Pelangi di Matamu *Part 2
[PART 1, Here]
Mungkin Sabtu nanti
Kuungkap semua
Isi di hati
Dan aku benci
Harus jujur padamu, tentang semua ini..
Kejadian pertemuan di musholla itu benar-benar membekas dalam memoriku, melantun seolah ia lagu paling syahdu, dan jadi inspirasi yang tiap hari siap aku serbu. Aku masih ingat bagaimana Tuhan menggoreskan mata sipit dalam wajahnya yang tegas. Tatapan matanya yang dalam itu mengajakku untuk hanyut ke dalam dunianya.
Aku belum tahu siapa dia, aku tidak tahu namanya. Selama empat bulan terakhir ini, paling hanya beberapa kali aku melihatnya di sekolah. Itu pun ia hanya lewat. Sekilas seperti piasan cahaya pagi yang menyela dari bilah-bilah gorden kelasku. Meskipun kesempatanku yang bisa dibilang sangat kecil untuk bertemu lagi dengannya, kerap membuatku tak kunjung rapuh. Aku terus mencoba, mencari cara yang tepat agar aku bisa mengenalnya lebih jauh lagi.
Ini hari Sabtu, hari penghujung pekan. Suasana hari ini mendung, tak usah dijelaskan. Yang jelas, aku ingin sekali tahu nama sosok yang pernah kutemui di musholla kala itu. Dengan semangat yang beberapa hari ini telah aku susun secara apik, aku siap, bagaimanapun resikonya, bagaimanapun nantinya, aku siap menyapa sosok itu terlebih dahulu ketika aku bertemu lagi dengannya. Sebenarnya aku ragu untuk menyapa pria itu lagi, namun waktuku bersamanya tinggal menghitung hari. Aku tidak ingin ia meluluskan studinya disini sementara aku belum mengetahui namanya, nama dia, sosok itu, yang mengusikku dalam diam, yang melukiskan semburat bias cahaya warna-warni yang hadir dalam tatapan matanya. Dan sasaran pertamaku untuk mencarinya adalah musholla, karena mungkin ia akan betah berlama-lama disana, diselimuti dengan cahaya lampu temaram yang remang, hal yang paling aku suka. Ya, musholla. Aku memang sudah jarang sekali kesana untuk shalat Dhuha semenjak pertemuanku dengannya, karena aku harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah yang tak mungkin aku kerjakan di rumah.
***
Tak sampai sepuluh menit, sosok itu datang. Benar, kan? Tuhan punya rencana yang tidak pernah aku ketahui. Tapi aku yakin, Tuhan pasti akan memberikan jalanNya yang terbaik untukku. Sosok itu, lelaki bermata sipit dengan rahang tegas dan senyum mematikan, berjalan ke arah tempat pengambilan wudhu, setelah sebelumnya ia menyampirkan sepatunya di rak dekat pintu masuk pria. Aku menghembus nafas pelan. Mencoba meneraturkan degupan jantungku yang tak teratur.
Semenit, dua menit. Ia kembali dari tempat pengambilan wudhu. Matanya menerawang ke arah langit-langit musholla, kemudian ke shaf wanita, ia melihatku. Aku berusaha menyunggingkan senyumku, lalu mendekat ke arahnya.
"Raya?" ia sedikit menekankan kata 'Raya' dan seakan ingin meyakinkan bahwa aku lah Raya, orang yang pernah ia temui empat bulan yang lalu disini.
Aku mengangguk, kemudian mengangkat kedua ujung bibirku, tipis. "Nama kakak siapa?"
"Ferdinand Samuel" ucapnya "Panggil saja Samuel"
Aku mengernyit.
"Aneh ya? Hehe" ia tertawa garing, membuat matanya yang setengah terbuka itu bagai benar-benar tertutup rapat "Aku baru masuk Islam, enam bulan yang lalu"
Aku mengucapkan kata oh yang tidak terdengar, mungkin terlihat seperti aku tengah mengucapkan huruf o.
"Rosario yang kamu pegang itu, kalau dalam Islam namanya apa?" ia berkata sembari menunjuk tasbih yang tengah aku pegang.
"Oh, ini tasbih kak" ucapku, masih dengan senyum yang mengembang.
Ia mendekat, menatapku lekat. Seolah ada sesuatu mengganjal yang ingin ia lontarkan dari sorotan mata pelanginya "Ray, ajari aku Islam"
Ia kemudian membalikkan badan sebelum aku merespon, lalu menghadap kiblat dan bertakbir. Subhanallah, aku bisa merasakan kedamaian dalam hatinya. Mungkin ini yang Tuhanku inginkan, Allah ingin aku membimbingnya, membimbing seorang muallaf yang mungkin akan jadi penghias hatiku untuk selamanya.
Terkhusus untuk Tuhanku, terima kasih telah mempertemukanku dengan pria yang aku impikan. Terima kasih telah membuat perkenalan singkat ini lebih berarti, dan terima kasih telah menciptakan pelangi di dalam bola matanya. Semoga kedepannya, Engkau memberikan sebuah rencana bahagia yang Engkau khususkan untukku.
Mungkin Sabtu nanti
Kuungkap semua
Isi di hati
Dan aku benci
Harus jujur padamu, tentang semua ini..
Kejadian pertemuan di musholla itu benar-benar membekas dalam memoriku, melantun seolah ia lagu paling syahdu, dan jadi inspirasi yang tiap hari siap aku serbu. Aku masih ingat bagaimana Tuhan menggoreskan mata sipit dalam wajahnya yang tegas. Tatapan matanya yang dalam itu mengajakku untuk hanyut ke dalam dunianya.
Aku belum tahu siapa dia, aku tidak tahu namanya. Selama empat bulan terakhir ini, paling hanya beberapa kali aku melihatnya di sekolah. Itu pun ia hanya lewat. Sekilas seperti piasan cahaya pagi yang menyela dari bilah-bilah gorden kelasku. Meskipun kesempatanku yang bisa dibilang sangat kecil untuk bertemu lagi dengannya, kerap membuatku tak kunjung rapuh. Aku terus mencoba, mencari cara yang tepat agar aku bisa mengenalnya lebih jauh lagi.
Ini hari Sabtu, hari penghujung pekan. Suasana hari ini mendung, tak usah dijelaskan. Yang jelas, aku ingin sekali tahu nama sosok yang pernah kutemui di musholla kala itu. Dengan semangat yang beberapa hari ini telah aku susun secara apik, aku siap, bagaimanapun resikonya, bagaimanapun nantinya, aku siap menyapa sosok itu terlebih dahulu ketika aku bertemu lagi dengannya. Sebenarnya aku ragu untuk menyapa pria itu lagi, namun waktuku bersamanya tinggal menghitung hari. Aku tidak ingin ia meluluskan studinya disini sementara aku belum mengetahui namanya, nama dia, sosok itu, yang mengusikku dalam diam, yang melukiskan semburat bias cahaya warna-warni yang hadir dalam tatapan matanya. Dan sasaran pertamaku untuk mencarinya adalah musholla, karena mungkin ia akan betah berlama-lama disana, diselimuti dengan cahaya lampu temaram yang remang, hal yang paling aku suka. Ya, musholla. Aku memang sudah jarang sekali kesana untuk shalat Dhuha semenjak pertemuanku dengannya, karena aku harus menyelesaikan setumpuk pekerjaan rumah yang tak mungkin aku kerjakan di rumah.
***
Tak sampai sepuluh menit, sosok itu datang. Benar, kan? Tuhan punya rencana yang tidak pernah aku ketahui. Tapi aku yakin, Tuhan pasti akan memberikan jalanNya yang terbaik untukku. Sosok itu, lelaki bermata sipit dengan rahang tegas dan senyum mematikan, berjalan ke arah tempat pengambilan wudhu, setelah sebelumnya ia menyampirkan sepatunya di rak dekat pintu masuk pria. Aku menghembus nafas pelan. Mencoba meneraturkan degupan jantungku yang tak teratur.
Semenit, dua menit. Ia kembali dari tempat pengambilan wudhu. Matanya menerawang ke arah langit-langit musholla, kemudian ke shaf wanita, ia melihatku. Aku berusaha menyunggingkan senyumku, lalu mendekat ke arahnya.
"Raya?" ia sedikit menekankan kata 'Raya' dan seakan ingin meyakinkan bahwa aku lah Raya, orang yang pernah ia temui empat bulan yang lalu disini.
Aku mengangguk, kemudian mengangkat kedua ujung bibirku, tipis. "Nama kakak siapa?"
"Ferdinand Samuel" ucapnya "Panggil saja Samuel"
Aku mengernyit.
"Aneh ya? Hehe" ia tertawa garing, membuat matanya yang setengah terbuka itu bagai benar-benar tertutup rapat "Aku baru masuk Islam, enam bulan yang lalu"
Aku mengucapkan kata oh yang tidak terdengar, mungkin terlihat seperti aku tengah mengucapkan huruf o.
"Rosario yang kamu pegang itu, kalau dalam Islam namanya apa?" ia berkata sembari menunjuk tasbih yang tengah aku pegang.
"Oh, ini tasbih kak" ucapku, masih dengan senyum yang mengembang.
Ia mendekat, menatapku lekat. Seolah ada sesuatu mengganjal yang ingin ia lontarkan dari sorotan mata pelanginya "Ray, ajari aku Islam"
Ia kemudian membalikkan badan sebelum aku merespon, lalu menghadap kiblat dan bertakbir. Subhanallah, aku bisa merasakan kedamaian dalam hatinya. Mungkin ini yang Tuhanku inginkan, Allah ingin aku membimbingnya, membimbing seorang muallaf yang mungkin akan jadi penghias hatiku untuk selamanya.
Terkhusus untuk Tuhanku, terima kasih telah mempertemukanku dengan pria yang aku impikan. Terima kasih telah membuat perkenalan singkat ini lebih berarti, dan terima kasih telah menciptakan pelangi di dalam bola matanya. Semoga kedepannya, Engkau memberikan sebuah rencana bahagia yang Engkau khususkan untukku.

Komentar
Posting Komentar