Beda

Kata orang, cinta butuh banyak kesamaan, agar dua insan memiliki satu komitmen yang sejalan. Namun kata orang, cinta juga butuh perbedaan, agar dalam hubungan memiliki corak warna yang tak perlu didefinisikan. Namun kataku, cinta itu netral. Kamu tidak pernah mampu menjabarkan cinta butuh kesamaan maupun perbedaan. Cinta itu ibarat gelas yang diisi setengah air. Ada yang berujar setengah penuh, ada pula yang berujar setengah kosong. Tergantung dari caramu memandang. Lalu kali ini, dalam sayatan pena ini, aku bungkam. Lebih tepatnya, apa yang harus kupilih, cinta dalam persamaan atau perbedaan?

Panggil aku Husna. Gadis berkhimar panjang yang sangat menyukai novel. Penulis favoritku adalah Abraham Yoseph. Pria yang jentikkan jemarinya mampu mengguncang perasaanku, juga mengaduk emosiku. Pria yang awalnya tak pernah kuketahui raut mukanya, ia tidak pernah memasang foto di halaman belakang novel karyanya. Dan pria ini pula lah yang meruntuhkan benteng pertahanan di hatiku.

Bermula dari pertemuanku dengannya di suatu kedai kopi di daerah Bogor. Tempat duduk di depanku kosong, dan aku melihat kursi-kursi lain sudah terjajal penuh. Tanpa basa-basi, pria keturunan Tionghoa dengan bingkai kaca mata kotaknya ini duduk di depanku sambil menatap ke dinding kaca yang terlukis suasana hujan.

"Bogor memang selalu hujan, ya?" ia seakan mencairkan suasana.

Aku, yang biasanya tak pernah ingin berlama-lama menuai percakapan dengan lelaki yang bukan mahramku, tiba-tiba saja menanggapi pria asing di depanku ini. Hanya refleks, kurasa.

"Ya, begitulah" lalu sempat hening beberapa detik hingga aku menambahkan "Kamu baru ya, di Bogor?"

Ia mengangguk pelan, entah kenapa aku bak tersihir oleh sikapnya. "Saya hanya liburan di sini. Saya dari Jakarta"

Aku menggumam huruf o tanpa suara. Tak tahu apa yang telah merasukiku, aku malah memperkenalkan diri. Bodoh sekali. Mengapa aku sedemikian bodoh? Aku tak pernah seperti ini biasanya. Tolong jawab aku, para hormon yang sedang bekerja dalam tubuhku!

"Abraham Yoseph" ungkapnya manis. Menyadari raut mukaku yang seakan tidak percaya, ia menunjukkan kartu namanya, disertai dengan jabatannya di suatu penerbit buku yang terkenal di seantero Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana ekspresiku, mungkin sudah menganga selebar tujuh senti atau lebih, entahlah. Oke, itu hiperbola. Aku hampir histeris, namun kutahan. Dibalik kartu nama yang ia beri untukku, aku meminta tanda tangannya. Kumohon, tanda tangan.

"Kamu bener-bener suka karya saya? Kamu paling suka yang mana?"

"Lost in Stars" jawabku pendek.

Tanpa diduga, aku terlarut dalam percakapan yang benar-benar menjerumuskanku ke dalam satu kata, nyaman. Abraham Yoseph tidak hanya berwawasan luas, ia sangat pandai menghibur. Paras tampannya sebagai bonus. Oke, lagi-lagi aku hiperbola. Abraham Yoseph akan kumetaforakan sebagai Skandar Keynes versi Asia. Ya Allah, ampuni aku, aku telah banyak melakukan zina mata juga zina perasaan hari ini. Ya Allah, pernahkah wanita penghuni surgaMu melakukan hal ini? Berbincang terlalu lama dengan seseorang yang bahkan bukan mahramku.

"Ini ID LINE saya, kamu bisa hubungi saya disana. Tapi jangan kamu umbar ke yang lain. Hanya kamu. Rasanya, saya menemukan banyak persamaan antara saya dan kamu"

Masih ingat sekali, masih ingat pesan terakhirnya di hari pertemuan pertama kami. Aku bahkan tidak menyangka bahwa aku dan Abraham seumuran. Sebulan, dua bulan, hingga lima bulan setelah hari perkenalan pertama kami, kami tidak pernah memutuskan hubungan di sosial media. Hingga timbul sesuatu yang memelukku melebihi rasa nyaman. Mungkin kamu sudah menerka, ini cinta. Ya Allah, bimbing aku, apakah ini benar-benar cinta? Abraham banyak sekali memiliki persamaan denganku. Seperti menyukai hujan, green tea latte, membaca, William Shakespeare, dan lain sebagainya.

Kukira, perasaan ini hanya aku yang merasakannya. Namun nyatanya tidak, Abraham juga menyukaiku. Kami memang banyak memiliki persamaan, tetapi sesungguhnya kami berbeda. Miris rasanya melihat Cover Photo LINE nya adalah ayat-ayat injil. Terlebih ia menyatakan perasaannya padaku dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Ya Allah, aku menolak Abraham. Aku menyayanginya, tapi aku lebih menyayangiMu. Aku tahu, di dalam muslim sangat dilarang keras untuk menjalin komitmen haram bernama pacaran. Lalu aku memberitahu Abraham untuk tidak menggoyahkan prinsipku. Dan ada satu hal yang kuminta darinya, yang sejujurnya berat sekali kuutarakan, yaitu... jauhi aku.

Abraham keras kepala, aku tahu itu. Abraham ambisius. Abraham seakan pantang pernah menyerah untuk mendapatkanku. Yang benar saja, ia datang dari Jakarta ke Bogor demi menghampiriku, meminta penjelasanku. Pukul dua lewat lima menit, aku menghampiri Abraham yang duduk di salah satu kursi kedai kopi yang menjadi saksi bisu awal pertemuan kami. Kami sama-sama memesan green tea latte. Kami sama, kepercayaan yang berbeda. Ya Allah, apakah aku salah mengambil langkah?
www.hipwee.com



"Aku ingin tahu perasaan kamu ke aku, itu saja, Na" sambar Abraham. Entah sejak kapan saya-kamu yang dulu dikenakannya untuk percakapan kami, berubah menjadi aku-kamu. Aku menunduk, menahan tangis, melihat khimar panjangku. Lalu kulirik kalung salibnya. Demi Allah, batinku teriris, semakin teriris. "Tolong jawab, Na"

"Tidak perlu aku jabarkan, Abraham. Kamu sudah pasti tahu perasaanku" ucapku lirih tanpa menatap wajahnya yang amat aku rindukan.

"Kamu tidak pernah memberitahu aku. Bagaimana aku bisa tahu?"

"Aku juga menyukaimu" kuakui. Dengan cepat kutambahkan "Tapi kautahu, kita berbeda, Abraham. Maksudku, kautahu kan? Aku beribadah lima kali sehari dan kamu beribadah sekali dalam seminggu. Aku memegang tasbih, dan kamu memegang rosario. Aku membaca Al Qur'an, lalu kamu membaca injil. Aku merayakan lebaran, sedangkan kamu merayakan natal"

"Husna, sadar! Tuhan kita satu"

"Tapi kepercayaan kita berbeda, Abraham. Berbeda"

"Apa yang salah dengan kepercayaan kita? Aku jemaat katolik yang taat, sedangkan kamu adalah seorang muslim dengan keimanan yang kuat. Aku kira, apabila kita menikah nanti, kita akan tetap seperti ini. Membiarkan anak-anak kita memilih......"

"Tidak semudah yang kamu pikirkan, Abraham" aku memotong ucapannya "Di dalam agamaku, menikah dengan dua kepercayaan yang berbeda itu termasuk zina. Jalannya hanya ada dua, Abraham. Masuklah Islam, atau hubungan teman dekat kita hanya sampai disini. Hanya kamu yang bisa memilih. Permisi"

Aku meninggalkan Abraham. Aku sudah tahu pasti jawabannya. Abraham anak pendeta, sedangkan ayahku sering mengisi ceramah di kotaku. Setelah kejadian ini, seakan tiada lagi cerita antara aku dan Abraham, hingga ia datang ke hari pernikahanku. Sejujurnya dalam relung hati ini, masih ada perasaan yang tersisa untuk Abraham.
www.google.co.id 
Ya Allah, salahkah aku? Mungkin ini ujian dariMu. Ujian untuk mengetahui sebatas mana keimananku. Tetapi mengapa ada rasa yang sulit terdefinisikan ketika Abraham mengucapkan selamat atas pernikahanku? Seperti perih yang tak kasat mata. Ya Allah, andai saja Abraham tidak berbeda denganku, mungkin sekarang bukan suamiku yang bersanding denganku di pelaminan ini. Namun aku paham, sebanyak apapun rasa yang tersisa untuk Abraham, Allah SWT telah memilihkan orang yang paling baik untuk menemani hari-hariku ke depannya.

Allah SWT yang Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.

Komentar

  1. Sangat mengiris batinku :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cie elah wkwk. Btw, thanks for visiting my journal darl :3

      Hapus
  2. Sangat menyayat hati dear, aku menangis:')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sanjungannya :' saya merasa bahagia apabila ada yang baca blog saya

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer