Peduli, Bukan Simpati

Aku seperti mencari, tanpa tahu apa yang harus aku temukan.

Ia mengulangi kalimat tersebut beberapa kali dalam sehari. Aku berani bersumpah, kau akan bosan mendengar kutipan dari film lawas yang tengah booming tahun 2008 di Indonesia itu masih saja di sebut-sebut. Cinta Pertama (Sunny). Film itu, film favorit gadis yang alur pikirnya tak pernah mampu aku jejaki.

Aku hidup di kota yang terbilang sangat modern. Jakarta. Modern, bukan? Sekolahku juga penganut aliran western meskipun tetap sedikit meninggalkan sisa-sisa nasionalisme. Sungguh tragis, memang. Globalisasi mengubah segalanya. Mengubah para idola yang kami puja bukan lagi makhluk-makhluk yang terlahir di Indonesia. Apalagi tentang film. Sembilan puluh sembilan persen warga sekolahku adalah pecinta western movie, korean movie, japan movie, atau thai-movie. Langka sekali yang mengidolakan Indo-movie. Tetapi gadis itu, gadis berkulit sawo matang dan bermata sipit itu adalah pengecualian.

Anabella Mustika, teman sebangkuku, pemilik pemikiran paling absurd, penunggu sejati Indonesian-movie meskipun bukan penikmat sinetron.

"Kau tidak tahu, Sen. Terkadang kutipan film-film Indonesia itu benar-benar lebih menyentuh"

Aku pasti hanya bisa menjawab dengan endakkan bahu, namun sesekali membalas pernyataannya "Gue kagak ngerti pola pikir lo, Bel"

Setahun, dua tahun. Dan kini sudah tahun ketiga aku sekelas dengan gadis pendiam itu. Aih, dia tidak pendiam sebenarnya, ada kalanya ia benar-benar menjadi pribadi yang diam, namun juga ada kalanya ia mengubah pribadinya menjadi pribadi yang cerewet. Tak terasa waktu sangat cepat bergulir. Sialan! Gadis itu setiap hari selalu mengusik bayang. Dan cerita-ceritanya adalah makanan favoritku. Entah mengapa, aku kecanduan dengan setiap cerita yang ia bagi. Ia tidak terlalu banyak menjalin komunikasi dengan warga sekelas. Waktunya di kelas hanya ia habiskan untuk membaca novel-novel inspiratif atau mengobrol sedikit denganku. Bayangkan! Mungkin hanya aku temannya mengobrol dengan ditemani sebungkus Pocky, selalu, snack favoritnya.

"Senna, kayaknya aku lagi jatuh cinta"

Sontak, Pocky yang melaju ke kerongkonganku, hampir keluar kembali. "Hmm, sama siapa?"

"Aku lagi jatuh cinta sama kutipan-kutipannya Tere Liye"

Gadis ini. Sungguh. Benar-benar... err.. menyebalkan. Padahal aku sangat berharap ia membuka hatinya sedikit untukku. Tetapi kurasakan tiba-tiba matanya meneduh.

"Senna.. aku... kesepian"

Tiga kata, satu makna. "Bel, gue masih ada disini. Lo gak kesepian. Memangnya lo kagak nganggep gue?"

Gadis itu tersenyum padaku, tetapi butiran bening dari matanya mengucur deras. "Sen, kamu...." ia tercekat sebentar, mengusap-usap butiran bening tersebut menggunakan punggung tangannya sejenak "Kamu hanya simpati sama aku, bukan peduli"

Aku tidak mengerti, sungguh.

"Makanya gak setiap cerita, selalu bisa aku bagi ke kamu. Karena kamu simpati sama aku, kamu kepengin tahu jalan hidup aku, bukan berusaha meringankan jalan hidup aku"

Ia menatap keluar jendela kelas sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya "Senna, kamu memang pendengar yang baik, tetapi aku masih kesepian. You're too selfish to lemme face my problem myself, you even don't think to face my problem together with yourself"

Aku hanya mampu tertegun menelan kata-katanya.

"Aku butuh seseorang yang peduli, Sen. Bukan yang simpati. Maaf udah buat kamu kecewa. Dan itu yang jadi alasan aku terlalu kesepian. Mungkin karena setiap aku cerita, kamu selalu menjawab dengan kalimat 'oh' atau 'tega bener'. Kamu mungkin gak pernah tahu Sen, rasanya berada di posisi aku. Aku butuh motivasi dari kamu, bukan seorang pembagi cerita yang cerita-ceritanya hanya ingin kauketahui saja, bukan kauatasi"

"Maafin gue Bel. Memang bener, apa yang lo bilangin barusan. Gue cuma... ehm, tertarik aja sama setiap cerita-cerita lo. Tanpa ada maksud buat ngurangin masalah yang ada di tiap penggal cerita lo. Tetapi lo menyadarkan gue, makasih Bel, gue janji gak akan ngulangin kesalahan gue lagi"

Ia hanya menjawab dengan seulas senyum tipis dan anggukkan mantap. Oh Tuhan, ingin saja kupeluk dirinya dalam pelukanku. Tetapi disinilah kami berada, di sudut kelas tempatnya terduduk, dengan memegang teguh prinsip friendzone yang tanpa sengaja telah kami bina selama tiga tahun.

Komentar

Postingan Populer