Secangkir Kopi

Kamu menyukai kopi pahit dengan setengah sendok gula pasir di dalamnya. Kopi hitam bagai candu buatmu. Kamu menyukai gelasmu berwarna hijau porselen, dengan bibir gelas yang tidak terlalu lebar. Kamu pun tahu aku pecinta Cappucino ditambah cincau. Tidak terlalu manis dengan taburan choco granule di atasnya.

Di bawah pohon persik dekat perpustakaan, kita selalu menyesap kopi bersama. Obrolan-obrolan ringan yang kita ciptakan, hingga ke obrolan terberat sekalipun, sering kita bagi disini. Seakan kita diciptakan untuk saling melengkapi.

Sebelum pergi ke tempat ini, kita selalu memesan kopi di kantin. Namun kopi yang kamu pesan bukan untukmu, melainkan untukku. Begitupun sebaliknya. Meskipun kita tidak pernah terlihat berjalan beriringan ke kantin, namun kita selalu saja, saling menunggu di bawah pohon persik yang persiknya akan mulai tumbuh ketika bulan September, lalu berbuah di bulan November, bulan lahir kita.

Orang-orang tidak perlu tahu bahwa kita berdua sering ke tempat ini. Menyesap kopi bersama. Melahirkan ide-ide baru mengenai tulisanku, yang juga buah pemikiranmu. Yang orang tahu, kita adalah makhluk yang tidak saling mengenal.

Setahun, dua tahun. Kita tetap seperti ini, saling menunggu tanpa memiliki komitmen. Lambat laun muncul sebongkah perasaan yang tak bisa aku tunda. Aku sudah terlalu nyaman, nyaman denganmu, nyaman dengan percakapan kita, nyaman dengan secangkir kopi yang kita sesapi bersama. Perasaan nyaman telah memelukku tanpa tahu kapan harus berhenti. Lalu berkembang menjadi suatu perasaan yang lebih kompleks, mencintai.

Suatu ketika, aku pikir bahwa kamu memiliki perasaan yang sama dengan yang aku rasakan. Tetapi nyatanya cintaku satu arah, tidak ada timbal balik. Kamu hanya nyaman denganku, tapi tidak dalam konteks mencintai. Seperti kata pujangga, mencintaimu seperti memeluk duri kaktus, semakin kuat aku memelukmu maka semakin sakit pula yang aku rasakan. Hingga aku tidak pernah sadar bahwa rasaku telah sedalam ini.

Di tahun terakhir kita sekolah, kamu mengenalkan Tasha padaku. Dia anggun, kuakui. Wajahnya oval dengan alis tebal dan mata bulat. Hidungnya mancung dan kulitnya sebening kapas. Hingga yang tak pernah aku bayangkan bahwa dalam skenario cerita hidupku, kamu dengan mudah memperkenalkan Tasha sebagai kekasihmu.

Rasanya sakit bukan main. Duri-duri kaktus telah menembus pori-pori kulitku, juga melukainya. Dan secangkir kopi yang kini kunikmati di bawah pohon persik dekat perpustakaan, tak lagi sama, terasa hambar. Manis pahitnya telah kamu renggut tanpa sisa.

Komentar

Postingan Populer