Kecewa
Terkadang kau sendiri butuh waktu lama untuk mencerna kata 'adil' yang diberikan oleh seseorang yang membuatmu ada di dunia ini.
Aku Atika. Pemegang nilai UN tertinggi tingkat SMP se-Indonesia setahun yang lalu. Mungkin aku sudah terlalu sering dibicarakan di media. Malah aku pernah di undang dalam acara Kick Andy karena prestasiku. Persentasi akademik-ku makin meningkat seiring berjalannya waktu. Aku bisa jadi sosok yang diidolakan murid-murid satu SMA di sekolahku karena kegigihanku dalam belajar. Dan tidak ada yang mampu menyalip predikatku sebagai juara umum sekolah. Apalagi ketika ada PR, bahan contekkan utama adalah pekerjaan milikku.
Belum lagi, aku juga unggul dalam bidang bulu tangkis. Apalagi coba kekuranganku? Hampir tidak ada! Wajahku juga mirip dengan Febby Rastanty, hanya saja kulitku agak sedikit lebih kuning daripada Febby. Hal ini juga yang membuatku jadi mayoret dalam marching band di sekolahku. Ehem, bukannya sombong, tapi aku tengah membicarakan fakta.
Aku memang terlahir dari keluarga yang kurang berada. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang diantar jemput ke sekolah memakai mobil mewah. Sedangkan aku? Hanya diantar dengan motor tahun 80-an milik kakekku dulu. Rumahku tidak ber-alaskan keramik, melainkan karpet yang langsung berbatasan dengan tanah. Dinding rumahku pun tak terbuat dari beton, melainkan terbuat dari kayu lapuk yang tak layak huni lagi. Keadaan inilah yang memaksaku terus berjuang untuk giat belajar, menggapai cita-citaku, agar aku tidak dihina lagi. Aku juga ingin menaikkan derajat kedua orangtuaku. Sesungguhnya keinginanku itu mulia.
Oh ya, aku belum sempat cerita bahwa aku memiliki seorang adik laki laki. Namanya Arga. Aku tidak tahu ia mau jadi apa ke depannya. Baru kelas dua SMP, sudah berani merokok di depan orangtuaku. Ia tidak dimarah bahkan ditegur sekalipun. Bukan hanya itu, ia sering kali membawa-bawa pacarnya yang merupakan predikat gadis-gadis nakal ke rumah. Sungguh! Dalam prestasi pun, ia satu kali tidak naik kelas. Berbanding terbalik dengan aku. Hanya satu kelebihannya, Arga adalah Febby Rastanty versi laki-laki. Ia memang tampan, aku tidak menyalahkannya.
Nah, jika kau pernah membaca novel That Summer Breeze yang ditulis Orizuka, aku dan Arga bagai Orion dan Ares. Aku dan dia tidak pernah bisa menyatu. Arga adalah bayangan dari Ares yang diceritakan Orizuka. Dan aku, hampir memiliki semua yang dimiliki Orion. Tetapi keadaannya berbanding terbalik, jika Orizuka menceritakan bahwa yang disayang kedua orang tua mereka adalah Orion, maka aku menceritakan disini bahwa yang lebih disayang kedua orang tuaku adalah Arga.
Seperti handphone, teman-temanku sudah memiliki iPhone 5. Sedangkan aku? Aku hanya memiliki Nokia Lumia, hadiah dari kepala sekolah, khusus untukku. Tapi bukan itu inti permasalahannya, Arga lebih dulu dibelikan handphone ketimbang aku.
"Atika kan pasti bisa beli sendiri"
Aku masih ingat, bagaimana orangtuaku menyatakan pendapatnya. Sungguh, tragis.
Dan menurutku, hal yang paling tragis adalah ketika mereka tidak mendukungku dalam menyalurkan hobiku, bulu tangkis. Mereka tidak suka melihatku menggilai bulu tangkis, karena aku belum pernah memenangi olimpiade apapun dalam bulu tangkis. Untuk itu, pernah suatu ketika, aku memaksakan diriku untuk ikut olimpiade bulu tangkis tingkat provinsi. Tetapi sialnya, olimpiade itu baru selesai hingga jam setengah enam petang, karena aku masuk ke babak final. Namun lebih sialnya lagi, aku tidak mendapatkan medali apa-apa karena aku kalah telak dengan Yuna Wong.
Dan disaat aku menelepon kedua orang tuaku untuk meminta jemput (Tentu saja aku menelepon nomor Arga karena kedua orangtuaku tidak memiliki handphone), ayahku dengan santainya malah berkata "Jalan kaki saja"
20km? Berjalan kaki? Jika aku punya uang saja, aku sudah naik ojek dari sini hingga ke rumah. Tetapi sadisnya mereka bahkan tidak memberiku uang sepeserpun. Aku berangkat kesini saja nebeng Mas Gio, tetanggaku yang universitasnya dekat dengan stadion ini, tetapi aku yakin jam segini dia sudah pulang.
Maka.. Menangislah aku. Aku menangis bukan karena aku tidak bisa pulang. Tetapi karena orangtuaku yang terlalu tega kepadaku. Akhirnya, pelatihku tak sengaja memergokiku menangis dan ia memberiku uang lima belas ribu rupiah untuk membayarkan ongkos ojek. Demi apa pun, aku benar-benar malu. Ketika sampai di rumah pun, lagi lagi ikat pinggang sudah menunggu. Seperti biasa, pinggangku dicambuk karena aku telat pulang.
Aku kecewa. Untuk apa aku hidup jika aku terus disiksa seperti ini? Apakah benar seluruh orang tua itu adil? Lantas mengapa Arga tidak pernah dicambuk begitu? Apa sih spesialnya Arga?
Aku Atika. Pemegang nilai UN tertinggi tingkat SMP se-Indonesia setahun yang lalu. Mungkin aku sudah terlalu sering dibicarakan di media. Malah aku pernah di undang dalam acara Kick Andy karena prestasiku. Persentasi akademik-ku makin meningkat seiring berjalannya waktu. Aku bisa jadi sosok yang diidolakan murid-murid satu SMA di sekolahku karena kegigihanku dalam belajar. Dan tidak ada yang mampu menyalip predikatku sebagai juara umum sekolah. Apalagi ketika ada PR, bahan contekkan utama adalah pekerjaan milikku.
Belum lagi, aku juga unggul dalam bidang bulu tangkis. Apalagi coba kekuranganku? Hampir tidak ada! Wajahku juga mirip dengan Febby Rastanty, hanya saja kulitku agak sedikit lebih kuning daripada Febby. Hal ini juga yang membuatku jadi mayoret dalam marching band di sekolahku. Ehem, bukannya sombong, tapi aku tengah membicarakan fakta.
Aku memang terlahir dari keluarga yang kurang berada. Terkadang aku iri melihat teman-temanku yang diantar jemput ke sekolah memakai mobil mewah. Sedangkan aku? Hanya diantar dengan motor tahun 80-an milik kakekku dulu. Rumahku tidak ber-alaskan keramik, melainkan karpet yang langsung berbatasan dengan tanah. Dinding rumahku pun tak terbuat dari beton, melainkan terbuat dari kayu lapuk yang tak layak huni lagi. Keadaan inilah yang memaksaku terus berjuang untuk giat belajar, menggapai cita-citaku, agar aku tidak dihina lagi. Aku juga ingin menaikkan derajat kedua orangtuaku. Sesungguhnya keinginanku itu mulia.
Oh ya, aku belum sempat cerita bahwa aku memiliki seorang adik laki laki. Namanya Arga. Aku tidak tahu ia mau jadi apa ke depannya. Baru kelas dua SMP, sudah berani merokok di depan orangtuaku. Ia tidak dimarah bahkan ditegur sekalipun. Bukan hanya itu, ia sering kali membawa-bawa pacarnya yang merupakan predikat gadis-gadis nakal ke rumah. Sungguh! Dalam prestasi pun, ia satu kali tidak naik kelas. Berbanding terbalik dengan aku. Hanya satu kelebihannya, Arga adalah Febby Rastanty versi laki-laki. Ia memang tampan, aku tidak menyalahkannya.
Nah, jika kau pernah membaca novel That Summer Breeze yang ditulis Orizuka, aku dan Arga bagai Orion dan Ares. Aku dan dia tidak pernah bisa menyatu. Arga adalah bayangan dari Ares yang diceritakan Orizuka. Dan aku, hampir memiliki semua yang dimiliki Orion. Tetapi keadaannya berbanding terbalik, jika Orizuka menceritakan bahwa yang disayang kedua orang tua mereka adalah Orion, maka aku menceritakan disini bahwa yang lebih disayang kedua orang tuaku adalah Arga.
Seperti handphone, teman-temanku sudah memiliki iPhone 5. Sedangkan aku? Aku hanya memiliki Nokia Lumia, hadiah dari kepala sekolah, khusus untukku. Tapi bukan itu inti permasalahannya, Arga lebih dulu dibelikan handphone ketimbang aku.
"Atika kan pasti bisa beli sendiri"
Aku masih ingat, bagaimana orangtuaku menyatakan pendapatnya. Sungguh, tragis.
Dan menurutku, hal yang paling tragis adalah ketika mereka tidak mendukungku dalam menyalurkan hobiku, bulu tangkis. Mereka tidak suka melihatku menggilai bulu tangkis, karena aku belum pernah memenangi olimpiade apapun dalam bulu tangkis. Untuk itu, pernah suatu ketika, aku memaksakan diriku untuk ikut olimpiade bulu tangkis tingkat provinsi. Tetapi sialnya, olimpiade itu baru selesai hingga jam setengah enam petang, karena aku masuk ke babak final. Namun lebih sialnya lagi, aku tidak mendapatkan medali apa-apa karena aku kalah telak dengan Yuna Wong.
Dan disaat aku menelepon kedua orang tuaku untuk meminta jemput (Tentu saja aku menelepon nomor Arga karena kedua orangtuaku tidak memiliki handphone), ayahku dengan santainya malah berkata "Jalan kaki saja"
20km? Berjalan kaki? Jika aku punya uang saja, aku sudah naik ojek dari sini hingga ke rumah. Tetapi sadisnya mereka bahkan tidak memberiku uang sepeserpun. Aku berangkat kesini saja nebeng Mas Gio, tetanggaku yang universitasnya dekat dengan stadion ini, tetapi aku yakin jam segini dia sudah pulang.
Maka.. Menangislah aku. Aku menangis bukan karena aku tidak bisa pulang. Tetapi karena orangtuaku yang terlalu tega kepadaku. Akhirnya, pelatihku tak sengaja memergokiku menangis dan ia memberiku uang lima belas ribu rupiah untuk membayarkan ongkos ojek. Demi apa pun, aku benar-benar malu. Ketika sampai di rumah pun, lagi lagi ikat pinggang sudah menunggu. Seperti biasa, pinggangku dicambuk karena aku telat pulang.
Aku kecewa. Untuk apa aku hidup jika aku terus disiksa seperti ini? Apakah benar seluruh orang tua itu adil? Lantas mengapa Arga tidak pernah dicambuk begitu? Apa sih spesialnya Arga?

Komentar
Posting Komentar