Persembahan Tahun Baru
Teruntuk teman-teman seperjuangan, apa kabar? Terkadang dalam benak ini ingin sekali kudengar suara tawamu. Apakah kalian masih sama seperti yang terakhir kali kulihat? Oh ya, aku sudah menerima surat kelulusanku. Hasilnya, kita tidak bisa bertemu kembali di orientasi nasional. Atau mungkin masih ada secercah asa namun kemungkinannya hanya 0,1 %. Cukup mustahil, bukan?
Hari ini aku hanya ditemani remangnya malam. Sembari sedikit kusesapi Cappuccino yang biasanya menemaniku dalam menulis. Dan dalam tulisan ini aku hanya ingin berucap terima kasih. Terima kasih telah menjadi bagian dari kepingan memoriku. Ternyata tiga hari cukup membekas, ya. Entah kapan lagi aku mampu bertemu kalian. Setahun, dua tahun, tiga puluh tahun lagi, entahlah. Yang jelas, setiap pertemuan akan menyisakan perpisahan.
Untuk Apon, terima kasih telah banyak bercerita tentang Aceh. Kau telah banyak membagi ilmu selama tiga hari bersama. Karenamu, wawasanku jadi terbuka. Kau laksana pengobar semangat yang tak pernah padam.
Untuk Fikri, terima kasih atas semuanya. Payphone-Maroon 5 yang biasanya kau nyanyikan, masih terngiang jelas di telingaku. Terima kasih telah jadi penghibur dikala sepi. Terima kasih telah meluangkan sejenak waktumu untukku. Terima kasih telah berniat meminjamkan sandalmu. Rasanya terima kasih tidaklah cukup untuk membalas apa yang kau beri untukku.
Untuk Mulqan, terima kasih videonya. Aku begitu terhibur. Aku senang memiliki teman sepertimu. Aku tahu, kau pemalu. Namun dibalik itu semua kau adalah pribadi yang ceria. Mulqan, terima kasih telah rela menjadi temanku. Terima kasih.
Untuk Sisil, terima kasih waktu senggangnya. Kau memang psikolog cinta paling baik yang pernah kukenal. Terima kasih telah setia mendukung kasus percintaanku. Terima kasih karena rela mendengar curahan hatiku. Terima kasih untuk beberapa jam di kamarmu yang takkan pernah kulupa. Sisil, andai sang waktu tidak kejam, boleh kita bertemu kembali?
Untuk Rifa, terima kasih telah meramaikan berbagai grup. Ketahuilah, bahwa aku sungguh mengagumi bahasa inggrismu. Kau teman yang baik, aku tahu. Terima kasih atas waktunya, terima kasih karena telah rela panik bersama karena tidak dapat email. Terima kasih atas semuanya. Candamu yang sering kali membuatku terkikik geli. Kau benar-benar menghibur.
Untuk Abi Afgan alias Ican, terima kasih telah menjadi abi yang baik. Terima kasih telah memotivator selama ini. Terima kasih telah mendengar curhatan-curhatan kecil dari hati ini. Terima kasih telah menjadi penghibur sendu. Terima kasih atas semuanya, kebaikanmu, mulai dari hal yang paling kecil. Terima kasih.
Untuk Virgina, terima kasih. Karena tingkah kecilmu lah, kedua sudut bibir ini terangkat. Kau polos, terkadang aku memang menganggapmu sebagai adikku sendiri. Terima kasih, kau benar-benar menggoreskan warna di hidupku.
Untuk Irda dan Rahmi, kita mungkin tidak terlalu dekat. Namun ada kalanya percakapan-percakapan yang tercipta antara kita di wisma membuatku begitu nyaman. Terima kasih, telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah menjadi temanku. Aku, bahagia.
Untuk Usi, aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu. Kau amat baik, sungguh. Aku masih ingat kau menuntunku ketika mataku hampir sama sekali tidak bisa melihat malam itu. Kau ingat? Malam kepulangan kita dari Bandara. Terima kasih telah menghubungiku H-1 sebelum keberangkatan, sehingga aku akhirnya punya teman dekat. Terkadang kau memang sering membuatku tersenyum lantaran kata-katamu. Kau begitu menghibur. Terima kasih.
Untuk Rilvan, terima kasih atas semuanya. Ya, semuanya. Mulai dari tisu (mungkin kau sudah lupa momen ini), dan telah menemukan kunci kamarku di ruang makan. Terima kasih karena percakapan kita di pesawat, jarak antara Jakarta dan Palembang seakan tiada lagi. Terima kasih atas semuanya, semua yang telah kau beri untukku. Terima kasih. Kau terlalu baik. Namun sayang, sepertinya kita tidak bisa duduk berdua lagi di pesawat, tidak bisa bercerita mengenai mimpi masing-masing lagi. Aku hanya ingin berucap terima kasih.
Untuk Boby, terima kasih sandalnya. Tanpa sandal itu mungkin aku hanya mampu menelan malu dari Soekarno Hatta menuju Sultan Mahmud Badaruddin II. Kau benar-benar menyelamatkan hidupku. Terima kasih juga telah menjadi teman yang baik. Terima kasih telah menghubungiku H-1 sehingga aku juga memiliki teman. Terima kasih telah menjadi partner berbahasa Palembang ketika di depan teman-teman yang lain.
Untuk Ferro, terima kasih payungnya, mapnya, mungkin tanpa map itu aku bisa habis ditelan panitia. Atau memang nyawaku sudah habis karena tidak membawa map itu, entahlah. Dan terima kasih telah mengurus bagasi dan tiket selama pulang pergi. Terima kasih telah rela kutitipi berkas untuk dikirim ke chapter. Terima kasih semuanya.
Untuk Divi, Tamara, dan Aulia. Terima kasih telah menjadi teman satu chapter yang baik. Terima kasih atas momen-momennya. Terutama ketika momen menunggu di snack corner Soekarno Hatta. Aku tersenyum sendiri melihat tingkah kalian ketika ditelepon teman satu angkatan kalian. Kalian begitu antusias. Terima kasih telah menjadi pewarna dalam hidupku.
Untuk Khevin, terima kasih telah menemaniku dalam berbagai momen. Terima kasih telah menjadi teman sebangku di bis. Rasanya perjalanan dari Soekarno Hatta ke Cipete tidak ada jaraknya lagi. Percakapan kita begitu menyenangkan. Terima kasih telah rela menemaniku membeli sandal di Seokarno Hatta. Terima kasih telah rela ingin meminjamkan sandalmu. Terima kasih atas segalanya, terima kasih karena kau telah menyingkirkan kucing dari jangkauan mataku. Terima kasih.
Untuk Ellen. Kau pribadi yang begitu perhatian. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Kau baik, suaramu seindah matamu. Kau juga motivator, penghibur dikala sepi. Untuk itu aku ingin berterima kasih atas waktunya. Terima kasih kepada setiap momen dan percakapan yang pernah kita lewati.
Untuk Rahmat. Ketahuilah bahwa orang dari chapter lain pertama yang akrab denganku adalah kamu. Terima kasih atas seluruh cerita yang kau bagi, terima kasih atas obrolan bahkan percakapan kita di Bandara, aku jadi banyak tahu mengenai Bangka. Dan oh ya, terima kasih telah mengingat nama Drumband SMA-ku. Terima kasih. Aku tahu kau memang cerdas, kau bahkan dengan mudahnya mengingat apapun yang telah kau baca. Terima kasih telah menjadi teman yang baik.
Untuk Indah, terima kasih. Kau baik sekali, sungguh. Kau dengan relanya ingin meminjamkan sepatumu untukku. Terima kasih atas cerita-cerita yang pernah kita bagi di wisma, apalagi waktu menunggu tes. Kau teman yang baik, terima kasih. Niat baikmu tidak pernah luput dalam ingatanku.
Untuk Humaira, terima kasih atas seluruh percakapan yang pernah kita jalani. Terima kasih telah menjadi teman yang baik, terima kasih telah menjadi tempat bertukar kisah. Terima kasih telah membaca seluruh chat grup meskipun kamu adalah reader tersilent. Terima kasih.
Untuk Mami Maudy Ayunda alias Yeni, you're such a great person. Terima kasih mami, tanpamu mungkin Batch 3 tidak akan semeriah ini. Terima kasih atas pelukan dan rintik tangis dari matamu sebelum kita berpisah. Terima kasih telah meluangkan waktumu untukku, untuk sekadar mendengar cerita-cerita kecilku. Untuk Skype nya, untuk curhatannya. Semuanya, terima kasih, Mi. Aku bahagia memiliki mami yang hebat sepertimu. Terima kasih juga kau telah jadi teman Dinamika Kelompok yang baik. Terima kasih, Mi. Rasanya terima kasih tidak cukup untuk membalas kebaikanmu.
Untuk Jessica, leader 1320, teman sekamar yang baik. Kau tahu, dua malam bersamamu telah mengukir jutaan kisah. Cerita-cerita kita malam itu tidak akan pernah luput dalam memoriku. Semua tentang dunia tulis menulis, aku bagi denganmu. Kamu motivator, pemberi saran yang baik, pendengar yang baik, penerka yang baik. Terima kasih, terima kasih telah menjadi bagian dari tiga hari yang begitu mengesankan. Entah kapan kita bisa bertemu kembali, bercerita kembali secara langsung. Rindu dalam dada ini telah membuncah. Jessica, terima kasih atas segalanya.
Untuk Anggita, roommate 1320. Bercerita denganmu membuka wawasan. Kita bertiga banyak bercerita mengenai hal yang tidak orang lain tahu. Kisah cinta memang layak untuk kubagi denganmu. Terima kasih, terima kasih telah menjadi roommate yang baik. Terima kasih untuk bait-bait lagu Korea yang sering kita nyanyikan bersama. Terima kasih telah mendengarkan keluh kesah, cerita-cerita kecil, bahkan setiap penggalan momen yang pernah kita lalui. Terima kasih untuk setiap celotehan-celotehan ringan di Wisma Handayani. Terima kasih.
Untuk Cathay. Kau tahu, kau adalah gadis hebat yang pernah kukenal. Wawasanmu luas, kau pandai. Terima kasih atas bagian dari cerita-ceritamu. Terima kasih telah mendengarkan curhatan kecilku. Terima kasih telah rela meluangkan waktu untukku. Terima kasih atas segalanya. Bagiku, kau juga pembangkit semangat, peneman sepi.
Untuk Ari, terima kasih ilmu tari Balinya. Tidak akan pernah kulupa. Kau mengajariku setidaknya pembukaan dalam tarian Bali. Terima kasih, terima kasih atas momen yang pernah kau bagi denganku.
Untuk adikku Rilen, terima kasih telah mengajariku Bahasa Kupang. Banyak ilmu yang kudapat darimu. Kau benar-benar seperti adikku. Terima kasih atas momen dan percakapan-percakapan kita. Terima kasih atas segala yang pernah kau beri untukku.
Untuk Helena, aku masih ingat bagaimana kamu mengajariku logat "Be mo makan" ketika di Bandara kemarin. Sosok terimut yang pernah kukenal, ya kamu. Terima kasih atas segalanya, terima kasih juga telah mengajariku bahasa dan logat Kupang. Terima kasih.
Untuk Talitha, terima kasih atas momennya, percakapan yang pernah kita lalui bersama. Mungkin kita tidak terlalu banyak bercakap-cakap ketika di wisma, namun ketahuilah setiap detik yang pernah kita jalani, aku harus berterima kasih. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku.
Untuk Octho, terima kasih telah mendengarkan ceritaku dan menanggapi ceritaku di River of Life. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah menjadi partner yang baik di Dinamika Kelompok. Terima kasih atas cerita-ceritamu, aku jadi banyak tahu tentang kehidupan Maumere karenamu. Terima kasih.
Untuk Husain. Hey, terima kasih momennya. Terima kasih telah menjalin banyak percakapan denganku, terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Setidaknya seluruh kegiatan yang terjadi ketika kita menunggu interview benar-benar mengesankan. Terima kasih telah bertanya alamat rumahku. Terima kasih atas cerita-ceritanya, lagu koreanya, dan serpihan tulisan-tulisan yang ada di diarimu, yang belum pernah kubaca.
Untuk Nayef dan Ashlah, mungkin kita tidak terlalu dekat. Namun aku berterima kasih karena kalian telah rela untuk sekadar berkenalan denganku. Aku senang memiliki teman baik seperti kalian. Terima kasih atas segalanya.
Untuk Afif. Aku senang ketika kau memberitahuku bahwa kau pernah membaca blogku, jauh sebelum hari pertemuan kita. Terima kasih atas semangat terakhir yang kau tujukan untukku sebelum pisah di Bandara. Terima kasih telah menjadi temanku, terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih karena rela berfoto denganku, kau memang mirip salah seorang temanku.
Untuk Lia, aku masih ingat malam sebelum kepulangan kita, kau dan mami bernyanyi "Do you wanna build a snowman?" di kamarku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, terima kasih atas sepenggal kisah dan cerita yang membekas di benakku. Lia, terima kasih segalanya.
Untuk Uge, terima kasih telah menjadi teman yang baik. Aku harus jujur bahwa kau sungguh cantik. Terima kasih telah membaca tulisanku, terima kasih atas percakapan-percakapan kecil yang pernah kita lakukan. Terima kasih.
Untuk Fitri, terima kasih atas percakapan dan momennya. Aku masih ingat suaramu ketika diwawancarai, karena kita satu ruangan ketika wawancara. Terima kasih telah menjadi teman yang baik dan jadi bagian dalam hidupku.
Untuk Windy, terima kasih atas segala yang telah kau beri untukku. Terima kasih telah banyak bercerita tentang Ambon. Terima kasih telah mendengar curhatan-curhatanku mengenai cinta. Terima kasih pula telah bercerita denganku. Terima kasih telah mempercayaiku dengan cerita-ceritamu. Windy, kau memang pribadi yang takkan pernah kulupa. Kau amatlah baik. Tidak heran bercerita denganmu selama berjam-jam tidak membuatku bosan. Terima kasih.
Untuk Juan, terima kasih telah mendengar seluruh curhatanku dan terima kasih telah rela membagi penggalan kisahmu denganku. Terima kasih atas waktu berjam-jam hingga larut pagi. Terima kasih telah menjadi peramai dalam setiap kesempatan. Terima kasih telah membuat kedua sudut bibirku terangkat karena ulahmu. Terima kasih atas semangat-semangatnya. Kau pribadi yang baik, meskipun sering usil. Namun keusilanmu lah yang tidak bisa kulupakan darimu.
Untuk Erick, terima kasih semangat-semangatnya. Karena mendengar semangat darimulah, aku jadi lebih bangkit lagi. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Terima kasih, telah menjadi motivatorku. Terima kasih kalimat-kalimat penyemangatnya. Aku sungguh terharu. Dan aku bahagia memiliki teman sepertimu.
Untuk Erlya, terima kasih atas cerita-ceritamu tentang drumband selama di wisma. Terima kasih telah menjadi teman sebangkuku ketika SLEP Test. Terima kasih atas momennya, terima kasih telah bermain pukulan snaredrum bersama denganku ketika di wisma. Terima kasih atas seluruh percakapan yang pernah kau jalin denganku. Terima kasih semangatnya. Aku bahagia bisa mengenalmu.
Untuk Fadhilah, terima kasih goyang dumangnya. Terima kasih telah rela jadi peramai grup. Terima kasih atas percakapan-percakapan ringan kita di wisma. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Terima kasih telah menjadi penghibur di kala sepi. Terima kasih pula telah membaca blogku sebelum kita bertemu. Terima kasih telah membaca tulisan-tulisanku.Terima kasih.
Untuk Jerry dan Dian, kita mungkin tidak terlalu dekat. Namun terima kasih telah menjadi temanku. Terima kasih atas percakapan ringan yang mungkin terjadi antara kita. Terima kasih telah menggoreskan warna di hidupku.
Untuk Casey, terima kasih telah menyemangatiku, mencariku ketika aku tidak ada. Terima kasih telah menjadi teman yang sangat baik untukku. Aku bahagia memiliki teman dari Jayapura, dimana sangat jauh sekali dari tempatku terduduk sekarang. Casey, terima kasih atas segalanya, setiap percakapannya, setiap kali kau menjadi peramai grup. Terima kasih.
Untuk Agnes, terima kasih, kau baik sekali. Terkadang tingkahmu memang membuat kedua sudut bibir ini terangkat. Kau begitu polos, dan merupakan pribadi yang mengesankan. Kau asyik jika larut dalam percakapan. Mungkin kita tidak terlalu akrab di wisma, namun setelahnya aku senang kau membagi ceritamu padaku.
Untuk Noventya, terima kasih telah mendengar ceritaku dalam River of Life, terima kasih telah menanggapinya. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku, dan terima kasih telah menjadi bagian dari kelompok 13 dalam dinamika kelompok. Aku senang berkenalan denganmu.
Untuk Nina, sang primadonna. Terima kasih atas percakapan-percakapan ringan yang pernah kita jalani. Terima kasih karena telah rela berfoto denganku. Terima kasih atas segalanya, keramahanmu, manisnya senyummu. Terima kasih.
Dan kali ini, terimalah sepenggal video amatir yang baru kali pertama kubuat. Maaf apabila videonya sungguh membosankan. Kuharap kalian dapat menemukan nama kalian di video ini. Sebagai ungkapan rasa terima kasih ku pada kalian. Aku sayang kalian. Bagi yang berkesempatan untuk pergi ke Amerika, kejarlah impian kalian. Bagi yang belum berkesempatan sepertiku, kita memiliki jalan yang lain. Ingat kan kata bapak yang memberi kita wejangan di malam terakhir kita di wisma? We're the champion. Kita anak-anak yang terpilih dari Indonesia, kita generasi penerus bangsa dan kita harus bangga.
Terima kasih, telah menjadi bagian dari 2014ku. Selamat tahun baru.
Hari ini aku hanya ditemani remangnya malam. Sembari sedikit kusesapi Cappuccino yang biasanya menemaniku dalam menulis. Dan dalam tulisan ini aku hanya ingin berucap terima kasih. Terima kasih telah menjadi bagian dari kepingan memoriku. Ternyata tiga hari cukup membekas, ya. Entah kapan lagi aku mampu bertemu kalian. Setahun, dua tahun, tiga puluh tahun lagi, entahlah. Yang jelas, setiap pertemuan akan menyisakan perpisahan.
Untuk Apon, terima kasih telah banyak bercerita tentang Aceh. Kau telah banyak membagi ilmu selama tiga hari bersama. Karenamu, wawasanku jadi terbuka. Kau laksana pengobar semangat yang tak pernah padam.
Untuk Fikri, terima kasih atas semuanya. Payphone-Maroon 5 yang biasanya kau nyanyikan, masih terngiang jelas di telingaku. Terima kasih telah jadi penghibur dikala sepi. Terima kasih telah meluangkan sejenak waktumu untukku. Terima kasih telah berniat meminjamkan sandalmu. Rasanya terima kasih tidaklah cukup untuk membalas apa yang kau beri untukku.
Untuk Mulqan, terima kasih videonya. Aku begitu terhibur. Aku senang memiliki teman sepertimu. Aku tahu, kau pemalu. Namun dibalik itu semua kau adalah pribadi yang ceria. Mulqan, terima kasih telah rela menjadi temanku. Terima kasih.
Untuk Sisil, terima kasih waktu senggangnya. Kau memang psikolog cinta paling baik yang pernah kukenal. Terima kasih telah setia mendukung kasus percintaanku. Terima kasih karena rela mendengar curahan hatiku. Terima kasih untuk beberapa jam di kamarmu yang takkan pernah kulupa. Sisil, andai sang waktu tidak kejam, boleh kita bertemu kembali?
Untuk Rifa, terima kasih telah meramaikan berbagai grup. Ketahuilah, bahwa aku sungguh mengagumi bahasa inggrismu. Kau teman yang baik, aku tahu. Terima kasih atas waktunya, terima kasih karena telah rela panik bersama karena tidak dapat email. Terima kasih atas semuanya. Candamu yang sering kali membuatku terkikik geli. Kau benar-benar menghibur.
Untuk Abi Afgan alias Ican, terima kasih telah menjadi abi yang baik. Terima kasih telah memotivator selama ini. Terima kasih telah mendengar curhatan-curhatan kecil dari hati ini. Terima kasih telah menjadi penghibur sendu. Terima kasih atas semuanya, kebaikanmu, mulai dari hal yang paling kecil. Terima kasih.
Untuk Virgina, terima kasih. Karena tingkah kecilmu lah, kedua sudut bibir ini terangkat. Kau polos, terkadang aku memang menganggapmu sebagai adikku sendiri. Terima kasih, kau benar-benar menggoreskan warna di hidupku.
Untuk Irda dan Rahmi, kita mungkin tidak terlalu dekat. Namun ada kalanya percakapan-percakapan yang tercipta antara kita di wisma membuatku begitu nyaman. Terima kasih, telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah menjadi temanku. Aku, bahagia.
Untuk Usi, aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu. Kau amat baik, sungguh. Aku masih ingat kau menuntunku ketika mataku hampir sama sekali tidak bisa melihat malam itu. Kau ingat? Malam kepulangan kita dari Bandara. Terima kasih telah menghubungiku H-1 sebelum keberangkatan, sehingga aku akhirnya punya teman dekat. Terkadang kau memang sering membuatku tersenyum lantaran kata-katamu. Kau begitu menghibur. Terima kasih.
Untuk Rilvan, terima kasih atas semuanya. Ya, semuanya. Mulai dari tisu (mungkin kau sudah lupa momen ini), dan telah menemukan kunci kamarku di ruang makan. Terima kasih karena percakapan kita di pesawat, jarak antara Jakarta dan Palembang seakan tiada lagi. Terima kasih atas semuanya, semua yang telah kau beri untukku. Terima kasih. Kau terlalu baik. Namun sayang, sepertinya kita tidak bisa duduk berdua lagi di pesawat, tidak bisa bercerita mengenai mimpi masing-masing lagi. Aku hanya ingin berucap terima kasih.
Untuk Boby, terima kasih sandalnya. Tanpa sandal itu mungkin aku hanya mampu menelan malu dari Soekarno Hatta menuju Sultan Mahmud Badaruddin II. Kau benar-benar menyelamatkan hidupku. Terima kasih juga telah menjadi teman yang baik. Terima kasih telah menghubungiku H-1 sehingga aku juga memiliki teman. Terima kasih telah menjadi partner berbahasa Palembang ketika di depan teman-teman yang lain.
Untuk Ferro, terima kasih payungnya, mapnya, mungkin tanpa map itu aku bisa habis ditelan panitia. Atau memang nyawaku sudah habis karena tidak membawa map itu, entahlah. Dan terima kasih telah mengurus bagasi dan tiket selama pulang pergi. Terima kasih telah rela kutitipi berkas untuk dikirim ke chapter. Terima kasih semuanya.
Untuk Divi, Tamara, dan Aulia. Terima kasih telah menjadi teman satu chapter yang baik. Terima kasih atas momen-momennya. Terutama ketika momen menunggu di snack corner Soekarno Hatta. Aku tersenyum sendiri melihat tingkah kalian ketika ditelepon teman satu angkatan kalian. Kalian begitu antusias. Terima kasih telah menjadi pewarna dalam hidupku.
Untuk Khevin, terima kasih telah menemaniku dalam berbagai momen. Terima kasih telah menjadi teman sebangku di bis. Rasanya perjalanan dari Soekarno Hatta ke Cipete tidak ada jaraknya lagi. Percakapan kita begitu menyenangkan. Terima kasih telah rela menemaniku membeli sandal di Seokarno Hatta. Terima kasih telah rela ingin meminjamkan sandalmu. Terima kasih atas segalanya, terima kasih karena kau telah menyingkirkan kucing dari jangkauan mataku. Terima kasih.
Untuk Ellen. Kau pribadi yang begitu perhatian. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Kau baik, suaramu seindah matamu. Kau juga motivator, penghibur dikala sepi. Untuk itu aku ingin berterima kasih atas waktunya. Terima kasih kepada setiap momen dan percakapan yang pernah kita lewati.
Untuk Rahmat. Ketahuilah bahwa orang dari chapter lain pertama yang akrab denganku adalah kamu. Terima kasih atas seluruh cerita yang kau bagi, terima kasih atas obrolan bahkan percakapan kita di Bandara, aku jadi banyak tahu mengenai Bangka. Dan oh ya, terima kasih telah mengingat nama Drumband SMA-ku. Terima kasih. Aku tahu kau memang cerdas, kau bahkan dengan mudahnya mengingat apapun yang telah kau baca. Terima kasih telah menjadi teman yang baik.
Untuk Indah, terima kasih. Kau baik sekali, sungguh. Kau dengan relanya ingin meminjamkan sepatumu untukku. Terima kasih atas cerita-cerita yang pernah kita bagi di wisma, apalagi waktu menunggu tes. Kau teman yang baik, terima kasih. Niat baikmu tidak pernah luput dalam ingatanku.
Untuk Humaira, terima kasih atas seluruh percakapan yang pernah kita jalani. Terima kasih telah menjadi teman yang baik, terima kasih telah menjadi tempat bertukar kisah. Terima kasih telah membaca seluruh chat grup meskipun kamu adalah reader tersilent. Terima kasih.
Untuk Mami Maudy Ayunda alias Yeni, you're such a great person. Terima kasih mami, tanpamu mungkin Batch 3 tidak akan semeriah ini. Terima kasih atas pelukan dan rintik tangis dari matamu sebelum kita berpisah. Terima kasih telah meluangkan waktumu untukku, untuk sekadar mendengar cerita-cerita kecilku. Untuk Skype nya, untuk curhatannya. Semuanya, terima kasih, Mi. Aku bahagia memiliki mami yang hebat sepertimu. Terima kasih juga kau telah jadi teman Dinamika Kelompok yang baik. Terima kasih, Mi. Rasanya terima kasih tidak cukup untuk membalas kebaikanmu.
Untuk Jessica, leader 1320, teman sekamar yang baik. Kau tahu, dua malam bersamamu telah mengukir jutaan kisah. Cerita-cerita kita malam itu tidak akan pernah luput dalam memoriku. Semua tentang dunia tulis menulis, aku bagi denganmu. Kamu motivator, pemberi saran yang baik, pendengar yang baik, penerka yang baik. Terima kasih, terima kasih telah menjadi bagian dari tiga hari yang begitu mengesankan. Entah kapan kita bisa bertemu kembali, bercerita kembali secara langsung. Rindu dalam dada ini telah membuncah. Jessica, terima kasih atas segalanya.
Untuk Anggita, roommate 1320. Bercerita denganmu membuka wawasan. Kita bertiga banyak bercerita mengenai hal yang tidak orang lain tahu. Kisah cinta memang layak untuk kubagi denganmu. Terima kasih, terima kasih telah menjadi roommate yang baik. Terima kasih untuk bait-bait lagu Korea yang sering kita nyanyikan bersama. Terima kasih telah mendengarkan keluh kesah, cerita-cerita kecil, bahkan setiap penggalan momen yang pernah kita lalui. Terima kasih untuk setiap celotehan-celotehan ringan di Wisma Handayani. Terima kasih.
Untuk Cathay. Kau tahu, kau adalah gadis hebat yang pernah kukenal. Wawasanmu luas, kau pandai. Terima kasih atas bagian dari cerita-ceritamu. Terima kasih telah mendengarkan curhatan kecilku. Terima kasih telah rela meluangkan waktu untukku. Terima kasih atas segalanya. Bagiku, kau juga pembangkit semangat, peneman sepi.
Untuk Ari, terima kasih ilmu tari Balinya. Tidak akan pernah kulupa. Kau mengajariku setidaknya pembukaan dalam tarian Bali. Terima kasih, terima kasih atas momen yang pernah kau bagi denganku.
Untuk adikku Rilen, terima kasih telah mengajariku Bahasa Kupang. Banyak ilmu yang kudapat darimu. Kau benar-benar seperti adikku. Terima kasih atas momen dan percakapan-percakapan kita. Terima kasih atas segala yang pernah kau beri untukku.
Untuk Helena, aku masih ingat bagaimana kamu mengajariku logat "Be mo makan" ketika di Bandara kemarin. Sosok terimut yang pernah kukenal, ya kamu. Terima kasih atas segalanya, terima kasih juga telah mengajariku bahasa dan logat Kupang. Terima kasih.
Untuk Talitha, terima kasih atas momennya, percakapan yang pernah kita lalui bersama. Mungkin kita tidak terlalu banyak bercakap-cakap ketika di wisma, namun ketahuilah setiap detik yang pernah kita jalani, aku harus berterima kasih. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku.
Untuk Octho, terima kasih telah mendengarkan ceritaku dan menanggapi ceritaku di River of Life. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah menjadi partner yang baik di Dinamika Kelompok. Terima kasih atas cerita-ceritamu, aku jadi banyak tahu tentang kehidupan Maumere karenamu. Terima kasih.
Untuk Husain. Hey, terima kasih momennya. Terima kasih telah menjalin banyak percakapan denganku, terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Setidaknya seluruh kegiatan yang terjadi ketika kita menunggu interview benar-benar mengesankan. Terima kasih telah bertanya alamat rumahku. Terima kasih atas cerita-ceritanya, lagu koreanya, dan serpihan tulisan-tulisan yang ada di diarimu, yang belum pernah kubaca.
Untuk Nayef dan Ashlah, mungkin kita tidak terlalu dekat. Namun aku berterima kasih karena kalian telah rela untuk sekadar berkenalan denganku. Aku senang memiliki teman baik seperti kalian. Terima kasih atas segalanya.
Untuk Afif. Aku senang ketika kau memberitahuku bahwa kau pernah membaca blogku, jauh sebelum hari pertemuan kita. Terima kasih atas semangat terakhir yang kau tujukan untukku sebelum pisah di Bandara. Terima kasih telah menjadi temanku, terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih karena rela berfoto denganku, kau memang mirip salah seorang temanku.
Untuk Lia, aku masih ingat malam sebelum kepulangan kita, kau dan mami bernyanyi "Do you wanna build a snowman?" di kamarku. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini, terima kasih atas sepenggal kisah dan cerita yang membekas di benakku. Lia, terima kasih segalanya.
Untuk Uge, terima kasih telah menjadi teman yang baik. Aku harus jujur bahwa kau sungguh cantik. Terima kasih telah membaca tulisanku, terima kasih atas percakapan-percakapan kecil yang pernah kita lakukan. Terima kasih.
Untuk Fitri, terima kasih atas percakapan dan momennya. Aku masih ingat suaramu ketika diwawancarai, karena kita satu ruangan ketika wawancara. Terima kasih telah menjadi teman yang baik dan jadi bagian dalam hidupku.
Untuk Windy, terima kasih atas segala yang telah kau beri untukku. Terima kasih telah banyak bercerita tentang Ambon. Terima kasih telah mendengar curhatan-curhatanku mengenai cinta. Terima kasih pula telah bercerita denganku. Terima kasih telah mempercayaiku dengan cerita-ceritamu. Windy, kau memang pribadi yang takkan pernah kulupa. Kau amatlah baik. Tidak heran bercerita denganmu selama berjam-jam tidak membuatku bosan. Terima kasih.
Untuk Juan, terima kasih telah mendengar seluruh curhatanku dan terima kasih telah rela membagi penggalan kisahmu denganku. Terima kasih atas waktu berjam-jam hingga larut pagi. Terima kasih telah menjadi peramai dalam setiap kesempatan. Terima kasih telah membuat kedua sudut bibirku terangkat karena ulahmu. Terima kasih atas semangat-semangatnya. Kau pribadi yang baik, meskipun sering usil. Namun keusilanmu lah yang tidak bisa kulupakan darimu.
Untuk Erick, terima kasih semangat-semangatnya. Karena mendengar semangat darimulah, aku jadi lebih bangkit lagi. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Terima kasih telah menjadi bagian dalam hidupku. Terima kasih, telah menjadi motivatorku. Terima kasih kalimat-kalimat penyemangatnya. Aku sungguh terharu. Dan aku bahagia memiliki teman sepertimu.
Untuk Erlya, terima kasih atas cerita-ceritamu tentang drumband selama di wisma. Terima kasih telah menjadi teman sebangkuku ketika SLEP Test. Terima kasih atas momennya, terima kasih telah bermain pukulan snaredrum bersama denganku ketika di wisma. Terima kasih atas seluruh percakapan yang pernah kau jalin denganku. Terima kasih semangatnya. Aku bahagia bisa mengenalmu.
Untuk Fadhilah, terima kasih goyang dumangnya. Terima kasih telah rela jadi peramai grup. Terima kasih atas percakapan-percakapan ringan kita di wisma. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku. Terima kasih telah menjadi penghibur di kala sepi. Terima kasih pula telah membaca blogku sebelum kita bertemu. Terima kasih telah membaca tulisan-tulisanku.Terima kasih.
Untuk Jerry dan Dian, kita mungkin tidak terlalu dekat. Namun terima kasih telah menjadi temanku. Terima kasih atas percakapan ringan yang mungkin terjadi antara kita. Terima kasih telah menggoreskan warna di hidupku.
Untuk Casey, terima kasih telah menyemangatiku, mencariku ketika aku tidak ada. Terima kasih telah menjadi teman yang sangat baik untukku. Aku bahagia memiliki teman dari Jayapura, dimana sangat jauh sekali dari tempatku terduduk sekarang. Casey, terima kasih atas segalanya, setiap percakapannya, setiap kali kau menjadi peramai grup. Terima kasih.
Untuk Agnes, terima kasih, kau baik sekali. Terkadang tingkahmu memang membuat kedua sudut bibir ini terangkat. Kau begitu polos, dan merupakan pribadi yang mengesankan. Kau asyik jika larut dalam percakapan. Mungkin kita tidak terlalu akrab di wisma, namun setelahnya aku senang kau membagi ceritamu padaku.
Untuk Noventya, terima kasih telah mendengar ceritaku dalam River of Life, terima kasih telah menanggapinya. Terima kasih telah menjadi teman yang baik untukku, dan terima kasih telah menjadi bagian dari kelompok 13 dalam dinamika kelompok. Aku senang berkenalan denganmu.
Untuk Nina, sang primadonna. Terima kasih atas percakapan-percakapan ringan yang pernah kita jalani. Terima kasih karena telah rela berfoto denganku. Terima kasih atas segalanya, keramahanmu, manisnya senyummu. Terima kasih.
Dan kali ini, terimalah sepenggal video amatir yang baru kali pertama kubuat. Maaf apabila videonya sungguh membosankan. Kuharap kalian dapat menemukan nama kalian di video ini. Sebagai ungkapan rasa terima kasih ku pada kalian. Aku sayang kalian. Bagi yang berkesempatan untuk pergi ke Amerika, kejarlah impian kalian. Bagi yang belum berkesempatan sepertiku, kita memiliki jalan yang lain. Ingat kan kata bapak yang memberi kita wejangan di malam terakhir kita di wisma? We're the champion. Kita anak-anak yang terpilih dari Indonesia, kita generasi penerus bangsa dan kita harus bangga.
Terima kasih, telah menjadi bagian dari 2014ku. Selamat tahun baru.


Mantap Dini,,
BalasHapusKata katamu
Mengalihkan duniaku :D
Salam damai dari Maumere yoo
Wah ada Octho, hihi turut senang dengarnya. Bytheway, trims ya sudah bersedia komentar dan baca blogku. Salam damai juga dari Palembang. Sukses Amerikanya yaa
HapusAhhh dini:") emang aku dak banyak ngomong pas di wisma tapi jujur din, semua yang terjadi di wisma dak akan pernah aku lupakan:")
BalasHapusketahuilah din, kau tuh ramah niann:") makasih banyak din atas semuanya, lah nganggap aku bagian dari 2014 kau. Semoga kito sukses walaupun ya... kau pasti sangat menginginkan orientasi nasional. AKU JUGO! haha:") tapi dak apolah semangat untuk kito berduo:')
Kalo aku ke palembang awas kau dak galak nemui aku ye!
Iyo ra, dari perkenalan awal kito. Aku masih inget galonyo. Dari pertamo kali kito ketemu di Bandara dan disitu cuma ado chapter Palembang samo Bangka :') Ya Allah miss nian. 22 November itu tiime yang dak bakal terlupoke.
HapusYa ampun makasih ra aku jd terharu kau bilangi aku ramah :') kalian itu bagian dari 2014 aku yang dak bakal pernah aku lupoke. 2014 tuh awal pertemuan kito. Okeeey semangat untuk kito beduo meskipun sampe detik ini aku masih ngarepke oriennas, dakapolah dak berangkat ke Amrik asakke oriennas baenah :') Allah punyo rencano yang paling baik buat kito.
Mudahlah itu, pacak diatur wkwk. Kontak kontak bae amen ke Plembang :')