Terjebak Nostalgia
Aku ingin sekali bertanya pada para pencetus sajak. Paragraf yang bagaimanakah yang cocok untuk melukismu? Namun tak satupun yang tahu bagaimana melukismu dengan kata. Kau terlalu sempurna untuk kudeskripsikan. Juga terlalu dini untuk kulepaskan.
Benar, kau sudah kulepaskan.
Tanpa syarat, kau pelan-pelan menyisakan kenangan. Hingga suatu malam, kau tidak menemaniku lagi. Hanya sepi yang mondar-mandir di kehidupanku. Secangkir kopi pun tak kuhabiskan bersamamu. Senyummu, tawamu, tangismu, seakan telah kumiliki. Kau pendengar yang hebat, pemberi saran yang bijak. Kau juga yang cerita-ceritanya selalu kunanti. Kau penganut frontalisasi terkejam. Namun setelah denganku, bersamaku, kau redam hal itu. Kau memang yang paling tahu tentangku. Tentang aku yang suka menulis ditemani secangkir cappucino, juga aku yang selalu masuk UKS setiap bulan karena kedatangan tamu, dan aku yang cintanya hampir selalu bertepuk sebelah tangan.
Demi Tuhan, aku merindumu.
Perpisahan telah merombak segalanya. Kini kau bukan lagi bersamaku. Tiga tahun yang kita jalani bersama seakan kandas, tak pernah kau intip sisanya lagi. Bagimu, perpisahan kita adalah kenangan. Namun bagiku, perpisahan kita adalah cobaan.
Setelah perpisahan kita, kau bersamanya, sahabat barumu. Yang jauh lebih segalanya dibanding aku. Sedangkan aku? Aku hanya makhluk yang tak lagi dengan leluasa bisa membagi keluh kesahnya padamu. Entah kau yang menciptakan jarak, atau dalam paragraf, kau menciptakan spasi.
Intinya, aku sudah melepaskanmu. Namun pikiranku masih tak mampu mengusirmu. Hatiku masih memutar memori tentangmu. Ragaku masih ingin mendekapmu. Juga jiwaku masih ingin bercerita denganmu. Tetapi aku sadar, aku tak berhak mengusikmu.
Aku hanyalah masa lalu. Juga masih terjebak masa lalu.
Dan kau mencoba membuat masa depan.
Jujur, kau kejam. Kau tinggalkan aku bersama puing-puing nostalgia yang mengikatku. Sedangkan kau sendiri pergi dengan yang baru.
Benar, kau sudah kulepaskan.
Tanpa syarat, kau pelan-pelan menyisakan kenangan. Hingga suatu malam, kau tidak menemaniku lagi. Hanya sepi yang mondar-mandir di kehidupanku. Secangkir kopi pun tak kuhabiskan bersamamu. Senyummu, tawamu, tangismu, seakan telah kumiliki. Kau pendengar yang hebat, pemberi saran yang bijak. Kau juga yang cerita-ceritanya selalu kunanti. Kau penganut frontalisasi terkejam. Namun setelah denganku, bersamaku, kau redam hal itu. Kau memang yang paling tahu tentangku. Tentang aku yang suka menulis ditemani secangkir cappucino, juga aku yang selalu masuk UKS setiap bulan karena kedatangan tamu, dan aku yang cintanya hampir selalu bertepuk sebelah tangan.
Demi Tuhan, aku merindumu.
Perpisahan telah merombak segalanya. Kini kau bukan lagi bersamaku. Tiga tahun yang kita jalani bersama seakan kandas, tak pernah kau intip sisanya lagi. Bagimu, perpisahan kita adalah kenangan. Namun bagiku, perpisahan kita adalah cobaan.
Setelah perpisahan kita, kau bersamanya, sahabat barumu. Yang jauh lebih segalanya dibanding aku. Sedangkan aku? Aku hanya makhluk yang tak lagi dengan leluasa bisa membagi keluh kesahnya padamu. Entah kau yang menciptakan jarak, atau dalam paragraf, kau menciptakan spasi.
Intinya, aku sudah melepaskanmu. Namun pikiranku masih tak mampu mengusirmu. Hatiku masih memutar memori tentangmu. Ragaku masih ingin mendekapmu. Juga jiwaku masih ingin bercerita denganmu. Tetapi aku sadar, aku tak berhak mengusikmu.
Aku hanyalah masa lalu. Juga masih terjebak masa lalu.
Dan kau mencoba membuat masa depan.
Jujur, kau kejam. Kau tinggalkan aku bersama puing-puing nostalgia yang mengikatku. Sedangkan kau sendiri pergi dengan yang baru.

Komentar
Posting Komentar