Iri
"Eh, mau foto bertiga gak? Sebelum gue berangkat ke Michigan nih"
Hari ini, pengumuman kelulusan. Seharusnya aku mengambil foto bertiga dengan kedua sahabatku, sahabat terbaikku, makhluk yang selama ini mendengarkan cerita-ceritaku, Gladys dan Rachel. Tetapi kami hanya terduduk disini, tidak menikmati masa mencorat coret baju seperti kebanyakan anak-anak SMA lainnya di Indonesia. Kami berada di tengah rawa, menikmati sepoi angin yang jadi saksi bisu perpisahan kami. Tetapi kuyakin rawa ini tidak membahayakan, karena letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. Tapi, hmm.. Apakah memang ada rawa yang tidak membahayakan?
"Lagi males selfie nih, Va" tukas Gladys
Aku mengotak-atik SLR milik Rachel yang sekarang tengah aku genggam "Tapi mupeng banget nih gue, ngeliat foto Rachel bareng keluarganya. Masa kita kagak pernah foto bareng sih? Bentar lagi kita pisah negara lho"
"Gimana kalo nyuruh Danang aja yang take foto kita?"
Ide bagus. Danang. Adikku yang tahun ini baru naik kelas dua SMA itu sangat hobi fotografi. Dengan segera aku mengetikkan sms pada adik tunggalku itu dan selang tiga menit, ia keluar rumah dengan membawa SLR miliknya.
"Nang! Stop disitu aja" pekik Rachel mantap "Lo take foto kita dari sini tapi di zoom. Keliatan kakinya aja ya, mukanya gak usah diliatin. Lo pasti tau kan? Seni fotografi"
Satu, dua, tiga. Blitz kamera mulai menusuk mataku. Perlahan Danang mendekat dan menyodorkan hasil jepretannya.
"Nang! Keren!" puji Gladys diikuti dengan tepukan kecil dari kedua tangannya.
"Lo emang berbakat jadi fotografer, Nang" Rachel tersenyum manis.
Sumpah demi apapun, aku tidak mengerti jalan pikiran mereka berdua. Apa yang bagus dari ketiga pasang kaki tanpa wajah seperti itu?
***
Sudah dua tahun aku menetap di Michigan sebagai salah satu mahasiswi di sini. Tetapi momen berharga di hari kelulusan bersama kedua sahabatku itu tidak akan pernah bisa aku lupakan. Berfoto. Momen yang mungkin sering kali dilakukan para sahabat. Tetapi tidak untuk persahabatan kami. Ada saja halangan untuk berfoto bersama. Entah Gladys atau Rachel yang tidak ikut foto. Tetapi di hari kelulusan kami, kami berfoto bertiga, meskipun tanpa wajah, itu tetap membuatku senang.
Yang paling kiri, yang menggunakan blus hitam agak boyish, itu Gladys. Gladys memang yang paling dewasa di antara kami. Selain sifatnya yang mengayomi, ia adalah pendengar yang baik. Saat ini ia berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yang disamping Gladys, ada Rachel, cewek anggun yang jadi primadonna sekolah. Rachel adalah motivator terbaik. Saat ini ia berkuliah di Institut Pertanian Bogor. Dan yang paling kanan, ada aku yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di University of Michigan, Amerika. Kami bertiga sudah jauh berpisah.
Selama tiga tahun di SMA, kami bertukar cerita, kami selalu memotivasi dan kami selalu saling mendukung. Entah mengapa tali persahabatan kami begitu erat. Awalnya, waktu baru beberapa bulan tinggal di Michigan, aku masih sangat haus akan perhatian mereka. Karena aku tidak mendapatkan sahabat sebaik mereka disini. Tetapi lambat laun, entah perasaan iri dari mana yang merasukki benakku, aku agak cemburu ketika Rachel meng-upload foto selfie nya bersama sahabat barunya di Twitter, dengan tweet bertuliskan "She's ma best of the best, ma angel"
Juga Display Picture Blackberry Messenger milik Gladys. Ia memasang Display Picture bersama sahabat barunya sembari berpelukan erat.
Dan hanya aku disini yang belum menemukan sahabat baru. Sejujurnya aku sungguh iri, karena bukan aku lagi yang jadi pendengar keluh kesah mereka, bukan aku lagi yang duduk di samping mereka, bukan aku lagi yang mereka anggap sahabat baik mereka. Tetapi telah hadir orang lain, yang mampu menyempurnakan hidup mereka, yang lebih mampu mengayomi mereka.
Tuhan, aku benar-benar iri.
Aku ingin, fotoku juga di-upload Rachel dengan tulisan yang sama seperti yang ia tulis untuk sahabatnya di Twitter. Aku juga ingin fotoku menjadi bagian dari Display Picture milik Gladys.
Mungkin aku, hanyalah sebatas kenangan mereka dan aku bukan masa depan mereka.
Seharusnya aku tidak boleh iri. Mereka telah menemukan orang yang menurut mereka adalah yang terbaik. Tetapi mengapa aku masih saja tidak rela?
Perih, memang. Ketika melihat Rachel menulis tweet untuk sahabat barunya "Cepat sembuh ya sayangku, males nih ngampus kalo kamu gak ngampus"
Atau Gladys yang membuat personal message untuk sahabat barunya "TFT ya best, semoga persahabatan kita makin erat{} "
Dan aku? Hanya bisa mengorek kenangan. Hanya bisa mengharapkan mereka disini lagi, mendengarkan cerita-ceritaku. Tetapi dunia memang telah berputar. Hubunganku dengan Rachel dan Gladys bagaikan orang yang tak pernah saling kenal. Hanya terkadang aku mengirim chat ke mereka bahwa aku ingin sekali bertemu mereka. Tetapi, hanya dibalas sewajarnya dan sepertinya enggan-engganan.
Oh Tuhan, apakah aku memang seburuk itu untuk dijadikan sahabat? Apakah memang aku tidak pantas memiliki sahabat yang benar-benar menyayangiku harga mati? Aku iri dengan setiap persahabatan tulus yang terjalin di dunia ini.
Hari ini, pengumuman kelulusan. Seharusnya aku mengambil foto bertiga dengan kedua sahabatku, sahabat terbaikku, makhluk yang selama ini mendengarkan cerita-ceritaku, Gladys dan Rachel. Tetapi kami hanya terduduk disini, tidak menikmati masa mencorat coret baju seperti kebanyakan anak-anak SMA lainnya di Indonesia. Kami berada di tengah rawa, menikmati sepoi angin yang jadi saksi bisu perpisahan kami. Tetapi kuyakin rawa ini tidak membahayakan, karena letaknya tidak begitu jauh dari rumahku. Tapi, hmm.. Apakah memang ada rawa yang tidak membahayakan?
"Lagi males selfie nih, Va" tukas Gladys
Aku mengotak-atik SLR milik Rachel yang sekarang tengah aku genggam "Tapi mupeng banget nih gue, ngeliat foto Rachel bareng keluarganya. Masa kita kagak pernah foto bareng sih? Bentar lagi kita pisah negara lho"
"Gimana kalo nyuruh Danang aja yang take foto kita?"
Ide bagus. Danang. Adikku yang tahun ini baru naik kelas dua SMA itu sangat hobi fotografi. Dengan segera aku mengetikkan sms pada adik tunggalku itu dan selang tiga menit, ia keluar rumah dengan membawa SLR miliknya.
"Nang! Stop disitu aja" pekik Rachel mantap "Lo take foto kita dari sini tapi di zoom. Keliatan kakinya aja ya, mukanya gak usah diliatin. Lo pasti tau kan? Seni fotografi"
Satu, dua, tiga. Blitz kamera mulai menusuk mataku. Perlahan Danang mendekat dan menyodorkan hasil jepretannya.
"Nang! Keren!" puji Gladys diikuti dengan tepukan kecil dari kedua tangannya.
"Lo emang berbakat jadi fotografer, Nang" Rachel tersenyum manis.
Sumpah demi apapun, aku tidak mengerti jalan pikiran mereka berdua. Apa yang bagus dari ketiga pasang kaki tanpa wajah seperti itu?
***
![]() | ||
| Source : Google images |
Sudah dua tahun aku menetap di Michigan sebagai salah satu mahasiswi di sini. Tetapi momen berharga di hari kelulusan bersama kedua sahabatku itu tidak akan pernah bisa aku lupakan. Berfoto. Momen yang mungkin sering kali dilakukan para sahabat. Tetapi tidak untuk persahabatan kami. Ada saja halangan untuk berfoto bersama. Entah Gladys atau Rachel yang tidak ikut foto. Tetapi di hari kelulusan kami, kami berfoto bertiga, meskipun tanpa wajah, itu tetap membuatku senang.
Yang paling kiri, yang menggunakan blus hitam agak boyish, itu Gladys. Gladys memang yang paling dewasa di antara kami. Selain sifatnya yang mengayomi, ia adalah pendengar yang baik. Saat ini ia berkuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Yang disamping Gladys, ada Rachel, cewek anggun yang jadi primadonna sekolah. Rachel adalah motivator terbaik. Saat ini ia berkuliah di Institut Pertanian Bogor. Dan yang paling kanan, ada aku yang saat ini tengah mengenyam pendidikan di University of Michigan, Amerika. Kami bertiga sudah jauh berpisah.
Selama tiga tahun di SMA, kami bertukar cerita, kami selalu memotivasi dan kami selalu saling mendukung. Entah mengapa tali persahabatan kami begitu erat. Awalnya, waktu baru beberapa bulan tinggal di Michigan, aku masih sangat haus akan perhatian mereka. Karena aku tidak mendapatkan sahabat sebaik mereka disini. Tetapi lambat laun, entah perasaan iri dari mana yang merasukki benakku, aku agak cemburu ketika Rachel meng-upload foto selfie nya bersama sahabat barunya di Twitter, dengan tweet bertuliskan "She's ma best of the best, ma angel"
Juga Display Picture Blackberry Messenger milik Gladys. Ia memasang Display Picture bersama sahabat barunya sembari berpelukan erat.
Dan hanya aku disini yang belum menemukan sahabat baru. Sejujurnya aku sungguh iri, karena bukan aku lagi yang jadi pendengar keluh kesah mereka, bukan aku lagi yang duduk di samping mereka, bukan aku lagi yang mereka anggap sahabat baik mereka. Tetapi telah hadir orang lain, yang mampu menyempurnakan hidup mereka, yang lebih mampu mengayomi mereka.
Tuhan, aku benar-benar iri.
Aku ingin, fotoku juga di-upload Rachel dengan tulisan yang sama seperti yang ia tulis untuk sahabatnya di Twitter. Aku juga ingin fotoku menjadi bagian dari Display Picture milik Gladys.
Mungkin aku, hanyalah sebatas kenangan mereka dan aku bukan masa depan mereka.
Seharusnya aku tidak boleh iri. Mereka telah menemukan orang yang menurut mereka adalah yang terbaik. Tetapi mengapa aku masih saja tidak rela?
Perih, memang. Ketika melihat Rachel menulis tweet untuk sahabat barunya "Cepat sembuh ya sayangku, males nih ngampus kalo kamu gak ngampus"
Atau Gladys yang membuat personal message untuk sahabat barunya "TFT ya best, semoga persahabatan kita makin erat{} "
Dan aku? Hanya bisa mengorek kenangan. Hanya bisa mengharapkan mereka disini lagi, mendengarkan cerita-ceritaku. Tetapi dunia memang telah berputar. Hubunganku dengan Rachel dan Gladys bagaikan orang yang tak pernah saling kenal. Hanya terkadang aku mengirim chat ke mereka bahwa aku ingin sekali bertemu mereka. Tetapi, hanya dibalas sewajarnya dan sepertinya enggan-engganan.
Oh Tuhan, apakah aku memang seburuk itu untuk dijadikan sahabat? Apakah memang aku tidak pantas memiliki sahabat yang benar-benar menyayangiku harga mati? Aku iri dengan setiap persahabatan tulus yang terjalin di dunia ini.


Komentar
Posting Komentar