Goresan Senja

Aku menggores catatan usang yang telah lama kutinggali, berdebu, bersamaan dengan cahaya senja yang menyusup dari balik tirai merah muda di sudut kanan ruangan ini. Ia menyibakkan kehangatan, menawarkan kedamaian yang tak pernah aku sambut. Detik jam menunjukkan pukul lima kurang sepuluh, hujan baru saja berhenti, berganti mentari yang tampak malu memamerkan lekuk tubuh indahnya. Aku disini bukan menceritakan yang seharusnya aku ceritakan. Hanya terdesak, hanya ingin membagi untaian kisah agar kau tenggelam dengan fantasi duniaku. Dunia yang aku jalani, dunia yang seharusnya tak boleh aku bagi.

Senja ini, gemuruh berdesak cepat memenuhi otakku. Tangisku sekuat mungkin kutahan, namun jatuh juga membasahi bantalku dengan sempurna.

Aku lelah.
Menapaki sesuatu yang keras di depanku, mencoba berpegangan di tiap-tiap sisi kehidupan. Namun percuma, aku hanyalah seekor tungau yang bahkan tak kau harapkan sekalipun kehadirannya.

Aku bingung.
Mencoba ber-aba, disalahkan. Mencoba ber-asa, dijatuhkan. Apalagi yang seharusnya aku geluti?

Aku tak berguna.
Memang. Aku bahkan ingin sekali bertanya pada Tuhan, 'untuk apa aku hidup?'. Berulang kali, aku menyayat perasaan orang-orang yang menyayangiku. Aku tanpa sengaja membuat mereka pergi. Aku berulang kali menggoreskan kesalahan yang tak termaafkan.

"Kau memang tidak berguna"

Kata-katanya terngiang dalam memoriku dengan jelas. Sangat jelas. Bahkan tangisku memang hampir pecah ketika ia menyebutkan kalimat sampah itu. Aku hanya memeluk ibuku, ia menenangkanku dengan senyumnya. Tapi apa? Aku merasa bahwa ibuku juga menyetujui kata-katanya, aku memang tidak berguna.

Aku ingin membahagiakan tiap orang di sekitarku. Namun apa? Sepertinya aku ditakdirkan menjadi seonggok sampah tak berguna.

Aku jahat.
Bahkan senja juga setuju jika aku jahat, bukan?

Aku egois, aku tidak suka dibentak, aku hanyalah makhluk yang di-iba-kan makhluk lain. Tetapi sungguh, aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku menyukai perdamaian, sebisa mungkin aku tak menggores hati orang lain. Dan tahukah jika aku merasa menggores hati orang lain, aku bahkan menangis, ingin mengulang waktu dan tak ingin lagi melakukan kesalahan yang serupa?

Namun orang lain, tega menggores hatiku. Menghina rasku, bahkan meremehkan setiap kemampuanku.

Aku sadar, aku tidak berguna, aku juga tak sempurna.

Dalam goresan senja ini aku berdoa, memohon pada Tuhan agar aku diberi kekuatan kembali.

Komentar

  1. Well if you don't. I shouldn't retell it all to ya from the first, should I?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer