkadang, ibuku berkata.
"Jangan terlalu keseringan, nanti sakit"
Iya, aku memang sekarang sudah jarang melakukan aksi 'makan' di ranjangku bersamanya. Karena tidak ada lagi yang memprovokatori perasaanku seperti dulu, ketika rasaku pada dirinya membludak. Sekarang, perasaan ketika bertemu dengannya, hanya sebatas memori. Dan rasanya aku ingin meneteskan air mataku saja ketika aku melihat ia dengan dibungkus busananya, berjejer rapi di barisan supermarket.
Well, itulah kenikmatan tak terhingga yang ditawarkan Indomie rasa Mie Celor khas Sumatera Selatan itu. Tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata lagi. Ia terlalu sempurna untuk takaranku. Dan di pojok sekolah, tempat dimana kantin SMPku berdiri kokoh, aku... selalu bertemu dengannya disana. Sekarang tiada lagi. Tiada bisa aku bertemu dengannya lagi setiap hari seperti tiga tahun yang telah kualami sebelumnya. Dan sekarang, meski liburpun, sudah jarang aku melakukan aksi makan mie celor diatas ranjangku sembari menonton televisi seperti sebelum-sebelumnya.
Terimakasih Indomie Mie Celor. Atas tiga tahun kenangan cinta terindah yang kau lukis. Aku sungguh mencintaimu...

Komentar
Posting Komentar